Menggerakkan Produksi 100 Ribu Masker Kain

Penjahit memproduksi masker batik di Pakistaji, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (2/4/2020). UMKM yang biasanya memproduksi busana batik itu, sejak merebaknya wabah COVID-19, beralih memproduksi masker berbahan kain batik yang dijual Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per buah
Penjahit memproduksi masker batik di Pakistaji, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (2/4/2020). UMKM yang biasanya memproduksi busana batik itu, sejak merebaknya wabah COVID-19, beralih memproduksi masker berbahan kain batik yang dijual Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per buah

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dedy Darmawan, Rizky Suryarandika, Farah Noersativa, Rr Laeny Sulistyawati

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengajak para pelaku ekonomi kreatif khususnya desainer lokal untuk berpartisipasi dalam Gerakan Masker Kain. Gerakan  ini menargetkan bisa memproduksi 100 ribu masker kain yang akan dibagikan kepada masyarakat untuk menekan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekaf, Josua Puji Mulia Simanjuntak menjelaskan, gerakan ini terbuka bagi para pelaku atau desainer lokal subsektor fesyen di Indonesia.

Mereka, kata dia, bisa mendaftar untuk turut serta dalam gerakan tersebut mulai 1–5 April 2020. Caranya dengan mengisi formulir melalui tautan bit.ly/GerakanMaskerKain yang terdapat dalam kanal media sosial Kemenparekraf.

“Gerakan Masker Kain bertekad bisa memproduksi total 100 ribu masker kain yang akan didistribusikan kepada pekerja pariwisata (PHRI), pekerja kreatif (asosiasi kreatif), pekerja publik (Transjakarta, MRT, Pertamina, dan sebagainya) serta pekerja sektor lainnya yang diusulkan,” kata Josua di Jakarta, Kamis (2/4).

Josua menjelaskan, gerakan tersebut muncul sebagai bentuk keprihatinan karena kelangkaan masker di pasaran. Kalaupun ada harga yang ditawarkan sangat tidak wajar.

Hal itu kemudian mendorong Kemenparekraf berinisiatif untuk mengajak para pekerja mode agar menggerakkan usahanya dengan membuat masker kain dari kain perca atau sisa bahan kain produksi mereka.

Selain itu, kata dia, gerakan ini bertujuan untuk mengajak dan mengedukasi masyarakat agar tetap menjaga kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Penggunaan masker kain pun dianggap cukup memadai bagi mereka yang sehat. Maka dengan semakin banyaknya masyarakat menggunakan masker kain, suplai masker medis akan lebih mudah didapatkan oleh mereka yang lebih membutuhkan termasuk tenaga medis, pasien ODP, PDP, dan positif Covid-19.Baca Juga

photoSeorang penjahit membuat masker berbahan dasar kain di Limba U 2, Kota Gorontalo, Gorontalo, Kamis (1/4/2020). Sejumlah penjahit pakaian beralih untuk memproduksi dan menjual masker kain dengan harga Rp10 ribu per buah seiring sepinya konsumen dan meningkatkan permintaan masker akibat merebaknya pandemi COVID-19 – (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

“Masker yang terbuat dari kain ini telah diteliti cukup untuk meminimalisasi kontak langsung dengan debu, virus, dan droplet di luar rumah jika memang tidak dapat melakukan kerja dari rumah dan harus berinteraksi dengan banyak orang,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, upaya itu diharapkan bisa membantu mengingatkan atau menggerakkan usaha para desainer lokal dari sektor mode Indonesia yang ikut terdampak dari wabah Covid-19 sehingga mereka tetap dapat terus bertahan hidup. “Selain juga memanfaatkan sisa bahan kain dari produksi garmen untuk mengurangi sampah industri mode sehingga bisa menerapkan zero waste,” katanya.

Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan, Erlina Burhan menyampaikan penggunaan masker kain sebenarnya kurang efektif mencegah penularan virus corona jenis baru penyebab Covid-19. “Kenapa? Karena masker kain tidak bisa memproteksi masuknya semua partikel dan ini tidak disarankan bagi tenaga medis. 40 hingga 90 persen partikel bisa menembus masker. Idealnya dikombinasikan dengan penutup wajah,” ujar Erlina.

Menurut dia, terdapat sejumlah mekanisme penularan virus, dua di antaranya melalui droplet dan airbone (partikel kecil yang terbawa udara). Masker kain ini memang memiliki perlindungan dari droplet, meski kecil. Tingkat perlindungan bagi partikel droplet ukuran tiga mikron hanya 10 sampai 60 persen. Jadi masih tergolong tinggi potensi penularannya.

“Masker kain, perlindungan terhadap droplet ada, tapi tidak ada perlindungan terhadap aerosol atau partikel yang airbone,” kata dia.

Meski begitu, kata dia, pengunaan masker kain ini bisa digunakan sebagai pilihan terakhir jika ketersediaan masker bedah sudah sangat langka di pasaran. Tapi itu pun dengan catatan, bahwa yang wajib menggunakan masker bedah adalah orang sakit dan tenaga medis, sementara masyarakat sehat dapat menggunakan masker bedah jika keluar rumah atau merawat orang sakit.

“Kalau orang sehat memborong dan memakai (masker bedah) maka ketersediaan masker ini tidak ada lagi bagi tenaga kesehatan maupun orang sakit, dan ini berbahaya kalau orang sakit tidak ada akses terhadap masker bisa jadi orang sakit ini jadi sumber penularan kita semua,” kata dia.

Sementara masker bedah, efektif mencegah partikel airbone ukuran 0,1 mikron dari 30 hingga 95 persen. Namun masih memiliki kelemahan yakni tidak bisa menutupi permukaan wajah secara sempurna terutama di sisi samping kiri dan kanan masker. “Kelemahan lainnya hanya bisa digunakan sekali pakai,” kata dia.

Adapun masker N95, memang tingkat efektifitas pencegahan penularan mencapai 95 persen namun masker ini tidak boleh dipakai oleh sembarang orang dan menjadi protokol wajib tenaga kesehatan yang harus berkontak langsung dengan pasien penderita.photoPedagang melayani pembeli masker berbahan kain di seputaran Kota Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Rabu (1/4/2020). Permintaan masker berbahan kain buatan industri rumahan yang dijual Rp10 – (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)


“N95, masker ini mempunyai proteksi yang baik untuk droplet dan juga memiliki proteksi aerosol. Makanya dianjurkan oleh tenaga medis, bukan masyarakat, dan efektifitasnya cukup tinggi partikel ukuran 0,1 mikron aerosol sampai 95 persen,” kata dia.

Penggunaan masker kain bergema di dunia maya sejak pegiat media sosial, Ismail Fahmi, menggulirkan gerakan #100JutaMasker agar masyarakat memproduksi masker kain. Kepada Republika.co.id, pendiri Drone Emprit itu mengatakan, gerakan tersebut lahir karena ia tak ingin tenaga kesehatan kehabisan masker bedah.

“Publik umum non medik? Kita cari cara lain. Kita bantu mereka dengan tidak menggunakan masker yang mereka butuhkan,” ujar Ismail melalui akun Twitter @ismailfahmi pada 21 Maret.

Bukan hanya produksi masker kain, sejumlah desainer, pengusaha mode, atau bisnis lain juga banting setir beralih memproduksi alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis. Langkah tersebut dilakukan tidak hanya demi bertahan hidup karena dunia mode yang ikut sepi, melainkan juga untuk membantu tenaga medis di lapangan mendapatkan APD yang mencukupi.

Ikatan Dokter Indonesia tidak bisa membuat estimasi berapa jumlah ideal kebutuhan APD. “Kalau bicara jumlah ideal butuh banyak banget, karena kalau bicara kebutuhan APD hanya diarahkan untuk RS rujukan atau yang merawat positif Covid-19. Padahal kan ada fasilitas kesehatan yang juga membutuhkan APD utamanya fasilitas kesehatan frontliner yaitu puskesmas, klinik, rumah sakit swasta yang pertama kali menerima pasien positif Covid-19,”  ujar Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Muhammad Adib Khumaidi.

Adib melanjutkan, persoalan ditambah dengan APD ini hanya sekali pakai. Ia menyebutkan dibutuhkan tiga APD dipakai untuk per hari karena tenaga medis bekerja dibagi menjadi tiga shift. Tak hanya itu berdasarkan standar Kementerian Kesehatan bahwa APD untuk tenaga medis harus menggunakan masker jenis N95 karena menjalin kontak dengan pasien.

Kemudian, dia melanjutkan, tenaga kesehatan ini harus menggunakan baju hazmat saat merawat pasien. Adib mengestimasi jika semua dokter harus bisa melayani Covid-19 yang juga anggota IDI saja sekitar 185 ribu orang, kemudian ditambah perawat yang jumlahnya lebih dari 1 juta. Karena itu pihaknya menyambut baik ketika pemerintah mendatangkan 3 juta APD.

“Okelah itu cukup tapi hanya dalam kurun waktu tertentu. Yang terpenting distribusinya juga dikontrol,” katanya.


photoPolisi gerebek penimbun masker. – (Republika)

Link: https://republika.co.id/berita/q85oxo328/menggerakkan-produksi-100-ribu-masker-kain

Memilih Bahan Masker Kain, DIY Masker tanpa Mesin Jahit

Cara membuat masker tanpa dijahit yang dirangkum Tim Desain Produk Institut Teknologi Bandung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Erlina Burhan, mengatakan bahwa penggunaan masker kain bisa menjadi alternatif bagi orang yang sehat sebagai bagian proteksi diri dari ancaman virus. Namun, masyarakat tetap harus menjaga jarak aman sejauh satu hingga dua mater dari orang lain saat berada di tempat ramai.

Sementara itu, berdasarkan analisis Johns Hopkins University, penggunaan masker kain dapat menyaring droplet (percikan liur) ukuran besar, namun tak efektif melindungi tenaga kesehatan. Erlina menjelaskan, masker kain tidak memberikan proteksi terhadap aerosol atau partikel yang airborne karena tingkat perlindungannya dari partikel droplet pengidap Covid-19 ukuran tiga mikron hanya 10 sampai 60 persen.Baca Juga

Dalam paparannya, Erlina mengatakan bahwa menggunakan masker kain lebih baik dibandingkan tidak sama sekali saat tenaga medis menghadapi ketiadaan masker N95 dan masker bedah. Bagi tenaga medis, masker kain atau buatan rumah menjadi pilihan terakhir untuk mencegah penularan virus melalui partikel kecil (droplet), setelah masker N95 dan masker bedah.

“Tetapi idealnya itu pun harus dibarengi penggunaan penutup wajah,” ujar Erlina saat konferensi pers Gugus Tugas Percepatan dan Penangan Covid-19 di Graha BNPB, Jakarta, Rabu.

Sementara itu, Antara mengutip penelitian John Hopkins University yang menyebut bahwa masker kain efektif menekan laju penularan virus di sejumlah negara. Adapun negara yang mampu menekan angka penularan dengan menggunakan masker secara luas tergambar di negara Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Hongkong.

Negara lain yang terlambat menerapkan langkah itu grafik penularannya tinggi seperti tercermin di negara China, Italia, Spanyol, Iran, hingga Amerika. Upaya menggunakan masker itu dianggap bijak dan mampu mengurangi potensi penularan dari orang yang terinfeksi, tetapi tidak memiliki gejala apa pun.

Di samping itu, penggunaan masker kain bagi orang sehat juga menjadi upaya mengantisipasi pemborongan masker bedah dan N95 di pasaran.

Bahan ternyaman

Pakar media sosial, Ismail Fahmi, menggulirkan gerakan #100JutaMasker agar masyarakat memproduksi masker kain. Kepada Republika.co.id, pendiri Drone Emprit itu mengatakan, gerakan tersebut lahir karena ia tak ingin tenaga kesehatan kehabisan masker bedah.

“Publik umum non medik? Kita cari cara lain. Kita bantu mereka dengan tidak menggunakan masker yang mereka butuhkan,” ujar Ismail melalui akun Twitter @ismailfahmi pada 21 Maret.

Mengutip laman smartairfilters.com, Ismail memperlihatkan aneka jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat sendiri masker kain. Ia juga menunjukkan bahan yang paling nyaman untuk bernapas, yakni bahan t-shirt katun 100 persen dan sarung bantal.

Sementara itu, dikutip dari laman designethno.id/bikinmaskersendiri, Tim Desain Produk Institut Teknologi Bandung merangkum informasi cara membuat masker kain sendiri (DIY) di rumah. Masyarakat bisa memakai kain katun 100 persen, sarung bantal, serbet, atau syal untuk membuatnya tanpa perlu menjahitnya.

Cara 1
Bahan
    Sapu tangan katun 40 x 40 cm
    Kain sarung bantal
    Dua ikat rambutphotoCara membuat masker tanpa dijahit – (designethno.id)


Langkah:
* Lipat kain menjadi dua, letakkan kain sarung bantal sebagai filter, lalu Lipat kain menjadi tiga. Setelah itu, Masukkan ikat rambut ke dua sisi kain, lipat kedua sisi kain ke tengah, lalu sisipkan.
* Balik kain ke bagian depan, tarik kedua ujungnya, dan masker pun siap digunakan.
 
Cara 2
Bahan:
    Sapu tangan katun 40 x 40 cm
    Kain sarung bantal
    Empat karet gelangphotoCara membuat masker tanpa dijahit – (designethno.id)


Langkah:
* Letakkan kain sarung bantal sebagai filter, lipat kain menjadi tiga bagian, lipat ujung kain ke dalam, lipat kembali ke bagian luar hingga menumpuk, masukkan karet ke dua sisi kain dan lipat ke dalam, ikat kedua ujung kain yang sudah terlipat, tarik kedua ujungnya, ke atas dan ke bawah, dan masker pun siap digunakan.

Link: https://republika.co.id/berita/q83lvs414/memilih-bahan-masker-kain-diy-masker-tanpa-mesin-jahit

Ismail Fahmi Gulirkan Gerakan #100JutaMasker

Gerakan #100JutaMasker yang digulirkan Ismail Fahmi bertujuan agar masker medis yang masih tersisa diprioritaskan untuk petugas kesehatan dan masyarakat umum tetap terlindungi dari kemungkinan tertular Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pakar media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengajak masyarakat membuat masker produksi rumahan melalui gerakan #100JutaMasker. Ia memastikan bahwa ada landasan ilmiah yang mendasari gerakan menyuplai masker kain tersebut.Baca Juga

“Sebagai saintis, saya hanya gemes saja kok tidak ada yang menggerakkan dan memberikan dasar pemikiran. Oleh sebab itu, saya berikan data riil, memberikan landasan ilmiah sebagai dasar, supaya publik merasa apa yang dia lakukan adalah jalan yang benar,” ungkap Ismail saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (31/3).

Ismail mengatakan, tak sedikit orang yang menertawakan gerakan itu pada awalnya. Terlebih, masih banyak orang yang tidak percaya diri jika keluar rumah tanpa memakai masker bedah.

Di lain sisi, banyak juga yang mengikut saran WHO bahwa masker hanya perlu dikenakan oleh mereka yang sakit atau merawat orang yang sakit. Ismail pun mencari berbagai penelitian dan membagikannya kepada masyarakat melalui akun Twitter dan Facebook-nya tentang efektivitas masker kain dalam melindungi diri dari droplet penderita infeksi virus corona.

“Ada paper yang menyebutkan, orang yang tidak memakai masker, begitu terkena droplet, virus bisa langsung masuk ke tubuhnya. Kalau dia menggunakan masker kain, peluang virus masuk melalui droplet menjadi 50 persen, sementara 50 persennya tertangkap oleh kain. Itu lebih baik dari pada tidak dilindungi sama sekali,” kata Ismail.

Menurut Ismail, jika masker kain itu dirangkap dua, maka peluang terlindungi dari droplet penderita Covid-19 menjadi 70 persen. Sementara itu, daya lindung masker bedah bisa sampai 90 persen.

“Ada penelitian dari Hongkong University yang meneliti khusus untuk tisue saja, ada tisu dapur yang lebih tebal sebagai penahannya, kemudian dilipat dan ditali. Di dalamnya ada tisu biasa. Nah mereka teliti, masker ini bisa mencegah droplet virus masuk sampai 90 persen,” jelas dia.

Dari penelitian-penelitian ini, dia mengajak masyarakat untuk membuat masker kain yang terdiri atas dua lapis kain. Sebagai perlindungan ekstra, pengguna bisa menyelipkan tisue di dalamnya.

“Pemakaian masker kain berlapis tisu ini bisa mencegah droplet virus lebih dari 70 persen,” kata Ismail.

Selain itu, Ismail juga mencontohkan percobaan sederhana yang dibagikan melalui video di akun Twitter-nya. Di video itu, ia membuktikan fungsi masker kain yang berlapis tisu.

Cara membuktikannya sangat sederhana, yaitu dengan meniup korek api sembari menggunakan masker. Dalam percobaan menggunakan masker bedah, api pada korek tak bisa mati.

Sementara itu, percobaan dengan masker kain yang dilapisi tisu, api juga sulit mati saat Ismail mencoba meniupnya. Bagaimana dengan buff?

“Kemarin ada yang bertanya kepada saya, apakah pelindung mulut seperti buff itu efektif. Lalu setelah dia coba sendiri, ternyata api pada korek cepat mati. Itu menandakan buff sangat tipis dan tidak efektif untuk melindungi diri,” tutur dia.

Link: https://republika.co.id/berita/q828l2414/ismail-fahmi-gulirkan-gerakan-100jutamasker

100 Juta Masker Challenge dan Pesan Selamatkan Stok Masker untuk Pekerja Medis…

ilustrasi masker

Penulis Retia Kartika Dewi | Editor Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com – Media sosial Twitter diramaikan dengan gerakan #100JutaMaskerChallenge.

Tantangan ini dicetuskan Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi,melalui akun Twitternya, @ismailfahmi pada Kamis (26/3/2020).

Melalui unggahannya, Ismail mengajak penggunaan masker katun dua lapis atau masker non-medis.

Di antara dua kain katun, bisa diselipkan tisu yang bisa menyaring benda kecil sehingga tak masuk ke mulut.

Ismail juga menyertakan informasi efektivitas masker seperti masker N95 dengan perlindungan dari virus 95 persen; masker bedah perlindungan dari virus 95 persen;  masker FFP1 perlindungan dari virus 95 persen, dan lainnya.

Sementara, untuk masker jenis Activated Carbon Mask, Cloth Mask, Sponge Mask memiliki tingkat perlindungan yang sangat rendah dari virus dan tidak disarankan dipakai oleh tenaga medis.

Tujuan #100JutaMaskerChallenge

Apa tujuan dari tantangan #100JutaMaskerChallenge?

Saat dihubungi Kompas.com, Minggu (29/3/2020) malam, Ismail mengungkapkan, ia menemukan penelitian dari Cambridge University mengenai material rumah tangga yang efektif untuk menangkal virus corona meski tidak disarankan untuk tenaga medis.

Adapun material atau bahan rumah tangga yang dipakai yakni serbet, katun, dan sarung bantal. Menurut dia, bahan katun memiliki tingkat perlindungan sebesar 70 persen.

Ismail mengaku prihatin dengan kelangkaan masker medis di sejumlah daerah dan menyebabkan tenaga medis kekurangan masker untuk melindungi dirinya saat menangani pasien Covid-19. 

“Sempat nemu orang jual masker bedah, tapi mahalnya minta ampun. Jadi, saya beli itu untuk stok nakes di RS, itu boleh dibeli oleh umum. Tapi pihak rumah sakit dulu yang diprioritaskan untuk dapat masker tersebut,” ujar Ismail.

Menurut dia, gerakan #100JutaMaskerChallenge ingin mengajak masyarakat untuk menggunakan masker buatan dengan dua lapis kain katun daripada membeli masker bedah atau masker N95.

Ia menekankan, tenaga medis lebih membutuhkan masker N95 dan masker bedah yang kini juga banyak dipakai oleh masyarakat umum. 

“Dulu masyarakat belum ada solusinya (untuk mencegah virus corona). Ada yang menggunakan masker kain tapi saat itu belum ada dasar ilmiahnya, kan,” ujar Ismail.

Ia mencari referensi dan akhirnya menemukan solusi agar masyarakat mau menggunakan masker kain katun yang di dalamnya dilapisi tisu berlapis.

“Jadi, saya temukan ada referensinya, mereka coba mulai dari yang masker bedah, masker yang ada vacoom cleaner-nya, ada yang dari katun, ada yang dari serbet, semua dicoba satu per-satu,” ujar Ismail.

Ia mengungkapkan, tujuan dari percobaan tersebut yakni ingin mengetahui efektivitas masker tersebut. Diketahui, virus corona memiliki ukuran 0,02 mikron sehingga peneliti harus paham bahan apa yang dapat digunakan sebagai masker dan dapat digunakan oleh masyarakat.

Melalui tantangan ini, ia mengajak mereka yang bisa menciptakan dan memasarkan masker dari kain katun dua lapis akan dipromosikan melalui Twitter-nya.

Ia menyebutkan, jika hanya satu lapis kain katun, maka tingkat perlindungan hanya 50 persen. Dengan didesain dua lapis, menurut dia, akan memberikan perlindungan yang lebih kuat.

Selain itu, penggunaan masker kain katun ini dapat dicuci dan minimal diganti dua kali sehari.

Untuk pencuciannya dapat menggunakan air bersuhu normal dan menggunakan detergen, sedangkan tisu yang ada di dalam masker kain dibuang.

Link: https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/30/080500965/100-juta-masker-challenge-dan-pesan-selamatkan-stok-masker-untuk-pekerja?page=2.
Penulis : Retia Kartika Dewi
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Menkominfo soal Peta Sebaran Corona RI: Tanyakan Satgas

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebut saat ini pemerintah telah menyiapkan jajaran satuan tugas Gugus Percepatan Penanganan Corona, sebagai pusat informasi virus corona di Indonesia.

Menkominfo Johnny G. Plate mengatakan jika ada pertanyaan soal informasi soal Covid-19 di Indonesia, bisa ditanyakan langsung ke satgas yang dipimpin Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Armando.

Penyataan tersebut sekaligus merespons adanya desakan Kemenkominfo dan pemerintah pusat untuk membuat aplikasi khusus seperti Korea Selatan atau peta persebaran SARS-Cov-2 di Indonesia seperti yang sudah dilakukan pemerintah daerah Jakarta dan Jawa Barat.

“Yang terkait dengan itu, sudah ada satgas (satuan tugas). Semuanya terpusat di satgas,” kata Johnny kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (16/3) malam.

Lebih lanjut kata Johnny, pihaknya hanya mengikuti protokol dari pemerintah pusat terkait perkembangan Covid-19 di Indonesia.

“Kita tertib prosedur dan protokol dulu, lebih baik begitu. Tanyakan sama ketua satgas karena pusat informasinya ada di situ,” pungkasnya.

Masih Mengandalkan Situs Kemenkes

Johnny kemudian menegaskan pemerintah pusat masih mengandalkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagai acuan utama untuk penyebaran

“Pusat komunikasi yang berhubungan dengan medis ada di Kemenkes. Maka, untuk memberikan referensi atau narasi kesehatan ditunjuklah seorang juru bicara,” kata Johnnysaat konferensi pers lewat live streaming, Senin (16/3).

Lebih lanjut, Johnny pun menyinggung beberapa pemerintah daerah yang membuat situs serupa. Ia meminta kepada pemda untuk menyajikan informasi soal corona berdasarkan data dari pemerintah pusat. Hal itu mesti dilakukan agar tidak membingungkan masyarakat.

Menyoal aplikasi khusus corona, cara ini telah dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan. Negeri Gingseng itu membuat aplikasi yang wajib digunakan warga terutama turis asing.

Aplikasi itu mengharuskan turis mengisi semacam diari terkait aktivitas mereka setiap hari selama berada di Negeri Gingseng. Para turis diminta mengisi sejumlah kolom seperti suhu tubuh dan apakah mengalami gejala Covid-19.

Belakangan, sejumlah netizen malah ‘mengejek’ tampilan situs yang disajikan Kemenkes yang masih menjadi andalan pemerintah pusat. Netizen mengeluhkan situs infeksiemerging.kemkes.go.id terkadang tidak bisa diakses.

Beberapa netizen juga mengeluhkan situs Kemenkes yang tidak ‘user friendly’ jika dibandingkan dengan tampilan situs Pemprov DKI Jakarta atau Jawa Barat.

Sebelumnya, pengamat media sosial dari Drone Emprit, Ismail Fahmi melalui cuitan di akun Twitter pribadinya meminta pemerintah pusat untuk menampilkan sebaran virus corona SARS-Cov-2 penyebab sakit Covid-19.

Cuitan itu disampaikan menanggapi peta sebaran suspect virus corona yang sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta dan Jawa Barat. Ia pun meneruskan cuitan ini kepada BNPB, Kemenkominfo, KSP, dan Kemenkes RI.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sendiri dibentuk berdasarkan Keputusan RI nomor 7 tahun 2020.

Doni ditunjuk sebagai ketua pelaksana yang dibantu dengan dua orang wakil, yakni Asisten Operasi Panglima TNI dan Asisten Operasi Kapolri. Sementara itu anggota Gugus Tugas adalah unsur dari berbagai Kementerian dan lembaga negara.

Nantinya Gugus Tugas juga akan melibatkan lembaga nonpemerintah, agar pencegahan dan percepatan deteksi virus ini dapat terencana dan terpadu.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200317144809-185-484223/menkominfo-soal-peta-sebaran-corona-ri-tanyakan-satgas?

Pemerintah Diminta Tiru DKI-Jabar Buat Peta Sebaran Corona

Pemerintah Diminta Tiru DKI-Jabar Buat Peta Sebaran Corona
Peta sebaran virus corona di situs pemprov DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta)

Jakarta, CNN Indonesia — Pengamat minta pemerintah pusat untuk menampilkan peta sebaran virus coronaSARS-COV-2 penyebab sakit Covid-19.

Hal ini diungkap analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi lewat cuitannya. Cuitan ini disampaikan menanggapi peta sebaran suspect virus corona yang sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta dan Jawa Barat. Ia pun meneruskan cuitan ini kepada BNPB, Kemenkominfo, KSP, dan Kemenkes RI.

“Kita ndak bisa minta setiap daerah bikin. DKI dan Jabar punya resource (sumber daya) tim yg bagus buat bikin. Daerah lain belum tentu. Jadi yg kita dorong bikin adalah pusat. One for all (Satu untuk semua.”

Lebih lanjut, Ismail menyarakan pemerintah pusat untuk menampilkan peta sebaran Covid-19 pada website resminya, misalnya pada website https://infeksiemerging.kemkes.go.id/.

 Sebab, menrutnya peta sebaran tersebut sangat diperlukan oleh publik dalam mengontrol segala aktifitasnya di tengah penyebaran COvid-19 di Indonesia.

“Peta sebarang Covid-19 itu memudahkan publik dan juga memberikan infirmasi bahwa data-data orangnya terkontrol. Dengan ada di peta, orang-orangnya di sini, artinya itu sense-nya oh ini terkontrol sama pemerintah,” ujar Ismal kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/3).

Lebih lanjut, Ismail mengaku awalnya tidak sepakat jika daerah membuat website yang tentang Covid-19, khususnya menampilkan peta sebaran. Terlebih, lanjut dia tidak semua daerah memiliki kemampuan seperti DKI dan Jabar. Namun, dia memaklumi hal itu terjadi lantaran pemerintah tidak mengindahkan desakan publik.

“Siapa yang harus membuat sebaiknya pemerintah pusat biar tidak perlu setiap daerah membuat. Yang penting up to date (pembaruan), bisa di-zoom (diperbesar), transparan, ada dilaporarkan ada langsung masuk,” ujarnya.

Di sisi lain, dia menyampaikan membuat peta sebaran tidak sulit. Hal terpenting untuk menyajikan hal itu tergantung dari ketersediaan data dan tim IT.

“Kadang-kadang tidak ada tim IT yang kuat dan kadang-kadang kebijakannya mereka takut khawatir. Dari pada setiap kepala daerah memutuskan sendiri-sendiri, mendingan di pemerintah pusat saja, tenang semua,” ujar Ismail.

Ismail menuturkan gaya komunikasi pemerintah saat ini dengan merahasiakan peta sebaran Covid-19 bukan langkah yang tepat. Dia melihat hal itu justru menimbulkan kepanikan dan menimbulkan persepsi negatif kepada pemerintah yang dianggap gagal mengontrol penyebaran Covid-19.

Ismail menambahkan semua instansi pemerintah harus sesederhana mungkin membuat website. Dia berkata pengguna harus mendapat informasi yang terfokus mengenai Covid-19, misalnya mengenai titik orang yang terinfeksi hingga rumah sakit untuk berobat.

“Biasanya pusat kan tidak bisa mengupdate hal-hal kecil, kontak dan segala macam, biarkan saja di daerah masing-masing. Tapi untuk peta kalo bisa di pusat saja. Kenapa di Jabar dan DKI bikin? Karena sudah dapat tuntutan dari warganya,” ujarnya.

Penyebaran virus corona yang menimbulkan Covid-19 kian meluas dari waktu ke waktu. Hal itu membuat pemerintah DKI Jakarta dan Jawa Barat mengikuti jejak pemerintah pusat untuk membuat website khusus berisi informasi mengenai Covid-19.

Banyak informasi mengenai Covid-19 hingga penanganannya disampaikan di dalam website masing-masing pihak tersebut. Namun, hanya website milik pemerintah pusat yang tidak menampilkan peta sebaran Covid-19.

Website milik DKI Jakarta dikatui menampilkan peta peta sebaran warganya yang diduga atau terinfeksi Covid pada kanal Data. Sedangkan Jabar, menampilkan peta tersebut pada beranda website. (jps/eks)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200316160016-185-483919/pemerintah-diminta-tiru-dki-jabar-buat-peta-sebaran-corona

Netizens long for Sutopo as govt scrambles to handle COVID-19

Netizens long for Sutopo as govt scrambles to handle COVID-19
A journalist gets her body temperature measured at Sulianti Suroso Infectious Diseases Hospital (RSPI Sulianti Suroso) in North Jakarta amid fears of a COVID-19 outbreak on Wednesday, March 4, 2020. (Antara/Muhammad Adimaja)

The government’s recent handling of COVID-19 has spark nostalgia online for the late National Disaster Mitigation Agency (BNPB) spokesperson Sutopo Purwo Nugroho, who dedicated his life to relaying information to the public when disasters struck.

Big data consulting company Drone Emprit founder Ismail Fahmi said on his Twitter account that tweets about the late Sutopo had spiked since President Joko “Jokowi” Widodo confirmed Indonesia’s first two cases on Monday.

Sutopo gained renown as a source of reliable information during the country’s bleakest moments, even after he was diagnosed with stage 4 lung cancer in late 2017. He passed away at the age of 49 while receiving treatment in China in 2019.

The man, recognized by the Straits Times as one of the Asians of the Year in 2018, often took to his Twitter account @Sutopo_PN, which still has more than 200,000 followers to this day, to share up-to-date information on disasters. He was also known among journalists for his data-based answers during media briefings.

“The public has expressed dismay over the ‘crisis management speech’ of Pak [Health] Minister Terawan [Agus Putranto]. What he said was right, but the way he expressed it did not convince the public,” Ismail of Drone Emprit said.

As an example, he quoted a tweet from musician Ananda Badudu that read, “We all miss the late Pak Sutopo”. The tweet, which has been retweeted almost 50 times, was posted in response to another tweet criticizing Terawan’s press briefing on the confirmed coronavirus cases.

Meanwhile, Twitter user @bawonot wrote, “With all due respect, Mr. Terawan [and all government officials] should have learned one or two things from the late Mr. Sutopo’s playbook on how to handle public communication properly. There is a time and place for jokes and [unnecessary] comments, Sir.”

User @goldydharmawan tweeted, “In a critical time like this, I miss Pak @Sutopo_PN. The one who can publicly explain things as clearly as possible in the easiest manner that most people can comprehend.”

Facing sharp public criticism, the government appointed on Tuesday Disease Control and Prevention Directorate General secretary Achmad Yurianto as the spokesperson for all coronavirus-related matters.

Indonesian Public Relations Firm Association (APPRI) chairperson Jojo S. Nugroho said Yurianto’s appointment, despite coming too late, was a good step toward ensuring effective communication that could cut across the widespread misinformation about the virus as well as the efforts of some politicians to seek publicity by issuing baseless statements. He also urged the government to form a specific crisis management team in anticipation of a domestic outbreak.

“Preparations should have been made since late December 2019 when the outbreak was first reported. However, it was not handled seriously […] a crisis communication team was not formed to anticipate the outbreak. As a result, hoaxes have spread and the government has instead been busy clarifying misinformation,” he told The Jakarta Post.

He said the public’s criticisms of Terawan were justified, as the minister’s statements did not carry a “sense of crisis”, both in content and in gesture.

“Quoting WHO director general Tedros [Adhanom], our biggest enemy is not the virus itself, but fear, rumors and stigma. Our strengths should be in facts, scientific explanation and solidarity,” he said.

https://www.thejakartapost.com/news/2020/03/05/netizens-long-for-sutopo-as-govt-scrambles-to-handle-covid-19.html

Bikin Konser BTS Batal, Virus Corona #Covid19 Ramai Dicuitkan

Bikin Konser BTS Batal, Virus Corona #Covid19 Ramai Dicuitkan
Konser BTS di Seoul dibatalkan gara-gara wabah virus Corona, para penggemar pun bereaksi meramaikan pembicaraan Covid-19 di jagad maya. (dok. Big Hit Entertainment)

Jakarta, CNN Indonesia — Peneliti Drone Emprit, Ismail Fahmi mengatakan tren percakapan virus corona novel (COVID-19) meningkat di media sosial setelah konser salah satu boyband populer Korea Selatan yaitu BTS dibatalkan.

Sejatinya konser boyband asuhan Big Hit Entertainment itu akan digelar pada 11-12 April dan 18-19 April di Olympic Stadium, Seoul, Korea Selatan. Namun, konser ini terpaksa dibatalkan karena wabah virus corona yang semakin masif di Negeri Ginseng itu.

“Tren [virus corona] dimulai pada 12 Februari 2020 […] Ketika #BTS terdampak #covid19, tren jadi sangat tinggi,” cuit Ismail melalui akun Twitter-nya @ismailfahmi.

Lebih lanjut, berdasarkan analisis Drone Emprit, Twitter mendominasi percakapan terkait virus corona Covid19 sebanyak 3,6 juta cuitan. Angka ini jauh ketimbang percakapan di Youtube, Instagram, dan berita media online.

Setelah Twitter, media online Indonesia berada di posisi dua dengan 34 ribu unggahan. Disusul layanan video streaming Youtube sebanyak 7.900 konten video terkait C ovid19 dan Instagram dengan seribu unggahan.

Percakapan terbanyak soal virus corona dengan varian Covid19 ini terbanyak berada di Bangkok dan London. Sebanyak 25.457 cuitan pengguna Twitter yang berasal dari kota Bangkok paling banyak mencuitkan tentang virus corona. Sementara London menduduki peringkat kedua dengan 18.662 cuitan.

Sementara pengguna Twitter yang tinggal di kota Jakarta menduduki peringkat ketujuh, dengan jumlah cuitan 9.914.

Sepanjang 12 Februari sampai 1 Maret 2020, tagar populer yang berhubungan dengan corona di antaranya #coronavirus, #China, #Wuhan, #SARSCoV2, #Iran, #2019nCoV, #ApologizeToVietnam, dan #DiamondPrincess.

Sampai hari ini (2/3) korban meninggal dunia akibat infeksi virus corona mencapai 3.041 orang di seluruh dunia. Komisi Kesehatan Nasional (NHC) mencatat sekitar 2.921 orang dengan 42 kematian baru berasal dari Provinsi Hubei.

Selain itu sekitar 129 kematian akibat COVID-19 tercatat berasal dari luar China antara lain, 54 berasal dari Iran, 34 dari Italia, 20 kematian di Korea Selatan, 12 dari Jepang, Hong Kong dan Prancis masing-masing dua kematian.

Sementara satu kematian masing-masing berasal dari Filipina, Taiwan, Australia, Thailand, dan Amerika Serikat.

Penyebaran infeksi virus corona secara global mencapai 88.443 kasus. Sekitar 80.026 diantaranya berasal dari China.

Presiden Joko Widodo baru saja mengumumkan terdapat dua pasien positif terinfeksi virus corona Covid -19. Kedua pasien ini menurut Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan dua warga negara Indonesia (WNI) yang positif virus corona (Covid-19) saat ini dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, Jakarta Utara. (din/eks).

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200302121355-192-479682/bikin-konser-bts-batal-virus-corona-covid19-ramai-dicuitkan

Bias Kepentingan Pemilik hingga Lemah Verifikasi Jadi Sorotan untuk Media

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Center for Media and Democracy LP3ES Wijayanto mengingatkan, media massa di Indonesia untuk introspeksi secara serius. Sebab, ia melihat media di Indonesia cenderung mencoreng sembilan elemen jurnalisme.

Hal itu disampaikan Wijayanto sebagai catatan dalam peringatan Hari Pers Nasional yang jatuh pada Minggu (9/2/2020).

“Media harus melakukan introspeksi dengan sangat serius dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” kata Wijayanto dalam keterangan pers, Minggu.

“Semakin ditinggalkannya media mainstream oleh publik, seharusnya menjadi peringatan sangat kuat bahwa mereka harus berubah, atau justru musnah,” ujarnya.

Ia menilai, media saat ini cenderung menjadi corong dari elite politik yang juga memunggungi nilai-nilai demokrasi, dipenuhi bias dan sensasi.

Media juga dinilai belum menegakkan independensi dan belum maksimal dalam menjalankan disiplin verfikasi.

Misalnya terkait independensi, Wijayanto menyoroti media yang lekat dengan pimpinan partai politik tertentu. Ia menilai, ada media yang menjadi tidak netral saat pemilu sedang berjalan.

“Tampak jelas tidak bisa menjaga jarak dengan kepentingan ekonomi politik pemiliknya sehingga berita mereka menjadi bias. Pemberitaannya selama pemilu tidak dapat dipisahkan dari kepentingan ekonomi politik pemiliknya,” kata dia.

Selain mencoreng independensi, Wijayanto juga melihat media saat ini mencoreng elemen jurnalisme lainnya, seperti loyalitas kepada publik.

“Dalam pemberitaan yang hanya diisi oleh statement elite politik, maka suara publik gagal dihadirkan dalam pemberitaan media,” ucap Wijayanto.

“Salah satu contoh yang menarik baru-baru ini adalah studi yang dilakukan oleh peneliti Drone Emprit. Dalam kebijakan pemindahan ibu kota, Drone Emprit merekam perbincangan di Twitter,” kata dia.

Data itu, kata Wijayanto, menyasar teks dan perbincangan di Twitter terkait dengan tawaran Presiden Jokowi terhadap investor di luar negeri dalam forum internasional Abu Dhabi Sustainability Week (ADSW) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 13 Januari 2020 lalu.

Drone Emprit menunjukan dari total 15.005 twit, ada 10.336 yang memiliki pandangan negatif tentang pemindahan ibu kota.

Hanya 4.275 twit yang memiliki pandangan positif atau mendukung pemindahan ibu kota serta sebanyak 394 twit beropini netral.

“Sayangnya berlawanan dengan sentiment negatif netizen di dunia maya, bertaburan jejak digitial yang menunjukan bahwa wacana yang dibawa oleh media mainstream sebagian besar masuk dalam kategori sentimen positif dan mendukung narasi pemerintah dengan menjadikan mereka sebagai news sources utamanya,” ucap dia.

Ia juga menyebut, disiplin verifikasi masih menjadi persoalan. Wijayanto menilai masih banyak media yang melanggar salah satu prinsip paling esensial dalam kerja jurnalistik.

“Kita bisa menjadikan peristiwa pengejaran KPK terhadap politisi PDI-P Harun Masiku sebagai contohnya. Semula banyak media mainstream yang memberitakan bahwa KPK tak dapat menghadirkan Harun karena dia tengah berada di luar negeri sejak 6 Januari. Penyebabnya adalah karena berita itu lemah dalam verifikasi,” ujarnya.

Sebagian besar media dinilainya hanya menjadikan versi resmi pemerintah yaitu melalui pihak Kementerian Hukum dan HAM sebagai sumber berita, lalu memberitakannya begitu saja.

“Hanya Tempo yang melakukan verfikasi dan menemukan bahwa Harun memang pergi ke Singapura pada 6 Januari namun telah kembali ke Indonesia pada 7 Januari terbukti dari rekaman data penerbangannya dan juga tangkapan CCTV,” kata dia.

Link: https://nasional.kompas.com/read/2020/02/09/16133691/bias-kepentingan-pemilik-hingga-lemah-verifikasi-jadi-sorotan-untuk-media?page=all.

Konten Hoaks dan Disinformasi Ikut Menyebar Luas

Kementerian Komunikasi dan Informatika mendeteksi 36 jenis konten hoaks atau disinformasi terkait virus korona selama 23-30 Januari 2020. Hoaks meluas melalui media sosial dan aplikasi pesan instan.

Penumpang kereta api mengenakan masker yang dibagikan petugas medis PT Kereta Api Indonesia Daop I Jakarta di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (31/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS — Penyebaran hoaks atau disinformasi terkait wabah penyakit akibat virus korona meluas melalui media sosial dan aplikasi pesan instan. Penyebarannya beradu dengan konten fakta. Jika tidak ada penanganan, kekhawatirannya adalah menyesatkan pemahaman publik.

Pelaksana Tugas Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Ferdinandus Setu, saat dihubungi Jumat (31/1/2020), di Jakarta, menyebutkan, ada 36 jenis konten hoaks atau disinformasi terkait virus korona. Jumlah itu terdeteksi lewat mesin pengais konten Kemkominfo sejak tanggal 23 hingga 30 Januari 2020 sore.

Konten hoaks umumnya tersebar di media sosial dan aplikasi pesan instan. Contohnya adalah konten berjudul ”virus korona dapat dicegah dengan rutin minum air putih dan menjaga tenggorokan tetap lembab”. Contoh lainnya, ”sup kelelawar penyebab virus korona”.

Kemenkominfo beberapa kali mengimbau agar masyarakat cerdas berkomunikasi menggunakan media sosialnya. Cerdas berarti masyarakat harus bisa memilah dan memilih informasi sebelum itu diteruskan.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengimbau agar masyarakat tidak mengaitkan virus korona dengan masalah-masalah lain yang bisa berdampak negatif terhadap negara, dari sektor ekonomi, politik, dan lainnya.

Analisis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menyebutkan, ada tiga motif penyebaran hoaks atau disinformasi konten terkait virus korona melalui media sosial dan aplikasi pesan instan. Motif pertama adalah sengaja menyebarkan hoaks atau disinformasi karena sentimen anti-China.

Motif kedua adalah individu/publik yang ingin menjadi pertama menyebarkan konten sehingga dia tidak kritis membaca keseluruhan pesan. Di motif kedua ini media massa ikut andil, misalnya memasang judul yang sensasional dan cenderung menyesatkan.

Motif ketiga adalah latah. Individu/publik yang suka ikut menyebarluaskan kembali informasi tanpa mengecek kebenaran fakta.

”Sejumlah tokoh masyarakat juga tidak kritis terhadap informasi perkembangan wabah penyakit akibat virus korona. Sementara pada saat bersamaan, realitanya memang belum ada kepastian terhadap asal muasal hingga obat bagi wabah penyakit itu,” ujarnya.

Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan mendeteksi suhu tubuh penumpang dari luar negeri yang baru tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (22/1/2020). Pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya virus korona tipe baru yang dicurigai dapat menular antarmanusia.

Drone Emprit mulai mengumpulkan data penyebaran konten wabah penyakit akibat virus korona sejak 25 Januari 2020. Kata kunci yang dipakai adalah virus, #coronavirus #wuhanvirus, dan #coronavirusoutbreak. Volume percakapan di Twitter dengan menyebut ”corona virus” sangat banyak.

Per tanggal 25 Januari 2020, setidaknya volume percakapan dengan penyebutan itu mencapai 1 juta per hari. Keesokan harinya, yakni tanggal 26 Januari, volume percakapan dengan penyebutan yang sama naik menjadi 2 juta per hari. Penyebutan ”corona virus” bersumber dari media massa daring Indonesia (29.284 kali), akun Twitter (3,37 juta kali), YouTube (3.864 kali), dan Instagram (2.495 kali).

Contoh konten retweeted paling banyak berasal dari akun @riarifrahman. Isinya: ”Di Indonesia dulu juga banyak orang makan tikus (sulut), kelelawar, ular, dll. Tp tidak ada yg terjangkut virus seperti itu. Yang dicurigakan sebenarnya kalau virus corona itu merupakan virus mematikan yang ’lepas’ dari Lab BSL-4 di Wuhan. Bukan dari hewan tersebut.” Kicauan ini memperoleh 20.632 kali retweeted dan tanda suka 24.798 kali.

”Percakapan mengenai virus korona hampir merata di seluruh Indonesia. Akan tetapi, percakapan paling banyak berasal dari warganet yang bermukim di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Percakapan serta penyebaran informasi di media sosial bercampur antara konten benar, disinformasi, dan hoaks,” ujar Ismail.

Ismail menambahkan, tiadanya sumber informasi resmi yang secara berkala mendistribusikan penyebaran konten perkembangan virus korona berakibat percakapan di internet menjadi bebas. Fakta ataupun tidak menyatu. Masyarakat akhirnya tidak punya rujukan resmi ketika menerima penyebaran konten.

”Untuk media massa, masyarakat memang mengenal adanya lembaga media yang menjalankan cek fakta. Akan tetapi, masyarakat membutuhkan rujukan resmi atau penyebaran informasi fakta secara berkala. Pemerintah Singapura bahkan sudah membuat akun resmi yang setiap hari menyebarluaskan informasi perkembangan terbaru virus korona,” tuturnya.

Hoaks atau disinformasi terkait wabah penyakit akibat virus korona juga terjadi secara global. Bloomberg melalui artikel ”Coronavirus Misinformation Is Spreading All Over Social Media (30 Januari 2020)” menyebutkan beberapa contoh. Misalnya, serangkaian kicauan Twitter dan unggahan di Facebook yang membahas teori konspirasi Amerika Serikat dan mengatakan minum pemutih dapat melindungi dari virus korona atau bahkan menyembuhkannya. Contoh lain,  virus korona dan kaitannya dengan praktik usaha kuliner yang meledak di China.

Maria Van Kerkhove, Head of the WHO’s Emerging Diseases Unit, mengakui ada banyak informasi virus korona yang salah dan beberapa di antaranya bisa sangat menyesatkan publik.

Maria Van Kerkhove, Head of the WHO’s Emerging Diseases Unit, mengakui ada banyak informasi virus korona yang salah.

Dalam pernyataan resminya, Twitter Inc mengatakan, perusahaan sedang berusaha mencegah informasi buruk yang terkait dengan virus korona dengan mengarahkan pengguna ke sumber yang lebih andal dan mendorong pengguna  untuk mengunjungi laman Centers for Disease Control and Prevention.

Mitra pemeriksa fakta Facebook Inc,  organisasi independen yang menandai unggahan bermasalah di platform Facebook,  telah memberi label informasi yang salah tentang virus korona sehingga pengguna tahu itu salah. Facebook juga memperingatkan orang-orang yang mungkin telah berbagi informasi yang salah sebelum diperiksa fakta.

Link: https://bebas.kompas.id/baca/bebas-akses/2020/02/01/konten-hoaks-dan-disinformasi-ikut-menyebar-luas/