Cara Amankan Facebook dari Notifikasi Video Porno Phising

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pendiri Media Kernels Indonesia dan Drone Emprit, Ismail Fahmi menyampaikan sejumlah pengguna Facebook menjadi korban porno phising. Dia mengatakan peretas mengarahkan pengguna mengetuk sebuah link porno dalam melancarkan aksinya.

“Sering terima notifikasi saat akun tak kita kenal nge-tag akun kita di kolom komentar FB porno phising ‘Klik Untuk Melihat Video Lengkap’?,” ujar Ismail lewat Facebook, Minggu (18/5).

Ismail menyampaikan pengguna berisiko menjadi korban phising jika mengetuk link mencurigakan itu. Bahkan, akun pengguna berpotensi diretas dan peretas melakukan sejumlah aksi, misalnya mengirim sejumlah tak ke kontak penggunanya yang diretas.

Terkait hal itu, Ismail menyarankan pengguna mengetuk icon more tanda titik tiga di notifikasi (…), lalu pilih ‘Only get notifications about tags from friends’.

Sementara itu, pengguna bernama Windarto Andi menyampaikan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar tidak menjadi korban peretasan itu, misalnya mereview fitur tag akun profil di kolom setting.

Caranya, masuk ke profil akun, lalu klik gambar tiga garis di bagian bawah (iphone) atau atas (android). Kemudian, klik profile setting (bergambar foto profil biasanya) dan dilanjutkan dengan klik ‘profile and tagging’ di bagian privacy. Terakhir klik ‘who can see what other post on your profile’.

Dijelaskan bahwa opsi ‘only me’ jika hanya pengguna yang melihat postingan orang lain di wall, atau opsi ‘everyone’ untuk tetap membiarkan wall ramai dengan postingan orang.

Opsi lain adalah mengaktifkan fitur reviewing. Dengan fitur itu, pengguna akan menerima notifikasi untuk direview.

Di sisi lain pakar keamanan siber Josua M Sinambela menyampaikan pengguna Cara melakukan reporting dan untagging, disesuaikan dengan isi konten yang dikomentari, misalnya nudity atau lainnya. Dengan cara itu, dia menyebut Facebook akan mengambil tindakan (take down) postingan dan suspend pemilik content akun.

Bagi para pengguna Facebook yang akunnya sudah terlanjur mengirimi postingan sejenis, pengguna disarankan membuka Setting & Privacy lalu Activity Logs.

“Semua aktivitas akun facebook kita ada disana, sehingga jika ada aktivitas atau postingan yang bukan dari kita, tinggal di hapus saja dan informasikan ke rekan/orang yang anda posting kalau itu bukan aktivitas yang anda sengaja,” ujar Josua.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210419095145-185-631537/cara-amankan-facebook-dari-notifikasi-video-porno-phising

Instagram Paling Rawan Cyber Bullying, Twitter Paling Aman, Mengapa?

KOMPAS.com – Media sosial kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia ramai menggunakan Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, untuk bermedsos ria di dunia maya.

Namun, di balik ragam kesenangan yang ditawarkan, media sosial juga membawa sisi gelap.

Sisi gelap itu adalah perundungan atau penyerangan secara verbal terhadap pengguna, atau stilah yang lebih dikenal adalah cyber bullying.

Pelaku perundungan melayangkan serangan berupa kata-kata kepada pihak lain atas tindakan yang dilakukan atau isu yang menerpa pihak tersebut.

Parahnya cyber bullying di Instagram

Berdasarkan data yang ditampilkan Drone Emprit, perundungan siber ini paling banyak terjadi di Instagram, yakni sebanyak 42 persen.

Lalu disusul dengan Facebook sebanyak 37 persen, Snapchat (31persen), WhatsApp (12 persen), YouTube (10 persen), dan Twitter (9 persen).

Pemerhati media sosial sekaligus pencetus Drone Emprit Ismail Fahmi menjelaskan, mengapa hal ini bisa terjadi.

“Alasan utama orang kena cyber bullying adalah penampilan. Wajar saja, di Twitter penampilan enggak penting. Banyak yang anonim. Kalau di Instagram, penampilan adalah ‘segalanya’. Dan itu sumber bully nomor wahid,” ujar Fahmi dalam penjelasannya di artikel Drone Emprit (21/3/2021).

Faktor penyebab cyber bullying

Seperti disebutkan sebelumnya, penampilan merupakan faktor terbesar yang melatarbelakangi terjadinya perundungan di ranah digital ini, yakni sebesar 61 persen.

Berikut ini faktor-faktor yang melatarbelakangi perundungan di di dunia maya:

-Penampilan (61 persen).
-Capaian akademis/kecerdasan (25 persen)
-Ras (17 persen)
-Seksualitas (15 persen)
-Status finansial (15 persen)
-Agama (11 persen)
-Lain-lain (20 persen)

Dampak cyber bullying

Atas serangan verbal yang diterima, seseorang bisa mengalami berbagai dampak. Ya, dampak ini bisa tetap terjadi meski korban tidak berinteraksi secara tatap muka dengan para pelaku.

Berdasarkan paparan Ismail Fahmi, berikut ini adalah dampak yang bisa ditimbulkan dari perilaku cyber bullying:
-Penyalahgunaan minuman beralkohol dan narkoba
-Terjadinya eating disorder
-Bolos kelas (bagi pelajar yang menjalani sekolah daring)
-Berhenti menggunakan media sosial
-Menyakiti diri sendiri
-Menghapus profil media sosial
-Berpikir untuk mengakhiri hidup
-Depresi
-Mengalami kecemasan sosial

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Ketika dihubungi langsung, Sabtu (17/4/2021), Fahmii yang menamatkan pendidikan doktoralnya di bidang ilmu informasi ini menjelaskan sejumlah hal yang penting untuk kita lakukan terkait cyber bullying.

Tidak bisa dihindari, kita sebagai pengguna media sosial juga berisiko terlibat dalam pusaran itu, baik menjadi korban maupun pelaku.

Bagi korban

Fahmi menyebut korban sebaiknya tidak perlu merespons serangan yang diterima melalui media sosial, justru lebih baik tinggalkan sejenak lingkungan kehidupan media sosial itu.

“Buat yang di-bully, kalau orang dewasa enggak kuat, stop saja dulu, tutup saja dulu akun media sosialnya. Diam saja dulu, karena enggak perlu dilawan bullying bullying itu. Semakin dilawan semakin nge-bully dia,” ujar Fahmi.

Ia mengatakan, perundingan di media sosial semacam ini akan mereda dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu.

Jika situasi sudah membaik atau kondusif, baru lah korban bisa kembali lagi beraktivitas di akun media sosialnya.

Bagi pelaku

Sementara itu, bagi pelaku perundungan, mereka semestinya menyadari bahwa di balik akun yang mereka serang ada manusia yang juga sama seperti dirinya, berperasaan dan bisa mengalami stres juga ketakutan.

“Harus biasa melihat bahwa HP itu benda mati, tapi di balik HP itu ada manusia. Bisa jadi saudara, orangtua, atau anak. Orang-orang (pelaku) itu kadang seringnya merasa mereka itu tidak berhadapan dengan orang betulan makanya bisa dengan sangat kejam mem-bully,” jelas Fahmi.

Bagi saksi

Adapun bagi pengguna media sosial lain yang tidak terlibat sebagai pelaku maupun korban, ternyata bisa berperan untuk membuat situasi menjadi lebih baik.

Fahmi mengatakan, caranya adalah dengan menyampaikan dukungan bagi korban, sampaikan kebaikan dari korban misalnya.

“Buat yang melihat, kalau bisa membantu, mendukung yang di-bully dan enggak perlu terlalu menyerang yang mem-bully juga, karena begitu (pelaku) diserang, biasanya terus mempertahankan diri, menyerang balik, enggak selesai-selesai,” kata dia.

Jadi, dari pada menghabiskan tenaga untuk melawan pelaku, lebih baik curahkan dukungan bagi korban. Itu akan lebih efektif.

Agar tidak turut menjadi pelaku

Terakhir, agar tidak turut dalam arus menjadi pelaku pembulian Fahmi menyebut ada dua hal yang perlu kita tanamkan sebagai pengguna media sosial.

Pertama adalah kesadaran bahwa kita sedang berinteraksi dengan manusia riil, meski melalui perantara media dan ponsel.

“Kalau kita merasa bahwa itu juga manusia riil, bisa jadi teman kita, saudara kita, atau bos kita, kita enggak akan terlalu kejam dan jahat. Orang Indonesia itu kalau ketemu langsung, face to face, baik-baik, senyum,” ujar Fahmi.

“Tapi begitu di media sosial, enggak kelihatan orangnya, keluar semua itu usilnya,” lanjutnya.

Kedua, kita harus menanamkan rasa empati pada diri kita sendiri. Kita harus tahu apa yang harus dilakukan jika sesuatu terjadi pada orang lain.

Misalnya orang lain tengah berduka, bahagia, mengalami musibah, dan sebagainya, kita tahu respons apa yang harus kita sampaikan agar tepat dengan situasi yang terjadi dan tidak justru menghancurkannya.

“Harus ada empati. Rasa empati itu yang hampir hilang. Kita itu harus diajarkan empati. Misalnya ada orang jatuh, sakit, dibantu. Bukan ditendang, di-bully,” pungkas Fahmi.

Link: https://www.kompas.com/tren/read/2021/04/18/140000265/instagram-paling-rawan-cyber-bullying-twitter-paling-aman-mengapa-?page=all

Waktu Sahur Muhammadiyah Mundur 8 Menit, Ismail Fahmi: Masjid Sudah Azan, Ini Masih Minum Air Putih

PR BEKASI – Pendiri dari Drone Emprit, Ismail Fahmi, menanggapi perihal jadwal azan Muhammadiyah yang dimundurkan delapan menit ketika sahur di bulan Ramadhan.

Ismail Fahmi menyebut bahwa karena Video Assistant Referee (VAR) Muhammadiyah, maka ketika masjid-masjid sudah azan, masyarakat Muhammadiyah masih menikmati air putihnya.

Gara-gara VAR @muhammadiyah, masjid-masjid udah pada azan, ini masih minum air putih,” kata Ismail Fahmi, sebagaimana dikutip PikiranRakyat-Bekasi.com dari akun Twitter @ismailfahmi pada Kamis, 15 April 2021.

Cuitan tersebut merupakan candaan yang juga menyinggung VAR dalam dunia sepak bola.

Teknologi VAR sendiri merupakan salah satu teknik baru dalam menentukan benar atau salahnya sebuah pelanggaran terjadi, dengan melihat video yang dimundurkan waktunya selama pertandingan.

Sementara itu, terkait dengan mundurnya jam azan dari Muhammadiyah, hal itu berhubungan dengan keputusan yang sudah ditetapkan Muhammadiyah pada Maret lalu.

Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menetapkan ketinggian matahari awal waktu Subuh yang baru, yakni 16 derajat di ufuk bagian timur.

Lebih lanjut, disampaikan oleh Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto, keputusan tersebut setelah dikaji oleh Majelis Tarjih melalui tiga aspek.

Aspek yang pertama adalah pendapat ulama falak atau astronomi sejak abad 4 hingga saat ini.

“Itu kan mayoritas menetapkan derajatnya ada di 19, sebagian ada di 18. Dari 21 ulama falak menetapkan di situ itu,” katanya, sebagaimana dikutip PikiranRakyat-Bekasi.com dari situs resmi Muhammadiyah.

Sementara kajian kedua yaitu, terkait dengan penetapan waktu Subuh dari berbagai negara.

Dalam kajian itu, Agung mengatakan ada banyak perbedaan yang terjadi antara satu dan yang lainnya.

Dikatakan, Muhammadiyah juga secara mandiri melalui lembaga astronomi di berbagai kampusnya telah melakukan kajian.

Kajian ketiga ini Majelis tarjih mengamanatkan kepada 3 lembaga untuk melakukan kajian dan Observatorium Ilmu Falak (OIF) yang berada di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan, Pusat Studi Astronomi (Pastron) yang berada di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, dan Islamic Science Research Network (ISRN) yang berada di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.

“Mereka melakukan pengamatan tidak hanya di 3 kota ini, tetapi lebih dari 20 kota di Indonesia melakukan pengamatan selama 4 tahun,” ujar Agung.

Atas dasar kajian yang telah dilalui oleh Majelis Tarjih dalam ijtihad jama’i memutuskan untuk mengubah ketinggian matahari awal waktu Subuh minus 20 derajat, yang selama ini berlaku dan tercantum dalam Himpunan Putusan Tarjih 3.

Link: https://bekasi.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-121773365/waktu-sahur-muhammadiyah-mundur-8-menit-ismail-fahmi-masjid-sudah-azan-ini-masih-minum-air-putih?page=3

In Indonesia, scammers use Twitter to prey on big banks’ clients

JAKARTA (The Jakarta Post/Asia News Network): On the night of March 12, a Bogor resident who asked to be referred to as Regina lost Rp 4.5 million (US$308) after giving her banking credentials to someone claiming to be a customer service (CS) representative from Bank Negara Indonesia (BNI).

The so-called CS representative contacted Regina after she tagged BNI’s official Twitter account, @BNI, on the social media platform to complain about a problem with her mobile banking account.

The person then directed Regina to a WhatsApp chat. “Because I needed to resolve the issue fast and I was also not careful, I clicked the link they gave me and we chatted via WhatsApp, ” she recalled, adding that she gave her 16-digit card number, as well as the three-digit card verification code (CVC) and a one-time password (OTP) sent to her phone.

“I was reluctant to give them my OTP, but they convinced me that they were legitimate. The person even gave me their name and employee identification number, ” Regina told The Jakarta Post on April 5.

After realising that she had been scammed, she went to check with a teller the next day and found that the bank could not trace or return her missing funds.

“They told me that even if I reported the incident, there was no guarantee I could get my money back, ” she said.

“I hope banks have a way to respond to or block these scammers so that people know which accounts are real.”

Regina is one of 2 million bank clients that cybercriminals have tried to lure into similar scams. The fraudsters impersonated at least seven large Indonesian financial institutions, according to a report by Group-IB, a global threat hunting and cyber intelligence company.

The company found that as of early March, 1,600 Twitter accounts were impersonating the seven banks, 2.5 times more than the 600 fake Twitter accounts recorded in January.

“This scam campaign is consistent with a trend toward the use of multistage scams, which help fraudsters lure in their victims. They are successful because of the lack of comprehensive digital asset monitoring by financial institutions, ” said Group-IB digital risk protection head for Asia Pacific Ilia Rozhnov in a statement on March 31.

He added that because of such attacks, banks risked losing their customers’ trust and that banks should carry out round-the-clock monitoring of the internet to promptly detect any fraud attempts.

Rozhnov also said the company had only seen the scheme at “such a scale” in Indonesia.

However, previous Group-IB research showed that cybercriminals often chose one location as a testing ground for their activities before “exporting” it abroad.

“Given that the ongoing scam campaign has seen exponential growth and that cybercriminals continue expanding the infrastructure for the scam, it seems that […] we are likely to see it rise further, possibly in neighbouring countries, ” he said.

There has also been a global surge of social engineering attacks, in which attackers try to breach companies’ security through their customers, who are easier targets than company staff members, who remain under corporate surveillance, Rozhnov added.

Twitter Indonesia did not respond to The Jakarta Post’s request for comment. A 2018 PricewaterhouseCoopers survey found that Indonesian banks considered cybersecurity threats the biggest risk to the industry and that such threats would be the major risk for digital banking for the following two to three years.

Meanwhile, big data consulting company Drone Emprit founder Ismail Fahmi noted that from Feb 11 to March 12, Twitter activities with the keyword “LiveChat” were commonly found on accounts mimicking Indonesia’s largest banks by assets, namely Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, BNI and Bank Central Asia (BCA).

However, BNI corporate secretary Mucharom Hadi Prayitno said the company had not seen an uptick in online fraud cases.

“If you find someone asking for your personal data through social media, please ignore them and report them to us because BNI never asks for clients’ personal data through social media direct messages, ” he said in a text message on Thursday, adding that clients could contact the BNI call centre instead.

Bank Mandiri and BCA did not immediately respond to the Post’s inquiry.

“Fake CS scams are not new, but they have become more rampant as scammers can easily identify people who are having banking problems via social media, ” Ismail of Drone Emprit said on Wednesday.

Ismail added that while such scams also occurred on other social media platforms, Twitter had become a breeding ground for fraudulent accounts because criminals could easily create a programme or a “bot” that automatically replied to customers’ tweets.

Scammers tended get their victims’ attention, he added, at night or during holidays, when official CS personnel were unable to immediately reply to messages.

“We should hold banks more accountable, and banks should also take a fast and more active stance. It is impossible to assign all responsibility to consumers, ” Ismail said, adding that banks should also set up an automatic detection and reply system that could notify users immediately after they were targeted by fraudulent accounts. – The Jakarta Post/Asia News Network

Link: https://www.thestar.com.my/aseanplus/aseanplus-news/2021/04/14/in-indonesia-scammers-use-twitter-to-prey-on-big-banks-clients

Perempuan dan Milenial dalam Aksi Teror di Indonesia

Ada kecenderungan pergeseran pelaku terorisme di Indonesia. Perempuan yang selama ini cenderung berada di belakang layar, mulai menunjukkan diri sebagai pemain lapangan menjadi pelaku aksi teror. Begitupula dengan anak-anak muda yang makin banyak turut dalam gerakan terorisme.

Dua peristiwa teror terjadi dalam waktu berdekatan akhir Maret 2021 lalu. Peristiwa pertama, bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Hati Yesus yang Mahakudus, Makassar pada Minggu, 28 Maret pagi. Selang tiga hari kemudian, polisi menembak mati seorang penyusup yang membawa senjata api di dalam area Mabes Polri, Jakarta.

Ada kesamaan pelaku di kedua peristiwa tersebut, yakni sama-sama perempuan. Di peristiwa pertama, YSF yang merupakan istri dari pelaku lainnya, sedangkan dalam peristiwa kedua berinisial ZA. Usia keduanya sepantaran yakni lahir pada pertengahan 1990-an, dan termasuk dalam generasi milenial.

Peneliti LP3ES Milda Istiqomah mengatakan, munculnya perempuan menandakan terjadinya pergeseran pelaku terorisme di tanah air. Pada dekade 2000-2015 peran perempuan berada di belakang layar, yakni sebagai fasilitator operasional dan pendukung ideologi.

Mereka kini memiliki peran yang lebih menonjol, bahkan aktif sebagai kombatan. Misalnya sebagai penyedia senjata, perakit bom, bahkan menjadi pelaku lapangan bom bunuh diri.

“Sebelumnya kita melihat mereka sebagai ideological supporter. Tapi sejak 2018, faktanya bahwa perempuan ini juga ikut andil dan turut aktif dalam peperangan,” kata Milda dalam webinar “Terorisme, HAM dan Arah Kebijakan Negara” yang diselenggarakan LP3ES, 2 April 2021.

Dari segi jumlah, lelaki memang masih mendominasi. Namun jumlah perempuan yang ditangkap dalam kasus terorisme melonjak, dari empat orang pada 2011-2015 menjadi 32 pada 2016-2020.

Terus bertambahnya jumlah perempuan yang aktif dalam terorisme menggeser pandangan umum. Survei Wahid Foundation dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2016 menyebutkan, potensi perempuan melakukan radikalisme religius cenderung rendah. Baik dalam mendukung organisasi radikal, melakukan tindakan intoleransi, serta mengajak permusuhan atau curiga terhadap kelompok lain.

Sebaliknya karakteristik kelompok radikal di Indonesia mayoritas berkelamin laki-laki dan cenderung berusia muda. Survei menemukan bahwa mereka memahami agama secara dangkal, menerima informasi agama yang sarat kebencian, gampang curiga, serta menyangkal hak kelompok lain yang tidak disukai.

“Pada akhirnya mereka membenarkan atau memberi dukungan terhadap gerakan radikal,“ sebut laporan yang berjudul “A Measure of The Extent of Socio-Religious Intolerance and Radicalism Within Muslim Society in Indonesia” tersebut.

Usia muda memang rentan terpengaruh radikalisme, lalu masuk ke dalam gerakan terorisme. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2019 menunjukkan lebih dari setengah atau 59,1% pelaku terorisme berusia kurang dari 30 tahun. Ini dapat dikatakan para pelaku teror kebanyakan berasal dari generasi Z dan milenial.

Dari segi pendidikan, sekitar 63,3% pelaku terorisme berlatar belakang SMA, kemudian lulusan perguruan tinggi sebanyak 16,4%. Sedangkan yang sempat mengenyam tapi tak lulus dari universitas sebanyak 5,5%. Meski demikian, menurut kajian Wahid Foundation dan LSI menyebutkan, pelaku terorisme tidak terkait pada faktor tertentu, seperti pendidikan, pendapatan, serta berasal dari pedesaan atau kota.     

Indonesia adalah salah satu pengguna media sosial (medsos) terbesar di dunia. We are Social dan Hootsuite mencatat pengguna medsos di tanah air mencapai 170 juta atau 61,8% dari total penduduk per Januari 2021. Sebanyak 94,5% di antaranya merupakan pengguna medsos aktif, rata-rata 3 jam 14 menit dihabiskan untuk bermain medsos per hari.

Setiap pengguna medsos di Indonesia rata-rata memiliki 10,5 akun. Adapun lima platform terpopuler adalah Youtube, Whatsapp, Instagram, Facebook, dan Twitter. 

Menurut Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, medsos dapat menjadi ladang subur untuk menyemai calon anggota kelompok radikal. Apalagi algoritma di medsos cenderung memberikan informasi yang sejenis. Alhasil, pengguna hanya mendapatkan informasi yang seragam atau sepaham dengan apa yang diyakininya.

Pola penyebaran informasi radikalisme tersebut, menurut dia, biasanya dilakukan di grup-grup tertutup. Narasinya diawali dari sikap anti pemerintah, yang dihubungkan dengan ketidakadilan penegakan hukum, dan dibumbui narasi agama. Kalangan dewasa dan paruh baya berinteraksi melalui Facebook, sementara milenial bermain Nstagram dan TikTok yang kontennya memanfaatkan visual dan video pendek.

Konten dalam video panjang diakses melalui Youtube, terutama tentang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Isi adegan video ini gado-gado, tapi mempersuasi seseorang untuk mempercayai ajaran.

Dia menambahkan, isi video dimodifikasi dari cuplikan film Hollywood, musik penuh semangat, teori konspirasi, hingga visualisasi orang terbunuh untuk menonjolkan penderitaan. “Konten yang mengandung teori konspirasi dan bersifat kontroversial biasanya menimbulkan interaksi yang tinggi,” kata Fahmi saat dihubungi Katadata.co.id, Senin 5 April 2021.

“Hal ini sekaligus mendorong pengguna media sosial untuk membagikan dan terus mendiskusikannya.

” Ironisnya, kata Fahmi, platform media sosial tidak berupaya menyetop atau menghapus konten-konten kontroversial. Mereka baru menghapus konten atau unggahan setelah ada protes dari berbagai pihak.

“Karena ada keterikatan (engagement) yang tinggi dan tentunya menguntungkan secara ekonomi bagi perusahaan media sosial,“ ujar dia.

Menurut dia, butuh strategi perlawanan dalam “perang” di media sosial. Narasi yang kontra terhadap terorisme perlu terus disebar, terutama dari tokoh agama yang moderat dan bisa diterima kalangan anak muda. Misalnya, Gus Baha atau Ustadz Adi Hidayat.

“Tagarnya bisa disamakan dengan tagar narasi negatif, sehingga pengguna media sosial dapat melihat keberagaman narasi atas suatu isu,“ kata Fahmi yang juga Wakil Ketua Komisi dan Informasi Majelis Ulama Indonesia (MUI).  
Editor: Aria W. Yudhistira

Link: https://katadata.co.id/ariayudhistira/analisisdata/607049e153f0d/perempuan-dan-milenial-dalam-aksi-teror-di-indonesia

Analisis Klaster Medsos Jokowi, Banjir NTT dan Atta-Aurel

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyatakan berita siklon tropis Seroja yang kemudian heboh banjir di Nusa Tenggara Timur (NTT) tertutupi oleh perbincangan dengan pernikahan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah.

Dari grafik tren berita online untuk topik ‘Siklon’ vs ‘Jokowi AND (pernikahan, atta, aurel, nikah)’ yang bikin heboh, tampak tren Siklon mulai naik setelah jam 12 tanggal 3 April. Namun kalah oleh berita pernikahan AA,” ujar Ismail lewat Twitter, Senin (5/4).

Berdasarkan analisis DE, Ismail mengatakan berita tentang ‘Siklon’ hampir hilang pada 4 April 2021. Media disebut masih fokus pada isu ‘Jokowi dan Pernikahan Atta-Aurel’ ketika sudah mulai ada berita di media sosial bahwa badai siklon sudah datang dan banjir sudah menerjang.

Tanggal 5 April 2021, Ismail menyampaikan media baru mulai berkurang membahas pernikahan Atta-Aurel. Media beralih mengangkat badai Siklon Seroja setelah tagar #prayforNTT trending.

Terkait dengan frekuensi publik dan bencana, Ismail menyatakan media sosial tampak sepi, seolah tidak mendengar adanya peringatan @infoBMKG. Sebaliknya, pemberitaan oleh media tentang readyviewed kehadiran Jokowi dalam pernikahan Atta-Aurel sangat besar.

Sedangkan kaitan K-Poppers dan #prayforNTT, menurut data DE muncul pertama tanggal 4 April oleh akun @Anak_Termanu. Akun itu membuat thread berisi video-video banjir di NTT. Pukul 16:58 akun @cicibancaa melihat ini belum trending di berita nasional, lalu mengajak K-poppers turun.

Sejak saat itu, tagar #prayforNTT terus naik posisinya di trending topic Twitter, seperti diperlihatkan oleh grafik tren topik trending Twitter dari Drone Emprit ini. Sejak 4 April 2021, pukul 10 malam sudah jadi top trending Twitter, hingga sekarang (5 April),” kata Ismail.

Terkait tagar #prayforNTT, Ismail berkata akun yang meramaikan tagar itu bukan dari cluster pro-kontra seperti yang terlihat selama ini. Dia melihat tagar itu sebagian besar dari akun K-poppers.

Akun K-poppers dinilai berkolaborasi membangun awareness soal bencana di NTT, ketika media dan netizen masih fokus pada pernikahan Atta-Aurel.

Dari tanggal 4-5 April, top akun yang paling besar jumlah RT+Reply (top influencers) bisa dilihat avatarnya mayoritas dari kalangan K-Poppers,” ujar Ismail.

Di sisi lain, Ismail membeberkan sebanyak lebih dari 20.500 akun (47 persen) dari total lebih dari 43.700 akun yang ikut aktif dalam percakapan tagar #prayforNTT berhasil dianalisis oleh DE. Hasilnya, score bot mereka 1.52, yang berarti percakapan sangat natural, bukan oleh akun bot.

Ismail menyampaikan tren percakapan Jokowi naik dan turun dengan volume yang tinggi sejak tanggal 3-4 April 2021. Saat media online sudah turun, di medsos masih ramai pro-kontra.

Peta SNA, kata dia memperlihatkan beberapa cluster yang pola retweetnya berdekatan. Paling besar cluster kontra, yang mengritik kehadiran Jokowi ke acara itu.

Mereka dari kalangan oposisi, publik, bahkan juga dari pendukung (spt @sahaL_AS),” ujar nya.

Ismail menyatakan klaster pro Jokowi sangat kecil. Dia menyebut hanya didominasi oleh akun @KemensetnegRI yang mendapat sangat banyak retweet, juga reply dan retweet with quote.

Postingan resmi Setneg tentang acara ini melahirkan banyak kritikan. Juga oleh akun-akun yang tidak besar followernya, yg memberi narasi positif,” ujar Ismail.

Ismail menambahkan klaster yang pro dan yang kontra atas kehadiran Pak Jokowi tampak membicarakan dua hal yang berbeda. Klaster pro bicara acara itu sudah menerapkan prokes ketat. Klaster kontra bicara bahwa acara itu tidak memperlihatkan keadilan.

Jadinya mrk ndak nyambung,” ujarnya.

Lebih dari itu, Ismail menilai ters itu memperlihatkan bahwa publik mulai fokus pada kondisi banjir (situasi, dampak, dan bantuan). Istilah ‘siklon’ sendiri sudah sedikit digunakan dan kembali netizen fokus pada dampak dari siklon ini, yaitu banjir.

SNA GABUNGAN 5 APRIL 2021. Siapa sebenarnya yang masih ramai membahas Jokowi di nikahan Atta-Aurel? Ternyata yg dominan adalah cluster akun pro oposisi dan pro pemerintah. Sedangkan topik siklon, banjir, dan #prayforNTT jadi fokus K-poppers dan umum. Cluster ini lebih besar,” ujar Ismail.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210406114245-185-626479/analisis-klaster-medsos-jokowi-banjir-ntt-dan-atta-aurel/2

Bu Susi Pakai Aplikasi Ini Pantau NTT, Netizen Auto Download

Jakarta – 

Bencana yang menimpa saudara-saudara di NTT (Nusa Tenggara Timur) juga dikawal oleh Susi Pudjiastuti. Ia mengaku memantaunya menggunakan aplikasi ini.

Banjir akibat badai yang menerpa Kota Kupang dan beberapa daerah di NTT ini terjadi sejak Sabtu (3/4/2021). Tagar #prayforNTT pun menjadi trending topic di Twitter.

“Kawan2 mari kita berdoa untk saudara2 kita di NTT .. selatan Jawa pun sekarang hujan dan mendung tebal .. sementara pusaran taifun fi selatan NTT masih ungu warnanya,” tulis Susi.

“Semoga semua bisa bertahan sd bantuan datang,” ujarnya masih dalam cuitan yang sama.

Dalam tweet-nya, Susi mengunggah tangkapan layar yang menunjukkan pergerakan angin. Ia tampaknya menggunakan aplikasi untuk memantau.

Netizen berbondong-bondong menanyakan aplikasi apa yang digunakan Susi. Mereka mengaku juga ingin memantau kondisi di banjir NTT dan juga untuk digunakan dalam keseharian.

Susi pun menjawab bahwa ternyata, aplikasi itu bernama Windy. Windy berfungsi untuk radar cuaca, satelit dan juga ramalan cuaca.

Praktisi Media Monitoring & Analytic sekaligus Founder of Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi bahkan ikut mengunduh aplikasi rekomendasi dari mantan Menteri Kelautan tersebut.

“Langsung saya install. Makasih bu @susipudjiastuti. Publik pun bisa cek sendiri,” katanya sambil mengunggah tangkapan layarnya.

Link: https://inet.detik.com/cyberlife/d-5521326/bu-susi-pakai-aplikasi-ini-pantau-ntt-netizen-auto-download

Melawan Terorisme dari Rumah

Merdeka.com – Kompleks Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, dibuat geger pada Rabu sore pekan lalu. Perempuan muda dengan mudah masuk lewat pintu belakang. Kemudian melakukan penyerangan. Menggenggam senjata Airsoft Gun di tangan, dia menembaki tiap arah.

Suara letusan senjata terdengar berkali-kali. Petugas segera bertindak tegas. Pelaku dilumpuhkan. Ditembak hingga tewas di dekat area parkir pos penjagaan.

Setelah situasi terkendali, identitas sosok itu diketahui. Namanya Zakiah Aini (ZA). Usianya masih tergolong belia. 25 tahun. Diduga pelaku berideologi ISIS sehingga nekat menjadi lone wolf.

Tidak ada yang menduga jika gadis itu bakal melakukan aksi penyerangan. Tak hanya keluarga, para tetangga pun ikut terkejut. Gadis yang berdomisili di Ciracas, Jakarta Timur, ini padahal dikenal sebagai pribadi pendiam. Bahkan jarang keluar rumah.

Sikap diam yang ditampilkan Zakiah tak pernah dianggap aneh. Apalagi dicurigai akan berbuntut pada aksi yang menggemparkan. Bahkan menurut cerita keluarga, sifat pendiam itu sudah berlangsung sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Tidak ada (perilaku aneh). Ibu-bapaknya tidak pernah (menyangka) untuk ke arah situ (terlibat aksi penyerangan). (Aktivitas sehari-hari) biasa saja. Bantuin, nyapu ngepel biasa di rumah, kata keluarga,” ujar Kusdi selaku Ketua RT tempat Zakiah tinggal.

Fenomena lone wolf seperti yang dilakoni Zahkia memang mengkhawatirkan. Tidak saja di Indonesia, tapi sudah menjadi momok dalam upaya pemberantasan terorisme di berbagai negara. Namun, yang membuat lone wolf di Indonesia semakin mengkhawatirkan karena dilakukan banyak anak muda.

Guru Besar Unpad Bidang Keamanan Dalam Negeri, Prof Muradi, melihat kejadian pelaku penyerangan seorang diri alias lone wolf, banyak berusia di bawah 30 tahun. Tiap pelaku di usia muda itu juga dirasa belum matang secara psikologi.

Bila dibandingkan dengan aksi teror didalangi kelompok atau jaringan teror, memang aksi lone wolf lebih mengkhawatirkan. Kondisi ini dikarenakan seorang lone wolf justru tinggal dan berbaur di dalam masyarakat. Sehingga menyulitkan aparat penegak hukum untuk mendeteksi keberadaan dan aksi mereka.

Sementara untuk kelompok teroris cenderung membentuk sebuah kelompok eksklusif. Bahkan mereka melepaskan diri dari masyarakat. Salah satunya kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

“Kalau tanya ke saya lebih milih mana? JAD atau lone wolf untuk diperangi. Saya lebih suka menghajar kelompok JAD. Karena garis koordinasinya, garis komunikasinya itu masih kelihatan,” kata Muradi kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Keluarga Menjadi Kunci

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melihat sejak 2014 tepatnya sebelum adanya deklarasi ISIS, pola perekrutan lebih banyak dilaksanakan secara tatap muka dan pertemuan tertutup. Namun kehadiran ISIS, perekrutan dengan menggunakan media online semakin marak digunakan.

Per 12 Maret 2021, catatan BNPT terdapat 321 grup maupun kanal media sosial yang terindikasi menyebarkan propaganda radikal terorisme. Dari jumlah tersebut, 145 grup atau kanal platform Telegram. Sedangkan sepanjang tahun 2020, terdapat 341 konten siber yang terpantau menyebarkan propaganda radikal terorisme. Sebagian besar penyebar konten, lanjut dia, merupakan akun underbow organisasi yang telah resmi dilarang seperti HTI.

Perekrutan anggota kelompok terorisme saat ini memang menyasar golongan muda. Masa transisi krisis identitas kalangan pemuda membuat mereka terbuka untuk menerima gagasan baru yang lebih radikal. Alasan-alasan seperti inilah yang menyebabkan kaum sangat rentan terhadap pengaruh dan ajakan kelompok kekerasan dan terorisme.

Peran kaum muda yang dalam kelompok radikal pun bisa beragam. Sebagai contoh, kelompok Jamaah Islamiyah (JI) membentuk tim Askari. Tim ini terdiri dari 5-10 orang yang berperan sebagai tim penyerang yang beranggotakan anak-anak muda. Mereka kemudia melakukan aksi bom bunuh diri di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton pada 12 tahun lalu.

“Kita lihat pada kasus bom J.W. Marriott dan Ritz Carlton. Pelaku berusia 18 dan 27 tahun. Kemudian Bom Bali, pelaku berusia 20-23 tahun. Hingga kasus terkini yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri (berusia di bawah 30 tahun),” ungkap Direktur Penegakan Hukum sekaligus Juru Bicara BNPT Brigjen Eddy Hartono.

Beragam konten di media sosial memang seharusnya menjadi perhatian serius. Khususnya terkait terorisme. Memang sejauh ini sulit mendeteksi konten yang spesifik mengajarkan paham radikal maupun mengarah terorisme di dalam ruang publik media sosial.

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyebut biasanya pembahasan mengenai terorisme dilakukan dalam platform yang lebih aman. Mereka biasanya tergabung dalam tiap grup yang lebih privasi. Sehingg sulit dilakukan pemantauan.

“Mereka biasanya sudah masuk ke grup Telegram. Itu sudah ada pembahasan yang lebih dalam,” katanya kepada merdeka.com, Sabtu pekan lalu.

Tiap kelompok yang menyebarkan radikalisme, lanjut dia, sangat hati-hati dan selektif dalam memilih pengikut. Sebelumnya mereka akan memastikan dengan sungguh-sungguh bahwa seseorang memang bisa diajak untuk bergabung. Setelah dianggap dapat memenuhi kriteria, baru calon pengikut ini dimasukkan dalam grup yang lebih tertutup lagi.

Meski begitu, Ismail Fahmi melihat bahwa postingan yang bersifat umum juga menjadi pemicu mendorong kaum muda masuk ke dalam tiap pembahasan terkait radikalisme. Karena memberikan kesan pertama terkait sebuah tema. Jika satu postingan mendapatkan banyak dukungan maka bisa menggoda anak muda untuk mencari tahu lebih jauh.

“Tapi kalau semua orang kebanyakan menolak narasi-narasi yang tadi, dia akan kecut (takut). Sendiri kan tidak ada dukungan. Soalnya masih muda. Dia butuh dukungan dari publik. Makanya di sini publik pun juga punya peran. Perannya kita harus mengutuk itu,” dia mengungkapkan.

Peran keluarga menjadi penting untuk menjaga anak muda tidak jauh terperosok ke dalam jurang terorisme. Terutama menekan fenomena lone wolf.

Keluarga sebagai bagian paling dekat seharusnya mampu menangkap tiap sinyal perubahan perilaku anggotanya bilamulai terpapar radikalisme. Sehingga keluarga bisa segera menghalangi sebelum mereka melakukan aksi lebih jauh.

Setelah keluarga, masyarakat juga punya peran yang tidak kalah penting. Aparat negara seperti BNPT dan Polri tentu akan banyak bergerak di bagian penegakan hukum. Karena itu, keluarga lah yang harus memainkan peran untuk menyampaikan kontra narasi terhadap paham radikal.

Soal kondisi psikologis kaum muda yang rentan untuk tergoda, Muradi berpandangan bahwa itu memang merupakan karakteristik usia muda. Karena itu pendampingan dan komunikasi dari keluarga dan orang yang lebih dewasa amat diperlukan.

“Hampir semua anak muda mengalami itu. Tinggal seberapa jauh dia berinteraksi dengan keluarga. Kuncinya begitu ada perubahan sikap, sekecil apapun, keluarga harus paham,” Muradi menegaskan.

Sementara menurut Fahmi, menilik dari pengaruh respon publik terhadap satu konten dapat memengaruhi psikologi kaum muda, ke depan seharusnya semakin banyak hal positif yang didukung. Kemudian masyarakat digital juga bersatu melawan tiap konten berbau radikal.

“Yang bisa kita lakukan bersama-sama sebagai komunitas, dibanyakin konten-konten moderat. Konten dari tokoh-tokoh yang benar. Yang menjelaskan. supaya anak-anak muda ini ketika mereka cari di YouTube, di instagram. Masukan kata kunci yang sedang mereka pelajari, muncul yang paling atas itu konten-konten yang moderat ini,” kata Ismail mengungkapkan. [ang]

Link: https://www.merdeka.com/khas/melawan-terorisme-dari-rumah.html

Belajar Konten dan Diskusi Positif di Media Sosial Bersama #BagikanDenganBenar

Ada hari-hari ketika saya cukup lelah untuk melihat betapa kabar kabur begitu mudah beredar di media sosial ketika kabar yang benarnya justru lebih minim gaungnya. Kalau lagi nggak lelah, biasanya saya meluangkan waktu untuk menulis sedikit konten positif untuk meluruskan suatu kabar kabur, biasanya terkait isu obat dan makanan, dan kemudian entah mengirimnya ke media alternatif, menuliskannya di platform UGC, atau ya ditulis biasa saja di blog saya.

Kelelahan itu sebenarnya normal. Kalau lagi membaca perundungan pada tulisan-tulisan saya tentang vaksin COVID-19 maupun uji klinisnya, sesungguhnya saya malas menulis lagi. Mending juga cuci piring atau nyetrika. Akan tetapi, upaya untuk tetap turut serta dapat upaya berkonten dan berdiskusi positif di media sosial sejatinya tiada pernah padam. Paling ya sembunyi aja…

Beberapa waktu lalu, algoritma Instagram mengantarkan saya pada suatu gerakan bertajuk Akademi Virtual #BagikanDenganBenar. Di sela-sela tesis sik ora rampung-rampung iki, saya kemudian mencoba mendaftarkan diri dan ndilalah termasuk dalam 20 peserta terpilih.

Mengapa saya mendaftarkan diri?

Sederhana saja. Waktu edar saya di dunia akademis tinggal 5 bulan sebelum kembali ke dunia profesional. Di periode yang sedikit lagi ini, saya ingin melengkapi diri sebanyak-banyaknya dengan apapun yang dapat memperkaya isi otak saya. Siapa tahu kelak membantu apapun yang saya lakukan di dunia profesional.

Alasan kedua, tentu saja karena topik yang ditawarkan dan pembicara-pembicara pada akademi virtual ini cukup keren dan memang orang-orang yang kondang dalam urusan linimasa.

Belajar Apa di #BagikanDenganBenar?

Total jenderal kegiatan Akademi Virtual ini berlangsung selama 4 hari dengan durasi per hari sekitar 3-4 jam. Hari yang diambil juga adalah Sabtu dan Minggu. Sialnya, dua kali hari Sabtu itu pas istri saya ada pekerjaan. Walhasil, dua kali hari Sabtu itu pula anak saya baru mandi jam 2 siang segera sesudah kegiatan usai.

Yes, kami di rumah memang tidak (mampu) mempekerjakan orang lain. Jadi ya, masak-masak sendiri, cuci baju sendiri, tidur saja yang bertiga~

Pada hari pertama, topik yang dipelajari adalah perihal Transformasi Konflik dari Akar Rumput Melalui Media Sosial, dibawakan oleh Rudi Sukandar (Director of LSPR Centre for Research, Publication, and Community Service). Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan sesi perihal Analisa dan Diskusi Studi Kasus di Indonesia oleh Zain Maulana (Direktur Eksekutif Centre for Development and International Studies, UMY) dan Daniel Awigra (Human Rights Working Group).

Sudah kayak kuliah ya? Teori lanjut studi kasus. Dan sebagai apoteker yang menemukan keseruan kuliah ilmu sosial di jejang Magister, materi di hari pertama ini tentu cukup dapat diikuti.

Keesokan harinya, Minggu 22 Maret 2021, materinya adalah tentang Psikologi di Balik Ujaran Kebencian oleh Roosalina Wulandari (Psikolog Klinis). Dari materi ini, kita jadi tahu bahwa kebencian itu bukan sekadar benci. Ada penyebab yang jauh lebih dalam, bahkan jauh lebih dalam dari cinta diam-diam. Materi berikutnya dibawakan oleh Ismail Fahmi (Drone Emprit). Materi yang ini cukup relevan bagi saya yang memang tengah menganalisa engagement publik di media sosial.

Pada sesi ini saya sempat bertanya soal fenomena micro influencer suatu instansi yang rajin sekali update-nya dan rajin pula saling berkomentar satu sama lain. Saya tahu karena beberapa kali ikut project yang sama dan jadilah follow-follow-an dengan para micro atau bahkan nano influencer tersebut. Rupanya, hal ini juga dapat dianalisis pada Drone Emprit.

Setidaknya hal itu melengkapi pustaka-pustaka yang saya baca perihal Government 2.0 bahwa citizens engagement itu memang penting, tapi engagement yang tidak organik tidak akan membawa suatu konten pada level yang berbeda.Hari ketiga, peserta bersua dengan Damar Juniarto (SAFENet) untuk mempelajari tentang dua kata yang tarik ulurnya panjang betul di negeri ini: ujaran kebencian. Dua kata tapi diskusi satu jam saja kurang jadinya. Hal itu kemudian dilengkapi dengan diskursus kebebasan berekspresi yang dibawakan oleh Yuyun Wahyuningrum (Wakil Indonesia di AICHR).

Dari 3 hari ini, saya akhirnya sungguh memahami alasan kenapa Pak Asep, senior saya di kantor lama yang notabene seorang scientist kelas wahid pada akhirnya bisa ngeblok saya di Facebook hanya gara-gara saya doyan berkomentar di lapaknya soal pilihan politik.

Bayangkan, segala teori dari para pakar kok ya saya gunakan untuk menganalisis Pak Asep seorang. Sedih amat.

Di hari terakhir, peserta akademi bersua dengan Wildan Mahendra Ramadhani (SabangMerauke), Agung Yudha (Twitter), dan Noudhy Valdryno (Facebook). Pada hari ini, pembahasannya sudah di teknis, baik teknis membangun engagement, maupun teknis media sosial berikut algoritmanya.

Pada akhir akademi virtual ini, para peserta diminta mengerjakan dan mempresentasikan mini project yang tentu saja terkait dengan media sosial itu sendiri.

Secara umum, inti yang saya peroleh adalah kebutuhan kita untuk membanjiri lapak dengan konten positif. Walau demikian, bukan berarti kritik tidak boleh ya. Kritiklah secara tepat dan bebas dari ujaran kebencian. Masalah ‘membanjiri’ itu kemudian merupakan prahara sendiri bagi content creator sambilan kayak saya yang kadang-kadang sehari bisa ngonten lima biji, tapi lima bulan kemudian zonk.

Semoga ada lanjutan #BagikanDenganBenar selanjutnya supaya ilmu-ilmu semacam ini bisa dibagikan dengan lebih luas lagi. Monggo silakan digoda para pengelolanya di Twitter @bagikandgnbenar dan Facebook serta Instagram @bagikandenganbenar. Siapa tahu kalau digeruduk publik kayak akun BWF, pengelolanya mau bikin gelombang berikutnya.

Tabik~

Link: https://kumparan.com/alexander-arie-sadhar/belajar-konten-dan-diskusi-positif-di-media-sosial-bersama-bagikandenganbenar-1vReB9geNSf/full

BSSN, ACCI, Mafindo, dan Drone Emprit Luncurkan Digital Citizenship Indonesia

JAKARTA, investor.id – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI), Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), dan Drone Emprit meluncurkan portal pembelajaran Digital Citizenship Indonesia yang beralamatkan di laman https://digitalcitizenship.id.

Peluncuran tersebut dilakukan secara daring oleh Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN Dra Rr Retno Artinah S dalam kegiatan webinar bertema ‘Ruang Siber Yang Aman dan Nyaman di Era Industri 4.0’ yang berlangsung pada Selasa (23/3).

Digital Citizenship Indonesia merupakan inisiatif bersama untuk meningkatkan literasi terkait keamanan dan etika di ruang siber. Inisiator awal dari portal pembelajaran ini akan dimulai dengan menyusun kerangka kurikulum dan kegiatan yang ada. Platform ini juga didukung oleh Acara Seru dan CyberHub Indonesia. 

Peluncuran platform pembelajaran tersebut dilatarbelakangi oleh keprihatinan bersama terkait literasi keamanan dan juga etika di ruang siber. Risiko kejahatan siber (cybercrime) menjadi pengetahuan yang penting untuk diketahui oleh masyarakat.

Namun, dalam praktiknya, belum banyak masyarakat di Indonesia yang memahami hal tersebut. Karena itu, masih banyak masyarakat maupun organisasi di Tanah Air yang menjadi korban dari kejahatan siber. 

Juru Bicara dari BSSN Anton Setiyawan berharap, platform Digital Citizenship Indonesia bisa memberikan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia. “Mudah-mudahan dengan platform ini, kita bisa maksimalkan dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan dan kesejahteraan bangsa ini,” ujar Anton. 

Founder dari Mafindo Harry Sufehmi menuturkan, Digital Citizenship Indonesia merupakan peluang yang sangat bagus untuk bergotong-royong guna membuat panduan bagi banyak orang mengenai etika digital.

“Secara komprehensif, etika digital saya belum tahu ada. Dan, saya rasa, ini peluang yang sangat bagus untuk kita garap bersama-sama, sehingga bisa menjadi panduan bagi banyak orang,” harapnya.

Ia juga berpendapat, dengan menjadi digital citizenship yang baik, kita tidak hanya membuat dunia siber menjadi lebih nyaman dan aman, tapi juga memungkinkan kita untuk bisa memanfaatkan dan sukses di dunia baru tersebut. 

Founder dari Drone Emprit Ismail Fahmi menyampaikan pentingnya pembelajaran digital citizenship untuk masyarakat Indonesia. Dia menyampaikan, hal tersebut menjadi kewajiban bersama  hukumnya.

“Mudah-mudahan kita bisa berkolaborasi bersama di digitalcitizenship.id, dan kita ramai-ramai gunakan itu sebagai suatu kontribusi kita bersama,” tutur Ismail. 

Baru Awal

Ketum ACCI Alex Budiyanto mengatakan, Digital Citizenship Indonesia baru inisiasi awal. Karena itu, diperlukan kolaborasi banyak pihak untuk bergotong-royong dan berkontribusi untuk memperbaiki literasi keamanan siber dan juga etika di ruang siber.

Alex pun mengajak sebanyak mungkin pihak untuk mendukung dan turut berkolaborasi dalam pengembangan materi pembelajaran Digital Citizenship Indonesia. 

“Butuh bantuan dan juga semangat gotong-royong untuk menyusun materi pembelajarannya, baik untuk anak-anak sampai orang dewasa. Untuk itu, bagi yang tertarik membantu dan ingin berkontribusi untuk bisa mengirimkan ke e-mail hi@digitalcitizenship.id,”tutup Alex. 

Rencananya, materi pembelajaran Digital Citizenship Indonesia mulai diperuntukkan bagi anak-anak playgroup, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, hingga orang dewasa dan  orang tua yang mempunyai anak.

Inisiatif bersama tersebut pun dalam jangka panjang diharapkan bisa berdampak positif terhadap terciptanya ruang siber yang aman dan nyaman di era Industri 4.0.  Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

link: https://investor.id/it-and-telecommunication/bssn-acci-mafindo-dan-drone-emprit-luncurkan-digital-citizenship-indonesia