Media Harus Promosikan Vaksin

JAKARTA-Suara Muhammadiyah, Pro dan kontra menyelimuti program vaksinasi yang digulirkan pemerintah sebagai salah satu upaya menyelesaikan masalah pandemi Covid-19. Meski MUI (Majelis Ulma Indonesia) telah mengeluarkan fatwa halal dan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) juga menyatakan aman, namun teryata tidak sedikit orang yang menolak Sinovac. Narasi penolakan tersebut terdengar nyaring di medsos. Tidak hanya oleh oknum di dalam negeri, penolakan tersebut juga dikautkan dengan berbagai pendapat oknum dari luar negeri. Karena literasi yang liar tersebut, sebagian masyarakat mulai ragu terhadap program vaksinasi pemerintah ini. “Disinilah peran penting media, yaitu harus mempromosikan vaksinasi,” ucap Dadang Kahmad Ketua PP Muhammadiyah pada acara taklshow tv-Mu, Jum’at (15/1/21).

Dadang menekankan, mestinya persoalan vaksin ini sudah selesai kalau semua ikut dengan pemegang otoritas sebagaimana sikap Muhammadiyah. dalam hal memberikan cap halal adalah otoritas MUI, sedang dalam hal kemanan dan uji kelayakan adalah otiritas BPOM. “Karena Muhammadiyah tidak punya otoritas dalam hal itu, maka Muhammadiyah ikut serta mendukung keputusan yang ada.” terangnya.

Kalaupun ada pendapat lain, Dadang mengingatkan, pendapat tersebut atau penelokan itu bukan berasal dari lembaga atau instansi resmi pemegang otoritas. itu adalah ekspresi individu yang tidak layak diikuti sebab tidak memiliki kewenangan dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Hal serupa juga disampaikan dr Ahmad Muttaqin ‘Alim Wakil Ketua MCCC PP Muhammadiyah. Ia mengaku menyayangkan isu-isu penolakan vaksin yang masif di berbagai media, terutama medos. Sebab penolakan vaksin yang ada, menurutnya, karena informasi yang diterima masyarkat tentang vaksin tidak menyeluruh, parsial-parsial. Tugas media adalah menyampaikan informasi selengkap-lekapnya sehingga benar-benar mengedukasi masyarakat.

Selain itu, dr ‘Alim melanjutkan, dalam masa yang serba susah karena adanya pandemi seperti sekarang ini, mestinya semua menyamakan gerak sekaligus bergerak bersama-sama. Bukan sebaliknya saling memperlihatkan perbedaan pandangan secara vulgar. Mestinya semua tampil sebagai penggerak, termasuk media juga harus menjadi penggerak vaksinasi.

Memang benar bahwa dengan adanya vaksin tidak lantas pandemi selesai, karena Muhammadiyah mengatakan bahwa vaksi adalah bagian dari upaya untuk menyelesaiakan persoalan pandemi ini. Dan dalam peryataan resminya, Muhammadiyah juga tetap menyerukan agar masyarakat tetap menegakkan prokes (protokol kesehatan) walau sudah mendapat vaksin.

Menurut Ismail Fahmi dari Drone Emprit, persoalan pro dan kontra vaksin semakin meruncing karena dikaitkan dengan beberapa isu, diantara isu tengtang bisnis global, seperti vaksin itu erat kaitanya dengan pemasangan chips, vaksin dapat merubah DNA, virus dan anti virus buatan China, dll. “Untuk sementara, mereka yang pro vaksin jumlahnya masih tinggi, tapi tidak menuntut kemungkinan, jika isu yang berlsiweran itu terus berkembang dikonsumsi masif oleh masyarakat, bisa jadi yang kontra lebih besar dari pada yang pro,” jelas Fahmi.

“Maka sekali lagi, disinilah peran dan pentingnya media,” imbuhnya. (gsh).

Link: https://www.suaramuhammadiyah.id/2021/01/15/media-harus-promosikan-vaksin/

Blunder Istana Gandeng Raffi Ahmad Jadi Influencer Vaksin

Jakarta, CNN Indonesia — 

Langkah Presiden Jokowi mengajak artis atau influencer seperti Raffi Ahmad untuk ikut divaksin rentan berujung gimik tanpa ada tindak lanjut konkret.

Raffi Ahmad tak sampai 24 jam mendapat sorotan netizen karena kedapatan kumpul/ hang out bersama artis lainnya usai readyviewed divaksin covid bersama Jokowi. Raffi dicap mengecewakan karena keterlaluan dan tidak menghargai keistimewaan yang ia dapatkan dari Istana.

Istana pun akhirnya menegur Raffi. “Sudah diingatkan kembali oleh tim komunikasi covid-19 untuk tetap pakai masker, cuci tangan, jaga jarak,” ujar Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono kepada CNNIndonesia.com.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menyatakan upaya lanjutan yang dibutuhkan saat ini adalah langkah edukasi yang konkret sehingga usaha pemerintah tak sia-sia. Hermawan menyarankan pemerintah mempertimbangkan masak segmentasi followers atau pengikut para influencer di media sosial mereka masing-masing.

“Memang kehadiran artis seperti Raffi Ahmad dan lain-lain memang ini pencitraan, gimik untuk kalangan tertentu ya. Usaha ini bisa positif dan negatif, bila ingin membuahkan hasil mereka harus concern untuk edukasi,” kata Hermawan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (13/1).

Presiden Joko Widodo  menerima suntikan dosis pertama vaksin virus corona (Covid-19) Sinovac, Rabu (13/1). Proses penyuntikan vaksin bakal dilakukan di Istana Kepresidenan, Jakarta.Presiden Joko Widodo menerima suntikan dosis pertama vaksin virus corona (Covid-19) Sinovac, Rabu (13/1). Proses penyuntikan vaksin bakal dilakukan di Istana Kepresidenan, Jakarta. Foto: Muchlis – Biro Setpres

Meski mengapresiasi, Hermawan menilai upaya itu terkesan sia-sia bila tidak ada kelanjutan edukasi kepada masyarakat oleh tokoh-tokoh atau influencer yang dipilih tersebut. Alih-alih menggaet influencer, Hermawan menilai perwakilan organisasi kesehatan dan organisasi masyarakat menurutnya telah cukup bila dimaksimalkan dengan matang.

“Ya seharusnya yang lebih penting adalah melihat pakar kesehatan yang diikutsertakan, ahli kesehatan masyarakat, sehingga masyarakat lebih percaya karena mereka concern di dunia medis,” jelasnya.

Analis Media Sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi pun mengapresiasi langkah pemerintah menggandeng influencer, namun tetap mengingatkan ada upaya yang mesti dilakukan terhadap para influencer tersebut pascavaksinasi.

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menilai kehadiran influencer seperti Raffi Ahmad bisa memberikan dampak positif hanya bila segmentasi pengikut Raffi Ahmad memang pas, salah satunya seperti usia dan latar belakang followers yang sesuai dengan prasyarat vaksinasi 18-59 tahun.

Terlebih bila influencer tersebut mampu memberikan edukasi yang substantif secara berkala kepada followersnya. Namun bila sebaliknya, maka upaya pemerintah kali ini hanyalah modal gimik yang tidak akan memberikan pengaruh besar di masyarakat, melainkan hanya dikenang sebagai sebuah momen seremonial semata.

“Sejak awal saya melihat kita ini lebih banyak seremonial, jadi untuk hal-hal substansial kita lupakan. Oke, bila mengundang influencer, tapi harus dipastikan followers mereka memang real dan sesuai target atau segmentasi vaksinasi itu sendiri, ya seharusnya jangan influencer yang agak ‘alay’ ya,” kata Masdaline kepada CNNIndonesia.com, Rabu (13/1).

CNNIndonesia.com telah menghubungi manajer Raffi, Prio, untuk mengonfirmasi peristiwa Raffi Ahmad nongkrong usai disuntik vaksin bersama Jokowi. hingga berita ini diturunkan, redaksi belum mendapatkan jawaban.

Link: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210114071547-20-593474/blunder-istana-gandeng-raffi-ahmad-jadi-influencer-vaksin

Bahaya Data Pribadi yang Dicuri

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pencurian data pribadi kerap terjadi di era digitalisasi saat ini. Maraknya kasus pencurian data pribadi praktis sangat meresahkan sebagian masyarakat, terutama ketika data pribadi disalahgunakan oknum tak bertanggung jawab.

Contohnya praktek pencurian data pribadi milik pengguna aplikasi yang biasa dikenal dengan scam dan phising.

Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi mengatakan sejumlah masyarakat tidak paham dengan potensi kejahatan akibat kebocoran data pribadi seperti nama lengkap, tempat tanggal lahir, hingga alamat. Karena itu perlu adanya edukasi lebih luas untuk menghindari kasus scam dan phising.

“Orang Indonesia cenderung tidak paham dengan bahaya dari data pribadi yang menyebar. Jadi kalau tersebar, mereka biasa saja,” ujar Ismail saat dihubungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Ancaman scam dan phising ini mungkin terjadi, lantaran data pengguna yang bocor berupa akun email dan nomor telepon pengguna. Sehingga data itu berpotensi dimanfaatkan untuk mengirimkan pesan penipuan.

Lihat juga: Warga Diminta Waspada Pasang Password Aplikasi PeduliLindungi

Scam adalah tindakan penipuan dengan berusaha meyakinkan pengguna, misal memberitahu pengguna jika mereka memenangkan hadiah tertentu yang didapat jika memberikan sejumlah uang.

Sementara phising adalah teknik penipuan yang memancing pengguna, misal untuk memberikan data pribadi mereka tanpa mereka sadari dengan mengarahkan mereka ke situs palsu.

Pengamat keamanan siber Alfons Tanujaya juga menyatakan dirinya khawatir jika pengguna terpancing dengan phising, pengguna akan dipancing untuk masuk ke situs yang sudah kita miliki akunnya namun mereka meminta kita untuk mengisi ulang datanya. Kondisi ini bisa dimanfaatkan peretas untuk mendapatkan data-data penting seperti password akun pengguna.

“Kalau tidak salah ingat setiap kali login dari IP/ perangkat baru (pengguna) akan diminta OTP. Maka harusnya cukup aman meskipun ada kemungkinan eksploitasi SCAM dan phising, ” ujar Alfons (2/5).

Berikut sejumlah risiko kejahatan siber yang kemungkinan bisa terjadi dengan memanfaatkan data-data yang diambil:

1. Bongkar kata kunci

Alfons mengatakan data tanggal lahir dan email yang bocor juga bisa jadi modal peretas untuk mengambil alih akun.

Sebab tanggal lahir sering digunakan sebagai kata sandi. Oleh karena itu, Alfons menyarankan agar jangan menggunakan tanggal lahir sebagai kata sandi.

Selain itu, ia menyarankan agar mengaktifkan sistem pengamanan two factor authentication (TFA) dengan menggunakan one time password (OTP) melalui SMS hingga USSD. TFA melibatkan pihak ketiga yaitu operator untuk mengirimkan OTP yang digunakan untuk otorisasi transaksi.

2. Bikin akun pinjaman online diam-diam

Tak hanya itu, penjahat juga bisa mengajukan pinjaman di aplikasi pinjaman online dengan bermodalkan data-data yang sudah bocor. Pertama-tama peretas harus mampu mengumpulkan data KTP dari data-data yang telah bocor.

Kemudian peretas bisa mengajukan pinjaman untuk menarik sejumlah uang dari aplikasi pinjaman online yang kurang baik sistem pemeriksaannya.

Pada akhirnya korban yang paling dirugikan, karena datanya berpotensi disebar ke sejumlah orang dan web dengan status orang tersebut terlibat hutang.

3. Profiling untuk target politik atau iklan di media sosial

Ismail mengatakan data-data personal yang diambil bisa dipakai untuk rekayasa sosial hingga profiling (membuat profil pengguna). Di sisi lain Pratama mengatakan apabila 91 juta akun tersebut diproses, maka big data itu bisa dianalisa yang bermanfaat untuk profiling penduduk.

Misalnya berdasarkan umur dan demografi penduduk berdasarkan lokasi, hobi, hingga jenis kelamin. Big data tersebut bisa digunakan untuk sosialisasi politik maupun target iklan di media sosial.

Hal ini serupa dengan yang dilakukan Cambridge Analytica dengan data pengguna Facebook. Perusahaan itu menggunakan profiling warga AS untuk menargetkan artikel tertentu kepada pengguna. Artikel ini berisi penggiringan opini agar warga pada akhirnya mendukung calon Presiden Donald Trump saat itu.

Lihat juga: Serangan Siber 2020: Data Pasien Covid-19 RI Hingga KPU

4. Bobol layanan lain

Pakar keamanan siber dari CISSRec, Pratama Persadha mengingatkan data nomor telepon dan sebagainya itu bisa digunakan untuk membobol akun media sosial atau layanan lain. Sebagai contoh untuk membobol layanan pembayaran digital seperti Gopay atau Ovo.

Pratama mengatakan caranya cukup mudah, pelaku tinggal login dengan nomor telepon dan meminta kode one time password (OTP).

Selanjutnya pelaku bisa menelepon korban dan mengaku sebagai pihak Tokopedia maupun platform lain yang digunakan korban untuk meminta kode OTP itu.

“Cara ini sering berhasil untuk mengambil alih akun GoPay para korban, cukup dengan mengetahui nomor seluler yang terdaftar,” kata Pratama.

5. Telemarketing

Data nomor telepon bisa diperjualbelikan untuk kepentingan telemarketing. Maka tak heran jika seseorang mendapat panggilan telepon dan ditawarkan sebuah jasa atau produk.

Anehnya, penelpon sudah mengetahui nama lengkap Anda meski tak pernah berafiliasi dengan perusahaan tersebut sama sekali.

Selain itu, SMS spam berbau penipuan mulai penawaran berhadiah juga cukup menjengkelkan. Kita bisa menjadi ‘korban’ telemarketing ketika data nomor ponsel sudah tersebar.(can/mik)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210108121603-185-591120/bahaya-data-pribadi-yang-dicuri/1

Opini Publik terhadap Pembelajaran Daring dalam Media Sosial Twitter


Pembelajaran daring
 merupakan kegiatan pembelajaran jarak jauh yang dilakukan melalui media pembelajaran, seperti Google Classroom, Ruang Guru dan lain-lain. Pembelajaran daring saat ini merupakan salah satu isu yang banyak dibicarakan, terutama pada pandemic Covid-19. 

Dikarenakan pada pandemic Covid-19 ini, pemerintah diseluruh dunia terutama di Indonesia mewajibkan seluruh pembelajaran dilakukan secara daring agar mencegah penyebaran pandemic Covid-19. Oleh karena itu setiap Lembaga Pendidikan, mulai melakukan pembelajaran melalui daring dengan menggunakan media pembelajaran yang tersedia, seperti web sistem informasi, Google Classroom, dan lain-lain.

Akan tetapi tidak semua masyarakat memiliki pemikiran positif tentang pembelajaran daring, ada juga yang berpikir negatif. Karena setiap masyarakat memiliki opini yang berbeda-beda mengenai pembelajaran daring online, hal itu mungkin dikarenakan pengalaman yang pernah dialami atau informasi yang didapat melalui media sosial yang pernah dibaca seperti twitter

Twitter merupakan salah satu media sosial yang tren saat ini, dikarenakan layanan media sosial ini banyak dimanfaatkan masyarakat dalam aspek seperti sarana protes, sarana pembelajaran, media berita, dan lain-lain. Oleh karena itu pada kompasiana.com ini saya akan mereview atau sedikit memberikan gambaran mengenai opini publik atau masyarakat tentang pembelajaran daring pada media sosial twitter.

Pada pembahasan ini, masalah yang akan dibahas adalah pertama bagaimanakah opini publik mengenai pembelajaran daring dalam twitter, kedua siapa sajakah orang-orang yang membawa pengaruh pada opini publik mengenai pembelajaran daring di twitter ini, dan yang terakhir adalah apakah kesimpulan yang bisa didapat pada opini publik mengenai pembelajaran daring di twitter ini. 

Oleh karena itu pada kompasiana.com, saya akan membahas mengenai pembelajaran daring, bedasarkan opini publik yang ada pada twitter dan data refrensi yang telah dikumpulkan, lalu membuat kesimpulan yang nantinya dapat mudah dipahami, sehingga nantinya dapat menjadi informasi atau ilmu yang bermanfaat bagi pembaca dan masyarakat.

Jadi berdasarkan data yang saya temukan pada website Drone Emprit Academic topik pembelajaran daring ini, banyak diperbicarakan di twitter. Pada twitter sekitar 3,078 orang membicara kan tentang isu mengenai pembelajaran daring. Pada gambar dibawah ini merupakan data hasil yang ditemukan pada website Drone Emprit Academic mengenai isu dari pembelajaran daring di twitter.

Berdasarkan data diatas, dapat diketahui bahwa topik pembelajaran daring banyak diperbicarakan di twitter dan jumlah dari masyarakat yang membicarakannya pun tidak sedikit, hampir 3.1 K masyarakat membicarakan tentang isu pembelajaran daring ini. 

Akan tetapi tidak semua pendapat masyarakat mengenai isu ini bersifat negatif, ada yang berpendapat positif, sebab tidak semua masyarakat memiliki pandangan yang sama mengenai isu ini, dan juga hal ini dikarenakan setiap masyarakat memiliki opini yang berbeda-beda berdasarkan pandangannya masing-masing. Dibawah ini terdapat beberapa lampiran mengenai opini dari publik atau masyarakat tentang pembelajaran daring pada twitter yang ada pada Drone Emprit Academic.

via drone emprit

via drone emprit

tangkap layar pribadi dari twitter

tangkap layar pribadi dari twitter

tangkap layar pribadi dari twitter

tangkap layar pribadi dari twitterJadi berdasarkan lapiran diatas, dapat diketahui bahwa opini publik terbagi menjadi 3 bagian yaitu positif, negative dan netral. Untuk jenis opini publik yang terbanyak ada pada opini positif yang bernilai sebesar 54%, hal ini mungkin dikarenakan sebagian masyarakat sudah bisa beradaptasi pada pembelajaran daring ini.

 kalau untuk yang beropini netral dan negative, hal ini mungkin dikarenakan beberapa masyarakat masih belum bisa beradaptasi dengan penggunaan atau perkembangan media teknologi saat ini, akan tetapi juga perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran daring ini. Selain tweet dari @bxtards dan @FahriSuandika_, masih banyak opini lain yang yang menjadi dasar landasan dari isu pembelajaran daring ini. Contohnya seperti yang ada pada data dibawah ini, data ini merupakan data yang didapat pada halaman website Drone Emprit Academic.

via drone emprit

via drone empritJadi berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa opini orang-orang seperti @viviratuand, @FahriSuandika_, @collegemenfess, @jsmnbch dan @tanyainrl lah yang memberikan pengaruh besar tentang opini isu ataupun topik tentang pembelajaran daring, sehingga mempengaruhi masyarakat untuk memberikan opini mereka pada twitter, yang nantinya berakhir memuncul berbagai macam opini tentang isu ataupun topik pemebelajaran daring ini.

Jadi kesimpulan yang bisa didapat dari pembahasan ini, opini publik mengenai pembelajaran daring dalam media twitter sangat bermacam-macam, beberapa opini tersebut ada di gambar pada pembahasan sebelumnya, dan juga opini publik terbagi menjadi 3 macam yaitu positif, negatif dan netral. Bedasarkan data pada Drone Emprit Academic, banyaknya opini positif mengenai pembelajaran daring sebesar 54%, lalu negatif sebesar 39% dan netral sebesar 7%. 

Jadi bedasarkan data itu dapat disimpulkan bahwa kebanyakan masyarakat memiliki pandangan positif mengenai pembalajaran daring ini, akan tetapi tidak sedikit juga masyarakat yang memiliki pandangan negatif mengenai pembelajaran daring. Dan juga bedasarkan data pada Drone Emprit Academic, orang-orang yang memberikan pengaruh besar pada opini publik mengenai pembelajaran daring adalah @viviratuand, @FahriSuandika_, @collegemenfess, @jsmnbch dan @tanyainrl, bedasarkan dari opini orang-orang ini masyarakat dapat memunculkan keinginan untuk beropini pada media sosial twitter, sehingga yang akhirnya memunculkan berbagai macam opini atau tweet dari publik atau masyarakat mengenai pembelajaran daring yang bisa dijadikan ilmu atau informasi mengenai perkembangan Pendidikan saat ini.

Untuk saran pada pembahasan opini publik mengenai pembelajaran daring online ini adalah agar masyarakat bisa selalu mengemukaan pendapatnya atau opininya mengenai pembelajaran daring, karena pembelajaran daring saat ini masih menyesuaikan dengan keadaan masyarakat saat ini. Oleh karena itu dengan adanya opini atau pendapat yang dibuat masyarakat pada media sosial terutama twitter ini, bisa membantu perkembangan ataupun penyesuain pada pembelajaran daring saat ini.

Link: https://www.kompasiana.com/hilmanmuhammad1643/5fef042d8ede48446d5fc354/opini-publik-terhadap-pembelajaran-daring-dalam-media-sosial-twitter?page=all

PENINGKATAN JUMLAH PENGGUNA E-COMMERCE PADA MASA PANDEMI DI INDONESIA

Pada era yang serba digital sekarang ini segala aktivitas sudah banyak yang dipindahkan ke perangkat komputer atau smartphone, apalagi pada masa pandemi seperti ini aktivitas yang biasanya dilakukan secara tatap muka saja berpindah menjadi secara dilakukan secara online. Salah satu penyebab dari banyaknya aktivitas yang dilakukan secara online adalah karena pada era ini internet sudah sangat mudah didapatkan dan harganya sangat murah sekali, bukan hanya akses internetnya saja yang murah tapi perangkat untuk mengakses internet seperti handphone sekarang sudah mudah didapatkan.

Saat ini indonesia sedang diduduki oleh 272,1 juta penduduk, dari 272,1 juta penduduk tersebut 175,4 juta diantaranya merupakan pengguna internet dan sebanyak 160 juta penduduk aktif di sosial media. Dan sekarang akses internet bukan menjadi kendala lagi di indonesia, karena dari data yang kita lihat diatas lebih dari setengah penduduk indonesia merupakan pengguna internet.

Data diatas juga didukung oleh hasil penelitian lain yang mengatakan bahwa pengguna media sosial di indonesia mengalami peningkatan dari 79 juta di tahun 2016 menjadi 160 juta di tahun 2020. Dengan pengguna yang terus meningkat seperti itu maka tentu saja jika e-commerce di indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya dan diprediksi pada tahun 2023 akan mencapai 200 juta pengguna. Seiringan dengan hal ini maka sekarang semakin banyak bermunculan layanan e-commerce dengan cepat.

Salah satu aktivitas yang saat ini sudah beralih ke sistem online adalah belanja. Belanja online saat ini sudah menjadi hal yang tidak asing lagi, pada era ini hampir semua barang yang kita perlukan atau kita inginkan ada di situs belanja online atau yang biasa kita sebut dengan marketplaceMarketplace adalah sebuah tempat bagi penjual dan pembeli di dunia siber untuk saling melakukan dan menyelesaikan transaksi jual beli. Situs marketplace adalah sebuah tempat yang menyediakan segala kebutuhan dan fasilitas yang dibutuhkan oleh penjual dan pembeli misalnya pembayaran.https://9ffe9ed70ece87113ad95df6d33432f3.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

Menurut kominfo.go.id Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan e-commerce tertinggi di dunia dengan tingkat pertumbuhan mencapai 78% per tahun dan angka tersebut kebanyakan datang dari 3 situs marketplace paling populer di Indonesia yaitu Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee. Ditambah dengan adanya masa pandemi ini yang membuat semua orang terpaksa mengurangi keinginan dirinya untuk belanja diluar dan beresiko terpapar virus maka tentunya belanja online melalui marketplace menjadi jawabannya.

Dengan adanya makalah ini maka diharapkan pembaca dapat mengetahui bagaimana peningkatan dan manfaat dari e-commerce pada saat Pandemi Covid-19 di Indonesia. Dimana hasil penelitian ini menunjukkan tren peningkatan e-commerce yang digunakan masyarakat Indonesia pada saat pandemi Covid 19.

Berdasarkan data yang telah penulis amati melalui website Drone Emprit Academic atau yang biasanya disebut dengan DEA dari Universitas Islam Indonesia, e-commerce mendapatkan mention sebanyak 34.600 kali di dalam media sosial twitter mulai dari tanggal 13 desember hingga 20 desember 2020 dengan rekor terbanyak pada hari kamis sebanyak 5.680 mention. Dari sekian banyak mention yang ada tersebut sebanyak 15.875 merupakan mention yang merupakan respon negatif dan 13.343 merupakan mention positif sedangkan 5.402 merupakan mention yang bersifat netral.

Melalui penelitian yang dilakukan oleh Universitas Bina Sarana Informatika, dengan melakukan penyebaran kuisioner berupa pertanyaan berikut:

  • Apakah handphone anda memiliki aplikasi toko online ?
  • Apakah anda rutin melihat produk-produk di toko online ?
  • Apakah anda pernah berbelanja online di masa pandemi covid-19 ?
  • Apakah anda berbelanja online karena gaya hidup ?
  • Apakah anda berbelanja online karena kebutuhan ?
  • Apakah pandemi covid-19 menurunkan intensitas belanja online anda ?
  • Apakah anda memilih menyimpan uang ketimbang belanja online di masa pandemi ?
  • Apakah anda tetap rutin belanja online dimasa pandemi covid-19 ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibagikan kepada berbagai macam demografi yang berbeda yaitu sebanyak 75 orang mahasiswa laki-laki dan 93 mahasiswi perempuan, kemudian pada prodi administrasi sebanyak 47 responden, prodi sistem informasi sebanyak 64 responden, dan sistem informasi akuntansi sebanyak 39 responden, serta sebanyak 28 responden telah menikah dan sebanyak 122 responden belum menikah, lalu sebanyak 55 responden sudah bekerja dan 95 orang responden masih belum bekerja. Untuk pertanyaan pertama sebanyak 146 responden menjawab “iya” dan menghasilkan nilai mean 1.03 dan standar deviasi 0.162 yang mengindikasikan bahwa data yang dihasilkan masih cukup beragam walaupun dengan angka yang rendah. Kemudian pertanyaan kedua pada kuisioner terdapat 130 responden yang memilih jawaban “iya” dan 20 responden memilih “tidak”. Nilai mean yang didapatkan 1.13 dan standar deviasi  0.341 dimana hasil ini mengindikasikan bahwa pertanyaan kedua mendapatkan hasil yang lebih beragam dari pertanyaan pertama. Pada pertanyaan ketiga didapatkan hasil jumlah responden yang menjawab “iya” sebanyak 28 orang sedangkan jumlah responden yang menjawab “tidak” sebanyak 122 orang. Nilai mean yang didapat 1.81 dan standar deviasi 0.391 yang berarti pada pertanyaan ketiga sebaran lebih beragam dari dua pertanyaan sebelumnya. Kemudian pada pertanyaan keempat hasil yang didapatkan responden yang menjawab “iya” sebanyak 4 orang sedangkan jumlah responden yang menjawab “tidak” sebanyak 146 orang. Nilai mean yang didapatkan 1.97 dan standar deviasinya 0.162 yang berarti pada pertanyaan ini sebaran datanya cukup kecil. Pertanyaan selanjutnya yaitu yang kelima didapatkan jumlah responden yang menjawab “iya’ sebanyak 29 orang dan “tidak” sebanyak 121 orang. Nilai mean yang didapatkan 1.81 dan standar deviasinya 0.396 yang dapat disimpulkan bahwa sebaran datanya cukup besar. Pada pertanyaan keenam didapatkan hasil sebanyak 148 responden yang menjawab “iya” dan 2 responden yang menjawab “tidak”. Dengan nilai mean yang didapatkan 1.01 serta standar deviasi 0.115. Kemudian pada pertanyaan ketujuh hasil yang didapatkan sebanyak 150 orang responden menjawab “iya” yang artinya tidak ada responden yang menjawab tidak sehingga nilai mean yang didapatkan 1.00 serta standar deviasinya sebesar 0.000 yang berarti sebaran data yang didapatkan sangat homogeny. Kemudian pada pertanyaan terakhir yaitu pertanyaan yang kedelapan didapatkan sebanyak 4 orang responden yang menjawab “iya” dan 146 responden menjawab “tidak”. Sehingga hasil mean 1.97 dan standar deviasi 0.162 yang berarti sebaran data pada pertanyaan kedelapan masih tergolong kecil.

Dengan adanya fasilitas yang canggih dan gratis seperti ini maka diharapkan bisa membantu para pedagang yang masih berjualan secara konvensional dan mengadopsi e-commerce sebagai sarana berbelanja segala kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan atau keinginan yang lainnya di masa pandemi ini sangar membantu sekali bagi masyarakat dari segi konsumen maupun produsen, bahkan sampai skala UMKM pun bisa sangat terbantu sekali dengan adanya e-commerce di masa pandemi yang rasanya sangat sulit sekali bagi pengusaha untuk menjalankan bisnisnya secara normal. Karena itulah mengapa pada masa pandemi ini situs-situs online shop semakin ramai penggunanya karena pedagang maupun pembeli kebanyakan telah beralih ke online shop.

Pada masa pandemi yang membuat segala aktivitas terpaksa diubah secara total ini membuat semua orang memutar kepala untuk mencari solusi agar bisnis/usaha dan aktivitasnya tidak mengalami masalah dan salah satu solusi bagi para pebisnis terutama pada bidang yang menawarkan sebuah produk adalah melalui sebuah wadah yang bernama e-commerce. Dengan diwajibkannya untuk menjaga jarak antara satu dengan yang lain membuat banyak situs e-commerce di indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Hadirnya e-commerce membuat banyak orang bertahan dalam menjalankan pekerjaannya karena melalui e-commerce tidak perlu untuk bertatap muka tau bertemu secara langsung untuk melakukan sebuah transaksi.

link: https://www.kompasiana.com/ibrahimfuad/5fef21f48ede480c1673b153/peningkatan-jumlah-pengguna-e-commerce-pada-masa-pandemi-di-indonesia

Pembelajaran Online pada Masa Pandemi Covid-19

Mewabahnya Covid-19 di seluruh dunia menyebabkan krisis di berbagai bidang kehidupan, tak terkecuali bidang pendidikan. Seluruh dunia disibukkan dengan berbagai upaya untuk mencegah penyebarannya hingga berupaya untuk menemukan obat atau vaksin. Pemerintah di berbagai negara telah membatasi aktivitas agar mengurangi rantai penyebaran Covid-19, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan pencegahan penyebaran Covid-19 dengan menyelenggarakan proses pembelajaran secara daring sejak bulan Maret 2020.

Menghadapi pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai ini, membuat sekolah dan fasilitas pendidikan lainnya masih ditutup mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Para tenaga pendidik secara tidak langsung dipaksa untuk beralih cara mengajar, yang awalnya bertatap muka secara langsung dengan murid menjadi bertatap muka secara daring. Tujuan penutupan sekolah agar mengurangi rantai penyebaran Covid-19 yang hingga saat ini masih bertambah. Pada kenyataannya semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan ini masih belum terbiasa dengan aktivitas belajar secara daring. Tenaga pendidik masih terdapat yang belum memahami bagaimana menggunakan teknologi untuk mengajar. Sedangkan bagi para murid juga tidak semua memiliki alat yang memadai untuk menunjang pembelajaran secara daring ini.

Banyak media yang digunakan tenaga pendidika untuk menunjang pembelajaran secara daring, diantaranya adalah e-learning,Google Classroom, Zoom, Google Meet, dan lain-lain. Pada awal berlakunya pembelajaran jarak jauh ini, banyak yang dikeluhkan oleh murid selain fasilitas yang tidak memadai, salah satunya adalah kuota internet. Pemerintah yang mengetahui hal tersebut membuat kebijakan dengan memberikan kuota gratis kepada para pelajar. Namun, disamping tantangan yang dihadapi, terdapat peluang untuk lebih memanfaatkan teknologi guna kemajuan kualitas sumber daya manusia di era serba digital ini.

Seiring berjalannya waktu, banyak penggiat pendidikan hingga lembaga yang mengadakan pelatihan pemanfaatan teknologi guna mendukung pembelajaran jarak jauh ini. Sehingga di era yang serba digital ini semakin banyak yang melek teknologi dan menggunakannya secara bijak. Terdapat juga wacana pemerintah yang akan membuat kebijakan pembelajaran jarak jauh permanen bagi tingkat perguruan tinggi, yang dimana akan dilakukan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring atau jarak jauh atau model Hybrid. Cara ini diduga efektif untuk pemanfaatan teknologi dan melatih kemandirian

Pada masa pandemi seperti ini semua bidang kehidupan terhambat, salah satunya bidang ekonomi dan pendidikan. Hal ini membuat penghasilan masyarakat menurun bahkan tanpa penghasilan. Adanya pembelajaran secara daring tidak membuat semua mampu mengikuti hal tersebut. Keterbatasan fasilitas untuk mengikuti pembelajaran secara daring menjadi salah satu masalah utama dalam hal ini. Salah satu hal tersebut adalah tidak memiliki perangkat elektronik untuk mengakses pembelajaran secara daring. Mungkin hal ini yang sebaiknya lebih diperhatikan pemerintah kedepannya jika pembelajaran secara daring menjadi pilihan untuk proses kegiatan belajar mengajar. Meskipun pemerintah telah memberikan bantuan berupa kuota internet secara gratis, namun itu tak semua mendapatkannya.

Berdasarkan data yang telah diambil dari situs Drone Emprit Academy (DEA) dari Universitas Islam Indonesia, “Sekolah Online” telah di-mention 10.600 kali dalam media sosial Twitter mulai tanggal 13-20 Desember 2020, sedangkan mulai pertengahan bulan Oktober hingga bulan Desember telah di mention sebanyak 42.672 kali. Pada tanggal 19 Desember 2020 mendapatkan 3259 mention yang merupakan paling tinggi pada bulan Desember. Dalam mention tersebut, terdapat 7900 respon negatif, 151 respon positif, dan 2500 respon netral dari total 10.366 mention. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sekolah daring ini sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Solusi untuk masalah dan urgensi tersebut adalah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan berupa fasilitas untuk mengakses pembelajaran secara daring, fasilitas tersebut dapat diberikan pada setiap kecamatan atau kelurahan agar masyarakat yang tidak mampu untuk mengakses pembelajaran dapat menggunakan fasilitas tersebut secara gratis dan bergantian. Pemerintah telah memberikan bantuan fasilitas berupa kuota internet secara gratis, tetapi tidak semua mendapatkannya. Sebaiknya pemerintah menambah lagi pembagian kuota internet tersebut agar merata, baik pendidikan negeri maupun swasta yang ada di Indonesia.

Perlunya pemerataan kualitas dan fasilitas pendidikan di Indonesia dan pengembangan kualitas SDM pengajar mengenai pemanfaatan teknologi yang dimana saat ini merupakan era serba digital. Masih banyak daerah terpencil yang memiliki kualitas pendidikan rendah dan tenaga pengajar yang belum mengetahui pemanfaatan teknologi. Dengan adanya pelatihan terhadap pengajar mengenai hal tersebut, dapat diharapkan kemajuan kualitas SDM yang dihasilkan dan dapat melaksanakan pembelajaran secara daring dengan lebih kreatif dan inovatif.

Link: https://www.kompasiana.com/nurhasan20/5fee0cf48ede4868f62387e6/pembelajaran-online-pada-masa-pandemi-covid-19

Pengaruh Pembelajaran Daring terhadap Produktivitas Pelajar Indonesia Selama Masa Pandemi Covid-19

Pengaruh Pembelajaran Daring terhadap Produktivitas Pelajar Indonesia Selama Masa Pandemi Covid-19
Coronavirus disease (COVID-19) telah menjadi tragedi sepanjang tahun 2020. Berbagai kasus bermunculan diikuti dengan angka kasus positif yang tiap hari kian meningkat. Kasus Covid-19 yan terjadi di Indonesia juga meningkat pesat dengan total kematian sebanyak 16.945 jiwa (Nasional, 2020). Merujuk pada Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020, maka system pembelajaran dilakukan secara online.
UNESCO mengemukakan bahwa pandemi covid-19  telah mengancam 577 juta pelajar di dunia. UNESCO menyebut, ada 39 negara yang menutup sekolah dengan total jumlah pelajar yang terpengaruh sebanyak 421.388.462 orang. Jumlah pelajar yang yang berresiko terpapar Covid-19 sebanyak 577.305.660. Sedangkan jumlah pelajar pendidikan tinggi sebanyak 86.034.287 orang. Saat ini di Indonesia, hamper semua satuan Pendidikan dan beberapa perusahaan melakukan pekerjaan dan belajar dari rumah. Sehingga istilah Work From Home saat ini populer di masyarakat (Tri Suci Rokhani, 2020). 
Kebijakan ini menuai pro dan kontra dikalangan pekerja dan pelajar. Kebijakan Work From Home bagi sebagian orang belum bisa dan bahkan tidak bisa dilakukan, apalagi dari segi kesiapan tiap – tiap individu, belum tentu semua orang siap dengan sistem ini. Apalagi ditambah tidak semua pekerjaan dapat dilakukan dirumah, seringgnya miskomunikasi, dan gangguan kerja. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat produktivitas seseorang. Sehingga dapat dikatakan WHF tak hanya memberikan keuntungan dalam hal terhindar dari virus covid-19 namun mungkin juga dapat memberikan kerugian pada aspek yang lain. 



Tujuan dari makalah ini adalah untuk mendapatkan informasi dan mengidentifikasi pengaruh pembelajaran daring terhadap produktivitas pelajar selama masa pandemi COVID-19. Penelitian dilakukan dengan studi literature dari penelitian-penelitian terdahulu dan sumber-sumber terkait. Sehingga diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan informasi terkait kelebihan dan kekurangan WFH kaitannya dengan produktivitas pelajar serta memberikan arahan dan rekomendasi untuk meningkatkan produktivitas kerja.



Sistem pembelajaran dari rumah atau Study From Home memiliki segudang masalah dan kendala. Mulai dari kendala infrastuktur, geografis, pengetahuan tentang teknologi hingga masalah ekonomi. Dengan kendala — kendala yang ada, maka sedikit banyak akan mempengaruhi tingkat produktifitas pelajar. Dengan makalah ini, harapannya penulis dapat menganalisis pengaruh belajar di rumah terhadap tingkat produktifitas pelajar saat menjalani pembelajaran dengan metode Study From Home yang diterapkan oleh Pemerintah semenjak Maret hingga makalah ini ditulis (Awal Desember).
Harapannya dengan adanya makalah ini, pembaca bisa mendapat ilmu pengetahuan dan sebagai acuan, sehingga dapat mengambil langkah — langkah yang lebih tepat agar pembelajaran jarak jauh bisa berjalan lebih efektif dan tidak mengurangi tingkat produktifitas pelajar. 
Gambar 1. Persepsi public terhadap kesuksesan pembelajaran daring
Dari data di atas, bisa kita lihat bahwa persepsi publik pada twitter menunjukkan bahwa 62% publik meragukan kesuksesan pembelajaran daring, 37% berpandangan positif pada system pembelajaran daring dan 1 % berpendapat netral, Ini berasal dari 12.889 statement.(SDGs – Drone Emprit Academic.). Hal ini disebabkan oleh hambatan — hambatan yang muncul pada saat melakukan pembelajaran dengan metode daring. Terdapat 4 hambatan pembelajaran daring yang sedikit banyak mempengaruhi produktivitas (Syah, 2020), antara lain :

1. Keterbatasan Penguasaan Teknologi Informasi oleh Tenaga pengajar  dan Pelajar

2. Infrastruktur yang Kurang Memadai

3. Akses Internet tidak merata

4. Kurangnya anggaran

Pelajar dengan keterbatasan — keterbatasan tersebut cenderung kurang produktif dan tidak kreatif dibandingkan dengan pembelajaran luring. Tetapi bagi siswa yang tidak mengalami kendala kendala tersebut cenderung lebih produktif. Pembelajaran daring juga mempengaruhi sistem penilaian pada siswa maupun mahasiswa, dengan metode daring terjadinya kesalahan pengukuran penilaian pelajar semakin besar (Syah, 2020). Dengan begitu pelajar tidak dapat mengevaluasi diri dengan baik dikarenakan system pengukuran penilaian yang kurang efektif. Hal ini akan mempengaruhi tingkat produktivitas dan kreativitas dikarenakan pelajar tidak tahu secara pasti hal — hal apa saja yang perlu diperbaiki. 

Selain itu ada juga hambatan secara psikologis yaitu stress. Kekhawatiran terhadap penularan Covid-19, kesulitan memahami materi perkuliahan daring, keterbatasan aktivitas dan kebosanan selama work from home menjadi stressor yang menimbulkan stress bagi pelajar selama pandemi Covid-19 (Shadiqi et al., 2020). Stres yang timbul bervariasi, mulai dari stress ringan, sedang dan berat. Biasanya pelajar membuka sosial media untuk menghilangkan stress tetapi hal itu juga memiliki efek negative yaitu social media fatigue. 

Kelebihan informasi telah terbukti dapat menyebabkan sosial media fatigue hal ini dikarenakan membebani kondisi kognisi individu. Hal ini dapat menyebabkan seorang individu tidak focus dan mudah kehilangan konsentrasi pada saat mengerjakan sesuatu. Hal ini memberi dampak negatif lainnya yaitu menurunnya tingkat produktivitas dan menurunnya peforma belajar individu. Artinya, pelajar  yang belajar di rumah selama wabah COVID-19 tidak dapat memberikan peforma yang maksimal serta penurunan produktivitas(Shadiqi et al., 2020).https://a11f585f119222ceccd9c8e7ce2c65ad.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

Hambatan tidak hanya berasal dari siswa melainkan bisa juga berasal dari tenaga pengajar. Banyak dari tenaga pengajar yang gagap teknologi sehingga terkendala pada saat pembelajaran daring. Ketidakmampuan ini menyebabkan metode pengajaran kurang efektif serta tidak produktif. Pada akhirnya implementasi pembelajaran daring terasa membingungkan bagi pelajar. Kebanyakan dari tenaga pengajar melakukan penumpukan konsep serta informasi secara terus menerus berupa materi tanpa memberikan suatu penjelasan yang bermanfaat (Argaheni, 2020). 

Setiap pihak memilik peranan yang berbeda dalam menangani penurunan tingkat produktivitas pelajar saat pandemi. Adapun hal hal yang harus dilakukan tiap — tiap pihak, antara lain 

  1. Pelajar

Mulai beradaptasi dengan cara belajar baru yaitu dengan metode daring hal ini bisa dimulai dengan tidak mengeluh, mulai belajar mandiri dan mulai belajar tentang teknologi informasi serta membangun semangat pada diri sendiri. Sehingga tiap individu dapat mendapatkan ilmu dan tingkat produktivitas secara maksimal dari suatu bidang ilmu yang dipelajari.

  1. Tenaga Pengajar

Langkah belajar harus dilakukan seefisien mungkin  Menemukan metode dan media yang paling cocok digunakan untuk belajar daring, hal ini harus di dasari oleh karakteristik pelajar itu sendiri. Belajar mengimplementasikan penggumaan teknologi informasi pada media pengajaran. Menggunakan Whatsapp Group dan sesekali menggunakan media video conference adalah media yang mudah dilakukan (Eko Yulianto et al., 2020). Tenaga pengajar harusnya tidak hanya memberikan tugas tugas atau hanya sekedar materi tanpa menjelaskan apapun. Tenaga Pengajar juga memiliki tanggung jawab untuk mencontoh model pembelajaran ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (Syah, 2020).

  1. Orang Tua

Orang tua sebagai pendidik kedua setelah tenaga pengajar harusnya mampu membimbing, mengarahkan serta memotivasi anaknya. Agar pelajar tersebut mampu mendapatkan hasil yang maksimal selama pembelajaran daring.

  1. Sekolah/Universitas

Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan harus siaga memberi fasilitas terhadap perubahan apapun yang secara langsung ataupun tidak langsung berhubungan terhadap pendidikan pelajarnya. Pendidikan moral harus kuat dan harus berjalan beriringan dengan pendidikan teknologi. Program pendidikan yang dilaksanakan oleh sekolah harus disampaikan kepada pelajar dengan cara apapun, konteksnya disini adalah pembelajaran daring. 

  1. Pemerintah 

Peran pemerintah adalah untuk mengatur alokasi anggaran yang sudah ada pada Instruksi Presiden Nomor 4 tahun 2020 tentang refocussing kegiatan, relokasi anggaran, serta pengadaan barang dan jasa dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 harus segera dilaksanakan(Syah, 2020). Serta tindakan jangka Panjang yang harus diambil adalah pemerataan infrasturktur jaringan komunikasi serta mengurangi kesenjangan sosial sehingga seluruh masyarakat Indonesia mampu menggunakan Internet sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan. 

Apabila hal — hal tersebut dilakukan oleh tiap — tiap pihak, harapannya akan terbentuk suatu system pembelajaran yang ideal dan memperbesar tingkat produktivitas pelajar maupun tenaga pengajar.

Perlu dilakukannya penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh pembelajaran daring bagi produktivitas pelajar, hal ini dikarenakan keterbatasan waktu serta sumberdaya sehingga hal tersebut tidak dapat dilakukan pada makalah ini. 

Link: https://www.kompasiana.com/helmykurniawan7047/5fec65c98ede481e812d4b62/pengaruh-pembelajaran-daring-terhadap-produktivitas-pelajar-indonesia-selama-masa-pandemi-covid-19?page=all

Minat Baca Masyarakat di Era Digital

Perkembangan teknologi informasi yang cukup pesat tentu membawa perubahan bagi berbagai aspek kehidupan masyarakat, tak terkecuali karakteristik dan budaya terutama dalam hal perilaku membaca. Apalagi dengan kondisi pandemi yang saat ini sedang terjadi, yang mau tidak mau membuat kebanyakan pekerjaan harus dilakukan secara mobile. Dengan keadaan seperti ini, sarana komunikasi dan informasi menjadi lebih tergantung pada teknologi karena adanya keterbatasan untuk bersosialisasi. Keadaan ini juga memberi cukup banyak kesempatan untuk masyarakat mengeksplor bacaan di dunia digital. Kemajuan teknologi yang semakin memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi ini tentu sudah seharusnya membawa kebiasaan dan minat membaca masyarakat ke arah yang lebih baik. Semakin berkembangnya era digital, semakin banyak pula platform yang menyediakan bacaan gratis. Namun ternyata hal ini tidak serta merta meningkatkan minat baca masyarakat. Tak sedikit masyarakat yang ketergantungan gadget hanya untuk bermain game dan sosial media saja, bukan untuk membaca.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa minat baca masyarakat Indonesia saat ini memang masih rendah. Rendahnya minat baca ini tak jarang menimbulkan berbagai permasalahan mulai dari penyebaran hoax atau disinformasi, hingga provokasi dan fitnah yang dapat memecah belah. Meski begitu, parameter minat baca di era digital ini juga harus disesuaikan dengan perubahan yang ada. Perlu dikenali bagaimana perubahan karakteristik masyarakat dan perilaku membacanya di era digital ini. Masyarakat jaman sekarang cenderung lebih banyak yang terhubung dengan internet setiap hari. Hal ini tentu mempengaruhi perilaku dan kebiasaan yang semakin serba cepat, seperti multitasking, berkomunikasi secara real-time dan lain-lain (Kurniasih, 2016).

Perilaku membaca pun berubah. Dengan mudahnya akses informasi saat ini, tak sedikit masyarakat yang terbiasa membaca sesuatu dengan cepat, tidak membaca mendalam dan membagikan bacaannya tersebut tanpa dicari kebenarannya terlebih dahulu. Namun tentunya rendahnya minat baca masyarakat di era digital ini tidak hanya disebabkan oleh faktor internal seperti kurangnya kesadaran dan kesiapan diri untuk mengakses bacaan di dunia digital, namun juga ada faktor eksternal seperti kurangnya fasilitas atau infrastruktur yang memadai.

Kesenjangan digital ini masih banyak terjadi, apalagi di daerah-daerah pelosok. Padahal di masa pandemi ini, infrastruktur digital sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat mengeksplor bacaan di dunia digital sehingga mereka tetap mendapatkan informasi meskipun dengan terbatasnya kegiatan bersosialisasi. Rendahnya minat baca juga dapat berpengaruh pada mudahnya masyarakat terprovokasi oleh berita-berita atau informasi tidak benar yang saat ini lebih sering disebut dengan hoax.

Data dari DEA terkait exposure dari topik Literasi Digital.

Data dari DEA terkait exposure dari topik Literasi Digital.

Potential Reach Akun Twitter berdasarkan jumlah followersnya.

Potential Reach Akun Twitter berdasarkan jumlah followersnya.Berdasarkan data yang didapat dari DEA (Drone Emprit Academic) terkait Literasi Digital sejak Maret 2020 dimana pembatasan sosial akibat pandemi mulai dilakukan, topik Literasi Digital cukup banyak diperbincangkan. Kebanyakan adalah tentang himbauan untuk meningkatkan literasi digital. Jika dilihat dari exposure, akun dengan 101-500 followers adalah yang paling banyak membicarakan tentang literasi digital ini, yakni sebesar 24.69%. Sedangkan akun dengan 500 ribu hingga 1 juta followers justru menjadi akun yang paling sedikit membicarakan tentang literasi digital, yakni sebesar 2.14%. Padahal apabila dilihat dari potential reachnya, akun dengan 500 ribu hingga 1 juta followers paling potensial mendapatkan reach atau jangkauan terbanyak setelah akun dengan lebih dari 1 juta followers.

Selanjutnya dilihat dari mention sentiment negatifnya, banyak yang mengeluhkan rendahnya literasi digital di Indonesia. Baik dari kalangan bawah, menengah sampai atas, tak sedikit yang masih gagap di dunia digital. Selain itu sulitnya pembatasan informasi di era digital ini juga menjadi permasalahan, terutama bagi orang tua dengan anak di bawah umur yang sudah mulai menggunakan gadget. Maraknya disinformasi yang terjadi terkait pandemi ini juga disebabkan oleh rendahnya literasi digital masyarakat sehingga mudah mempercayai dan membagikan informasi atau berita yang belum tentu kebenarannya. Lalu ada juga yang mengeluhkan terkait lingkungan yang tidak supportif untuk melaksanakan literasi digital.

Masalah mendasar dari rendahnya minat baca di era digital ini adalah kesenjangan digital yang masih terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Maka perlu disiapkan infrastruktur yang memadai untuk dapat mengakses sumber-sumber bacaan digital. Jaringan internet yang stabil dan PC merupakan infrastrukur minimal yang harus tersedia. Pemerintah juga perlu menyiapkan sumber bacaan yang terpercaya dan berkualitas untuk masyarakat.

Selain itu, kesadaran dan kesiapan diri dari sumber daya manusia untuk mengakses bacaan digital juga masih rendah. Maka dari itu perlu dibuat sosialisasi terkait literasi digital yang merata bagi masyarakat. Literasi digital ini sangat penting untuk dimulai dari lingkungan keluarga. Apalagi di jaman sekarang ini, tak sedikit anak-anak yang sudah familiar dengan penggunaan gadget, ditambah lagi dengan kondisi pandemi saat ini yang mengharuskan mereka melakukan pembelajaran daring. Orang tua harus bisa mendampingi anak-anaknya agar tidak terjadi penyalahgunaan. Anggota keluarga yang lebih mengerti tentang literasi digital bisa memberikan edukasi kepada anggota keluarga yang lain.

Lalu melalui sosial media, akun-akun dengan pengikut atau followers dalam jumlah banyak, atau biasa disebut dengan influencer juga bisa diajak untuk mengangkat topik terkait minat baca dan literasi digital ini menggunakan pendekatan yang menarik sehingga akan banyak masyarakat yang tertarik. Akan lebih baik lagi jika disertai informasi terkait portal berita ataupun platform terpercaya dan terverifikasi dari pemerintah yang bisa dikunjungi masyarakat.

Aplikasi iPusnas.

Aplikasi iPusnas.

Saat ini Indonesia sendiri sudah mempunyai perpustakaan daring tak terbatas dalam bentuk aplikasi, yakni iPusnas. Aplikasi ini sangat potensial untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Namun hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengenal aplikasi iPusnas ini. Saran yang dapat diberikan adalah mungkin dapat dilakukan penginstallan aplikasi ini secara default pada gadget yang dijual di Indonesia sehingga masyarakat akan tahu dan tertarik untuk mencoba aplikasi iPusnas ini.

Link: https://www.kompasiana.com/anggioktaviana/5feb53868ede4853d10dd662/minat-baca-masyarakat-di-era-digital

Mengapa Konten Sensasi Laku di Media Sosial dan Siapa Saja yang Diuntungkan?

KOMPAS.com – Platform media sosial seiring perkembangan waktu terus mengalami perkembangan. 

Seperti Facebook yang awalnya hanya untuk berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain, kini mulai menjadi media menyebar ide dan informasi. 

Instagram yang dulu digunakan untuk mengunggah foto-foto pribadi atau galeri, kini banyak digunakan untuk berjualan produk secara online.

Atau, TikTok, yang pada awal kemunculannya digunakan untuk membuat video berbagai macam tarian, kini banyak digunakan untuk berbagi cerita dalam format video.

Baik cerita nyata maupun yang dibuat-buat hanya untuk mendapat perhatian.

Hal yang sama juga terjadi pada Twitter yang kini banyak dimanfaatkan untuk menuliskan cerita kronologi juga menunjukkan besarnya kekuatan suatu kelompok melalui penggunaan tagar.

Namun di sisi lain, banyak juga konten yang cenderung bernilai negatif, misalnya menampilkan hal-hal sensitif seperti tindak kekerasan, pornografi, konten kontroversial seperti menceritakan aib diri sendiri maupun orang lain. 

Juga konten yang berisi kisah-kisah fiktif atau yang sengaja direka-reka. Kita mengenalnya sebagai konten “settingan”. Pertanyaannya, mengapa konten-konten seperti ini marak dibuat oleh pengguna media sosial?

Mendapat perhatian

Pakar media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, Fahmi Ismail menyebut semua itu karena satu hal, yaitu adanya keinginan orang untuk mendapatkan perhatian.

“Sebetulnya ada Economy of Attention. Teorinya Attention Economy, Ekonomi Perhatian,” kata Fahmi saat dihubungi melalui telepon, Minggu (27/12/2020).

Ia menjelaskan “perhatian” adalah sesuatu yang dicari dan dijual di media sosial. Hal itu disenangi baik oleh pengguna maupun penyedia platform.

Konten-konten yang sensasional berpotensi mendapat atensi yang lebih besar dibandingkan konten yang biasa-biasa saja. Oleh karena itu, para pengguna tidak segan untuk berkreasi melahirkan konten-konten sensasional.

“Perhatian itu didapat oleh user dalam bentuk like, comment, share. Mereka (pengguna) suka di situ, Selama user mendapat perhatian, selama itu pula platform akan untung.Kenapa? User akan lama di platform itu,” jelas Fahmi.

Keuntungan yang didapat

Pengguna bisa mendapatkan keuntungan dari atensi yang didapatkan dengan cara memonetisasinya. Sementara platform bisa memanfaatkan tingginya atensi pengguna untuk mendapat pemasukan dari iklan.

Angka atau data terkait seberapa banyak interaksi yang terjalin, lama waktu penggunaan, dan sebagainya akan digunakan oleh platform untuk disodorkan pada pengiklan.

Ini adalah cara bagaimana platform hidup dan mendapat pemasukan.

“Jadi platform itu dapat keuntungan dari iklan. Kalau misalnya penggunanya, grafiknya makin turun, habis itu, platform akan dituntut oleh pemegang saham, bagaimana caranya supaya naik lagi,” ujar Fahmi.

Algoritma dan atensi

Pola ini semakin didukung oleh adanya sistem algoritma platform media sosial yang akan mengunggulkan konten-konten dengan interaksi tinggi. Jadi, suatu konten yang berisi sensasi atau mendatangkan perdebatan dan perhatian dari publik yang luas, akan ditampilkan di urutan teratas dalam sebuah lini masa.

Sebaliknya, konten yang tidak mengundang atensi pengguna akan diletakkan di bagian bawah atau tidak disorot dan diletakkan di awal. Meskipun konten itu berisi sebuah fakta, ilmu, kebaikan, dan sisi-sisi yang positif lainnya. 

“Makanya semua berlomba-lomba untuk mencari atensi,” ungkap dia.

Eksistensi warganet

Sementara itu, hal yang sama juga ternyata terjadi pada pengguna atau warganet yang dalam hal ini berposisi sebagai konsumen, bukan pembuat konten.

Mereka kerap menunjukkan eksistensinya dengan meninggalkan komentar dalam unggahan, yang tidak kalah sensasional.

Fahmi mengklasifikasikan netizen atau pengguna media sosial yang seperti ini dalam dua kelompok.

Pertama troll politik yang memang sengaja memberikan komentar baik positif maupun negatif, demi menaikkan atau menjatuhkan suatu pihak politik. Namun mereka melakukannya karena dibayar.

“Mereka eksis lewat komen. Dengan komentar, bikin ribut, dia senang ketika komentarnya diributin sama orang,” ungkap Fahmi. 

Selanjutnya yang kedua, adalah troll yang dilakukan atas dasar keinginan diri sendiri demi mendapatkan kepuasan, karena mendapat perhatian.

“Ada juga yang orang itu suka nge-troll, suka ngasih comment, tapi itu (untuk) kepuasan diri, memang ujungnya attention,” ujar dia.

Cara tetap eksis

Terakhir, Fahmi mengatakan konten sensasi semacam itu menjadi wajar ditemukan di media sosial.

Meski menimbulkan dilema tersendiri, namun dengan cara seperti itu lah mereka bisa tetap eksis dan mendapat apa yang mereka cari, perhatian.

“Saya kira itu wajar, karena sebetulnya itu kan soal kreatif, di YouTube, Instagram, TikTok, itu kreasinya terutama dalam bentuk video. Tapi kan kreativitas kadang-kadang ada limitnya,” kata Fahmi.

Oleh karena itu, mereka harus menemukan metode baru dalam berkarya agar atensi yang diharapkan dapat tercapai. Lihat Foto Infografik: Cara Membuat Avatar Facebook (KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo)

Link: https://www.kompas.com/tren/read/2020/12/28/124500665/mengapa-konten-sensasi-laku-di-media-sosial-dan-siapa-saja-yang-diuntungkan?page=all&fbclid=IwAR2mO0T5lki5Wyo7DK3a_FmtGuA-az_49d5q3b3Rw2kJm5UNBcqtVq5f5K0.
Penulis : Luthfia Ayu Azanella
Editor : Rizal Setyo Nugroho

Peran Influencer dalam Upaya Pencegahan Covid-19 Melalui Sosial Media

Covid-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus bernama coronavirus. Coronavirus sendiri merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Penyakit dan virus Covid-19 ini pertama kali ditemukan pada saat terjadi wabah di kota Wuhan, China pada bulan Desember 2019. Di Indonesia, kasusnya pertama kali ditemukan pada tanggal 3 Maret 2020. Setelah kasus pertama tersebut, hingga kini jumlah kasusnya semakin bertambah banyak tiap harinya. Pemerintah pun berupaya untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan melakukan PSBB dan mensosialisasikan gerakan #dirumahaja.

          Di masa pandemi Covid-19, banyak kebiasaan masyarakat yang berubah setelah adanya PSBB dan gerakan #dirumahaja. Contohnya yaitu kini masyarakat lebih sering untuk melakukan WFH (Work From Home). Lalu, untuk kegiatan belajar mengajar juga diadakan secara online baik dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Dengan perubahan kebiasaan tersebut, masyarakat pastinya menjadi sering berinteraksi dengan gadget terutama dalam kegiatan bersosial media.

          Adanya sosial media di masa seperti in sangatlah membantu kita. Dengan adanya sosial media, kita bisa saling berbagi kabar, berhubungan dengan orang lain, dan yang paling penting yaitu kita juga bisa mendapat kabar terbaru tentang Covid-19. Penyebaran informasi Covid-19 di sosial media sangatlah penting karena sebagian besar masyarakat kita sering membuka aplikasi sosial media di sela-sela saat melakukan suatu aktifitas.

          Saat ini, banyak sekali informasi tentang Covid-19 baik itu yang benar maupun yang hoaks. Oleh karena itu, pemerintah bekerja sama dengan influencer untuk menyebarluaskan informasi tentang Covid-19 yang benar dan memerangi hoaks tersebut. Peran influencer ini penting karena dapat membantu dan menyampaikan sistem informasi terkait dengan pencegahan dan penanganan virus corona ke semua kalangan masyarakat hingga yang paling bawah. Influencer dinilai bisa menyampaikan pesan-pesan resmi dari gugus tugas penanganan Covid-19 dan diolah menjadi informasi yang menarik serta bisa dipahami oleh masyarakat.https://054b5b686765b0401493c214a806781f.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

          Masyarakat dipenuhi berbagai macam informasi karena berkembangnya teknologi dan informasi khususnya internet. Di media sosial, informasi dan berita terkait dengan Covid-19 sangatlah banyak. Namun diantara banyaknya informasi dan berita tersebut, terdapat pula informasi dan berita yang termasuk hoaks. Pemerintah sudah melakukan upaya berupa kampanye dan juga memberi anjuran untuk membatasi diri dalam beraktifitas sesuai protokol kesehatan. Akan tetapi, masih ada masyarakat yang tidak mengikuti kampanye dan anjuran dari pemerintah karena termakan oleh informasi serta berita hoaks dan bahkan memang terkesan menyepelekan virus Covid-19 ini.

          Karena masih ada masyarakat yang tidak mengikuti kampanye dan anjuran dari pemerintah akibat termakan hoaks serta masih menyepelekan virus Covid-19, maka pemerintah bersama dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengajak banyak influencer untuk terlibat dalam menyampaikan pesan-pesan positif terkait dengan pencegahan virus tersebut. Para influencer yang terlibat diklaim tidak dibayar dan bersifat sukarela. Influencer sendiri merupakan figur yang berpengaruh di lingkungan masyarakat. Mereka memiliki peran penting pada komunitasnya masing-masing. Jika seseorang memiliki jumlah pengikut atau followers yang banyak serta dapat mempengaruhi pengikutnya, maka ia bisa disebut sebagai seorang influencer. Terdapat berbagai macam kalangan dari influencer yang dilibatkan oleh pemerintah, mulai dari artis, publik figur, dan juga youtuber.

          Melibatkan influencer merupakan langkah dari pemerintah untuk menyebarkan informasi supaya bisa lebih luas hingga ke seluruh kalangan masyarakat. Sebab, pada zaman digital ini tidak hanya mengandalkan media saja untuk menyebarkan informasi. Ismail Fahmi yang merupakan analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia berkata, influencer yang memiliki banyak pengikut secara otomatis akan memperluas jangkauan informasi. Menurutnya, masalah komunikasi yang selama ini dialami oleh pemerintah saat pandemi virus Covid-19 dinilai bisa diperbaiki dengan dilibatkannya influencer.

          Dalam kondisi pandemi ini, pengaruh seorang influencer sangat penting terutama dalam memberi edukasi kepada masyarakat agar lebih peduli dengan kondisi di sekelilingnya. Kecerdasan dalam memahami arus informasi digital dan media sosial perlu diarahkan ke masyarakat supaya masyarakat tidak salah menangkap informasi dan berita, serta menjadi tahu bagaimana cara memilah mana informasi dan berita yang benar dan mana yang hoaks. Tingkat keterpercayaan yang tinggi dari akun media sosial seorang influencer dapat dilihat dari jumlah pengikutnya yang tinggi dan aktif. Salah satu sumber acuan para pengikut seorang influencer adalah informasi yang dibagikan melalui media sosial tersebut.

          Berdasarkan temuan data empiris melalui DEA pada bulan September hingga Desember 2020 menunjukkan bahwa hashtag yang menjadi nomor 1 adalah #COVID19 dengan jumlah mention sebanyak 25.596 tweet. Kemudian hashtag yang menjadi nomor 2 adalah #BersatuLawanCovid19 dengan jumlah mention sebanyak 7.881 tweet.

          Pada bagian sentiments, sebanyak 65% dari total jumlah tweets yang dibuat oleh pengguna merupakan pendapat positif terkait dengan topik Covid-19 dan pemerintah. Kemudian sebanyak 34% dari total jumlah tweets tersebut merupakan pendapat positif, serta 1% sisanya merupakan pendapat netral.

Dok. pribadi

Dok. pribadi          Kemudian pada bagian most engaged users, akun @detikcom menjadi yang paling banyak terlibat dengan topik tersebut dengan jumlah retweet dan reply sebanyak 7.518. Kemudian akun @CNNIndonesia berada di peringkat kedua dengan jumlah retweet dan reply sebanyak 7.056. Di peringkat ketiga ada akun @tempodotco dengan jumlah retweet dan reply sebanyak 6.523, di peringkat keempat ada akun @jokowi dengan jumlah retweet dan reply sebanyak 6.331, lalu di peringkat kelima ada akun @firdzaradiany dengan jumlah retweet dan reply sebanyak 4.227.

Dok. pribadi

Dok. pribadi          Kemudian, untuk meminimalisir ataupun menyelesaikan permasalahan yang sebelumnya telah dibahas, pemerintah harus semakin sering untuk mengkampanyekan pesan-pesan positif terkait dengan pencegahan virus Covid-19. Kemudian, pemerintah juga perlu sering mengajak influencer untuk menyebarkan kampanye tersebut agar sampai ke seluruh elemen masyarakat. Dan juga, pemerintah serta influencer harus bekerja sama pula dalam memerangi informasi serta berita hoaks agar masyarakat menjadi teredukasi dan memilah mana yang benar dan yang hoaks.

          Saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah pemerintah harus semakin sering mengajak para influencer untuk mengkampanyekan informasi dan berita yang terkait dengan pencegahan Covid-19 agar masyarakat semakin paham dengan bahayanya virus ini, tidak mudah termakan informasi dan berita hoaks, serta tetap mengikuti protokol kesehatan jika akan melakukan sesuatu. Diharapkan kedepannya virus Covid-19 ini dapat dicegah kemudian diatasi dan aktifitas kita bisa dilakukan normal seperti sedia kala.

DAFTAR PUSTAKA

Zuhri, Ahmad. 2020. “Instagram Pandemi dan Peran Influencer (Analisis Wacana Kritis pada Postingan Akun Instagram @najwashihab dan @jrxsid)

CNN Indonesia. 2020. “Asa Influencer di Tengah Lambatnya Pusat Tangkal Corona RI”. Diakses tanggal 30 November 2020

Drone Emprit Academic. 2020. “Dashboard Summary Corona dan Pemerintah”. Diakses tanggal 20 Desember 2020

Link: https://www.kompasiana.com/primandikakiki/5fe701bbd541df3596395932/peran-influencer-dalam-upaya-pencegahan-covid-19-melalui-sosial-media?page=all#sectionall