Jokowi Marah, LP3ES: Respon Publik Negatif

Presiden Joko Widodo. Youtube
Presiden Joko Widodo. Youtube

TEMPO.COJakarta – Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menyebut kemarahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap para menteri cenderung direspons negatif oleh publik. Dalam video yang diunggah Sekretariat Kepresidenan, Jokowi marah kepada para menterinya terkait penanganan Covid-19. 

Ketua Dewan Pengurus LP3ES, Didik J. Rachbini, mengatakan temuan ini didapat dari analisis big data bersama Drone Emprit mulai 28 Juni-3 Juli.

Didik mengatakan sebanyak 45 persen publik dengan sentimen negatif dan hanya 25 persen yang merespons positif. Sedangkan yang merespons netral sebesar 31 persen.

“Respons terhadap Jokowi marah kebanyakan negatif. Orang sudah mulai kritis, seperti itu tidak sepatutnya. Apalagi itu sengaja dilempar ke publik untuk jadi drama,” kata Didik dalam diskusi virtual, Senin, 6 Juli 2020.about:blank

Didik mengatakan data sentimen tersebut diperoleh dengan mencermati perbincangan di media massa online dan media sosial, baik Twitter, Facebook, Youtube, dan Instagram.

Dia merinci, ada lebih dari 6.000 berita di media online terkait kemarahan Jokowi. Dalam video itu, Jokowi bahkan mengancam akan mengocok ulang atau reshuffle kabinet. Didik menyebut mayoritas respons di media daring cenderung netral.  

Adapun di media sosial, perbincangan paling banyak terjadi di Twitter dengan 63.846 cuitan. Cuitan dengan sentimen negatif sebanyak 30.441, positif 15.693, sedangkan netral sebanyak 17.710.

Menurut Didik, kemarahan Jokowi di depan publik itu malah mencerminkan kegagalan sebagai pemimpin. Marah, kata dia, juga menunjukkan manajemen perencanaan, program, kebijakan, dan kualitas sumber daya manusia yang tak memadai.

“Marah pemimpin di depan publik cerminan pengakuan kinerja yang rendah, tetapi kemudian menjadi trending isu dan drama, yang menutupi kinerja rendah tersebut,” ujar Didik.

Link: https://nasional.tempo.co/read/1361919/jokowi-marah-lp3es-respon-publik-negatif/full&view=ok

Jadi Gubernur Paling Tidak Disukai di Media Sosial, Anies Baswedan: Hari Ini Dipuji, Besok Enggak

TRIBUNKALTIM.CO – Hasil survei menyebutkan, Anies Baswedan adalah Gubernur paling populer namun paling tidak disukai di medsos ( media sosial ) , begini reaksi Mantan Mendikbud di kabinet Jokowi-JK 

Hasil survei Drone Emprit  menyebutkan Anies Baswedan adalah Gubernur yang paling populer namun tidak disukai di media sosial.

Lantas bagaimana tanggapan Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang sebelumnya sempat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud ) di kabinet Jokowi – Jusuf Kalla?

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan buka suara terkait survei yang menyebut dirinya menjadi Gubernur paling tidak disukai di media sosial.

Dilansir TribunWow.com, Sabtu (4/7/2020), hal tersebut tampak dalam acara Zoom-In tvOne.

Dalam survei yang dilakukan peneliti sosial Drone Emprit Ismail Fahmi, Anies Baswedan menjadi Gubernur paling populer, namun tidak disukai.https://www.youtube.com/embed/iatS9cqiBnA

“Gubernur paling populer se sosial media versi analisa Sosmed, tapi paling tidak disukai,” kata presenter pada Anies.

Mendengar pernyataan tersebut, Anies mengaku tak masalah.

Menurutnya yang lebih penting adalah kinerjanya di dunia nyata.

“Gini, kalau saya ini merasa lebih penting yang dunia nyata, yang nyatanya dirasakan masyarakat,” kata Anies.

Ia lantas mencontohkan kinerjanya mengatasi covid-19.

Ia merasa penyebaran covid-19 di Jakarta cukup terkendali.

“Covid misalnya. Maka di dunia nyata apakah terkendali pasiennya bisa disembukan apa tidak, nyata lebih penting.”

“Karena kalau di sosial media ya tahu sendiri, hari ini dipuji besok enggak,” ungkapnya.

Menurut Aniessurvei di sosial media itu hanya bersifat sementara.

Terkadang dirinya dipuji, kadang pula dirinya dikritik.

“Enggak  apa-apa.

Karena buat saya angka-angka survei itu potret satu waktu, maka saya mengerjakan amanat melindungi warga itu malah tidak satu hari, tapi minggu, bulan,” katanya.

Ia lalu mengungkit kembali bagaimana dirinya mengatasi covid-19 di awal-awal pandemi tersebut masuk Indonesia.

Awalnya dirinya terus mendapat kritikan atas kinerjanya itu.

Namun, kini justru berubah.

“Coba ingat-ingat dulu ketika bulan Maret ketika kita memutuskan wah itu dikritik, dibully, dibilang berlebihan dan lain, lain, macem-macem sekali.”

“Kalau saat itu saya dites popularitas ya jeblok, sekarang tiga bulan kemudian rupanya angka penularan terbesar jadi bulan Maret,” katanya.

Sehingga, Gubernur 50 tahun ini menegaskan sekali lagi dirinya bekerja bukan untuk meraih kepopuleran dan pujian di media sosial.

“Jadi saya itu dipilih bukan untuk mendapatkan rating tinggi di sosmed,” sambungnya.

Meski sadar dirinya tak disukai, Anies menegaskan tetap berusaha yang terbaik.

“Kalau kita bilang enggak ya aneh dong, tapi ada usaha terstruktur kemudian secara terus menerus.”

“Di sosial media luar biasa dan tidak pernah berhenti hari apapun kapanpun selalu jalan terus, selama tiga tahun ini,” kata dia. 

Dilansir TribunWow.com, dalam survey terbaru bulan Mei 2020, Anies Baswedan berada di bawah dua Gubernur lainnya, yakni Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil (RK).

Hal itu lantaran, angka elektabilitas dari Anies Baswedan turun, dan sebaliknya Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil justru naik.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia, elektabilitas Ganjar Pranowo naik sebanyak 2,7 persen dari bulan Februari 2020 yang hanya 9,1 persen menjadi 11,8 persen pada Mei 2020.

Dan sebaliknya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengalami penurunan dari 12,1 persen pada survei Februari lalu, menjadi 10,4 persen.

Menanggapi kondisi tersebut, Anies mengaku santai.

Terlebih dirinya juga mengaku belum memikirkan sampai sejauh itu.

Anies justru menyebut bahwa survey tersebut tidak bisa menjadi patokan untuk empat tahun ke depan.

Ia lantas mengibaratkan survey tersebut seperti meramalkan cuaca tahun 2022.

“Ini sekarang tahun berapa ya,” tanya Anies.

“Tahun 2020, ini kan nulis 2024 ngetes surveynya sekarang,” katanya.

“Itu kaya gini lho ‘ramalan cuaca tahun 2022’, lho piye itu lho,” ungkapnya.

Mendengar jawaban dari Anies, pembawa acara Wahyu Muryadi atau bisa dipanggil ‘Om Why’ mengatakan bahwa politik tentu berbeda dengan ramalan cuaca.

Menurutnya, untuk politik sudah bisa dilihat sedini mungkin.

Meski begitu, Anies tetap menganggap bahwa survey tersebut masih belum berpengaruh banyak untuk Pemilu 2020.

“Tapi kan waktunya masih lama sekali,” kata Anies.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengaku untuk saat ini masih fokus memikirkan Jakarta.

Dan ia juga menyadari bahwa baik Ganjar maupun Ridwan Kamil juga demikian, termasuk juga para kepala daerah lainnya.

Lebih lanjut, Anies mengaku belum mau membahas terlalu jauh yang berhubungan dengan politik.

Menurutnya ada hal yang lebih penting yakni berkaitan dengan penanganan Virus Corona di Ibu Kota.

“Lha kita-kita semua ini sekarang masih fokus ngurusin wilayahnya masing-masing, saya ngurusin Jakarta, Ganjar ngurusin Jawa Tengah,” terang Anies.

“Tapi kan kemarin enggak, saya diminta-minta juga enggak mau, yang politik-politik nanti dah,” imbuhnya.

“Kira-kira gini, lha belum azan masa iqomah, salat, ada tahapannya,” pungkasnya.

Link: https://kaltim.tribunnews.com/2020/07/07/disebut-gubernur-paling-populer-tapi-tidak-disukai-di-medsos-begini-jawaban-anies-baswedan?page=all



Klaster Pro Rezim dan Oposisi Justru Tak Minat Bahas RUU PKS

Bisnis.com, JAKARTA — Analis Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, mengungkapkan pembicaraan di Twitter terkait penarikan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dari Prolegnas 2020 didominasi oleh klaster yang tidak teridentifikasi ke dalam kelompok pro pemerintah ataupun oposisi.

Ismail menuturkan kelompok masyarakat itu didominasi oleh perempuan yang selama ini tidak tergabung ke dalam percakapan klaster pro ataupun kontra pemerintah.

“Dari peta SNA tentang RUU PKS ini, hanya tampak satu klaster besar. Dari akun influensialnya, bukan dari mereka yang biasa ada di kluster pro atau kontra selama ini,” Ismail melalui keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Jakarta, pada Kamis (2/7/2020).

Ismail menerangkan klaster pro pemerintah dan oposisi tidak tertarik untuk bergabung ke dalam percakapan ihwal penarikan RUU PKS dari Prolegnas 2020. Kendati demikian, dia menggarisbawahi, kelompok perempuan tersebut konsen pada isu RUU PKS dan tidak turut bergabung ke dalam perdebatan klaster pro pemerintah atau oposisi ihwal isu seperti RUU HIP.https://7d41ea17a9017361304f609ff77c766e.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

“Klaster pro [pemerintah] ataupun oposisi tidak berminat dengan RUU PKS. Mereka lebih fokus pada RUU HIP. Demikian juga sebaliknya, netizen pendukung RUU PKS hanya fokus di RUU ini, tidak tertarik dengan RUU HIP,” kata dia.

Selain itu, dia membeberkan, kaum perempuan lebih mendominasi percakapan terkait isu RUU PKS yang ditandai dengan 4.700 cuitan. Sementara itu, dia mengatakan, kaum laki-laki mencuit sebanyak 4.100.

“Biasanya jumlah laki-laki lebih banyak dari perempuan di Twitter. Namun dalam hal RUU PKS, tampak bahwa cuitan paling banyak dari perempuan. Mereka yang paling konsen dengan RUU ini,” kata dia.

Sebelumnya, dalam rapat koordinasi badan legislasi dengan komisi-komisi di DPR terkait evaluasi terhadap pelaksanaan Prolegnas 2020 pada Selasa (30/6), Komisi VIII DPR RI menyatakan mengeluarkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dari Prolegnas 2020. Komisi VIII mengusulkan RUU Kesejahteraan Lanjut Usia sebagai penggantinya.

Link: https://kabar24.bisnis.com/read/20200702/15/1260613/klaster-pro-rezim-dan-oposisi-justru-tak-minat-bahas-ruu-pks

Memahami Survei Popularitas, Favorabilitas, dan Elektabilitas Kepala Daerah

JAKARTA, KOMPAS.TV – Kebijakan kepala daerah dalam menangani corona ternyata mempengaruhi popularitas dan favorabilitas.

Hasil analisis data media sosial yang dilakukan drone emprit 9 Mei 8 Juni 2020 menunjukkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memiliki popularitas yang tinggi. Berdasarkan analisis percakapan di media sosial, popularitas Anies mencapai 64 persen.

Popularitas Anies Baswedan berada di atas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mencapai 19 persen, serta Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di angka 17 persen. Namun dari tingkat kesukaan atau favorabilitas, Anies Baswedan lebih rendah dibandingkan Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Anies Baswedan 31 persen, sementara Ganjar Pranowo 53 persen, dan Ridwan Kamil 54 persen.

Dalam akun Twitter nya, pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi menjelaskan keterkaitan popularitas dengan elektabilitas. “Popularitas serta konstruksi citra merupakan elemen penting dalam elektabilitas”.

Apa yang menyebabkan seorang gubernur bisa menjadi populer? Apakah ini akan berdampak elektabilitas seorang kepala daerah di pilpres nanti? Lebih lengkap simak dialog bersama dengan Analis Media Sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah, serta Ketua DPP PKS Pipin Sopian.LEBIH SEDIKIT

Link: https://www.youtube.com/watch?v=vatdEm-HNPg

Alasan Dibalik Popularitas Anies Baswedan Tangani Corona Capai 64 Persen

TRIBUN-VIDEO.COM JAKARTA – Kebijakan kepala daerah dalam menangani corona ternyata mempengaruhi popularitas dan favorabilitas.

Hasil analisis data media sosial yang dilakukan drone emprit 9 Mei – 8 Juni 2020 menunjukkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memiliki popularitas yang tinggi.

Berdasarkan analisis percakapan di media sosial, popularitas Anies mencapai 64 persen.

Popularitas Anies Baswedan berada di atas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mencapai 19 persen, serta Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di angka 17 persen.

Namun dari tingkat kesukaan atau favorabilitas, Anies Baswedan lebih rendah dibandingkan Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil.

Anies Baswedan 31 persen, sementara Ganjar Pranowo 53 persen, dan Ridwan Kamil 54 persen.

Dalam akun Twitter nya, pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi menjelaskan keterkaitan popularitas dengan elektabilitas.

“Popularitas serta konstruksi citra merupakan elemen penting dalam elektabilitas”.

Apa yang menyebabkan seorang gubernur bisa menjadi populer?

Apakah ini akan berdampak elektabilitas seorang kepala daerah di pilpres nanti?

Untuk membahasnya lebih lengkap, simak dialog bersama dengan Analis Media Sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah, serta Ketua DPP PKS Pipin Sopian

Link: https://video.tribunnews.com/view/153475/alasan-dibalik-popularitas-anies-baswedan-tangani-corona-capai-64-persen

Drone Emprit: Difitnah Pakai Narkoba, Bintang Emon Dibela Warganet

Drone Emprit: Difitnah Pakai Narkoba, Bintang Emon Dibela Warganet
Menurut analisa Ismail Fahmi, dari analis media sosial Drone Emprit, fitnah terhadap Bintang Emon pertama kali datang dari tiga akun Twitter bernama @LintangHanita, @Tiara616xxx, dan @LiarAngsa.

JAKARTA – Pada Senin kemarin, (15/6/2020), jagat maya dihebohkan dengan munculnya serangan fitnah terhadap komika Bintang Emon, dari akun abal-abal di Twitter. Dalam cuitannya, mereka menuding Bintang menggunakan narkotika jenis sabu-sabu.

Fitnah tersebut kemudian direspon Bintang dengan membagikan surat keterangan negatif narkoba, yang telah dilakukannya di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. (Baca juga: Pilpres 2024, Prabowo Disarankan Siapkan Capres Alternatif yang Didukung PDIP)

“Kalo nanti masih ada berita ditangkap karena narkoboy (narkoba), lucu juga sih. Bintangemon negatif narkoba, positif kentang mustofa,” tulis Bintang, melalui akun Instagramnya saat membagikan hasil pemeriksaan rumah sakit, Selasa (16/6/2020).

Fitnah terhadap Bintang muncul, lantaran sebelumnya komika tersebut membagikan video komentarnya mengenai persidangan dan hasil tuntutan jaksa yang tidak masuk akal, atas kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Menurut analisa Ismail Fahmi, dari analis media sosial Drone Emprit, fitnah pertama kali datang dari tiga akun Twitter bernama @LintangHanita, @Tiara616xxx, dan @LiarAngsa. Masing-masing akun tersebut hanya memiliki 2 pengikut, 9 pengikut, dan 0 pengikut.

“Serangan terhadap Bintang Emon mulai terjadi pada tanggal 14 Juni 2020 pukul 23.47 WIB,” jelas Fahmi, dikutip dari akun Twitter-nya, Rabu (17/6/2020).

Setelah fitnah itu muncul, warganet kemudian satu suara membela Bintang Emon. Ketiga akun abal-abal kini sudah dihapus pihak Twitter, diduga karena banyaknya warganet yang melaporkan akun tersebut.

Padahal, masih berdasarkan analisa Fahmi, sebelum fitnah muncul, tepatnya pada Jumat (12/6/2020), mayoritas percakapan tertinggi di Twitter berisi dengan kata kunci “Novel Baswedan”. Kemudian keesokan harinya berubah menjadi “Gak Sengaja”. Barulah kata kunci “Emon” menguasai percakapan pada Senin lalu.

“Dari trend di atas, tampaknya netizen bergeser perhatiannya, dari membahas isu esensial (Novel Baswedan) menuju isu penyerta,” kata Fahmi.

Link: https://autotekno.sindonews.com/read/72584/207/drone-emprit-difitnah-pakai-narkoba-bintang-emon-dibela-warganet-1592381178

Jadi Gubernur Paling Disenangi Versi Drone Emprit, RK: Tak Gunakan Buzzer

Bandung – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memastikan tak menggunakan jasa tim buzzer untuk melejitkan citranya di akun media sosial. Hampir semua aktivitas di berbagai platform media sosialnya, ia kelola sendiri.

“Akun media sosial mayoritas dikelola sendiri, sebagai salah satu sarana melaporkan pekerjaan yang sedang maupun yang akan dilakukan,” kata pria yang akrab disapa Kang Emil, Rabu (17/6/2020).

Saat ini akun Instagramnya telah diikuti oleh 12,4 juta orang. Sementara Twitternya diikuti 4 juta orang dan Facebook 3,5 juta orang.

Menurutnya, media sosial menjadi ajang untuk berinteraksi dengan publik, selain forum tatap muka langsung. “Kami tidak menggunakan tim buzzer untuk menaikkan percakapan. Semua natural apa adanya,” katanya.

Sebelumnya, Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia Ismail Fahmi, menyampaikan bahwa Kang Emil paling disukai di media sosial dibandingkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Kang Emil memiliki favoribilitas 54%, sedangkan Ganjar 53% dan Anies 31%. Pengamatan menggunakan big data dengan sumber berita online, Twiiter, FB, IG dan Youtube.

Walau demikian popularitas Kang Emil di angka 17%, atau masih di bawah akun media sosial Anies Baswedan (64%) dan Ganjar Pranowo (19%).

“Dalam grafik popularitas vs favorabilitas, siapa yang berada di titik paling kanan (paling populer) dan paling atas (paling disukai) memiliki peluang besar untuk dipilih,” tulis Ismail.

“Namun itu bukan satu-satunya ukuran. Karena artis yang sangat terkenal, sangat disukai, belum tentu akan dipilih untuk jadi presiden,” katanya.

Dari Social Network Analysis (SNA) dari tiga Gubernur tersebut, Anies disebut masif dukungan tapi juga masif kontra.

“Di SNA @aniesbaswedan ada dua cluster besar. Terbesar cluster Pro Anies, warna hijau (positif). Kedua cluster Kontra Anies, warna merah (negatif). Artinya, Anies punya basis pendukung yang besar, tapi juga serangan yang masif,” ucap Ismail.

Untuk Kang Emil, Ismail menyebutnya sebagai ‘Lone Ranger’. RK tanpa promotor juga minim kontra.

“Menarik melihat audiens @ridwankamil. Popularitas dan sentimen positifnya sangat tergantung dari satu akun, yaitu akun RK sendiri yang memiliki basis follower yang sangat besar. Cluster yang kontra hampir tidak ada,” kata Ismail.

“Follower @ridwankamil yang sangat besar ini kebanyakan meretweet pesan RK. Ini yang menjelaskan kenapa jumlah audiens RK lebih tinggi dari Ganjar, tetapi percakapan tentang RK lebih sedikit. Karena retweet ini sifatnya pasif. Menunggu cuitan dari RK. Mereka tidak aktif promosi,” kata Ismail.

Sementara itu, untuk SNA Ganjar, Ismail menyebut Ganjar masif dukungan, dan minim kontra.

“SNA @ganjarpranowo memperlihatkan satu cluster besar berwarna hijau (positif). Top influencernya adalah akun Ganjar sendiri. Juga ada banyak akun yang sangat aktif bicarakan Ganjar secara positif. Cluster kontra hampir tidak ada,” ucap Ismail.

“Favorabilitas: Anies jatuh karena lawan, RK & Ganjar tak ada halangan,” ujarnya.

Link: https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5057890/jadi-gubernur-paling-disenangi-versi-drone-emprit-rk-tak-gunakan-buzzer

Drone Emprit: Anies Lebih Populer dari Ganjar-RK di Medsos, Tapi Paling Tak Disukai

Anies, Ridwan Kamil, Ganjar di Balai Kota DKI (Zhacky/detikcom)
Foto: Anies, Ridwan Kamil, Ganjar di Balai Kota DKI (Zhacky/detikcom)

Jakarta – 

Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menyampaikan analisa bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, lebih populer di media sosial dibandingkan dengan Gubernur Ganjar Pranowo dan Gubernur Ridwan Kamil (RK). Namun, Anies juga mendapat nilai paling rendah disukai dibanding Ganjar dan RK.

“Bagaimana hasil pengamatan menggunakan big data dengan sumber berita online, Twitter, FB, IG, dan YouTube? Hasil Drone Emprit, @aniesbaswedan paling populer (64%), @ganjarpranowo nomor dua (19%), @ridwankamil paling rendah (17%),” tulis Ismail dalam akun twitternya, seperti dilihat detikcom, Rabu (17/6/2020).

Kemudian, Ismail membandingkan antara popularitas dengan disukai. Hasilnya, Anies memiliki nilai rendah untuk disukai daripada Ganjar dan RK.

Anies memiliki favorabilitasnya sebesar 31%, sedangkan Ganjar 53%, dan RK 54%. Dengan begitu, RK menjadi yang paling disukai dibandingkan dengan Ganjar dan Anies.https://fb8643f7c432c24001b1e4b44f4d7963.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

“Dalam grafik popularitas vs favorabilitas, siapa yang berada di titik paling kanan (paling populer) dan paling atas (paling disukai) memiliki peluang besar untuk: dipilih,” tulis Ismail.

“Namun itu bukan satu-satunya ukuran. Karena artis yang sangat terkenal, sangat disukai, belum tentu akan dipilih untuk jadi presiden,” katanya.

Popularitas lawan disukai antara Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil versi Drone Emprit.Popularitas lawan disukai antara Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil versi Drone Emprit. Foto: dok. @ismailfahmi.

Tonton juga video ‘Survei Indikator: Elektabilitas Anies Turun, RK-Ganjar Naik’:https://20.detik.com/embed/200608075

Ismail menyampaikan Anies memiliki jumlah audiens yang membicarakannya di Twitter paling banyak di antara Ganjar, maupun RK dengan 68 ribu audiens. Di tempat kedua diisi oleh RK dengan 45 ribu audiens, dan Ganjar dengan 36 ribu audiens.

Dia juga menganalisis Social Network Analysis (SNA) dari tiga Gubernur tersebut. Anies disebut masif dukungan tapi juga masif kontra.

“Di SNA @aniesbaswedan ada dua cluster besar. Terbesar cluster Pro Anies, warna hijau (positif). Kedua cluster Kontra Anies, warna merah (negatif). Artinya, Anies punya basis pendukung yang besar, tapi juga serangan yang masif,” ucap Ismail.

Untuk RK, Ismail menyebutnya sebagai ‘Lone Ranger.” RK tanpa promotor juga minim kontra.

“Menarik melihat audiens @ridwankamil. Popularitas dan sentimen positifnya sangat tergantung dari satu akun, yaitu akun RK sendiri yang memiliki basis follower yang sangat besar. Cluster yang kontra hampir tidak ada,” kata Ismail.

“Follower @ridwankamil yang sangat besar ini kebanyakan meretweet pesan RK. Ini yang menjelaskan kenapa jumlah audiens RK lebih tinggi dari Ganjar, tetapi percakapan tentang RK lebih sedikit. Karena retweet ini sifatnya pasif. Menunggu cuitan dari RK. Mereka tidak aktif promosi,” kata Ismail.

Sementara itu, untuk SNA Ganjar, Ismail menyebut Ganjar masif dukungan, dan minim kontra.

“SNA @ganjarpranowo memperlihatkan satu cluster besar berwarna hijau (positif). Top influencernya adalah akun Ganjar sendiri. Juga ada banyak akun yang sangat aktif bicarakan Ganjar secara positif. Cluster kontra hampir tidak ada,” ucap Ismail.

Ismail lalu menyimpulkan bagaimana variabel popularitas dan disukai terbentuk. Hal itu bisa dilihat dari peta SNA yang dijelaskan.

“Popularitas: @aniesbaswedan dari pendukung dan lawan, @ridwankamil dari follower, @ganjarpranowo, dari follower dan pendukung,” ucap Ismail.

“Favorabilitas: Anies jatuh karena lawan, RK & Ganjar tak ada halangan,” ujarnya.

Link: https://news.detik.com/berita/d-5056958/drone-emprit-anies-lebih-populer-dari-ganjar-rk-di-medsos-tapi-paling-tak-disukai?single=1

Akun-akun yang Bikin Kasus Bintang Emon Diserang Buzzer Viral

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pengamat media sosial dari Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyatakan kasus serangan negatif terhadap Bintang Emon menjadi viral setelah direspons oleh tiga akun.

Tiga akun itu adalah @ramydhia yang membuat utas soal kasus ini dan lantas dipopulerkan oleh akun influencer Pandji Pragiwaksono (@pandji) dan Arie Kriting (@Arie_Kriting).

Cuitan yang memention Bintang Emon (@bintangemon) sendiri muncul sejak Minggu (14/6). Namun, sepanjang hari percakapan tentang Bintang Emon masih rendah. Percakapan baru naik pesat keesokan hari setelah @ramydhia membuat utas pada Senin (15/6) dini hari pukul 04:25

Tren makin naik setelah Pandji mencuitkan cerita soal fitnah narkoba kepada Bintang pada pukul 07:21 WIB. Grafik pembicaraan terus naik setelah Arie mencuitkan topik serupa pada pukul 07:38 WIB.

Dalam utas analisis Selasa (16/8), Ismail sempat menyebut kalau meme yang paling banyak direspons netizen adalah gambar yang dibagikan akun Udztad Hilmi (@Hilmi28).

Namun, menurutnya banyak warganet yang salah memahami cuitannya ini. Hal ini diungkap Ismail setelah Udztad Hilmi mempertanyakan analisis Ismail.

Ia heran mengapa akun miliknya yang dijadikan akun yang paling banyak dibagikan (1st Top most shared). Beberapa netizen pun memprotes lantaran angka retweet Panji lebih tinggi ketimbang sang Udztad.

Ismail pun menjelaskan hitungan Drone Emprit untuk akun yang paling banyak dibagikan merupakan hasil perhutungan dari total retweet, termasuk retweet of retweet of retweet dst. Sementara retweet yang ditampilkan di Twitter adalah retweet langsung.

Ismail pun lantas memperbarui data analisis gambar yang paling Drone Emprit pada Selasa malam.

“Ini update top most shared Images hingga hari ini. Akun @pandji nomor 1, lalu @Hilmi28 nomor 2,” kicau Ismail lewat Twitter, Rabu (17/6).

Lebih lanjut, Ismail menyampaikan akun yang paling banyak mendapat perhatian dari warhanet usai memposting meme fitnah terhadap Bintang Emon hingga 16 Juni 2020 adalah akun @pandji dengan 34.335 retweet. Kemudian diikuto oleh @Hilmi28 dengan 24.818 retweet, @TretanMuslim dengan 6.594 retweet, dan @fermendkis dengan 2.850 retweet.

Sebelumnya, Ismail menyampaikan fitnah terhadap Bintang Emon dilakukan oleh tiga akun. Dia mengatakan ketiga akun itu mengunggah meme fitnah yang sama persis.

“Siapa yang pertama kali menyebarkan meme fitnah tersebut? Kita cari di “raw data” Drone Emprit, tanggal 14 Juni. Search dengan keyword “sabu” dan “narkoba” menghasilkan 3 akun yang membuat postingan yg sama persis, pada menit yang sama pula,” kata Ismail lewat Twitter.

Ismail membeberkan ketiga akun iyu adalah @LintangHanita, @Tiara616xxx, dan @LiarAngsa. Ketika diekplorasi, dia menyebut ketiga akun itu menampilkan 5 postingan yang sama persis dan jam yang sama, antara 22.45 hingga 22.49 WIB.

Ismail menyampaikan ketiga akun tersebut sudah dalam status suspended. Sehingga, dia mengaku pihaknya tidak bisa menelusuri hstori dan afiliasi dari ketiga akun tersebut.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200617110521-192-514192/akun-akun-yang-bikin-kasus-bintang-emon-diserang-buzzer-viral

Buzzers’ tell PLN customers that their bills are fine

'Buzzers' tell PLN customers that their bills are fine
PLN workers inspect electricity meters. (PLN/PLN)

Social media users, known in Indonesia as “buzzers”, have steered discourse in Indonesia following customer complaints against state-owned electricity firm PLN for a significant spike in electricity bills in June resulting from a new billing method and increased at-home work. The response has raised questions about whether it was organic or an artificially mustered campaign.

Buzzers have been known to weigh in on political matters, but their involvement in public service disputes is new. At one point, they even launched a negative campaign against a customer who had complained.

The hashtag #TagihanPLNOkSaja (PLN billing is fine) was one of the most popular hashtags on Twitter on Tuesday and Wednesday to counter complaints from customers who said their bills were higher than usual.

One of the customers was famous singer Tompi, who is also a plastic surgeon, a social media influencer with 1.1 million followers and a supporter of President Joko “Jokowi” Widodo. On his account @dr_tompi he said his electricity bill had increased significantly and that PLN had not notified him about the change.

TAGIHAN PLN MENGGILA! Ini dr PLN kagak ada konfirmasi2 main sikat aja— dr tompi spBP (@dr_tompi) June 10, 2020

The tweet had more than 6,000 likes and 2,900 retweets as of Friday afternoon. Others said they had the same experience with PLN.

But later, Tompi was on the receiving end of criticism. Some people accused him of changing into a “kampret”, a term used by Jokowi supporters to insult those who supported Jokowi’s opponent during the 2014 and 2019 presidential elections, current Defense Minister Prabowo Subianto. Some Twitter users accused Tompi of complaining about PLN because he had not received a position in Jokowi’s administration.

Big data consulting company Drone Emprit founder Ismail Fahmi said on Wednesday that users who promoted #TagihanPLNOkSaja were mostly accounts with less than 10 followers, meaning they were new accounts or perhaps bots. The hashtag reached its peak on the morning of June 9, when the messages tended to anticipate complaints about electricity bills. Some posts that contained the hashtag, for example, explained how to calculate an electricity bill.

However, by the afternoon, the tone turned into “anger” because the hashtag was being used by customers upset about their bills, Ismail said. The customers later created a counter-hashtag, which added an expletive to the phrase “PLN billing is fine”. The combative tone continued to the next day.

The top tweet for the hashtag, he said, was from a customer who used the hashtag ironically and showed a Rp 20 million electricity bill and a previous bill of Rp 2.5 million.

“Have companies changed their way of communicating with the public or clients in this social media era? Should a state-owned company communicate with their clients using memes and ‘buzzers’ without showing sympathy?” Ismail said.

PLN has acknowledged the customers’ reports. The spike in electricity bills has been attributed to PLN’s new billing method, where it calculates monthly residential power bills based on consumption during the previous three months. Higher-than-usual consumption in April and May was billed in June.

Last week, PLN promised to relax billing for some disgruntled customers.

In June, 4.3 million post-paid residential customers saw bills 20 percent higher than in the previous month, PLN data showed.

PLN vice president of public relations Arsyadani Ghana Akmalaputri denied that the company had engaged buzzers to drown out customer complaints.

“PLN didn’t use buzzers. That is the information that we can convey,” she told The Jakarta Post on Friday.

https://www.thejakartapost.com/news/2020/06/12/buzzers-tell-pln-customers-that-their-bills-are-fine.html