Begini Gerakan 100 Juta Masker yang Digagas Founder Drone Emprit

Calon penumpang bus TransJakarta menggunakan masker saat menunggu kedatangan bus di Halte Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu, 1 April 2020. Berdasarkan data Pemerintah hingga Rabu (1/4/2020) pukul 12.00 WIB, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 1.677 orang dengan jumlah pasien sembuh mencapai 103 orang dan kasus meninggal dunia mencapai 157 orang. ANTARA/Aprillio Akbar
Calon penumpang bus TransJakarta menggunakan masker saat menunggu kedatangan bus di Halte Gelora Bung Karno, Jakarta, Rabu, 1 April 2020. Berdasarkan data Pemerintah hingga Rabu (1/4/2020) pukul 12.00 WIB, jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia mencapai 1.677 orang dengan jumlah pasien sembuh mencapai 103 orang dan kasus meninggal dunia mencapai 157 orang. ANTARA/Aprillio Akbar

TEMPO.CO, Jakarta – Analis Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menggagas gerakan memakai masker di akun media sosial Twitter. Gerakan itu lahir dengan tagar 100 juta masker challenge.

Ismail menceritakan, gerakan ini muncul karena kekhawatiran penyebaran Covid-19 melalui droplet, seperti percikan dari batuk, bersin, maupun air liur pada orang yang berbicara.

Selain itu, Ismail mendapati mahalnya harga masker bedah dan N95, serta stoknya yang terbatas. Ia pernah membeli kedua jenis masker tersebut dengan harga puluhan juta untuk disumbangkan ke rumah sakit.

“Saya dapat 5 boks N95 dan 20 boks masker bedah, harganya bisa beli motor, Rp 21 juta,” kata Ismail kepada Tempo, Senin, 6 April 2020.

Ismail mengatakan, masker jenis tersebut menjadi langka karena banyak dibeli dan dipakai oleh masyarakat umum. Padahal penggunaannya diprioritaskan bagi petugas kesehatan. Kemudian tercetus ide agar masyarakat bisa menggunakan masker tetapi dari bahan yang bisa dibuat dari rumah, yaitu masker berbahan kain.

Pada 21 Maret 2020, Ismail pun mencuit sebuah utas cara mengatasi kelangkaan masker. “Di semua negara, masker langka. Thread ini buat para ibu rumah tangga yang suka njahit, dan para tukang jahit. Tukang Jahit Bergerak,” cuitnya.

Ismail pun memaparkan kajian dari Cambridge University mengenai jenis-jenis masker. Untuk partikel virus berukuran besar, yaitu 1 mikron, masker bedah memiliki tingkat filtrasi hingga 97 persen 

Masih dari penelitian Cambridge University, Ismail memaparkan bahwa masker berbahan kain bisa menyaring 50 persen partikel virus berukuran 0,02 mikron. Misalnya, bahan kain pada lap piring memiliki filtrasi 73 persen, kain bantal 57 persen, dan bahan katun 51 persen.

Namun, bahan kain yang nyaman untuk bernafas adalah kaus berbahan katun dan kain bantal. “Jadi, dari testing di atas, antara efektivitas dan kenyamanan, para peneliti di Cambridge merekomendasikan kain yang biasa dipakai untuk cover bantal dan t-shirt katun 100 persen sebagai bahan untuk bikin masker,” kata Ismail.

Menurut Ismail, jika masker berbahan katun digandakan, maka efektivitasnya naik menjadi 71 persen. Angka tersebut bisa lebih tinggi jika diberi filtrasi tambahan berupa tisu.

Ia kemudian memberikan foto mengenai langkah-langkah membuat masker berbahan kain. Juga memberikan informasi tentang masyarakat di luar negeri yang bergotong royong membuat masker dan mengirimkannya ke rumah sakit.

Gerakannya itu pun berhasil menggerakkan masyarakat umum. Terlihat dari sejumlah cuitan masyarakat yang diunggah kembali oleh akun Ismail. Seperti @TarjoSawud_Jady yang menunjukkan foto masker hasil jahitan yang hendak dijual. Keterangan foto itu tertulis, “Secara tidak langsung gerakan bang @ismailfahmi #100JutaMaskerChallenge telah menghidupkan UMKM yang bingung di saat Corona melanda. Alhamdulillah kini sudah bisa tersenyum kembali. Semoga #Covid_19 segera reda.”

Beberapa waktu lalu, kata Ismail, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga membuat petunjuk membuat masker persis seperti yang ia tulis. “Beliau pertama kali meminta warganya bikin sendiri. Itu lima hari yang lalu sebelum BNPB,” ujarnya.

Link: https://nasional.tempo.co/read/1328351/begini-gerakan-100-juta-masker-yang-digagas-founder-drone-emprit/full&view=ok

Sambut Tantangan #100JutaMaskerChallenge Ismail Fahmi Untuk Gunakan Masker Kain

Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengajak masyarakat membuat masker produksi rumahan melalui gerakan #100JutaMaskerChallenge. Ajakan ini dicetuskan Ismail melalui akun twitter @IsmailFahmi sejak Kamis, (6/3/2020).

Ia memastikan ada landasan ilmiah yang mendasari gerakan menyuplai masker kain tersebut. Menurut Ismail, gerakan #100JutaMaskerChallenge ingin mengajak masyarakat menggunakan masker buatan dengan dua lapis kain katun daripada membeli masker bedah atau masker N95.

“Sebagai saintis saya hanya gemas, kok tidak ada yang menggerakkan dan memberikan dasar pemikiran. Karena itu, saya berikan data riil, memberikan landasan ilmiah sebagai dasar, supaya publik merasa apa yang dia lakukan adalah benar,” ungkap Ismail.

A THREAD

Mengatasi Kelangkaan Masker

Di semua negara, masker langka. Thread ini buat para ibu rumah tangga yang suka njahit, dan para tukang jahit.

“Tukang Jahit Bergerak”

Tentang masker yang bisa dibuat sendiri berdasarkan penelitian dari Cambridge University.

Melalui tantangan ini, ia mengajak mereka yang bisa menciptakan dan memasarkan masker dari kain katun dua lapis akan dipromosikan melalui Twitter-nya.

Ismail mengatakan, tak sedikit orang menertawakan gerakan itu pada awalnya. Terlebih, masih banyak orang yang tidak percaya diri jika keluar rumah tanpa memakai masker bedah. Di lain sisi, banyak juga yang mengikut saran WHO bahwa masker hanya perlu dikenakan mereka yang sakit atau merawat orang yang sakit.

Ismail pun mencari berbagai penelitian dan membagikannya kepada masyarakat melalui akun media sosialnya tentang efektivitas masker kain dalam melindungi diri dari droplet penderita infeksi virus corona.

“Ada paper yang menyebutkan, orang yang tidak memakai masker, begitu terkena droplet, virus bisa langsung masuk ke tubuhnya. Kalau menggunakan masker kain, peluang virus masuk melalui droplet menjadi 50 persen, sementara 50 persennya tertangkap kain. Itu lebih baik daripada tidak dilindungi sama sekali,” kata Ismail.

Menurut Ismail, jika masker kain itu dirangkap dua, maka peluang terlindungi dari droplet penderita COVID-19 menjadi 70 persen. Sementara itu, daya lindung masker bedah bisa sampai 90 persen.

“Ada penelitian dari Hongkong University yang meneliti khusus untuk tisue saja, ada tisu dapur yang lebih tebal sebagai penahannya, kemudian dilipat dan ditali. Di dalamnya ada tisu biasa. Nah mereka teliti, masker ini bisa mencegah droplet virus masuk sampai 90 persen,” jelas dia.

Dari penelitian-penelitian ini, Ismail mengajak masyarakat membuat masker kain yang terdiri dari dua lapis kain. Sebagai perlindungan ekstra, pengguna bisa menyelipkan tisue di dalamnya. “Pemakaian masker kain berlapis tisu ini bisa mencegah droplet virus lebih dari 70 persen,” Ismail menjamin.

Selain itu, penggunaan masker kain katun ini dapat dicuci dan minimal diganti dua kali sehari. Untuk pencuciannya dapat menggunakan air bersuhu normal dan menggunakan detergen, sedangkan tisu yang ada di dalam masker kain dibuang.

Ismail juga mencontohkan percobaan sederhana yang dibagikan melalui video di akun Twitter-nya. Di video itu, ia membuktikan fungsi masker kain yang berlapis tisu.

Pembuktiannya simpel, yaitu dengan meniup korek api sambil menggunakan masker. Dalam percobaan menggunakan masker bedah, api pada korek tak bisa mati.

Link: https://radaraktual.com/34584/sambut-tantangan-100jutamaskerchallenge-ismail-fahmi-untuk-gunakan-masker-kain.html

Menggerakkan Produksi 100 Ribu Masker Kain

Penjahit memproduksi masker batik di Pakistaji, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (2/4/2020). UMKM yang biasanya memproduksi busana batik itu, sejak merebaknya wabah COVID-19, beralih memproduksi masker berbahan kain batik yang dijual Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per buah
Penjahit memproduksi masker batik di Pakistaji, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (2/4/2020). UMKM yang biasanya memproduksi busana batik itu, sejak merebaknya wabah COVID-19, beralih memproduksi masker berbahan kain batik yang dijual Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per buah

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dedy Darmawan, Rizky Suryarandika, Farah Noersativa, Rr Laeny Sulistyawati

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengajak para pelaku ekonomi kreatif khususnya desainer lokal untuk berpartisipasi dalam Gerakan Masker Kain. Gerakan  ini menargetkan bisa memproduksi 100 ribu masker kain yang akan dibagikan kepada masyarakat untuk menekan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekaf, Josua Puji Mulia Simanjuntak menjelaskan, gerakan ini terbuka bagi para pelaku atau desainer lokal subsektor fesyen di Indonesia.

Mereka, kata dia, bisa mendaftar untuk turut serta dalam gerakan tersebut mulai 1–5 April 2020. Caranya dengan mengisi formulir melalui tautan bit.ly/GerakanMaskerKain yang terdapat dalam kanal media sosial Kemenparekraf.

“Gerakan Masker Kain bertekad bisa memproduksi total 100 ribu masker kain yang akan didistribusikan kepada pekerja pariwisata (PHRI), pekerja kreatif (asosiasi kreatif), pekerja publik (Transjakarta, MRT, Pertamina, dan sebagainya) serta pekerja sektor lainnya yang diusulkan,” kata Josua di Jakarta, Kamis (2/4).

Josua menjelaskan, gerakan tersebut muncul sebagai bentuk keprihatinan karena kelangkaan masker di pasaran. Kalaupun ada harga yang ditawarkan sangat tidak wajar.

Hal itu kemudian mendorong Kemenparekraf berinisiatif untuk mengajak para pekerja mode agar menggerakkan usahanya dengan membuat masker kain dari kain perca atau sisa bahan kain produksi mereka.

Selain itu, kata dia, gerakan ini bertujuan untuk mengajak dan mengedukasi masyarakat agar tetap menjaga kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Penggunaan masker kain pun dianggap cukup memadai bagi mereka yang sehat. Maka dengan semakin banyaknya masyarakat menggunakan masker kain, suplai masker medis akan lebih mudah didapatkan oleh mereka yang lebih membutuhkan termasuk tenaga medis, pasien ODP, PDP, dan positif Covid-19.Baca Juga

photoSeorang penjahit membuat masker berbahan dasar kain di Limba U 2, Kota Gorontalo, Gorontalo, Kamis (1/4/2020). Sejumlah penjahit pakaian beralih untuk memproduksi dan menjual masker kain dengan harga Rp10 ribu per buah seiring sepinya konsumen dan meningkatkan permintaan masker akibat merebaknya pandemi COVID-19 – (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)

“Masker yang terbuat dari kain ini telah diteliti cukup untuk meminimalisasi kontak langsung dengan debu, virus, dan droplet di luar rumah jika memang tidak dapat melakukan kerja dari rumah dan harus berinteraksi dengan banyak orang,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, upaya itu diharapkan bisa membantu mengingatkan atau menggerakkan usaha para desainer lokal dari sektor mode Indonesia yang ikut terdampak dari wabah Covid-19 sehingga mereka tetap dapat terus bertahan hidup. “Selain juga memanfaatkan sisa bahan kain dari produksi garmen untuk mengurangi sampah industri mode sehingga bisa menerapkan zero waste,” katanya.

Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan, Erlina Burhan menyampaikan penggunaan masker kain sebenarnya kurang efektif mencegah penularan virus corona jenis baru penyebab Covid-19. “Kenapa? Karena masker kain tidak bisa memproteksi masuknya semua partikel dan ini tidak disarankan bagi tenaga medis. 40 hingga 90 persen partikel bisa menembus masker. Idealnya dikombinasikan dengan penutup wajah,” ujar Erlina.

Menurut dia, terdapat sejumlah mekanisme penularan virus, dua di antaranya melalui droplet dan airbone (partikel kecil yang terbawa udara). Masker kain ini memang memiliki perlindungan dari droplet, meski kecil. Tingkat perlindungan bagi partikel droplet ukuran tiga mikron hanya 10 sampai 60 persen. Jadi masih tergolong tinggi potensi penularannya.

“Masker kain, perlindungan terhadap droplet ada, tapi tidak ada perlindungan terhadap aerosol atau partikel yang airbone,” kata dia.

Meski begitu, kata dia, pengunaan masker kain ini bisa digunakan sebagai pilihan terakhir jika ketersediaan masker bedah sudah sangat langka di pasaran. Tapi itu pun dengan catatan, bahwa yang wajib menggunakan masker bedah adalah orang sakit dan tenaga medis, sementara masyarakat sehat dapat menggunakan masker bedah jika keluar rumah atau merawat orang sakit.

“Kalau orang sehat memborong dan memakai (masker bedah) maka ketersediaan masker ini tidak ada lagi bagi tenaga kesehatan maupun orang sakit, dan ini berbahaya kalau orang sakit tidak ada akses terhadap masker bisa jadi orang sakit ini jadi sumber penularan kita semua,” kata dia.

Sementara masker bedah, efektif mencegah partikel airbone ukuran 0,1 mikron dari 30 hingga 95 persen. Namun masih memiliki kelemahan yakni tidak bisa menutupi permukaan wajah secara sempurna terutama di sisi samping kiri dan kanan masker. “Kelemahan lainnya hanya bisa digunakan sekali pakai,” kata dia.

Adapun masker N95, memang tingkat efektifitas pencegahan penularan mencapai 95 persen namun masker ini tidak boleh dipakai oleh sembarang orang dan menjadi protokol wajib tenaga kesehatan yang harus berkontak langsung dengan pasien penderita.photoPedagang melayani pembeli masker berbahan kain di seputaran Kota Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Rabu (1/4/2020). Permintaan masker berbahan kain buatan industri rumahan yang dijual Rp10 – (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)


“N95, masker ini mempunyai proteksi yang baik untuk droplet dan juga memiliki proteksi aerosol. Makanya dianjurkan oleh tenaga medis, bukan masyarakat, dan efektifitasnya cukup tinggi partikel ukuran 0,1 mikron aerosol sampai 95 persen,” kata dia.

Penggunaan masker kain bergema di dunia maya sejak pegiat media sosial, Ismail Fahmi, menggulirkan gerakan #100JutaMasker agar masyarakat memproduksi masker kain. Kepada Republika.co.id, pendiri Drone Emprit itu mengatakan, gerakan tersebut lahir karena ia tak ingin tenaga kesehatan kehabisan masker bedah.

“Publik umum non medik? Kita cari cara lain. Kita bantu mereka dengan tidak menggunakan masker yang mereka butuhkan,” ujar Ismail melalui akun Twitter @ismailfahmi pada 21 Maret.

Bukan hanya produksi masker kain, sejumlah desainer, pengusaha mode, atau bisnis lain juga banting setir beralih memproduksi alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis. Langkah tersebut dilakukan tidak hanya demi bertahan hidup karena dunia mode yang ikut sepi, melainkan juga untuk membantu tenaga medis di lapangan mendapatkan APD yang mencukupi.

Ikatan Dokter Indonesia tidak bisa membuat estimasi berapa jumlah ideal kebutuhan APD. “Kalau bicara jumlah ideal butuh banyak banget, karena kalau bicara kebutuhan APD hanya diarahkan untuk RS rujukan atau yang merawat positif Covid-19. Padahal kan ada fasilitas kesehatan yang juga membutuhkan APD utamanya fasilitas kesehatan frontliner yaitu puskesmas, klinik, rumah sakit swasta yang pertama kali menerima pasien positif Covid-19,”  ujar Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Muhammad Adib Khumaidi.

Adib melanjutkan, persoalan ditambah dengan APD ini hanya sekali pakai. Ia menyebutkan dibutuhkan tiga APD dipakai untuk per hari karena tenaga medis bekerja dibagi menjadi tiga shift. Tak hanya itu berdasarkan standar Kementerian Kesehatan bahwa APD untuk tenaga medis harus menggunakan masker jenis N95 karena menjalin kontak dengan pasien.

Kemudian, dia melanjutkan, tenaga kesehatan ini harus menggunakan baju hazmat saat merawat pasien. Adib mengestimasi jika semua dokter harus bisa melayani Covid-19 yang juga anggota IDI saja sekitar 185 ribu orang, kemudian ditambah perawat yang jumlahnya lebih dari 1 juta. Karena itu pihaknya menyambut baik ketika pemerintah mendatangkan 3 juta APD.

“Okelah itu cukup tapi hanya dalam kurun waktu tertentu. Yang terpenting distribusinya juga dikontrol,” katanya.


photoPolisi gerebek penimbun masker. – (Republika)

Link: https://republika.co.id/berita/q85oxo328/menggerakkan-produksi-100-ribu-masker-kain

Memilih Bahan Masker Kain, DIY Masker tanpa Mesin Jahit

Cara membuat masker tanpa dijahit yang dirangkum Tim Desain Produk Institut Teknologi Bandung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Erlina Burhan, mengatakan bahwa penggunaan masker kain bisa menjadi alternatif bagi orang yang sehat sebagai bagian proteksi diri dari ancaman virus. Namun, masyarakat tetap harus menjaga jarak aman sejauh satu hingga dua mater dari orang lain saat berada di tempat ramai.

Sementara itu, berdasarkan analisis Johns Hopkins University, penggunaan masker kain dapat menyaring droplet (percikan liur) ukuran besar, namun tak efektif melindungi tenaga kesehatan. Erlina menjelaskan, masker kain tidak memberikan proteksi terhadap aerosol atau partikel yang airborne karena tingkat perlindungannya dari partikel droplet pengidap Covid-19 ukuran tiga mikron hanya 10 sampai 60 persen.Baca Juga

Dalam paparannya, Erlina mengatakan bahwa menggunakan masker kain lebih baik dibandingkan tidak sama sekali saat tenaga medis menghadapi ketiadaan masker N95 dan masker bedah. Bagi tenaga medis, masker kain atau buatan rumah menjadi pilihan terakhir untuk mencegah penularan virus melalui partikel kecil (droplet), setelah masker N95 dan masker bedah.

“Tetapi idealnya itu pun harus dibarengi penggunaan penutup wajah,” ujar Erlina saat konferensi pers Gugus Tugas Percepatan dan Penangan Covid-19 di Graha BNPB, Jakarta, Rabu.

Sementara itu, Antara mengutip penelitian John Hopkins University yang menyebut bahwa masker kain efektif menekan laju penularan virus di sejumlah negara. Adapun negara yang mampu menekan angka penularan dengan menggunakan masker secara luas tergambar di negara Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Hongkong.

Negara lain yang terlambat menerapkan langkah itu grafik penularannya tinggi seperti tercermin di negara China, Italia, Spanyol, Iran, hingga Amerika. Upaya menggunakan masker itu dianggap bijak dan mampu mengurangi potensi penularan dari orang yang terinfeksi, tetapi tidak memiliki gejala apa pun.

Di samping itu, penggunaan masker kain bagi orang sehat juga menjadi upaya mengantisipasi pemborongan masker bedah dan N95 di pasaran.

Bahan ternyaman

Pakar media sosial, Ismail Fahmi, menggulirkan gerakan #100JutaMasker agar masyarakat memproduksi masker kain. Kepada Republika.co.id, pendiri Drone Emprit itu mengatakan, gerakan tersebut lahir karena ia tak ingin tenaga kesehatan kehabisan masker bedah.

“Publik umum non medik? Kita cari cara lain. Kita bantu mereka dengan tidak menggunakan masker yang mereka butuhkan,” ujar Ismail melalui akun Twitter @ismailfahmi pada 21 Maret.

Mengutip laman smartairfilters.com, Ismail memperlihatkan aneka jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat sendiri masker kain. Ia juga menunjukkan bahan yang paling nyaman untuk bernapas, yakni bahan t-shirt katun 100 persen dan sarung bantal.

Sementara itu, dikutip dari laman designethno.id/bikinmaskersendiri, Tim Desain Produk Institut Teknologi Bandung merangkum informasi cara membuat masker kain sendiri (DIY) di rumah. Masyarakat bisa memakai kain katun 100 persen, sarung bantal, serbet, atau syal untuk membuatnya tanpa perlu menjahitnya.

Cara 1
Bahan
    Sapu tangan katun 40 x 40 cm
    Kain sarung bantal
    Dua ikat rambutphotoCara membuat masker tanpa dijahit – (designethno.id)


Langkah:
* Lipat kain menjadi dua, letakkan kain sarung bantal sebagai filter, lalu Lipat kain menjadi tiga. Setelah itu, Masukkan ikat rambut ke dua sisi kain, lipat kedua sisi kain ke tengah, lalu sisipkan.
* Balik kain ke bagian depan, tarik kedua ujungnya, dan masker pun siap digunakan.
 
Cara 2
Bahan:
    Sapu tangan katun 40 x 40 cm
    Kain sarung bantal
    Empat karet gelangphotoCara membuat masker tanpa dijahit – (designethno.id)


Langkah:
* Letakkan kain sarung bantal sebagai filter, lipat kain menjadi tiga bagian, lipat ujung kain ke dalam, lipat kembali ke bagian luar hingga menumpuk, masukkan karet ke dua sisi kain dan lipat ke dalam, ikat kedua ujung kain yang sudah terlipat, tarik kedua ujungnya, ke atas dan ke bawah, dan masker pun siap digunakan.

Link: https://republika.co.id/berita/q83lvs414/memilih-bahan-masker-kain-diy-masker-tanpa-mesin-jahit

Ismail Fahmi Gulirkan Gerakan #100JutaMasker

Gerakan #100JutaMasker yang digulirkan Ismail Fahmi bertujuan agar masker medis yang masih tersisa diprioritaskan untuk petugas kesehatan dan masyarakat umum tetap terlindungi dari kemungkinan tertular Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pakar media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengajak masyarakat membuat masker produksi rumahan melalui gerakan #100JutaMasker. Ia memastikan bahwa ada landasan ilmiah yang mendasari gerakan menyuplai masker kain tersebut.Baca Juga

“Sebagai saintis, saya hanya gemes saja kok tidak ada yang menggerakkan dan memberikan dasar pemikiran. Oleh sebab itu, saya berikan data riil, memberikan landasan ilmiah sebagai dasar, supaya publik merasa apa yang dia lakukan adalah jalan yang benar,” ungkap Ismail saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (31/3).

Ismail mengatakan, tak sedikit orang yang menertawakan gerakan itu pada awalnya. Terlebih, masih banyak orang yang tidak percaya diri jika keluar rumah tanpa memakai masker bedah.

Di lain sisi, banyak juga yang mengikut saran WHO bahwa masker hanya perlu dikenakan oleh mereka yang sakit atau merawat orang yang sakit. Ismail pun mencari berbagai penelitian dan membagikannya kepada masyarakat melalui akun Twitter dan Facebook-nya tentang efektivitas masker kain dalam melindungi diri dari droplet penderita infeksi virus corona.

“Ada paper yang menyebutkan, orang yang tidak memakai masker, begitu terkena droplet, virus bisa langsung masuk ke tubuhnya. Kalau dia menggunakan masker kain, peluang virus masuk melalui droplet menjadi 50 persen, sementara 50 persennya tertangkap oleh kain. Itu lebih baik dari pada tidak dilindungi sama sekali,” kata Ismail.

Menurut Ismail, jika masker kain itu dirangkap dua, maka peluang terlindungi dari droplet penderita Covid-19 menjadi 70 persen. Sementara itu, daya lindung masker bedah bisa sampai 90 persen.

“Ada penelitian dari Hongkong University yang meneliti khusus untuk tisue saja, ada tisu dapur yang lebih tebal sebagai penahannya, kemudian dilipat dan ditali. Di dalamnya ada tisu biasa. Nah mereka teliti, masker ini bisa mencegah droplet virus masuk sampai 90 persen,” jelas dia.

Dari penelitian-penelitian ini, dia mengajak masyarakat untuk membuat masker kain yang terdiri atas dua lapis kain. Sebagai perlindungan ekstra, pengguna bisa menyelipkan tisue di dalamnya.

“Pemakaian masker kain berlapis tisu ini bisa mencegah droplet virus lebih dari 70 persen,” kata Ismail.

Selain itu, Ismail juga mencontohkan percobaan sederhana yang dibagikan melalui video di akun Twitter-nya. Di video itu, ia membuktikan fungsi masker kain yang berlapis tisu.

Cara membuktikannya sangat sederhana, yaitu dengan meniup korek api sembari menggunakan masker. Dalam percobaan menggunakan masker bedah, api pada korek tak bisa mati.

Sementara itu, percobaan dengan masker kain yang dilapisi tisu, api juga sulit mati saat Ismail mencoba meniupnya. Bagaimana dengan buff?

“Kemarin ada yang bertanya kepada saya, apakah pelindung mulut seperti buff itu efektif. Lalu setelah dia coba sendiri, ternyata api pada korek cepat mati. Itu menandakan buff sangat tipis dan tidak efektif untuk melindungi diri,” tutur dia.

Link: https://republika.co.id/berita/q828l2414/ismail-fahmi-gulirkan-gerakan-100jutamasker

100 Juta Masker Challenge dan Pesan Selamatkan Stok Masker untuk Pekerja Medis…

ilustrasi masker

Penulis Retia Kartika Dewi | Editor Inggried Dwi Wedhaswary

KOMPAS.com – Media sosial Twitter diramaikan dengan gerakan #100JutaMaskerChallenge.

Tantangan ini dicetuskan Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi,melalui akun Twitternya, @ismailfahmi pada Kamis (26/3/2020).

Melalui unggahannya, Ismail mengajak penggunaan masker katun dua lapis atau masker non-medis.

Di antara dua kain katun, bisa diselipkan tisu yang bisa menyaring benda kecil sehingga tak masuk ke mulut.

Ismail juga menyertakan informasi efektivitas masker seperti masker N95 dengan perlindungan dari virus 95 persen; masker bedah perlindungan dari virus 95 persen;  masker FFP1 perlindungan dari virus 95 persen, dan lainnya.

Sementara, untuk masker jenis Activated Carbon Mask, Cloth Mask, Sponge Mask memiliki tingkat perlindungan yang sangat rendah dari virus dan tidak disarankan dipakai oleh tenaga medis.

Tujuan #100JutaMaskerChallenge

Apa tujuan dari tantangan #100JutaMaskerChallenge?

Saat dihubungi Kompas.com, Minggu (29/3/2020) malam, Ismail mengungkapkan, ia menemukan penelitian dari Cambridge University mengenai material rumah tangga yang efektif untuk menangkal virus corona meski tidak disarankan untuk tenaga medis.

Adapun material atau bahan rumah tangga yang dipakai yakni serbet, katun, dan sarung bantal. Menurut dia, bahan katun memiliki tingkat perlindungan sebesar 70 persen.

Ismail mengaku prihatin dengan kelangkaan masker medis di sejumlah daerah dan menyebabkan tenaga medis kekurangan masker untuk melindungi dirinya saat menangani pasien Covid-19. 

“Sempat nemu orang jual masker bedah, tapi mahalnya minta ampun. Jadi, saya beli itu untuk stok nakes di RS, itu boleh dibeli oleh umum. Tapi pihak rumah sakit dulu yang diprioritaskan untuk dapat masker tersebut,” ujar Ismail.

Menurut dia, gerakan #100JutaMaskerChallenge ingin mengajak masyarakat untuk menggunakan masker buatan dengan dua lapis kain katun daripada membeli masker bedah atau masker N95.

Ia menekankan, tenaga medis lebih membutuhkan masker N95 dan masker bedah yang kini juga banyak dipakai oleh masyarakat umum. 

“Dulu masyarakat belum ada solusinya (untuk mencegah virus corona). Ada yang menggunakan masker kain tapi saat itu belum ada dasar ilmiahnya, kan,” ujar Ismail.

Ia mencari referensi dan akhirnya menemukan solusi agar masyarakat mau menggunakan masker kain katun yang di dalamnya dilapisi tisu berlapis.

“Jadi, saya temukan ada referensinya, mereka coba mulai dari yang masker bedah, masker yang ada vacoom cleaner-nya, ada yang dari katun, ada yang dari serbet, semua dicoba satu per-satu,” ujar Ismail.

Ia mengungkapkan, tujuan dari percobaan tersebut yakni ingin mengetahui efektivitas masker tersebut. Diketahui, virus corona memiliki ukuran 0,02 mikron sehingga peneliti harus paham bahan apa yang dapat digunakan sebagai masker dan dapat digunakan oleh masyarakat.

Melalui tantangan ini, ia mengajak mereka yang bisa menciptakan dan memasarkan masker dari kain katun dua lapis akan dipromosikan melalui Twitter-nya.

Ia menyebutkan, jika hanya satu lapis kain katun, maka tingkat perlindungan hanya 50 persen. Dengan didesain dua lapis, menurut dia, akan memberikan perlindungan yang lebih kuat.

Selain itu, penggunaan masker kain katun ini dapat dicuci dan minimal diganti dua kali sehari.

Untuk pencuciannya dapat menggunakan air bersuhu normal dan menggunakan detergen, sedangkan tisu yang ada di dalam masker kain dibuang.

Link: https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/30/080500965/100-juta-masker-challenge-dan-pesan-selamatkan-stok-masker-untuk-pekerja?page=2.
Penulis : Retia Kartika Dewi
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Menkominfo soal Peta Sebaran Corona RI: Tanyakan Satgas

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyebut saat ini pemerintah telah menyiapkan jajaran satuan tugas Gugus Percepatan Penanganan Corona, sebagai pusat informasi virus corona di Indonesia.

Menkominfo Johnny G. Plate mengatakan jika ada pertanyaan soal informasi soal Covid-19 di Indonesia, bisa ditanyakan langsung ke satgas yang dipimpin Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Armando.

Penyataan tersebut sekaligus merespons adanya desakan Kemenkominfo dan pemerintah pusat untuk membuat aplikasi khusus seperti Korea Selatan atau peta persebaran SARS-Cov-2 di Indonesia seperti yang sudah dilakukan pemerintah daerah Jakarta dan Jawa Barat.

“Yang terkait dengan itu, sudah ada satgas (satuan tugas). Semuanya terpusat di satgas,” kata Johnny kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (16/3) malam.

Lebih lanjut kata Johnny, pihaknya hanya mengikuti protokol dari pemerintah pusat terkait perkembangan Covid-19 di Indonesia.

“Kita tertib prosedur dan protokol dulu, lebih baik begitu. Tanyakan sama ketua satgas karena pusat informasinya ada di situ,” pungkasnya.

Masih Mengandalkan Situs Kemenkes

Johnny kemudian menegaskan pemerintah pusat masih mengandalkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagai acuan utama untuk penyebaran

“Pusat komunikasi yang berhubungan dengan medis ada di Kemenkes. Maka, untuk memberikan referensi atau narasi kesehatan ditunjuklah seorang juru bicara,” kata Johnnysaat konferensi pers lewat live streaming, Senin (16/3).

Lebih lanjut, Johnny pun menyinggung beberapa pemerintah daerah yang membuat situs serupa. Ia meminta kepada pemda untuk menyajikan informasi soal corona berdasarkan data dari pemerintah pusat. Hal itu mesti dilakukan agar tidak membingungkan masyarakat.

Menyoal aplikasi khusus corona, cara ini telah dilakukan oleh pemerintah Korea Selatan. Negeri Gingseng itu membuat aplikasi yang wajib digunakan warga terutama turis asing.

Aplikasi itu mengharuskan turis mengisi semacam diari terkait aktivitas mereka setiap hari selama berada di Negeri Gingseng. Para turis diminta mengisi sejumlah kolom seperti suhu tubuh dan apakah mengalami gejala Covid-19.

Belakangan, sejumlah netizen malah ‘mengejek’ tampilan situs yang disajikan Kemenkes yang masih menjadi andalan pemerintah pusat. Netizen mengeluhkan situs infeksiemerging.kemkes.go.id terkadang tidak bisa diakses.

Beberapa netizen juga mengeluhkan situs Kemenkes yang tidak ‘user friendly’ jika dibandingkan dengan tampilan situs Pemprov DKI Jakarta atau Jawa Barat.

Sebelumnya, pengamat media sosial dari Drone Emprit, Ismail Fahmi melalui cuitan di akun Twitter pribadinya meminta pemerintah pusat untuk menampilkan sebaran virus corona SARS-Cov-2 penyebab sakit Covid-19.

Cuitan itu disampaikan menanggapi peta sebaran suspect virus corona yang sudah dilakukan Pemprov DKI Jakarta dan Jawa Barat. Ia pun meneruskan cuitan ini kepada BNPB, Kemenkominfo, KSP, dan Kemenkes RI.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sendiri dibentuk berdasarkan Keputusan RI nomor 7 tahun 2020.

Doni ditunjuk sebagai ketua pelaksana yang dibantu dengan dua orang wakil, yakni Asisten Operasi Panglima TNI dan Asisten Operasi Kapolri. Sementara itu anggota Gugus Tugas adalah unsur dari berbagai Kementerian dan lembaga negara.

Nantinya Gugus Tugas juga akan melibatkan lembaga nonpemerintah, agar pencegahan dan percepatan deteksi virus ini dapat terencana dan terpadu.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200317144809-185-484223/menkominfo-soal-peta-sebaran-corona-ri-tanyakan-satgas?