Pakar TI UII Apresiasi Konvensi Rakyat Berbasis Digital Partai Perindo

JAKARTA – Pakar Teknologi Informasi dan Media Sosial Universitas Islam Indonesia (UII), Ismail Fahmi, menyambut baik terobosan Partai Perindo tentang konvensi rakyat berbasis digital menggunakan sistem e-demokrasi dan e-voting. Terobosan ini telah disampaikan Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo saat HUT ke-7 Partai Perindo pada 8 Oktober 2021.

Menurut Ismail Fahmi, di era sekarang sudah saatnya demokrasi dan partai politik memanfaatkan digitalisasi industri 4.0, di mana informasi dan data memiliki nilai penting. Selama ini proses penjaringan calon legislatif (caleg) parpol belum mengunakan mekanisme tersebut. Terkesan masih jadul, tidak transparan, dan mungkin didasarkan politik uang.

“Jika ini benar-benar dilakukan, diterapkan sebagai satu proses parpol untuk merekrut, mendidik dan proses selama duduk di legislatif serta serius diterapkan, maka sangat apresiasi,” katanya, Rabu (20/10/2021).

“Parpol lain seharusnnya juga sudah melirik ke sana. Terutama konsolidasi dan tranparansi. Sehingga konstituen akan mudah mencari informasi partai. Karena sekarang belum, masih susah dalam mengaksesnya,” katanya.

Menurut Ismail Fahmi, konvensi rakyat berbasis digital adalah hal yang bagus dan harus diperkenalkan kepada publik dan menjadi bentuk dari demokrasi di era industri 4.0. Proses interaksi menjadi lebih mudah antara konstituen dan parpol.

Namun Ismail Fahmi mengingatkan apakah publik sudah siap? Ia yakin sebagian besar masyarakat belum siap karena belum pernah ada sebelumnya, sehingga tantangan ini harus dihadapi. “Jika benar-benar konvensi rakyat dilakukan akan menjadi satu pelajaran bagi partai lain dan butuh proses dalam berdemokrasi,” kata pemilik Drone Emprit itu.

Hal lainnya yang harus menjadi perhatian adalah ada yang mengontrol data digital. Jika tidak, maka dikhawatirkan bisa dimanipulasi. Bila ingin dipercaya, maka harus transparan, jujur, serta ada audit dari pihak ketiga yang profesional, bukan dari internal partai. Ini penitng, guna memastikan sistemnya aman, tidak ada kebocoran maupun penyalahgunaan wewenang.

“Kalau tidak ada itu, bagaimana publik bisa percaya. Karena kuncinya itu trust. Kepercayaan. Ide digital bagus, publik bisa terlibat namun sistem ini kan tertutup. Sehingga akan bermakna, kalau sistemnya bisa dipercaya, maka perlu audit keamanan sistem, data dan metodologi, maka auditor harus memastikan sistemnya aman,” katanya.

Link: https://nasional.sindonews.com/read/574540/12/pakar-ti-uii-apresiasi-konvensi-rakyat-berbasis-digital-partai-perindo-1634735424

Drone Emprit: Popularitas Anies Baswedan Tinggi, tapi Sentimennya Negatif

TEMPO.CO, Jakarta – Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi menyatakan nama Anies Baswedan memuncaki volume percakapan dibandingkan Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, dan Puan Maharani. Volume itu dihitung dari total mentions dari berbagai kanal seperti media online dan Twitter dari Januari hingga September 2021.

“Secara tren memang selalu tinggi,” kata Ismail dalam diskusi daring yang diadakan Pemprov DKI, Selasa, 12 Oktober 2021.

Namun, tingginya popularitas itu juga sejalan dengan tingginya sentimen negatif. Untuk kategori sentimen negatif, Anies memuncaki daftar dengan skor 37 persen, diikuti Ridwan Kamil 23 persen, dan Ganjar 20 persen.

“Ternyata Pak Anies paling populer tapi paling tidak disukai, di antara ketiganya,” ujar Ismail Fahmi.

Selanjutnya, Fahmi memaparkan peta social network analysis (SNA) antara tokoh-tokoh tersebut. Hasilnya, pembicaran soal Puan Maharani tidak banyak dilakukan oleh pendukung organiknya atau mayoritasnya disebut buzzer. Selanjutnya, pembicaraan soal Ridwan Kamil mayoritas dilakukan oleh pendukungnya.

Pembicaraan tentang Ganjar Pranowo mayoritas dilakukan oleh pendukung sang Gubernur Jawa Tengah itu sendiri. Hal ini menghasilkan banyak sentimen positif terhadapnya.

“Yang menarik, yang berbicara tentang Anies Baswedan, ternyata dua kelompok besar. Yaitu kelompok yang pro Pak Anies dan kelompok yang pro Pak Ganjar atau yang kontra Anies,” kata Ismail Fahmi.

Ihwal pihak-pihak yang melakukan pembicaraan, Ismail Fahmi menilai kelompok Anies, Ganjar, dan Ridwan, masuk dalam kategori natural. Artinya, yang berbicara memang kebanyakan manusia bukan bot, kecuali Puan.

Sementara itu, top 5 influencer yang membicarakan Anies ternyata tidak hanya diisi oleh pendukungnya. Peringkat 1 dan 3 bahkan pihak yang kontra, yaitu @Dennysiregar7 dan @FerdinandHaean3. Sedangkan pihak yang pro adalah @OposisiCerdas, @Mdy_Asmara1701, dan akun media sosial Anies Baswedan sendiri, @aniesbaswedan.

“Artinya ketika lebih banyak yang kontra, artinya beginilah wajah Pemprov DKI di media sosial, cenderung negatif,” ujar Ismail Fahmi.

Link: https://metro.tempo.co/read/1516526/drone-emprit-popularitas-anies-baswedan-tinggi-tapi-sentimennya-negatif/full&view=ok

Perdebatan Anti-rokok vs Pembela Rokok Munculkan Istilah Whataboutisme, Apa Itu?

JAKARTA, KOMPAS.TV – Perdebatan pembela rokok vs kesehatan menjadi semkin menarik, terlebih setelah melahirkan istilah yang mungkin asing di telinga beberap orang, yakni ‘whataboutisme’.

Sebelumnya, untuk menyegarkan ingatan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan getol mengampanyekan anti-rokok. Bahkan, Anies mengeluarkan Seruan Gubernur (Sergub) DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pembinaan Kawasan Merokok.

Lewat seruan itu, Anies meminta bawahannya untuk menutupi iklan dan display rokok yang ada di fasilitas publik.

Langkah Anies pun memantik obrolan dan banyak kicauan di Twitter, karena kampanye anti rokok itu disandarkan dengan efek kesehatan.

Kampanye tersebut lalu mendapat respon dari mereka yang pro-rokok. Beberapa di antara mereka berpendapat bahwa kesehatan bergantung pada diri masing-masing.

Menurut mereka yang pro-rokok, jika pelarangan rokok karena didasarkan pada efek kesehatan, maka gula juga mestinya dilarang. Karena gula juga termasuk pembunuh paling ganas di dunia.

Baca Juga: Wagub DKI Benarkan Anies Surati Bloomberg soal Kampanye Anti-Rokok, tapi Bantah Tuduhan Minta Dana

Pembelokan pembahasan dari bahaya rokok ke bahaya gula itu kemudian oleh Ismail Fahmi, Founder of Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, disebut sebagai ‘whataboutisme’.

Ismail bilang, “SOP para Pembela Rokok Setiap kali ada pembahasan tentang rokok, iklan rokok, display rokok dll, maka otomatis mereka akan belok ke topik lain, yaitu: GULA,” tulis Ismail di akun Twitternya, dilansir Kompas TV pada Selasa (5/10/2021).

“Sudah hapal SOP-nya begitu sejak dulu. Whataboutism,” kata¬†Ismail.

Baca Juga: Memerangi Peredaran Rokok Ilegal dengan Sosialisasi UU Tentang Cukai

Belakangan, ketiak dihubungi, Ismail menjelaskan apa yang ia maksud ‘whataboutisme’. Ia mengatakan, istilah tersebut adalah retorika yang membelokkan pembahasan, tentang rokok berbahaya, ke gula berbahaya. “Biar kita ndak lagi membahas rokok,” kata dia.

“Pembahasan gula berbahaya penting, tetapi tidak relevan dengan topik soal rokok,” tambah Ismail.

Pada cuitan Ismail soal perdebatan anti-rokok dengan pro-rokok memunculkan ‘whataboutisme’. Lalu apa sebenarnya istilah itu? Apa yang dimaksud ‘whataboutisme’?

Istilah ‘whataboutism’ secara diksi berasal dari dua kata, ‘What’ dan ‘About’. Kalau dilihat dalam Oxford Dictionaries, ‘whataboutism’ merujuk pada sebuah teknik retorika untuk membelokkan tudingan yang disampaikan oleh orang lain.

Kata kuncinya adalah ‘whataboutisme’ adalah teknik retorika.

Taktik retorika pembelokan kritik itu pertama kali muncul saat perang dingin antara Uni Soviet dengan negara barat. Istilah itu merebak di Rusia pasca-Soviet, ketika sedang membahas hak asasi manusia. 

Kala ditanyai mengenai hak asasi manusia, maka pembalasannya adalah ‘What About? (bagaimana dengan)..’ dengan menyertakan contoh isu yang tengah ramai, namun tidak relevan.

Saat itu, ‘whataboutisme’ dijadikan propaganda Rusia dengan tujuan mengaburkan kritik terhadap negara Rusia dan menurunkan kualitas percakapan dari kritik yang masuk akal terhadap Rusia menjadi perselisihan sepele.

Sejumlah pemimpin Rusia mengadopsi praktik ‘whataboutisme’ Soviet untuk menghindari refleksi internal terhadap kritik eksternal dan menyoroti kesalahan negara-negara lain. 

Menurut Merriam-Webster dalam sebuah artikelnnya berjudul What about ‘whataboutism’? retorika ‘whataboutisme’ pada umumnya dianggap sebagai bentuk tu quoque yang artinya ‘Kamu Juga’. 

Dari bahasa latin tersebut, ‘whataboutisme’ dianggap sebagai kekeliruan logika karena benar tidaknya pendapat si penuduh, tidak ada kaitannya dengan isu yang tengah dibahas. 

Selain itu, taktik tersebut juga dilakukan untuk mengaburkan fakta-fakta yang tengah dipertanyakan.

‘Whataboutisme’ adalah pembelokan tudingan tersebut seringkali dengan mengangkat isu yang tidak setara. Selain itu, ‘whataboutisme’ masuk ke dalam kategori kesalahan logika. Atau mungkin kita sering dengar politis berdebat dengan istilah tidak ‘apple to apple’.

Link: https://www.kompas.tv/article/218560/perdebatan-anti-rokok-vs-pembela-rokok-munculkan-istilah-whataboutisme-apa-itu?page=all

Founder Drone Emprit:¬†Hoaks¬†6 Kali Lebih Cepat Menyebar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA ‚ÄĒ Pakar algoritma media sosial Ismail Fahmi menjelaskan informasi kontroversial yang terkadang isinya hoaks enam kali lebih cepat menyebarnya. Ia menjelaskan, algoritma yang ada di di media sosial membuat seseorang terus menggulir unggahan yang menarik.

“Biasanya yang membuat senang (menarik) itu karena ada teori konspirasi, pertempuran. (Padahal) Algoritma ini membuat kita terpolarisasi,” kata Ismail dalam acara virtual “Kontroversi Hoaks dan Pseudosains Kesehatan di Media Sosial” yang diselenggarakan Islamic Medical Association and Network of Indonesia (Imani)-Perhimpunan Profesional Kesehatan Muslim Indonesia (Prokami), Ahad (3/10).Baca Juga

Peralatan kesehatan Covid-19

Peralatan kesehatan Covid-19Untuk mengilustrasikan pentingnya mengkonter hoaks, Ismail membagikan data yang menunjukkan bahwa kelompok yang netral terhadap vaksin itu dekat dengan grup antivaksin. Kelompok antivaksin itu rajin mendekati grup netral. Sementara itu, kelompok provaksin sudah lelah berhadapan dengan antivaksin. Mereka kurang agresif menyebarkan informasi kepada kelompok netral.

“Prediksinya, jumlah provaksin akan kalah dengan yang aktivaksin jika kita tidak aktif mendekati yang netral,” ujar founder Drone Emprit ini.

Hoaks seperti berita yang isinya diulang-ulang. Hoaks dibuat bisa masuk ke logika banyak orang. Kenapa orang membuat hoaks? Menurut Ismail, itu karena ada keuntungan yang dipetik pembuatnya. Hoaks akan berhenti jika berurusan dengan penegak hukum.

Lalu, bagaimana cara mendeteksi hoaks? Ismail merekomendasikan untuk melihat siapa penulisnya, tulisan/konten itu dibuat untuk siapa, apa yang mau disampaikan, mengapa sebuah cerita dibuat, sumbernya dari mana, videonya autentik atau tidak.Ismail pun menyarankan orang yang menyebarkan berita benar harus membuat informasi yang mudah diakses masyarakat. Dengan begitu, mereka bisa membantu meluruskan informasi keliru yang beredar di luas.

“Imani punya tim, buat video benar, kirim ke WhatsApp, sehingga publik yang percaya (hoaks), dapat alternatif informasi benar dari kita.¬†Bikin¬†saja katanya, faktanya, mitosnya, faktanya,” kata Ismail.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), dr. Ede Surya Darmawan SKM MDM mengatakan, masyarakat mudah memercayai hoaks kesehatan karena mencari rujukan di media sosial. Tak jarang, orang tidak menelusuri latar belakang keilmuan dari pihak yang menjadi sumber informasinya.photoTiga hoaks terbaru soal vaksinasi Covid-19 – (Republika)

Di samping itu, orang cenderung memiliki emosi untuk segera menyebarkannya ketika informasi itu sesuai dengan kebutuhannya. Ede mengatakan, penguatan peran edukasi itu harus didukung semua pihak dengan konsisten dan komitmen.

“Kalau pemerintah tak jelas, maka masyarakat akan mengatakan, ‚ÄėIni kita berpegangan kemana’. Mereka akan berpegangan ke yang terdekat memberi informasi (yang ternyata¬†hoaks),” kata Ede.Berdasarkan data Hoax Buster, Ede mengatakan, hampir setiap hari ada empat¬†hoaks¬†Covid-19 yang beredar di media sosial. Dia menyarankan semua tenaga kesehatan dan pihak terkait harus mendukung edukasi kepada masyarakat.

Link: https://www.republika.co.id/berita/r0hid1414/founder-drone-emprit-hoaks-6-kali-lebih-cepat-menyebar-part1

Pinjol Bisa Tahu Nomor Ponsel Teman Peminjam, Kok Bisa?

Jakarta, CNBC Indonesia – Meminjam uang dari pinjaman online (pinjol) otomatis memberikan sebagian data pribadi kepada perusahaan pemberi pinjaman, salah satunya yaitu akses data nomor kontak di handphone Anda. Oleh karena itu, tak heran bila ternyata pinjol ini bisa mendapatkan akses nomor telepon kerabat dari si peminjam.

Dengan mengantongi kontak kerabat si peminjam, maka kerap terjadi orang dari pinjol ini dengan sesuka hati dan secara acak menghubungi sejumlah nomor kontak yang tersimpan di handphone peminjam, baik melalui WhatsApp, email atau SMS.

Mereka tak segan-segan mengabarkan bahwa salah satu rekan Anda meminjam uang dan belum melunasi bersama dengan bunganya. Mereka melampirkan foto diri peminjam, KTP, besaran tagihan dan bahkan pesan bernada ancaman bila tidak segera melunasi pinjaman yang didapat dari pinjol.

Hal ini tentu mengesalkan. Sebab, kalian bukanlah peminjam, tetapi harus berhadapan dengan pinjol. Selain itu, muncul pertanyaan bagaimana pinjol bisa mendapatkan nomor ponsel kalian padahal yang meminjam adalah teman lain.

Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi pun mencoba menjelaskan fenomena ini melalui utasan di akun Twitter pribadinya. Menurutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang mensyaratkan pinjol legal hanya boleh mengakses “Camilan” (Camera, Microphone, dan Location).

“Ada pinjol yang comply dengan syarat ini. Tetapi ada juga yang ambil data lebih,” tulisnya dalam utasannya di Twitter sembari menunjukkan pinjol legal yang mengambil data peminjam secara berlebihan, seperti dikutip Senin (30/8/2021).

Ismail Fahmi mengungkapkan bahwa pinjol ilegal lebih parah. Mereka mengambil data pengguna berlebihnya, mulai dari history, contact card, storage (foto dan video) phone call, “Camilan” dan lainnya.

Namun menurutnya ini bukan lah bagian dari hackers, melainkan memanfaatkan minimnya pengetahuan pengguna terhadap keamanan data.

Link: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20211002164004-37-280914/pinjol-bisa-tahu-nomor-ponsel-teman-peminjam-kok-bisa

Cara Kerja Buzzer RI: Disinformasi untuk Serang Oposisi

Jakarta, CNN Indonesia — Buzzer atau pendengung kerap kali bekerja dengan cara menyebarkan disinformasi untuk menyerang dan menyudutkan pihak oposisi atau pihak tertentu.
Analis media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi mengatakan bahwa disinformasi telah menjadi bisnis bahkan industri tersendiri. Merujuk pada laporan dari Oxford University, dia mengatakan terdapat beberapa metode yang dilakukan oleh buzzer dalam bekerja.

“Disinformasi itu sudah menjadi bisnis, bahkan industri. Ini laporan terbaru tahun 2020,” kata Ismail dalam webinar yang diadakan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Muhammadiyah, Kamis (30/9).

Menurut laporan tersebut negara di dunia menggunakan buzzer atau akun bot dengan tiga jenis bot. Pertama automated account atau akun yang dibuat dengan pemrograman. Kedua, human-curated accounts atau ratusan akun yang dikelola oleh satu orang, dan ketiga stolen or impersonate account atau akun seseorang yang dibajak untuk menyebarkan konten yang mendukung kepentingan buzzer.

Lihat Juga :

Kominfo: Kami Tak Berurusan dengan Buzzer dan Influencer
“Ini kalau saya lihat dari laporan itu Indonesia hanya ada di automated account dan human-curated accounts,” ujar Ismail.

Menurut Ismail, buzzer bekerja dengan menggunakan disinformasi untuk menyerang oposisi atau dengan menyerang akun yang aktif dengan memberikan informasi tandingan.

“Kemudian di sini juga ada polarisasi. Contoh polarisasi yang paling jelas itu apa? Cebong, kampret. Penggunaan istilah-istilah itu merupakan labelling jadi dipolarisasi, dipisahkan dengan memberi label-label itu. Indonesia mengalami semuanya,” ujar Ismail.

Selain itu, Ismail juga mengatakan bahwa tim buzzer tersebut berbentuk temporer, artinya tidak pasti atau berubah-ubah sesuai dengan pesanan pihak yang membayarnya.

“Artinya temporer itu sekarang dia mendukung calon A, bisa jadi nanti mendukung calon B, bisa saja terjadi, yang penting ada duit,” imbuh Ismail.

Lihat Juga :

Netizen Riuh BEM Udayana Cap Jokowi The Guardian of Oligarch
Lebih lanjut, berdasarkan pengamatan Ismail pada pemilihan presiden 2019 lalu terdapat banyak kelompok buzzer yang terkoordinasi dalam kelompok-kelompok kecil. Kemudian koordinasi tersebut juga terdesentralisasi atau tidak dalam satu titik yang sama.

Ismail menyimpulkan bahwa ada upaya disinformasi yang sudah diindustrialisasi sehingga semakin lama buzzer dapat bekerja semakin profesional. Hasilnya, kini mereka dapat dipesan atau bekerja sama dengan pemerintah, partai politik ataupun perusahaan untuk membangun disinformasi yang lebih kuat.

(mrh/ayp)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210930190837-185-701751/cara-kerja-buzzer-ri-disinformasi-untuk-serang-oposisi.

Pendiri Drone Emprit Nilai Fenomena Buzzer Sudah Jadi Profesi

TEMPO.CO, Jakarta – Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, mengatakan fenomena pendengung atau buzzer kini telah berubah menjadi profesi. Para buzzer, menurut dia, sebagian besar adalah otomatisasi dari algoritma.

‚ÄúBuzzer ini yang disebut sebagai cyber troops,‚ÄĚ kata Fahmi dalam webinar yang diadakan oleh Lembaga Hikmah Kebijakan Publik (LHKP) Muhammadiyah pada Kamis, 30 September 2021. 

Lebih lanjut, Fahmi menjelaskan mengenai computational propaganda, yaitu bot, algoritma, atau otomatisasi. Bot tersebut digunakan untuk memanipulasi opini publik melalui media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan Youtube.

‚ÄúIni yang disebut bot-nya. Bot ini banyak dipakai oleh aktor-aktor politik,‚ÄĚ katanya. 

Selain itu, Fahmi juga menerangkan soal cyber troops. Pada umumnya pendengung jenis ini dimiliki oleh pemerintahan, militer, partai politik hingga industri. Ia menjelaskan mereka memiliki struktur. ‚ÄúDi dalamnya ada influencer/buzzer dan tim-tim fans untuk amplifikasi followersnya,‚ÄĚ jelas Fahmi.

Fahmi menegaskan bahaya buzzer tidak hanya memanipulasi opini publik, tetapi juga terdapat pola yang dilakukan untuk melawan pihak lain. Salah satu caranya ialah dengan melalui trolling (pelecehan), kampanye hitam, dan mempolarisasi masyarakat di dunia maya. 

Dalam konteks politik di Indonesia, buzzer telah banyak digunakan oleh politisi. Menurut Fahmi hal ini mengkhawatirkan kelangsungan demokrasi di Indonesia. Lebih lanjut, Fahmi mengatakan bahwa buzzer bekerja secara bersembunyi. ‚ÄúSembunyi di balik nama, sembunyi di balik pola,‚ÄĚ katanya. 

Ia menyarankan untuk banyak melakukan riset dan mengekspos hasilnya, terutama secara real time. Hal ini bertujuan untuk mengedukasi publik tentang manipulasi opini yang sedang dimainkan buzzer

‚ÄúKita tunjukkan ke publik bahwa mereka lagi diserang oleh buzzer tertentu. Kita kasih tau bahwa berita ini hoaks, dan sebagainya,‚ÄĚ tambah Fahmi.

Sedangkan Sekretaris Lembaga Hikmah Kebijakan Publik (LHKP) Muhammadiyah, Abdul Rohim Ghazali menyatakan keberadaan buzzer sangat mengkhawatirkan persatuan masyarakat Indonesia yang beragam. 

Ia menilai fenomena¬†buzzer¬†tumbuh subur, terutama ketika menyangkut proses politik seperti¬†pemilu. Ghazali bahkan mengatakan¬†buzzer¬†tersebut bukan hanya bekerja secara sukarela, tetapi ada juga organisasi yang mengatur secara profesional. ‚ÄúBanyak juga¬†buzzer¬†yang menjadi jasa profesional,‚ÄĚ kata dia.¬†¬†

Link: https://nasional.tempo.co/read/1512432/pendiri-drone-emprit-nilai-fenomena-buzzer-sudah-jadi-profesi/full&view=ok

Ahli Sebut Oposisi Serang Jokowi dengan Bot di Pilpres 2014

Jakarta, CNN Indonesia — Analis media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyebut pada 2014 oposisi atau pihak yang kontra dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) jumlahnya sangat sedikit. Alhasil pihak yang berseberangan menggunakan bot atau akun palsu untuk menyerang Jokowi di media sosial.
“Saking enggak ada pendukungnya yang kontra dengan Jokowi membuat bot,” kata Ismail dalam webinar yang diadakan oleh Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Muhammadiyah, Kamis (30/9).

Ismail menyatakan itu saat memaparkan analisis jejaring sosial di media sosial. Analisis itu adalah sebuah citra yang menunjukkan aktivitas percakapan di media sosial yang berkaitan dengan kata kunci tertentu.

Pada 2014 Joko Widodo tengah menjadi sorotan karena saat itu dia baru dua tahun menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan merupakan salah satu calon presiden.

Lihat Juga :

BSSN Perkuat PeduliLindungi, Integrasi 11 Aplikasi Menyusul
“Yang saya ambil adalah di Twitter untuk topik tertentu, misalnya ini topiknya adalah Joko Widodo. Kenapa? Karena pada 2014 pak Jokowi lagi rame. Semua percakapan tentang beliau itu menarik. Pro dan kontra tertangkap dengan nama beliau saja,” kata Ismail

Lebih lanjut Ismail menyebut pada 2014 Jokowi merupakan sosok idaman bagi media. Pada data yang dia presentasikan hampir semua media mendukung dan menyukai Jokowi. Sementara pihak yang kontra sangat sedikit.

Karena netizen dan media yang pro terhadap Jokowi mendominasi, pihak yang kontra pun membuat bot untuk menyebarkan konten negatif atau berseberangan dengan Jokowi.

Pihak yang kontra membuat bot dengan tujuan menyebarkan konten yang mereka buat sendiri sehingga konten ataupun tagar yang mereka buat semakin berlipat ganda dan menjadi trending.

“Dia membuat pasukan robot yang isinya mungkin ada delapan [akun] kemudian di-retweet di antara mereka sendiri, ngerumpi, yang penting tagarnya saja muncul,” ujar Ismail.

Lihat Juga :

Pakar Sebut Video Santri Tutup Telinga Bukan Pengalihan Isu
Ismail mengatakan di media sosial, khususnya Twitter, nama Jokowi tak luput dari perbincangan netizen. Dia mengatakan ada polarisasi di kalangan netizen dan media massa, sebagian mendukung dan sebagian di sisi yang berlawanan.

Meski demikian, menurut Ismail pihak yang mendukung lebih banyak dibandingkan dengan yang kontra.

(mrh/ayp)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210930182155-199-701729/ahli-sebut-oposisi-serang-jokowi-dengan-bot-di-pilpres-2014.

11 Aplikasi Bisa Akses Pedulilindungi, Tokopedia Hingga JAKI

Jakarta, CNN Indonesia — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana membuka akses agar pengguna tak perlu memasang (instal) aplikasi PeduliLindungi secara terpisah, sehingga fitur-fiturnya bisa dibuka di 11 aplikasi lain mulai Oktober 2021 mendatang.
Berdasarkan penjelasan Chief Digital Transformation Office Kemenkes, Setiaji, yang diinformasikan kembali oleh pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, sebanyak 11 aplikasi bisa mengakses fitur PeduliLindungi.

Sebanyak 11 aplikasi itu adalah:
Gojek,
Grab,
Tokopedia,
Tiket.com,
DANA,
Livin’ by Mandiri,
Traveloka,
Cinema XXI,
LinkAja!,
GOERS, dan
JAKI.

Lihat Juga :

PeduliLindungi Bakal Muncul di Grab-Tokopedia Mulai Oktober
Hal ini diungkap Setiaji dalam diskusi RCEE Working Group yang disiarkan lewat akun Youtube BNPB Indonesia, Jumat (24/9).

Setiaji menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan sejumlah aplikasi agar fitur-fitur di PeduliLindungi bisa digunakan di aplikasi-aplikasi tersebut.

“Kami sudah berkoordinasi, berkolaborasi dengan platform-platform digital seperti Gojek, Grab, Tokopedia, Traveloka, bahkan pemerintah DKI [dengan JAKI], jadi tidak harus menggunakan PeduliLindungi, tapi anda bisa mendapatkan fitur-fitur yang ada di PeduliLindungi,” jelasnya.

“Ini akan kita launching di Oktober,” imbuhnya.

Lihat Juga :

Ahli Minta Akun PeduliLindungi Tak Pakai NIK
Dia menerangkan, langkah ini dilakukan pihaknya untuk menjawab keluhan masyarakat yang tidak bisa memasang PeduliLindungi di telepon selulernya.

“Nah ini menjawab tadi kalau ada orang punya handphone terus aplikasi enggak mau instal PeduliLindungi, nah bisa menggunakan ini,” ujar Setiaji.

Namun, ia belum menjelaskan tentang data yang akan dibagikan dari PeduliLindungi ke aplikasi lain tersebut secara rinci.

Langsung terintegrasi tiket kereta dan pesawat
Lebih lanjut Setiaji menjelaskan bagi orang yang tidak punya ponsel pintar dan akan melakukan perjalanan udara maupun dengan kereta tetap bisa teridentifikasi status hasil tes swab PCR maupun antigen dan sertifikat vaksinnya. Status tersebut bisa diketahui melalui nomor NIK saat membeli tiket.

“Sudah kami berlakukan di bandara, misalnya di bandara itu bahkan di tiket sudah kita integrasikan. Kalau naik kereta api itu sudah tervalidasi pada saat pesan tiket, sehingga tanpa menggunakan handphone pun itu bisa diidentifikasi bahwa yang bersangkutan sudah memiliki vaksin dan ada hasil tesnya (PCR atau antigen),” ucapnya seperti dikutip dari situs Kemenkes.

Sementara itu, bagi tempat yang tidak terintegrasi dengan aplikasi PeduliLindungi, masyarakat bisa memeriksanya secara mandiri di aplikasi PeduliLindungi. Caranya dengan memasukkan NIK dan langsung muncul bahwa yang bersangkutan statusnya layak atau tidak untuk masuk ke tempat tersebut.

(mth/eks)

Linki: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210927084015-185-699766/11-aplikasi-bisa-akses-pedulilindungi-tokopedia-hingga-jaki.

Soal PeduliLindungi, Ismail Fahmi Minta Luhut Belajar dari Gopay

JawaPos.com ‚Äď Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan ingin aplikasi PeduliLindungi dikembangkan, sehingga tersedia fitur pembayaran digital, salah satunya Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Menurutnya, potensi pengguna PeduliLindungi yang besar perlu dimanfaatkan seiring bermembangnya sistem pembayaran digital dan banyaknya pelaku UMKM yang menggunakan QRIS.

Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi memandang, ide tersebut perlu disertai dengan aspek kredibilitas aplikasi PeduliLindungi itu sendiri. Menurutnya, sebelum melakukan pengembangan terhadap aplikasi tersebut, pemerintah perlu membangun kepercayaan masyarakat terlebih dahulu.

‚ÄúBangun dulu trust publik terhadap aplikasi PeduliLindungi. Jadi, dapatkan kepercayaan publik dulu,‚ÄĚ ujarnya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Kamis (23/9).Baca juga:Luhut Ingin PeduliLindungi Sediakan Fitur QRIS

Ismail menyebut, keinginan Luhut tersebut sangat menarik, tapi perlu dikritisi karena aplikasi PeduliLindungi ini masih banyak kekurangannya. Masih banyak masyarakat yang mengeluhkan performa aplikasi tersebut.

‚ÄúPeduliLindungi masih banyak kekurangannya. Permasalahan kemarin perlu diselesaikan seperti sempat dikabarkan bocor, dan keluhan masyarakat seperti eror. Jadi, perlu kedepan gimana. Mana yang oke mana yang nggak,‚ÄĚ ungkapnya.

Ismail mengatakan, membangun kepercayaan terhadap aplikasi PeduliLindungi memang menjadi PR pemerintah. Pasalnya. jika berkaca pada aplikasi pembayaran lain seperti Gopay, dia pun melalui proses atau tahapan yang tidak sebentar.

‚ÄúPokoknya trust nomor 1. Misalnya masyarakat sekarang banyak yang pakai Gopay karena sudah lama dan itu digunakan untuk pembayaran keperluan internal seperti ojek. Setelah lama baru pakai payment untuk pembayaran lain,‚ÄĚ jelasnya.

Ismail pun meminta Luhut untuk bersabar sembari meningkatkan keamanan digital aplikasi PeduliLindungi dan membangun kepercayaan pengguna. ‚ÄúSebelum mengarah ke¬†payment, payment¬†itu kan¬†security-nya¬†harus lebih bagus. Kemarin data¬†di-hack¬†sempat, apalagi menaruh uang di situ, nggak akan mudah. Kalau seandainya nanti dipasang belum tentu publik dipercaya dan dipakai,‚ÄĚ pungkasnya.

Link: https://www.jawapos.com/ekonomi/bisnis/23/09/2021/soal-pedulilindungi-ismail-fahmi-minta-luhut-belajar-dari-gopay/?page=all