Indonesia Fact-checking Summit 2021 Bangun Ekosistem Digital Sehat

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Indonesia Fact-checking Summit 2021 mencapai acara puncak rangkaian yakni Webinar pada Senin (20/12/2021). Indonesia Fact-checking Summit 2021 diselenggarakan sejak 16-20 Desember 2021 dengan dukungan Google News Initiative. 

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua II AMSI, Irfan Junaidi, dalam sambutannya saat membuka sesi Webinar. Menurutnya, kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk membangun ekosistem digital sehat.

“Masyarakat perlu dilibatkan dan mendapatkan literasi Cek Fakta agar tidak menelan informasi mentah-mentah dan mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar. Kerja sama berbagai pihak menjadi mutlak,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi multi pihak jadi kebutuhan mendasar memastikan kerja dan distribusi hasil pemeriksaan fakta dapat menyaingi kecepatan peredaran informasi bohong. Kolaborasi perlu dibangun dari hulu hingga hilir untuk menciptakan ekosistem informasi sehat bagi seluruh masyarakat.

Indonesia Fact checking Summit 2Webinar Sesi 2 dalam rangkaian Indonesia Fact Checking Summit 2021, Senin (20/12/2021). (Foto: Tangkapan Layar oleh TIMES Indonesia)

Ia menekankan Cek Fakta bukan milik satu pihak tertentu tapi melibatkan banyak pihak antara media, CSO, jurnalis dan berbagai lembaga.

Pada waktu bersamaan, juga dilakukan peluncuran Playbook Cekfakta.com sebagai produk kolaborasi pemeriksa fakta. Buku panduan dalam dua bahasa yang disematkan di website Cekfakta.com ini berisi strategi, program, latar belakang, proses kerja, hingga bagaimana kerja-kerja kolaborasi pemeriksaan fakta. 

Sekretaris Jenderal AMSI, Wahyu Dhyatmika, menerangkan buku ini dibagi dalam 8 BAB yang diharapkan dapat membantu sharing knowledge kepada publik, peminat pemeriksa fakta, serta akademisi melakukan studi, riset, dan membuka jejaring kerja bersama terkait pemeriksaan fakta. 

“Buku ini tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Harapannya buku ini bisa mencapai publik yang membutuhkannya dan menunjang kerja-kerja pemeriksaan fakta,” kata Wahyu.

Wahyu juga memberikan catatan kritis terkait kolaborasi yang sudah berjalan selama ini. Kata dia, hingga saat ini kerja-kerja pemeriksaan fakta belum menyentuh akar persoalannya.

Menurutnya, perlu ada upaya memastikan kerja-kerja periksa fakta itu harus berdampak pada penciptaan ekosistem informasi yang lebih sehat. Kondisi pandemi, tambah Wahyu, memaksa berbagai elemen pemeriksa fakta berkomunikasi dan berjejaring dengan beragam komunitas baru seperti dari bidang kesehatan guna menyaingi peredaran informasi bohong seputar Covid-19. 

“Pengalaman ini harusnya bisa kita coba replikasi buat konteks lebih luas di luar isu kesehatan,” tuturnya. 

Wahyu mengajak seluruh komponen untuk membuat strategi bersama guna menyasar akar masalah penyebaran hoaks. Bukti tidak sehatnya ekosistem informasi itu, antara lain, kriminalisasi pemeriksa fakta, mempertanyakan kredibilitas pemeriksa fakta, doxing, perisakan daring, hingga terpolarisasinya kelompok masyarakat. 

Pada Webinar sesi 1 yang bertema “Tantangan dan Peluang Cek Fakta sebagai Upaya Kolaborasi Media dan CSO dalam Membangun Ekosistem Informasi yang Kredibel di Indonesia” menghadirkan beberapa narasumber.

Mereka adalah Septiaji Eko Nugroho (Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia/ Mafindo), Wanda Indana (Eedaktur Medcom.id), Elin Yunita Kristanti (Wakil Pemimpin Redaksi Liputan6.com), Donny Budi Utoyo (Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika), dan Wahyu Dhyatmika, Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).

Kolaborasi bernama Cekfakta.com ini terus berjalan dengan melibatkan 24 media massa di Indonesia. Kolaborasi ini secara formal terbentuk selepas Trusted Media Summit 2018 yang melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia, komunitas pemeriksa fakta Mafindo. 

“Kelebihan kolaborasi periksa fakta Indonesia ini sangat kuat, mungkin paling kuat di Asia Tenggara,” kata Septiaji. 

Tantangannya adalah memastikan kerja-kerja dan hasil pemeriksaan fakta bisa terdistribusi viral seperti halnya informasi bohong. Mafindo menilai kolaborasi paling sederhana dengan berbagai pihak adalah menyebarkan hasil cek fakta seluas-luasnya. Catatan Mafindo semasa pandemi, peredaran konten verifikasi yang beredar hanya mencapai 10 persen dari konten mis/disinformasi (hoaks). 

Senada, Elin dan Wanda dari perwakilan media yang memiliki kanal periksa fakta, menuturkan kolaborasi penting dalam konteks melindungi publik sebagai kelompok yang paling rentan dalam penyebaran informasi bohong. Pihaknya mengajak masyarakat agar berpartisipasi aktif melawan hoaks. 

“Kami gelar kelas virtual untuk berbagi ilmu serta mengajak pakar memberikan penjelasan kepada 15 grup Whatsapp dengan kurang lebih dua ribu anggota yang kami kelola,” jelasnya. 

Wanda membagi pengalamannya bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan terkait maraknya informasi bohong berbasis politik yang beririsan dengan isu agama. 

“Kami juga buat pelatihan verifikasi fakta dasar bagi masyarakat,” kata Wanda menambahkan. 

Sementara itu, Webinar pada sesi kedua menghadirkan narasumber Citra Dyah Prastuti (Badan Pengawas dan Pertimbangan AMSI), Novi Kurnia (Koordinator Jaringan Pegiat Literasi Digital/ Japelidi), Widjajanto (Direktur Pusat Media dan Demokrasi LP3ES), Ismail Fahmi (Direktur Media Kernels Indonesia/ Drone Emprit) dan moderator Santi Indrastuti (Presidium Mafindo).

Saat membuka sesi kedua webinar bertema “Mengukur Dampak Cek Fakta: Sejauh Mana Media Berhasil Menangkal Hoaks”,  Sasmito Madrim (Ketua AJI) mengatakan tugas jurnalis secara alamiah adalah melakukan verifikasi dan menjernihkan banjir informasi yang menyebar di jagat digital. 

“Kolaborasi antar jurnalis, perusahaan media, dan masyarakat sipil sudah sangat baik dalam memerangi hoaks yang menyebar. Namun, yang tidak kalah penting adalah memastikan hasil pemeriksaan fakta yang dilakukan media tersebut sampai ke publik supaya dapat mengambil keputusan dengan tepat,” ujar Sasmito.

Di sisi lain, Direktur Media Kernels Indonesia/ Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyampaikan dalam percakapan terkait hoaks, posisi media masih jauh kalah populer dari influencer. 

Saat Pilpres 2019 gerakan cek fakta masuk di tengah-tengah antara kedua kubu. Posisi cek fakta sangat penting, banyak publik figur yang membutuhkan bantuan untuk pengecekan fakta. 

“Media Cek Fakta perlu masuk di cluster-cluster masyarakat yang ada, perlu melibatkan masyarakat sebagai agen untuk membantu distribusi. Agar Cek Fakta bukan lagi di tengah kedua kubu, tapi seperti udara ada di mana-mana,” pungkasnya pada acara Indonesia Fact-checking Summit 2021. (*)

Link: https://www.timesindonesia.co.id/read/news/388315/indonesia-factchecking-summit-2021-bangun-ekosistem-digital-sehat

Drone Emprit Sebut Anies Baswedan Paling Populer di Medsos, Diikuti Ganjar

INDOZONE.ID – Drone Emprit memaparkan figur-figur calon presiden yang paling banyak menjadi perbincangan di media sosial. Hasilnya nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berada diurutan teratas.

Analis Senior Drone Emprit, Yan Kurniawan mengatakan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh pihaknya dari tanggal 16 Oktober sampai dengan 14 November, nama Anies masih terpampang nomor wahid, kemudian kedua ada Ganjar Pranowo disusul Erick Thohir dan Luhut Binsar Panjaitan.

“Dari tanggal 16 Oktober sampai 14 November 2021, dari data yang kami dapat, pertama yang paling populer di percakapan adalah Anies Baswedan, kedua adalah Ganjar Pranowo, ketiga ada Erick Thohir, keempat ada LBP, terus ada Puan Maharani dan AHY,” kata Yan dalam diskusi pemaparan survei Politika Research & Consulting (PRC), Senin (15/11/2021).

Sementara, lanjut Yan, nama Prabowo Subianto masih sedikit diperbincangkan. Sementara perihal nama Anies, Ganjar, AHY dan Puan wajar saja mereka populer di media sosial.Baca Juga:

“Hal yang wajar mengingat Anies, Ganjar, AHY, Puan itu lekat betul dengan anak muda,” bebernya.

Kemudian untuk Erick Thohir dan Luhut menjadi populer serta diperbincangan di media sosial karena satu bulan terakhir kasus dugaan terafliasi bisnis tes PCR covid-19. Luhut jadi perbincangan juga lantaran positif memimpin penanganan Covid-19.

“Terkait Erick Thohir dan LBP memang dalam satu bulan terakhir ada isu yang menarik baik di media massa maupun di percakapan terkait dengan dua tokoh tersebut yaitu kisruh terkait tes PCR. Selain itu Pak LBP juga dalam satu bulan terkahir cukup positif pada isu-isu terkiat dengan penanganan corona,” imbuhnya.

Disebutkan Yan apabila dari 12 nama diprentasekan maka Anies lah yang paling populer di media sosial dengan kisaran angka 28 persen.

Lalu ada Ganjar dengan 16 persen, Erick Thohir dan Luhut mendapat angka 13 persen. Sementara untuk Puan 12 persen dan AHY 10 persen.

BACA JUGA: Update Corona RI 15 November: Positif Tambah 221 Kasus, Meninggal 11

“Pak Anies populer tidak hanya disokong pendukungnya, Pak Anies populer karena diserang oleh para tanda kutip hatersnya,” jelas Yan.

“Makanya ketika yang mendukung mengkampanyekan, yang nolak menyerang, akhirnya Pak Anies terlihat lebih populer dibanding dengan Ganjar,” imbu

Link: https://www.indozone.id/news/M7sl73B/drone-emprit-sebut-anies-baswedan-paling-populer-di-medsos-diikuti-ganjar/read-all

Anies Baswedan Figur Capres Terpopuler Medsos, Begini Penjelasan Analis Drone Emprit

Suara.com – Analis Senior Drone Emprit Yan Kurniawan membeberkan, figur-figur calon presiden yang paling banyak atau populer jadi perbincangan di media sosial.

Dari sejumlah figur yang populer dalam perbincangan di media sosial, nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan masih berada di urutan teratas, sementara posisi kedua ditempati Ganjar Pranowo, Kemudian disusul Erick Thohir dan Luhut Binsar Panjaitan.

“Dari tanggal 16 Oktober sampai 14 November 2021, dari data yang kami dapat, itu yang menarik adalah pertama itu yang paling populer di percakapan adalah Anies Baswedan, kedua adalah Ganjar Pranowo, ketiga ada Erick Thohir, keempat ada LBP, terus ada Puan Maharani dan AHY,” kata Yan dalam diskusi daring, Senin (15/11/2021).

Pemaparan Analis Drone Emprit Yan Kurniawan dalam diskusi daring, Senin (15/11/2021). Dalam diskusi tersebut memaparkan calon presiden terpopuler di media sosial. [Tangkapan layar]
Pemaparan Analis Drone Emprit Yan Kurniawan dalam diskusi daring, Senin (15/11/2021). Dalam diskusi tersebut memaparkan calon presiden terpopuler di media sosial. [Tangkapan layar]

Yan menyampaikan, nama Anies, Puan hingga AHY masih wajar jadi perbincangan di medsos lantaran melekat dengan anak muda. Sementara Prabowo Subianto terbilang minim jadi perbincangan di medsos.

Baca Juga:Jika Pilpres Digelar Sekarang, Banyak Anak Muda Pilih Ganjar Pranowo dan Prabowo

Sementara, Erick Thohir dan Luhut menjadi populer dan diperbincangan di media sosial lantaran kasus dugaan terafliasi bisnis tes PCR covid-19. Luhut jadi perbincangan juga lantaran positif memimpin penanganan Covid-19.

“Terkait Erick Thohir dan LBP memang dalam satu bulan terakhir ada isu yang menarik baik di media massa maupun di percakapan terkait dengan dua tokoh tersebut yaitu kisruh terkait tes PCR. selain itu pak LBP juga dalam satu bulan terkahir cukup positif pada isu-isu terkiat dengan penanganan corona,” tuturnya.

Jika diprosentase dari 12 nama, Anies memperoleh suara kepopuleran di medsos sebesar 28 persen, Ganjar 16 persen, Erick Thohir dan Luhut sama memperoleh 13 persen, Puan 12 persen dan AHY 10 persen.

“Pak Anies populer tidak hanya disokong pendukungnya, Pak Anies populer karena diserang oleh para tanda kutip haters-nya. Makanya, ketika yang mendukung mengkampanyekan, yang nolak menyerang, akhirnya Pak Anies terlihat lebih populer dibanding dengan Ganjar,” katanya.

Link: https://www.suara.com/news/2021/11/15/162532/anies-baswedan-figur-capres-terpopuler-medsos-begini-penjelasan-analis-drone-emprit

Drone Emprit: Erick Thohir Bisa Jadi Capres Alternatif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Analis Senior Drone Emprit, Yan Kurniawan, mengatakan bahwa Erick Thohir menjadi salah tokoh yang populer dibicarakan di media sosial dalam satu bulan ini. Menurutnya Erick Thohir menjadi calon presiden (capres) alternatif.

“Erick Thohir itu menurut kami bisa jadi calon alternatif, kenapa? karena walaupun di bulan ini beliau itu tanda kutip diserang oleh isu-isu negatif terkait test PCR, namun pembelaan terhadap Erick Thohir juga cukup tinggi,” kata Yan dalam diskusi daring, Senin (15/11). Baca Juga

Yan menambahan, di sisi lain Erick Thohir juga dinilai memiliki sentimen bagus pada perhelatan G20 kemarin. Tidak hanya itu, Erick juga memiliki hubungan baik yang kuat dengan fans Inter Milan, klub sepak bola yang pernah ia miliki.

“Dan buat orang-orang millennial isu-isu tersebut itu cukup bagus untuk membangun simpati,” ujarnya. 

Dalam acara yang sama, Politika Research and Consulting (PRC) merilis hasil survei terbaru terkait elektabilitas capres. Dalam survei tersebut elektabilitas Erick Thohir sebesar 0,7 persen. Sementara nama lain yang juga berpotensi menjadi calon presiden alternatif yaitu Sandiaga Uno (7 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (4,5 persen), Ridwan Kamil (4,3 persen), dan Tri Rismaharini (3,2 persen).

Untuk diketahui dari data yang dihimpun Drone Emprit dari tanggal 16 Oktober sampai 14 November, sejumlah tokoh jadi perbincangan publik di media sosial. Tokoh yang paling populer dibicarakan di media sosial yaitu Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Erick Thohir, Luhut Binsar Panjaitan (LBP), Puan Maharani, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Terkait Erick Thohir dan LBP memang dalam satu bulan terakhir ada isu yang menarik baik di media massa maupun di percakapan terkait dengan dua tokoh tersebut yaitu kisruh terkait tes PCR. Selain itu pak LBP juga dalam satu bulan terakhir cukup positif pada isu-isu terkait dengan penanganan corona,” terangnya. 

Link: https://republika.co.id/berita/r2lu0c354/drone-emprit-erick-thohir-bisa-jadi-capres-alternatif

Pro-Kontra Netizen soal Permendikbud No 30 Tahun 2021, Siapa Unggul ?

iNSulteng – Permendikbud No 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi, menjadi salah satu isu hangat dibahas di media sosial, yang menimbulkan sikap pro dan kontra.

Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, membuat peta sikap pro dan kontra para netizen terhadap Permendikbud PPKS.

Diunggah di twitter @ismailfahmi, Sabtu, 13 November 2021, peta Social Network Analysis (SNA) memerlihatkan cluster atau kelompok netizen yang Pro Permendikbud lebih besar ukurannya dibanding yang Kontra.

Perang tagar antara #DukungPermendikbud30 vs #CabutPermendikbudristekNo30 juga dimenangkan oleh kelompok yang Pro Permendikbud 30.

Dari 30 top influencers juga paling banyak netizen dari kalangan Pro Permendikbud 30.

Sementata Surprisingly, akun @muhammadiyah dan @PPAisyiyah yang banyak diberitakan mengkritik, menolak, dan minta revisi Permendikbud 30, ternyata berada di antara kedua cluster pro-kontra. Dalam teori SNA disebut sebagai “bridge”, karena memiliki degree “betweenness” yang tinggi.

Ismail menjelaskan, akun menjadi bridge atau berada di antara dua cluster karena diretweet oleh akun-akun yang berada di kedua cluster. Di Twitter, pada umumnya “retweet” (bukan QRT) menggambarkan persetujuan atas isi cuitan.

Dia menambahkan, di luar cluster Pro Permendikbud 30, tampak ada 2 cluster kecil yang terpisah dan sedikit terhubung ke cluster Pro ini. Kedua cluster ini disebut “clique”.

“Clique biasanya dari tim media sosial/buzzer yang kurang berinteraksi dengan akun2 natural,” jelas Ismail.

Pertama clique “Puanesia”, yang mendukung Puan dalam sidang DPR karena diinterupsi anggota dewan dari PKS terkait permendikbud Kekerasan Seksual. Kedua, clique yang mengangkat tagar #DukungPermendikbud30.

Ismail juga menganalisa emosi netizen, bahwa emosi dalam percakapan paling besar berupa emosi “anger” dari kedua cluster.

Yang Pro Permendikbud 30 kesal atau marah pada mereka yang menolak permen yang menurut mereka bagus. Yang Kontra marah karena menganggap permen ini melegalkan seks bebas.***

Link: https://insulteng.pikiran-rakyat.com/net/pr-903011914/pro-kontra-netizen-soal-permendikbud-no-30-tahun-2021-siapa-unggul?page=2

Serang Anies Baswedan Lagi, Guntur Romli Sebut Buzzer Anies Dibayar Rp1.000 Per Komentar

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali ‘diserang’ politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Mohamad Guntur Romli. Kali ini, Guntur Romli menyerang Anies dengan menyebutnya mengerahkan buzzer di media sosial (medsos).

Tak tanggung-tanggung, Guntur Romli mengatakan Anies membayar Rp1.000 untuk setiap komentar positif di akun Instagramnya. Guntur Romli membagikan tangkapan layar salah satu web yang diduga dikelola oleh buzzer Anies Baswedan.

Dalam tangkapan layar itu terlihat tulisan yang mengatur tentang syarat dan ketentuan untuk berkomentar di akun Instagram Anies. Disebutkan bahwa komisi per komentar di Instagram Anies Baswedan yakni Rp1.000.

Syarat umum: panjang komentar minimal 10 kata. Komentar bersifar positif atau kritik yang membangun. Komentar tidak mengandung kata-kata yang menyinggung SARA.

Syarat khusus: Komentar dukungan ke Anies Baswedan, good bener atau gubernur yang mengayomi, dll, bebas, yang penting dukungan positif dan minimal 10 kata.

“Pengerahan buzzer-buzzer buat komen-komen positif di akun IG @aniesbaswedan, tiap komen dibayar Rp 1.000,” kata Guntur Romli dalam unggahannya di akun Twitternya, Minggu (7/11) lalu, seperti yang dikutip dari PojokSatu.id.

Hingga, Selasa (9/11), cuitan Guntur Romli sudah mendapat lebih dari seribu like dari netizen, diposting ulang (retweet) lebih dari 584 kali, serta mendapat 141 tanggapan.

Pakar Media Sosial Ismail Fahmi turut mengomentari cuitan Guntur Romli. Dia menganggap pola kampanye buzzer seperti yang diungkap Guntur Romli itu cukup menarik.

“Mas @GunRomli maaf mau tanya. Pola ini menarik. Itu situs layanan apa ya? Ada URL lengkap untuk dapat halaman tersebut yang bisa saya lihat?” tanya Ismail Fahmi, Selasa (9/11).

Founder Drone Emprit Media Kernels Indonesia menanyakan apakah seseorang bisa memasang iklan untuk Instagram orang lain.

“Bisa ndak seseorang pasang iklan untuk IG orang lain?Bagaimana bisa yakin dan lihat bukti kalau yang bikin iklan itu timnya Anies, bukan siapapun?” tandas Ismail Fahmi. (one/zul)

Link: https://radartegal.com/serang-anies-baswedan-lagi-guntur-romli-sebut-buzzer-anies-dibayar-rp1000-per-komentar.23489.html

Terungkap! Ini Cara Pinjol Tahu Nomor Ponsel Teman Peminjam

Jakarta, CNBC Indonesia – Layanan pinjaman uang online (pinjol) sedang tren di masyarakat. Ini merupakan alternatif termudah dan tercepat untuk mengatasi masalah keuangan.

Banyak masyarakat yang terjebak dengan janji manis dari pihak pemberi pinjaman. Namun saat tak bisa membayar, bukan hanya peminjam yang diburu tapi juga kontak telepon lain seperti teman, kerabat dan keluarga peminjam.

Baca:Bukan Cuma Youtube, 6 Aplikasi Ini Bisa Hasilkan Uang

Lantas bagaimana pinjol bisa mendapatkan nomor ponsel Anda padahal yang meminjam adalah teman lain?

Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi pun mencoba menjelaskan fenomena ini melalui utasan di akun Twitter pribadinya. Menurutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memang mensyaratkan pinjol legal hanya boleh mengakses “Camilan” (Camera, Microphone, dan Location).

“Ada pinjol yangcomplydengan syarat ini. Tetapi ada juga yang ambil data lebih,” tulisnya dalam utasannya di Twitter sembari menunjukkan pinjol legal yang mengambil data peminjam secara berlebihan, seperti dikutip Sabtu (6/11/2021).

Ismail Fahmi mengungkapkan bahwa pinjol ilegal lebih parah. Mereka mengambil data pengguna berlebihnya, mulai darihistory, contact card, storage(foto dan video)phone call, “Camilan” dan lainnya.

Namun menurutnya ini bukan lah bagian darihackers, melainkan memanfaatkan minimnya pengetahuan pengguna terhadap keamanan data

Link: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20211106112829-37-289474/terungkap-ini-cara-pinjol-tahu-nomor-ponsel-teman-peminjam

Pendiri Drone Emprit Luruskan Foto AHY dan Keluarga di AS

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi membagikan tips menemukan sumber foto di internet. Hal itu perlu dilakukan agar warganet bisa mengetahui kapan pengambilan foto tersebut dilakukan.

“Sumber foto yang dicantumkan tutorial ngecek orisinalitas foto. Di komentar-komentar cuitan ini banyak yang tanya, apakah ini foto lama atau baru. Ini caranya, install RevEye extension di Chrome. Right click fotonya, Reverse Image, Yandex. Dari daftar sumber foto, pilih salah satu,” kata Ismail lewat akun Twitter, @ismailfahmi di Jakarta, Jumat (5/11). Republika sudah meminta izin untuk mengutip status tersebut.

Ismail mengomentari akun Twitter Nila Murti Tanjung @nila_mrt, yang membagikan foto Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama istri dan anaknya sedang berlibur di Hongkong. Hanya saja, narasi yang dibuat Nila Murti mengatakan, jika AHY bersama keluarga ikut Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berobat ke Amerika Serikat (AS).

Ismail pun menemukan fakta jika foto yang diunggah Nila Murti bukan diambil sekarang. “Ketemu, foto lama November 2018,” ucapnya.

Baca: AHY Dikukuhkan Jadi Mahasiswa Baru Unair

Sebelumnya, Nila Murti membuat narasi jika AHY dan keluarga bukan contoh yang baik bagi rakyat Indonesia. Dia menuding, AHY ikut SBY untuk memanfaatkan berlibur di AS dengan mengajak keluarga, dengan memakai uang negara.

“Kita rakyat se-Indonesia mendoakan Bapak mantan yang sedang mengidap cancer prostat berobat ke Amerika, yang ini ikut rombongan, bukannya prihatin la kok malah dimanfaatkan untuk berwisata sambil selfie-selfiean. Mentang-mentang dibiayai negara,” kata Nila yang akunnya tercantum bendera merah putih.

Sontak saja, status yang dibuat Nila mendapat tanggapan dari warganet, yang mengecam ulah AHY dan Annisa Pohan maupun Almira Tunggadewi Yudhoyono (13 tahun). Bahkan, ada komentar yang menyebut jika AHY tidak taat protokol kesehatan (prokes) lantaran foto-foto tidak memakai masker saat pandemi Covid-19. Hanya saja, dapat dipastikan jika foto itu hoax.

Foto itu diambil di Hong Kong, dan pernah diunggah akun Instagram Annisa pada 31 Maret 2021. Hanya saja, kemudian mulai banyak akun yang mengkonter dan meluruskan jika foto itu bukan di negeri Paman Sam, melainkan di Hong Kong. Sehingga Nila dituding telah menyebarkan hoax.

Ini bukan contoh yg baik bagi kita.

Kita rakyat se Indonesia mendoakan Bapak mantan yg sedang mengidap cancer prostat berobat ke Amerika, yg ini ikut rombongan, bukannya prihatin la kok malah di manfaatkan utk berwisata sambil selfie-selfiean.
Mentang 2 di beayai negara. 😭 pic.twitter.com/H7TtIaqLo5

— Nila Murti Tanjung 🇮🇩 (@nila_mrt) November 5, 2021

Link: https://www.republika.co.id/berita/r23rel484/pendiri-drone-emprit-luruskan-foto-ahy-dan-keluarga-di-as

Drone Emprit: Disinformasi Jadi Ladang Industri Fenomena Global, Tak Hanya di Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com – Peneliti media sosial dari Drone Emprit Ismail Fahmi menyatakan, disinformasi atau informasi salah di Indonesia telah menjadi sebuah ladang industri.

“Jadi kalau dilihat di sini yang menarik di sini istilahnya industrialis disinformation. Jadi disinformasi itu sedang (jadi) industri, ini yang parah,” ujar Fahmi, dalam acara Pasukan Siber, Manipulasi Opini Publik dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia yang digelar LP3ES, Senin (1/11/2021).

Fahmi menilai, ketika disinformasi menjadi sebuah pekerjaan, hal itu masih biasa saja.

Akan tetapi, ketika disinformasi dijadikan ladang industri, hal itu pun dapat dianggap parah di tengah demokrasi Indonesia.

“Ini merupakan fenomena global, bukan hanya di Indonesia,” kata dia.

Di samping itu, Fahmi juga menyoroti keberadaan cyber army atau pasukan siber. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email Ia mencatat, terdapat 9 negara yang terdapat pasukan siber pada 2017, termasuk Indonesia. Setahun berikutnya, jumlah pasukan siber bertambah menjadi 8 negara.

“Jadi ada pasukan siber di sana, meningkat terus jumlahnya,” katanya. Adapun pasukan siber di Indonesia yang cukup familiar, salah satunya Muslim Cyber Army.

Diketahui, sejumlah pengelola akun Muslim Cyber Army telah diamankan pihak kepolisian.

Fahmi menilai, pasukan siber sebetulnya berposisi netral. Hanya saja, mereka bisa dipergunakan untuk tindakan positif atau pun negatif bergantung penggunanya.

“Sama dengan buzzer, aslinya itu netral bisa dipakai untuk politik, untuk menyampaikan yang positif-positif atau politik untuk menjatuhkan lawan dan menyampaikan disinformasi,” kata Fahmi.

Link: https://nasional.kompas.com/read/2021/11/01/19094461/drone-emprit-disinformasi-jadi-ladang-industri-fenomena-global-tak-hanya-di

Ahli Jelaskan Ciri Dua Jenis Buzzer: Influencer dan Bot

Jakarta, CNN Indonesia — Tim peneliti dari Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3SE) mengungkap ciri pendengung isu yang menyeruak di media sosial (buzzer), dari influencer hingga akun robot (bot).
Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi mengatakan buzzer yang berbentuk sosok populer di media sosial, influencer yang menjadi buzzer.

Ia menyebut buzzer dari influencer ada dua jenis, buzzer ekonomi atau buzzer ideologi

“Bahkan kadang-kadang karena buru-buru (unggah) salah copy paste, ada perintah ‘tolong diposting’ terkadang itu kebawa dipostingan,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan biasanya buzzer yang dibayar itu menghasilkan postingan yang seragam, karena sudah terorkestrasi oleh sejumlah pihak.

Kemudian, Ismail menjelaskan ada buzzer ideologi. Buzzer jenis itu merupakan orang yang senang sepakat dengan pendapat yang ada di dunia maya.

“Bisanya kalo kita lihat mereka lebih bebas ya, karena bisa posting apapun termasuk isu-isu yang sesuai kelompok mereka tadi,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan tipe akun di luar buzzer influencer. Ismail mengungkap ada akun otomatis yang dioperasikan dari komputer, ada akun yang dioperasikan manusia, ada pula akun yang dibuat oleh programmer.

“Misalnya pengen (buat) berapa akun gitu, sudah disiapin database nama, terus gambar-gambar, tinggal mau bikin berapa akun,” kata Ismail.

Namun akun-akun bot atau yang dioperasikan oleh sistem dijelaskan Ismail mudah terdeteksi oleh pengguna, yaitu dengan melihat linimasa pada akun.

“Saya lihat akun timelinenya dia monoton atau natural. Misalnya dia memposting pemerintah bagian tertentu daja, nah itu buzzer,” pungkas Ismail.

Di samping itu Associate Researcher LP3ES, Elsitra mengungkapkan hasil pengamatan akun bot yang kerap berseliweran di jagat Twitter.

Berdasarkan pengamatan digital etnografiyang dilakukan Elsitra, terdapat dua poin yang bisa dibeberkan. Pertama, akun bot memiliki strategi agar terlihat akun organik.

“Misalnya mereka menggunakan foto profil, nama asli dan segala macam (ciri akun organik),” ujar Elsitra saat diskusi Pasukan Siber, Manipulasi Opini Publik dan Masa Depan Demokrasi di Indonesia, Senin (1/11), di Jakarta.

Kedua, Elsitra mengatakan dalam temuannya akun bot kerap berinteraksi dengan orang lain. Seperti saling berbalas akun dengan para akun bot.

“Jadi ini yang disebut sebagai akun cyborg. Jadi mereka terlihat sebagai akun organik, bahkan mereka bisa mengamplifikasi banyak hastag dalam sekali waktu,” tuturnya.

Namun demikian Elsitra mengungkap bahwa untuk melakukan pemeliharaan akun bot agar tak dibekukan oleh penyedia platform, dinilai tak murah.

Hal itu disebutnya lantaran pihak pemilik akun bot harus melakukan verifikasi akun, sehingga akun bot ini hanya bertahan dalam periode sebentar.

Walhasil, ia mengatakan akun bot yang membangun narasi di media sosial, hanya bertahan pada beberapa isu saja, tidak digunakn dalam narasi kampanye isu lain.

Lebih lanjut ia juga mengungkap bahwa berbagai akun bot kerap tergabung dengan pendanaan pasukan siber.

Jadi, ada kalanya akun bot itu digunakan untuk memanipulasi survei di sosmed, lalu digunakan oleh buzzer untuk menambah followers.

“Padahal followersnya fake akun dari akun bot-bot itu,” tutup Elsitra.

(can/fjr)

Linki: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20211101185320-192-715187/ahli-jelaskan-ciri-dua-jenis-buzzer-influencer-dan-bot.