Ahli Bongkar Awal Mula Tagar #HarunaOut Menggema di Medsos

Jakarta, CNN Indonesia — Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi membeberkan awal mula tagar #HarunaOut hingga menggema di media sosial.
Tagar #HarunaOut menggema di media sosial Twitter sejak Senin (17/1), dan bertahan hingga Selasa (18/1) siang.

Tagar tersebut mencuat setelah anggota Komite Eksekutif PSSI, Haruna Soemitro memberikan pendapatnya tentang pelatih timnas Indonesia asal Korea Selatan, Shin Tae Yong.

Ismail menghimpun cuitan para netizen yang mengandung tagar #HarunaOut, dan kemudian membeberkan beberapa hal.

Menurut data yang dihimpun Ismail terdapat lima influenser utama yang mempopulerkan tagar tersebut, yakni @medioclubID (18.525 engagements), @SiaranBolaLive (4.068 engagements), @Okirenggaa (3.679 engagements), @mazzini_gsp (2.749 engagements), dan @idextratime (2.718 engagements).

Selain lima influencer tersebut, tagar #HarunaOut juga diramaikan lebih dari 100 influencer lain.

Kemudian menurut Ismail, cuitan dengan tagar tersebut pertama jaku muncul pada Minggu (16/1) malam.

“Menurut data DE, tagar ini pertama kali dibuat oleh @Robbi_07 lalu @nndawrdna tanggal 16 Jan 2022 jam 8-9 malam, @habilhudioro jam 23:51. Menjadi makin viral setelah diangkat @MafiaWasit tgl 17 Jan, jam 00:19, dan @medioclubID jam 00:40,” jelas Ismail dalam cuitannya, Selasa (18/1).

Lebih lanjut, data yang dihimpun Ismail juga membeberkan jenis emosi dalam masing-masing cuitan. Cuitan-cuitan tersebut didominasi oleh cuitan bernada marah, yang disusul oleh emosi terkejut dan takut.

Cuitan marah sendiri mencapai lebih dari 1.500 cuitan, sedangkan cuitan bernada terkejut mencapai 712 cuitan, dan emosi takut mencapai 348 cuitan.

Beberapa cuitan bernada kemarahan yang disorot Ismail adalah cuitan dari @medioclubID dan @chrull yang mengecam pernyataan dari Haruna.

Tagar #HarunaOut tak hanya ramai di Indonesia, melainkan di sejumlah negara lain, seperti Inggris, Spanyol, Jepang dan Amerika Serikat. Inggris menjadi negara teratas setelah Indonesia yang netizennya gencar menyerukan cuitan dengan tagar tersebut.

(lom/mik)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20220118171747-185-748223/ahli-bongkar-awal-mula-tagar-harunaout-menggema-di-medsos

Sejak Kapan Era Omongan dan Cuitan Bisa Bikin Orang Dipenjara?

Jakarta – Akhir-akhir ini, sejumlah tokoh dilaporkan ke polisi setelah ujarannya viral di media sosial (medsos). Perilaku cuap-cuap di internet berujung lapor polisi ini sudah ada sejak dekade silam, namun eskalasinya terasa meningkat akhir-akhir ini.
Sebut saja kasus Ferdinand Hutahaean, Arteria Dahlan, Habib Bahar Smith, Jenderal Dudung Abdurachman yang dilaporkan ke Pomad, hingga Edy Mulyadi. Ferdinand Hutahaean bahkan sudah masuk penjara, maksudnya ditahan di rumah tahanan Mabes Polri. Sebelumnya, Bahar Smith juga ditahan di Mapolda Metro Jaya.

Baca juga:
Penuhi Panggilan Kedua, Edy Mulyadi Menduga Akan Ditahan!
Kasus-kasus semacam itu seolah-olah serupa, awalnya ramai dulu di media sosial dan kemudian dilaporkan ke aparat, meski bisa jadi omongan aslinya disampaikan pada acara pertemuan fisik, namun videonya kemudian dibawa ke media sosial.

Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, membagikan perspektifnya. Dia melihat kehebohan-kehebohan semacam itu berawal dari pro dan kontra yang berkembang di medsos. Perilaku seperti ini sudah lama dimulai, kubu yang bertarung secara garis besar ada dua, yakni kubu pro-pemerintah dan kubu di luar pemerintah.

“Dalam analisis saya, sering ada dua klaster. Bisa dikatakan, ini sejak fenomena pilpres, muncul pro dan kontra, muncul pula ada akun-akun influensial. Mereka menunggu munculnya salah kata atau keseleo lidah dari kubu lawan yang bisa dipakai untuk menjatuhkan kubu lawan,” kata Ismail Fahmi kepada Perspektif detikcom, Senin (31/1/2022).

Baca juga:
Polemik Arteria Dahlan, Dipolisikan hingga Ramai #SundaTanpaPDIP
Bila ditarik asal-usul perkubuan yang masih berseteru di medsos, mereka berasal dari persaingan Pilpres 2019 (bahkan bisa lebih awal lagi). Persaingan cebong dan kampret (kemudian bermutasi menjadi kadrun) seolah-olah terus terpelihara. Ini tampak di Sosial Network Analysis (SNA) yang dibaca Fahmi.

“Saya lihat, kok (perkubuan), masih dipertahankan untuk persiapan 2024 juga,” kata dia.

Baca juga:
Pengacara Ungkap Kondisi Terkini Ferdinand Hutahaean di Rutan Bareskrim
Perkubuan ini tidak sehat karena memelihara ‘cebong-kadrun’ berarti memelihara perpecahan. Tokoh terkemuka di negara ini perlu segera mengakhiri keterbelahan ini.

Pihak yang dirugikan dari keterbelahan yang berisiko berujung di meja polisi adalah warganet yang biasa-biasa saja, bukan cuma warganet yang kebetulan tokoh politik atau influencer pelaku pertarungan elite. Interaksi di media sosial menjadi tidak sehat. Bisa jadi, Fahmi menengarai, ada pihak tak terlihat di medsos yang mengambil keuntungan dari keterbelahan masyarakat ini.

Netizen semakin baper
Staf Peneliti di Pusat Riset Politik-Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRP-BRIN), Wasisto Raharjo Jati, membagikan perspektifnya. Dia menarik peristiwa informasi di internet berujung ke penegak hukum pada era 2008, saat email Prita Mulyasari diperkarakan satu rumah sakit. Prita Mulyasari sempat masuk penjara. Simpati publik tercurah untuk Prita. Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) ikut dikritisi kala itu.

Namun kini interaksi via internet makin intens, kasus ‘omongan dilaporkan ke polisi’ juga semakin naik jumlahnya. “Eskalasinya akan makin meningkat karena populasi warganet akan semakin tinggi pula,” kata Wasisto ketika dihubungi terpisah.

Baca juga:
Runutan Pemeriksaan Habib Bahar hingga Tersangka Penyebaran Berita Bohong
Siapa pun bisa menyampaikan perasaannya dengan lebih mudah di era kini, termasuk perasaan benci. Sikap toleran dan ‘santai saja’ terhadap ujaran-ujaran yang berseliweran seolah-olah menjadi susah diterapkan.

“Perlu ada kubu mediator dari kedua kubu itu, karena sekarang ini benar atau salah ditentukan dari banyaknya followers, sehingga susah untuk bersikap toleran satu sama lain,” kata Wasisto.

Baca juga:
Prita Mulyasari hingga Baiq Nuril, Ini Deretan ‘Korban Pasal 27’ UU ITE
Wasisto adalah ilmuwan sosial lulusan UGM dan The Australian National University. Dia pernah meneliti kebangkitan aktivisme siber di kelas menengah Indonesia. Untuk perilaku netizen akhir-akhir ini, dia mengamati kecenderungan corak sikap tertentu, yakni hasrat untuk mempermalukan lawan politik di media sosial.

“Karena sosial media telah membentuk kultur ‘virtual shaming’ yakni membuat malu orang lain secara virtual, membuat terlapor/tertuduh menjadi bulan-bulanan karena kasusnya menjadi viral. Dengan demikian, ada motif balas dendam yang dilakukan oleh pelapor kepada terlapor,” kata Wasisto.

Baca juga:
Kakek Halim Tewas Diamuk Massa, Apa yang Membuat Orang Berubah Beringas?
Misalnya, ada dua kubu, yakni kubu X dan kubu Y. Kubu X merasa pihaknya telah dipermalukan di medsos, bahkan tokoh dari kelompoknya ada yang dilaporkan ke polisi oleh kubu Y. Sebagai aksi balas dendam maka kubu X bakal mencari kesalahan kubu Y supaya bisa melaporkan orang dari kubu Y ke polisi juga. Perilaku seperti ini juga didorong oleh sensitivitas berlebihan atau baper (bawa perasaan) dari netizen dalam menyikapi pelbagai isu.

“Tentunya itu tidak bagus bagi kualitas demokrasi karena publik semakin tidak mau menerima pandangan dari sudut yang berbeda, membuat orang jadi makin baper, mengira kritikan sebagai hinaan,” kata Wasisto.

Baca juga:
IKN Nusantara Tak Demokratis: Pemimpin Tak Dipilih Rakyat-Tanpa DPRD
Kejadian saling lapor, menurut Wasisto, sering diawali oleh argumentasi dan data yang disinformatif. Parahnya, orang yang membawa data salah itu merasa dirinya benar. Maka untuk mengakhiri ketidaksehatan interaksi ini, kemampuan literasi dalam membaca data dan fakta perlu ditingkatkan.

“Langkah kedua yakni detoks socmed dengan mematikan fitur socmed sementara waktu agar publik tidak semakin terprovokasi,” kata dia.

Simak Video: Usai BAP, Edy Akan Kirim Surat ke Dewan Pers untuk Berlindung di UU Pers

(dnu/tor)

Link: https://news.detik.com/berita/d-5922596/sejak-kapan-era-omongan-dan-cuitan-bisa-bikin-orang-dipenjara.

Ismail Fahmi Sebut Tiga Kecerdasan Digital yang Wajib Dimiliki Perguruan Tinggi

Jakarta, Gatra.com – Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyebut bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi sangat penting diterapkan sekarang, terutama di sektor pendidikan tinggi.

Ismail menyebut tiga jenis kecerdasan digital yang wajib dimiliki oleh perguruan tinggi supaya Indonesia tak ketinggalan dari negara-negara lain di bidang teknologi. Ketiga jenis kecerdasan digital tersebut adalah digital citizenship, digital creativity, dan digital competitiveness.

“Yang pertama digital citizenship, di mana kita bisa menggunakan teknologi digital, handphone, internet, laptop, untuk mencari informasi,” kata Ismail dalam sebuah webinar yang digelar pada Senin, (3/2/2021).

“Yang kedua, digital creativity. Sudah jelas ya, kata kreativitas berarti menciptakan. Kita bisa menciptakan knowledge baru, bikin aplikasi, bikin tulisan, bikin karya apa pun di internet,” imbuh Ismail.

“Yang terakhir, digital competitiveness. Setelah kita bisa menciptakan company, produk, peluang kerja yang baru juga,” kata Ismail.

Agar pemanfaatan AI bisa maksmial, ketiga jenis kecerdasan digital di atas, kata Ismail, harus terpenuhi. Terlebih lagi soal daya saing digital (digital competitiveness) dengan negara-negara lain.

Ismail menyebut bahwa posisi daya saing digital Indonesia masih sangat rendah di antara negara-negara dengan jumlah populasi di atas 20 juta orang. Indonesia masih kalah dibandingkan negara tetangga, Filipina, per data Media Kernels Indonesia pada tahun 2019. “Kenapa? Karena kita belum siap ke arah sana, menciptakan produk yang baru berdasarkan teknologi digital,” kata Ismail.

Sementara itu, di sisi lain, Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), meluncurkan lima aplikasi transformasi digital di awal tahun ini. Kelima aplikasi tersebut adalah Sistem Informasi Kelembagaan (SIAGA), Satu Dikti, Single Sign On (SSO), Neo Feeder, dan Dikti Artificial Intelligence (AI) Centre.

Dikti meluncurkan lima aplikasi tesebut dalam rangka mendukung akselerasi transformasi digital dan upaya meningkatkan kualitas layanan guna menciptakan proses belajar mengajar di dunia pendidikan tinggi yang lebih baik.

Link: https://www.gatra.com/news-532723-Teknologi-ismail-fahmi-sebut-tiga-kecerdasan-digital-yang-wajib-dimiliki-perguruan-tinggi.html

Big Data Bisa Dimanfaatkan buat Mitigasi Bencana, Bagaimana Cara Kerjanya?

Jakarta – Bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini menyadarkan pentingnya sistem mitigasi yang tangguh. Dalam hal ini, big data disebut dapat mewujudkan mitigasi 4.0 untuk mengurangi risiko bencana alam.
Big data merupakan kumpulan data yang sangat besar, baik yang terstruktur maupun yang tidak struktur sekali pun. Sederhananya, big data adalah pengumpulan dan penggunaan informasi dari berbagai sumber untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Baca juga:
Seputar Big Data, Arti Hingga Dampaknya pada Bisnis
Dalam diskusi yang digelar oleh Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Sumberdaya Manusia (Fema) IPB University dengan tema ‘Pemanfaatan Big Data dalam Mitigasi Bencana sebagai Bentuk Komunikasi Risiko dan Krisis’ baru-baru ini, Founder PT Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, mengungkapkan bahwa berita dari media daring lebih terstruktur dan mengandung data kebencanaan.

“Dengan mengekstrak data bencana menggunakan teknologi komputasi bahasa, berita daring menjadi lebih representatif dan membahas apa yang tidak ada di media sosial. Karena media sosial cenderung terkena bias pengguna,” kata Ismail dalam rilis dari IPB yang diterima detikEdu, Selasa (21/12/2021).

Ia menjelaskan, cuitan warga internet (warganet) di media sosial mengenai kejadian bencana menjadi sumber penting untuk mendapat informasi kebencanaan. Menurutnya, data dari Open Source Intelligence dapat menjadi pemantauan dan analisis kebencanaan di seluruh Indonesia.

Founder Drone Emprit tersebut menambahkan, informasi dari data tersebut dapat diklasifikasi dalam beberapa kategori, yaitu peristiwa bencana, penyaluran bantuan dan lokasi bencana. Dalam hal ini, klasifikasi informasi penting dibuat agar informasi menjadi bermakna untuk monitoring dan analisis.

Sistem big data dapat menjadi masukan bagi strategi komunikasi dan penyusunan kebijakan. Ismail berharap strategi komunikasi diperlukan agar publik menjadi subjek dalam mitigasi bencana.

Baca juga:
Pernah Dengar Mitigasi Bencana? Ini Pengertian & 10 Langkahnya
Sementara itu, Ketua Asosiasi Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia, Ahmad Arif, mengatakan bahwa beberapa negara sukses menggunakan big data selama pandemi, seperti China dan Korea Selatan. Menurutnya, big data dapat dimanfaatkan sebagai komunikasi risiko.

“Di Indonesia, pengendalian data informasi masih dikendalikan oleh pemerintah. Contohnya, data kematian selama pandemi COVID-19 masih berbeda-beda. Komunikasi risiko masih bersifat inkonsistensi,” ujar Ahmad.

Simak Video “BMKG Sisir Sesar Opak, Langkah Mitigasi Potensi Gempa Yogyakarta”

(kri/nwy)

Link: https://www.detik.com/edu/edutainment/d-5864305/big-data-bisa-dimanfaatkan-buat-mitigasi-bencana-bagaimana-cara-kerjanya.

Pelecehan Seksual di Metaverse Disebut Sulit Dihindari

Jakarta, CNN Indonesia — Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menanggapi pelecehan seksual di dunia virtual Metaverse yang dirasakan seorang penguji coba di Amerika Serikat.
Menurut Ismail pelecehan seksual di Metaverse ada dan potensi terjadi.

Sebelumnya seorang wanita yang terlibat dalam uji coba beta Metaverse mengaku dirinya telah menjadi korban pelecehan seksual di dunia metaverse. Menurut pengakuan wanita itu avatar yang ia kendalikan mendapatkan perlakuan seksual ketika menjalankan uji coba platform beta VR dari Meta, Horizon Worlds.

Ads by optAd360

Wanita mengaku avatarnya ‘diraba’ secara virtual di platform tersebut dan ini terjadi pada awal Desember. Ia lantas melaporkannya di forum resmi Horizon Worlds di Facebook.

Lihat Juga :

Percobaan Metaverse Berbuah Aksi Pelecehan Seks Virtual
Powered by AdSparc
Menanggapi isu tersebut, Ismail mengatakan hal semacam ini tidak dapat dihindari. Kehadiran Metaverse justru akan membuat pelecehan seksual dapat dilakukan dengan lebih realistis.

“Sama halnya dengan kita di IG, media sosial yang ada sekarang, Twitter, Facebook, kadang-kadang terjadi pelecehan atau saling melecehkan. Dan itu hanya menggunakan verbal, cuitan, dan komentar,” kata Ismail kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (20/12).

“VR (virtual reality) itu lebih immerse, lebih realistis. Artinya dia malah bisa melakukan hal yang sebelumnya dilakukan dengan lebih realistis,” imbuhnya.

Dijelaskan Ismail, karena teknologi Metaverse didesain secara khusus dan luas, praktis perilaku pelecehan seksual di Metaverse akan sulit dihindari.

“Apakah itu bisa dihindari? sama saja dengan kita belajar dari yang sekarang, bisa enggak kemudian kita setop orang catcalling, terus bullying di media sosial, susah sekali, itu akan selalu ada,” ujarnya.

Lihat Juga :

Siapkah Indonesia Sambut Metaverse?
Menurut Ismail, menyikapi situasi itu, penyedia layanan perlu melakukan edukasi kepada pengguna untuk merespons serangkaian kejadian yang menimpa mereka di platform tersebut.

“Apa yang harus dilakukan? Harus disiapkan orang-orang itu untuk edukasinya, kalo itu terjadi apa yang harus dilakukan, kalo dia di-bully atau kemudian dilecehkan apa yang harus dilakukan,” pungkasnya.

Lebih lanjut, pada kasus pelecehan yang terjadi di pengujian beta metaverse, Meta menyebut pihaknya telah meninjau insiden dugaan pelecehan seksual secara virtual. Mereka mengatakan seharusnya para peserta uji coba Beta menggunakan ‘Safe Zone’, fitur keselamatan yang telah tersemat dalam platform.

Dengan demikian pengguna dapat melakukan blokir pada pengguna lain yang masih asing, dan hidup dalam ‘bubble’ masing-masing.

(lnn/mik)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20211213135213-185-733379/pelecehan-seksual-di-metaverse-disebut-sulit-dihindari.

Indonesia Fact-checking Summit 2021 Bangun Ekosistem Digital Sehat

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Indonesia Fact-checking Summit 2021 mencapai acara puncak rangkaian yakni Webinar pada Senin (20/12/2021). Indonesia Fact-checking Summit 2021 diselenggarakan sejak 16-20 Desember 2021 dengan dukungan Google News Initiative. 

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua II AMSI, Irfan Junaidi, dalam sambutannya saat membuka sesi Webinar. Menurutnya, kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk membangun ekosistem digital sehat.

“Masyarakat perlu dilibatkan dan mendapatkan literasi Cek Fakta agar tidak menelan informasi mentah-mentah dan mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar. Kerja sama berbagai pihak menjadi mutlak,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi multi pihak jadi kebutuhan mendasar memastikan kerja dan distribusi hasil pemeriksaan fakta dapat menyaingi kecepatan peredaran informasi bohong. Kolaborasi perlu dibangun dari hulu hingga hilir untuk menciptakan ekosistem informasi sehat bagi seluruh masyarakat.

Indonesia Fact checking Summit 2Webinar Sesi 2 dalam rangkaian Indonesia Fact Checking Summit 2021, Senin (20/12/2021). (Foto: Tangkapan Layar oleh TIMES Indonesia)

Ia menekankan Cek Fakta bukan milik satu pihak tertentu tapi melibatkan banyak pihak antara media, CSO, jurnalis dan berbagai lembaga.

Pada waktu bersamaan, juga dilakukan peluncuran Playbook Cekfakta.com sebagai produk kolaborasi pemeriksa fakta. Buku panduan dalam dua bahasa yang disematkan di website Cekfakta.com ini berisi strategi, program, latar belakang, proses kerja, hingga bagaimana kerja-kerja kolaborasi pemeriksaan fakta. 

Sekretaris Jenderal AMSI, Wahyu Dhyatmika, menerangkan buku ini dibagi dalam 8 BAB yang diharapkan dapat membantu sharing knowledge kepada publik, peminat pemeriksa fakta, serta akademisi melakukan studi, riset, dan membuka jejaring kerja bersama terkait pemeriksaan fakta. 

“Buku ini tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Harapannya buku ini bisa mencapai publik yang membutuhkannya dan menunjang kerja-kerja pemeriksaan fakta,” kata Wahyu.

Wahyu juga memberikan catatan kritis terkait kolaborasi yang sudah berjalan selama ini. Kata dia, hingga saat ini kerja-kerja pemeriksaan fakta belum menyentuh akar persoalannya.

Menurutnya, perlu ada upaya memastikan kerja-kerja periksa fakta itu harus berdampak pada penciptaan ekosistem informasi yang lebih sehat. Kondisi pandemi, tambah Wahyu, memaksa berbagai elemen pemeriksa fakta berkomunikasi dan berjejaring dengan beragam komunitas baru seperti dari bidang kesehatan guna menyaingi peredaran informasi bohong seputar Covid-19. 

“Pengalaman ini harusnya bisa kita coba replikasi buat konteks lebih luas di luar isu kesehatan,” tuturnya. 

Wahyu mengajak seluruh komponen untuk membuat strategi bersama guna menyasar akar masalah penyebaran hoaks. Bukti tidak sehatnya ekosistem informasi itu, antara lain, kriminalisasi pemeriksa fakta, mempertanyakan kredibilitas pemeriksa fakta, doxing, perisakan daring, hingga terpolarisasinya kelompok masyarakat. 

Pada Webinar sesi 1 yang bertema “Tantangan dan Peluang Cek Fakta sebagai Upaya Kolaborasi Media dan CSO dalam Membangun Ekosistem Informasi yang Kredibel di Indonesia” menghadirkan beberapa narasumber.

Mereka adalah Septiaji Eko Nugroho (Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia/ Mafindo), Wanda Indana (Eedaktur Medcom.id), Elin Yunita Kristanti (Wakil Pemimpin Redaksi Liputan6.com), Donny Budi Utoyo (Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika), dan Wahyu Dhyatmika, Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).

Kolaborasi bernama Cekfakta.com ini terus berjalan dengan melibatkan 24 media massa di Indonesia. Kolaborasi ini secara formal terbentuk selepas Trusted Media Summit 2018 yang melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia, komunitas pemeriksa fakta Mafindo. 

“Kelebihan kolaborasi periksa fakta Indonesia ini sangat kuat, mungkin paling kuat di Asia Tenggara,” kata Septiaji. 

Tantangannya adalah memastikan kerja-kerja dan hasil pemeriksaan fakta bisa terdistribusi viral seperti halnya informasi bohong. Mafindo menilai kolaborasi paling sederhana dengan berbagai pihak adalah menyebarkan hasil cek fakta seluas-luasnya. Catatan Mafindo semasa pandemi, peredaran konten verifikasi yang beredar hanya mencapai 10 persen dari konten mis/disinformasi (hoaks). 

Senada, Elin dan Wanda dari perwakilan media yang memiliki kanal periksa fakta, menuturkan kolaborasi penting dalam konteks melindungi publik sebagai kelompok yang paling rentan dalam penyebaran informasi bohong. Pihaknya mengajak masyarakat agar berpartisipasi aktif melawan hoaks. 

“Kami gelar kelas virtual untuk berbagi ilmu serta mengajak pakar memberikan penjelasan kepada 15 grup Whatsapp dengan kurang lebih dua ribu anggota yang kami kelola,” jelasnya. 

Wanda membagi pengalamannya bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan terkait maraknya informasi bohong berbasis politik yang beririsan dengan isu agama. 

“Kami juga buat pelatihan verifikasi fakta dasar bagi masyarakat,” kata Wanda menambahkan. 

Sementara itu, Webinar pada sesi kedua menghadirkan narasumber Citra Dyah Prastuti (Badan Pengawas dan Pertimbangan AMSI), Novi Kurnia (Koordinator Jaringan Pegiat Literasi Digital/ Japelidi), Widjajanto (Direktur Pusat Media dan Demokrasi LP3ES), Ismail Fahmi (Direktur Media Kernels Indonesia/ Drone Emprit) dan moderator Santi Indrastuti (Presidium Mafindo).

Saat membuka sesi kedua webinar bertema “Mengukur Dampak Cek Fakta: Sejauh Mana Media Berhasil Menangkal Hoaks”,  Sasmito Madrim (Ketua AJI) mengatakan tugas jurnalis secara alamiah adalah melakukan verifikasi dan menjernihkan banjir informasi yang menyebar di jagat digital. 

“Kolaborasi antar jurnalis, perusahaan media, dan masyarakat sipil sudah sangat baik dalam memerangi hoaks yang menyebar. Namun, yang tidak kalah penting adalah memastikan hasil pemeriksaan fakta yang dilakukan media tersebut sampai ke publik supaya dapat mengambil keputusan dengan tepat,” ujar Sasmito.

Di sisi lain, Direktur Media Kernels Indonesia/ Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyampaikan dalam percakapan terkait hoaks, posisi media masih jauh kalah populer dari influencer. 

Saat Pilpres 2019 gerakan cek fakta masuk di tengah-tengah antara kedua kubu. Posisi cek fakta sangat penting, banyak publik figur yang membutuhkan bantuan untuk pengecekan fakta. 

“Media Cek Fakta perlu masuk di cluster-cluster masyarakat yang ada, perlu melibatkan masyarakat sebagai agen untuk membantu distribusi. Agar Cek Fakta bukan lagi di tengah kedua kubu, tapi seperti udara ada di mana-mana,” pungkasnya pada acara Indonesia Fact-checking Summit 2021. (*)

Link: https://www.timesindonesia.co.id/read/news/388315/indonesia-factchecking-summit-2021-bangun-ekosistem-digital-sehat

Drone Emprit Sebut Anies Baswedan Paling Populer di Medsos, Diikuti Ganjar

INDOZONE.ID – Drone Emprit memaparkan figur-figur calon presiden yang paling banyak menjadi perbincangan di media sosial. Hasilnya nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berada diurutan teratas.

Analis Senior Drone Emprit, Yan Kurniawan mengatakan, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh pihaknya dari tanggal 16 Oktober sampai dengan 14 November, nama Anies masih terpampang nomor wahid, kemudian kedua ada Ganjar Pranowo disusul Erick Thohir dan Luhut Binsar Panjaitan.

“Dari tanggal 16 Oktober sampai 14 November 2021, dari data yang kami dapat, pertama yang paling populer di percakapan adalah Anies Baswedan, kedua adalah Ganjar Pranowo, ketiga ada Erick Thohir, keempat ada LBP, terus ada Puan Maharani dan AHY,” kata Yan dalam diskusi pemaparan survei Politika Research & Consulting (PRC), Senin (15/11/2021).

Sementara, lanjut Yan, nama Prabowo Subianto masih sedikit diperbincangkan. Sementara perihal nama Anies, Ganjar, AHY dan Puan wajar saja mereka populer di media sosial.Baca Juga:

“Hal yang wajar mengingat Anies, Ganjar, AHY, Puan itu lekat betul dengan anak muda,” bebernya.

Kemudian untuk Erick Thohir dan Luhut menjadi populer serta diperbincangan di media sosial karena satu bulan terakhir kasus dugaan terafliasi bisnis tes PCR covid-19. Luhut jadi perbincangan juga lantaran positif memimpin penanganan Covid-19.

“Terkait Erick Thohir dan LBP memang dalam satu bulan terakhir ada isu yang menarik baik di media massa maupun di percakapan terkait dengan dua tokoh tersebut yaitu kisruh terkait tes PCR. Selain itu Pak LBP juga dalam satu bulan terkahir cukup positif pada isu-isu terkiat dengan penanganan corona,” imbuhnya.

Disebutkan Yan apabila dari 12 nama diprentasekan maka Anies lah yang paling populer di media sosial dengan kisaran angka 28 persen.

Lalu ada Ganjar dengan 16 persen, Erick Thohir dan Luhut mendapat angka 13 persen. Sementara untuk Puan 12 persen dan AHY 10 persen.

BACA JUGA: Update Corona RI 15 November: Positif Tambah 221 Kasus, Meninggal 11

“Pak Anies populer tidak hanya disokong pendukungnya, Pak Anies populer karena diserang oleh para tanda kutip hatersnya,” jelas Yan.

“Makanya ketika yang mendukung mengkampanyekan, yang nolak menyerang, akhirnya Pak Anies terlihat lebih populer dibanding dengan Ganjar,” imbu

Link: https://www.indozone.id/news/M7sl73B/drone-emprit-sebut-anies-baswedan-paling-populer-di-medsos-diikuti-ganjar/read-all

Anies Baswedan Figur Capres Terpopuler Medsos, Begini Penjelasan Analis Drone Emprit

Suara.com – Analis Senior Drone Emprit Yan Kurniawan membeberkan, figur-figur calon presiden yang paling banyak atau populer jadi perbincangan di media sosial.

Dari sejumlah figur yang populer dalam perbincangan di media sosial, nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan masih berada di urutan teratas, sementara posisi kedua ditempati Ganjar Pranowo, Kemudian disusul Erick Thohir dan Luhut Binsar Panjaitan.

“Dari tanggal 16 Oktober sampai 14 November 2021, dari data yang kami dapat, itu yang menarik adalah pertama itu yang paling populer di percakapan adalah Anies Baswedan, kedua adalah Ganjar Pranowo, ketiga ada Erick Thohir, keempat ada LBP, terus ada Puan Maharani dan AHY,” kata Yan dalam diskusi daring, Senin (15/11/2021).

Pemaparan Analis Drone Emprit Yan Kurniawan dalam diskusi daring, Senin (15/11/2021). Dalam diskusi tersebut memaparkan calon presiden terpopuler di media sosial. [Tangkapan layar]
Pemaparan Analis Drone Emprit Yan Kurniawan dalam diskusi daring, Senin (15/11/2021). Dalam diskusi tersebut memaparkan calon presiden terpopuler di media sosial. [Tangkapan layar]

Yan menyampaikan, nama Anies, Puan hingga AHY masih wajar jadi perbincangan di medsos lantaran melekat dengan anak muda. Sementara Prabowo Subianto terbilang minim jadi perbincangan di medsos.

Baca Juga:Jika Pilpres Digelar Sekarang, Banyak Anak Muda Pilih Ganjar Pranowo dan Prabowo

Sementara, Erick Thohir dan Luhut menjadi populer dan diperbincangan di media sosial lantaran kasus dugaan terafliasi bisnis tes PCR covid-19. Luhut jadi perbincangan juga lantaran positif memimpin penanganan Covid-19.

“Terkait Erick Thohir dan LBP memang dalam satu bulan terakhir ada isu yang menarik baik di media massa maupun di percakapan terkait dengan dua tokoh tersebut yaitu kisruh terkait tes PCR. selain itu pak LBP juga dalam satu bulan terkahir cukup positif pada isu-isu terkiat dengan penanganan corona,” tuturnya.

Jika diprosentase dari 12 nama, Anies memperoleh suara kepopuleran di medsos sebesar 28 persen, Ganjar 16 persen, Erick Thohir dan Luhut sama memperoleh 13 persen, Puan 12 persen dan AHY 10 persen.

“Pak Anies populer tidak hanya disokong pendukungnya, Pak Anies populer karena diserang oleh para tanda kutip haters-nya. Makanya, ketika yang mendukung mengkampanyekan, yang nolak menyerang, akhirnya Pak Anies terlihat lebih populer dibanding dengan Ganjar,” katanya.

Link: https://www.suara.com/news/2021/11/15/162532/anies-baswedan-figur-capres-terpopuler-medsos-begini-penjelasan-analis-drone-emprit

Drone Emprit: Erick Thohir Bisa Jadi Capres Alternatif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Analis Senior Drone Emprit, Yan Kurniawan, mengatakan bahwa Erick Thohir menjadi salah tokoh yang populer dibicarakan di media sosial dalam satu bulan ini. Menurutnya Erick Thohir menjadi calon presiden (capres) alternatif.

“Erick Thohir itu menurut kami bisa jadi calon alternatif, kenapa? karena walaupun di bulan ini beliau itu tanda kutip diserang oleh isu-isu negatif terkait test PCR, namun pembelaan terhadap Erick Thohir juga cukup tinggi,” kata Yan dalam diskusi daring, Senin (15/11). Baca Juga

Yan menambahan, di sisi lain Erick Thohir juga dinilai memiliki sentimen bagus pada perhelatan G20 kemarin. Tidak hanya itu, Erick juga memiliki hubungan baik yang kuat dengan fans Inter Milan, klub sepak bola yang pernah ia miliki.

“Dan buat orang-orang millennial isu-isu tersebut itu cukup bagus untuk membangun simpati,” ujarnya. 

Dalam acara yang sama, Politika Research and Consulting (PRC) merilis hasil survei terbaru terkait elektabilitas capres. Dalam survei tersebut elektabilitas Erick Thohir sebesar 0,7 persen. Sementara nama lain yang juga berpotensi menjadi calon presiden alternatif yaitu Sandiaga Uno (7 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (4,5 persen), Ridwan Kamil (4,3 persen), dan Tri Rismaharini (3,2 persen).

Untuk diketahui dari data yang dihimpun Drone Emprit dari tanggal 16 Oktober sampai 14 November, sejumlah tokoh jadi perbincangan publik di media sosial. Tokoh yang paling populer dibicarakan di media sosial yaitu Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Erick Thohir, Luhut Binsar Panjaitan (LBP), Puan Maharani, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Terkait Erick Thohir dan LBP memang dalam satu bulan terakhir ada isu yang menarik baik di media massa maupun di percakapan terkait dengan dua tokoh tersebut yaitu kisruh terkait tes PCR. Selain itu pak LBP juga dalam satu bulan terakhir cukup positif pada isu-isu terkait dengan penanganan corona,” terangnya. 

Link: https://republika.co.id/berita/r2lu0c354/drone-emprit-erick-thohir-bisa-jadi-capres-alternatif

Pro-Kontra Netizen soal Permendikbud No 30 Tahun 2021, Siapa Unggul ?

iNSulteng – Permendikbud No 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi, menjadi salah satu isu hangat dibahas di media sosial, yang menimbulkan sikap pro dan kontra.

Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, membuat peta sikap pro dan kontra para netizen terhadap Permendikbud PPKS.

Diunggah di twitter @ismailfahmi, Sabtu, 13 November 2021, peta Social Network Analysis (SNA) memerlihatkan cluster atau kelompok netizen yang Pro Permendikbud lebih besar ukurannya dibanding yang Kontra.

Perang tagar antara #DukungPermendikbud30 vs #CabutPermendikbudristekNo30 juga dimenangkan oleh kelompok yang Pro Permendikbud 30.

Dari 30 top influencers juga paling banyak netizen dari kalangan Pro Permendikbud 30.

Sementata Surprisingly, akun @muhammadiyah dan @PPAisyiyah yang banyak diberitakan mengkritik, menolak, dan minta revisi Permendikbud 30, ternyata berada di antara kedua cluster pro-kontra. Dalam teori SNA disebut sebagai “bridge”, karena memiliki degree “betweenness” yang tinggi.

Ismail menjelaskan, akun menjadi bridge atau berada di antara dua cluster karena diretweet oleh akun-akun yang berada di kedua cluster. Di Twitter, pada umumnya “retweet” (bukan QRT) menggambarkan persetujuan atas isi cuitan.

Dia menambahkan, di luar cluster Pro Permendikbud 30, tampak ada 2 cluster kecil yang terpisah dan sedikit terhubung ke cluster Pro ini. Kedua cluster ini disebut “clique”.

“Clique biasanya dari tim media sosial/buzzer yang kurang berinteraksi dengan akun2 natural,” jelas Ismail.

Pertama clique “Puanesia”, yang mendukung Puan dalam sidang DPR karena diinterupsi anggota dewan dari PKS terkait permendikbud Kekerasan Seksual. Kedua, clique yang mengangkat tagar #DukungPermendikbud30.

Ismail juga menganalisa emosi netizen, bahwa emosi dalam percakapan paling besar berupa emosi “anger” dari kedua cluster.

Yang Pro Permendikbud 30 kesal atau marah pada mereka yang menolak permen yang menurut mereka bagus. Yang Kontra marah karena menganggap permen ini melegalkan seks bebas.***

Link: https://insulteng.pikiran-rakyat.com/net/pr-903011914/pro-kontra-netizen-soal-permendikbud-no-30-tahun-2021-siapa-unggul?page=2