Gatot Nurmantyo Ajak Masyarakat Hlangkan Sebutan Kadrun-Kampret

JAKARTA – Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengajak seluruh anak bangsa untuk tidak saling merendahkan satu sama lain dengan menggunakan sebutan “kadrun” maupun “kampret”.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan kedua nama binatang tersebut menjadi cukup populer digunakan akibat dari pembelahan politik yang cukup kuat terjadi sejak gelaran Pilkada DKI Jakarta dan berlanjut hingga sekarang, terutama di media sosial (medsos).

“Saya mengimbau, secara sadar atau tidak sadar, sengaja ataupun tidak sengaja, kita anak bangsa ini sudah merendahkan bahkan melecehkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan mempunyai sebutan masing-masing. Ada yang menyebutkan ‘kadrun’, ada yang menyebutkan ‘kampret’, itu kan nama-nama binatang. Padahal itu kan ciptaan Tuhan, kita manusia sama,” ujarnya melalui siaran video yang diunggah Gatot Nurmantyo di akun @nurmantyo_gatot, dikutip Kamis (17/12/2020).

Deklarator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) ini mengajak seluruh anak bangsa untuk bernegara dengan santun dan menghilangkan kata-kata ‘kadrun’ dan ‘kampret’.

“Mari sama-sama, kita bernegara dengan santun. Hilangkan kata-kata seperti itu. Kembalilah kepada bangsa Indonesia yang berbudaya tinggi melalui kata-kata ‘Mas’, ‘Kakak’, ‘Abang’, panggilan ‘Ucok’, dan sebagainya sehingga bangsa melihat kita sebagai bangsa yang terhormat,” tuturnya.

Pendiri Drone Emprit (DE), Ismail Fahmi melalui akun @ismailfahmi yang diunggah pada 13 Agustus 2020 menyebutkan sebelum muncul istilah “kadrun” dan “kampret”, terlebih dahulu muncul istilah “cebong” dan “kampret” di media sosial Twitter. Istilah “cebong” dan “kampret” muncul pada 2018 sementara “kadrun” baru mulai 2019.

“DE memonitor stigma Cebong-Kampret sejak 2018. Tapi karena Kadrun muncul 2019 maka tren dibuat sejak 1 Januari 2019,” kicau Ismail.

Menurutnya, ketiga istilah itu merupakan stigma yang disematkan kepada siapapun yang ingin diberi label yang dilandasi oleh motif tertentu. Misalnya, dia menyebut karena berbeda pendapat, ikut ideologi, atau prinsip tertentu.

Volume pembicaraan istilah cebong dan kampret naik turun bersamaan sejak muncul pada 2018. Kemudian disusul perbincangan yang menggunakan istilah Kadrun pada Mei 2019.

Berdasarkan analisis DE, istilah Kadrun merupakan akronim dari kicauan pada 22 Februari dan 12 Maret 2019 yang menyebut kadal gurun. Kemudian, penyebutan kadal gurun kembali berulang dan dikaitkan dengan paham radikal pada 15 Mei 2019.

“Sejak 13 September 2019, tren percakapan Kadrun (kombinasi “kadrun” OR “kadal gurun”) naik pesat. Penggunaannya makin masif sejak saat itu, mengalahkan tren volume penyebutan “cebong” dan “kampret”,” ujarnya.

link: https://nasional.sindonews.com/read/271148/12/gatot-nurmantyo-ajak-masyarakat-hlangkan-sebutan-kadrun-kampret-1608174722?showpage=all

Sebut Ada Dilema dalam Insiden Polri dan FPI, Pakar Medsos Beri Penjelasan

PR DEPOK – Baru-baru ini terjadi sebuah insiden bentrokan antara aparat kepolisian dengan laskar FPI di Tol Jakarta-Cikampek pada Senin, 7 Desember 2020.

Seperti diketahui, dalam insiden bentrokan tersebut sebanyak enam laskar FPI dilaporkan tewas tertembak oleh aparat kepolisian.

Adapun alasan pihak kepolisian melakukan hal itu, lantaran merasa nyawa mereka terancam karena terlebih dahulu diserang dengan senjata tajam dan senjata api terlebih dahulu oleh laskar FPI.

Baca Juga: Fadli Zon ‘Vocal’ Tanggapi Insiden FPI dan Polri, Dewi Tanjung: Kau Ini Jubir FPI atau Anggota DPR?

Namun, pernyataan tersebut dibantah pihak FPI dengan mengatakan bahwa laskarnya tidak dipersenjatai dan selama ini hanya tangan kosong.https://0e7f44c606eee83b5877c8e3d4c178c6.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

Insden bentrokan antara aparat kepolisian dan laskar FPI turut mendapatkan perhatian dari seorang Pakar Media Sosial sekaligus pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi.

Melalui satu cuitan di akun Twitter pribadinya @ismailfahmi, ia melihat arah pandangan warganet terhadap insiden tersebut.

Pada poin pertama, Ismail mengatakan insiden bentrokan berujung tewasnya laskar FPI itu memiliki sisi pro dan kontra.

Lebih jauh, Ismail menuturkan bahwa warganet yang berada di sisi kontra pada insiden tersebut jauh lebih banyak.

Insiden penembakan 6 anggota FPI oleh polisi dilihat publik dengan kacamata pro dan kontra, di mana proporsi yang kontra terhadap penembakan ini jauh lebih besar dari yang pro,” ujar Ismail, sebagaimana dikutip Pikiranrakyat-Depok.com.

Kemudian, ia menilai bahwa dari sekian wacana yang ada di media sosial, yang paling dominan yakni saran untuk membentuk tim independen guna mengungkap kasus tersebut.
Banyak akun yg selama ini bersebrangan dengan FPI, ternyata mereka kini bersatu dalam klaster yang kontra terhadap penembakan,” ucapnya.

Link: https://depok.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-091081048/sebut-ada-dilema-dalam-insiden-polri-dan-fpi-pakar-medsos-beri-penjelasan

Pakar Bongkar Viral Anies Baca Buku ‘How Democracies Die’

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pendiri sekaligus peneliti media sosial dari Drone Emprit, Ismail Fahmi membongkar bagaimana pembicaraan soal Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menggunggah foto sedang membaca buku ‘How Democracies Die’ jadi viral di Twitter.

Menurut Ismail, pada hari Sabtu (21/11) percakapan mengenai ‘buku’ cenderung tak ramai. Namun pada Minggu (22/11), Ismail mengatakan pola peta mulai berubah.

Hari Sabtu itu, peta percakapan tentang “buku” seperti biasa: tidak ada polarisasi, scattered, random, meluas, oleh netizen dan teman-teman dekatnya. Tak ada yang menonjol,” tulisnya lewat cuitan di akun @ismailfahmi.

Minggu pagi, hingga pukul 1 siang, peta mulai berubah. Beberapa top influencers membangun percakapan tentang sebuah topik terkait “buku”,” cuit Ismail.

Selain netizen yang sudah biasa membahas buku, ada beberapa akun yang ramai di RT,” tambahnya.

Menurut Ismail, tren percakapan soal ‘buku’ mulai viral berkat cuitan akun @Andy_Budiman_ pada pukul 11:11 WIB. Saat itu ia me-retweet cuitan media sosial Twitter Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Cutan ABW tidak mengandung kata ‘buku’ sehingga tidak tertangkap DE. Tetapi response-responsenya tertangkap. Lalu pukul 11:14 akun @TsmaraDKI me-retweet dengan komentar,” jelas Ismail.

Akun lain yang ikut membuat foto ini menjadi viral adalah @ghanieierfan yang ikut memposting foto Anies membaca buku tanpa meretweet akun @aniesbaswedan.

Menurut Ismail, ada dua cluster besar yang mendominasi tren percakapan buku yaitu @fadlizon, @GeiszChalifah, dan @ghnieierfan.

Lalu cluster berikutnya @sahal_AS, @TsamaraDKI, dan @budimandjatmiko. Selain itu ada juga akun penengah kedua cluster yaitu @logos_id, @wisnu_prasetya, dan @historia_id.

Belakangan peta percakapan antara dua cluster makin besar dan melibatkan lebih banyak influencer. Cluster Tsamara dan Sahal ketambahan pendukung dari @permadiaktivis1, @Indonesianews15, @kurawa, @na_dirs, @LaskarCikeas, dan @Ch_Chotlmah.

Sementara cluster yang lebih besar dimotori Fadli Zon dkk mendapat tambahan influencer dari @MaspiyuO, @JJRizal, @msaid_didu, @KetumProDEM.

Berikut adalah hal yang paling banyak dibicarakan ketika viral soal buku yang dibaca Anies.

Buku How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt mendadak viral usai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunggah foto sedang membaca buku tersebut pada Minggu (22/11).

Buku itu berisi hasil penelitian dan pengamatan Levitsky-Ziblatt terhadap kematian demokrasi di beberapa negara. Titik penekanan buku itu soal gejala kematian demokrasi di Amerika Serikat setelah Donald Trump menjabat presiden.

Buku itu terbit pada 2018 dalam bahasa Inggris dan dialih bahasa ke bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Jakarta di tahun berikutnya.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20201124102722-192-573677/pakar-bongkar-viral-anies-baca-buku-how-democracies-die

K-Pop fans rise as powerful force to bring criticisms against jobs law worldwide: Report

Amid waves of backlash against the newly passed Job Creation Law, Indonesian K-Pop fans emerge as a formidable force in the social movement to protest against the controversial law through the digital world, a report has found.

These social-media-savvy people helped to echo criticisms against the law and the House of Representatives through Twitter, making hashtags such as #MosiTidakPercaya (vote of no confidence), #DPRRIKhianatiRakyat (house betrays the people) and #TolakOmnibusLaw (reject the omnibus law) trending topics worldwide, according to big data consulting company Drone Emprit.

Drone Emprit founder Ismail Fahmi said a single big cluster of conversation related to the law dominated Twitter from 5 p.m. to 8 p.m. on Monday, during the first wave of news about the bill being passed by the House posted by national media.

“There was only one big cluster; the cluster of those who oppose the omnibus law. [Twitter] accounts of academics, university student bodies, NGOs, activists and K-Popers [K-Pop fans] all unite to support each other inside this cluster,” Ismail said via his Twitter account @ismailfahmi on Monday.

“From the Twitter avatars of top influencers [who are] against the omnibus law, it was apparent that accounts with K-pop avatars dominated the conversations,” he added.

One of the top influencers among the Indonesian K-Pop community on Twitter, @ustadchen, who has more than 140,000 followers, also tweeted about the law on Monday and gained more than 37,000 likes. 

“Since all of you are brave, I will be brave too. To be honest, I am illiterate about politics. The [laws] in [South] Korea are completely different from what we have here [in Indonesia], so I am still confused about the political news here,” @ustadchen wrote, “Anyway, I have read a lot about the #omnibuslaw and I understand where the problem is.”

The post has also been retweeted more than 9,000 times with hundreds of engagements.

Twitter users who protested against the law expressed their appreciation to the K-Pop fan community in helping to amplify their concerns about the law, which many critics said would undermine labor rights and prolong environmental destruction.

“Demographically, [K-Pop fans] are the largest generation of social media users. If they didn’t really know about the omnibus law, they joined the hashtag campaign and learned about it,” Ismail said. 

Later on Tuesday, Ismail clarified his own statement, saying that “Most K-Pop fans did know about [the omnibus law].”

He also noted that most of those who were engaged in echoing protests against the law were mainly non-partisan public.

It is not the first time that members of the K-Pop fandom have proven that they are politically aware and capable in driving online campaigns.

In June, global K-Pop fans proved themselves to be a powerful political force by wading into social media protests against racism and police brutality in solidarity with the Black Lives Matter (BLM) movement in the United States.

Following the US$1 million donation to the BLM movement made by global K-Pop megastar BTS, fans also raised $1 million in just over a day for organizations that help black people. 

Link: https://www.thejakartapost.com/news/2020/10/06/k-pop-fans-rise-as-powerful-force-to-bring-criticisms-against-jobs-law-worldwide-report.html

Ramai Aktivis hingga K-Popers Tolak Omnibus Law Cipta Kerja di Twitter

Top hashtags viral Omnibus Law dari analisis Drone Emprit
Top hashtags viral Omnibus Law dari analisis Drone Emprit(drone emprit)

KOMPAS.com – Gelombang penolakan terhadap pengesahan Omnibus Law Cipta Kerja masih terjadi dan bisa dilihat dari trending topic Twitter Indonesia.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, Selasa (6/10/2020) sampai pukul 08.00 WIB, sejumlah tagar mendominasi percakapan warganet di Twitter, antara lain: #tolakomnibuslaw, #MosiTidakPercaya, dan #DPRKhianatiRakyat.

Berikut adalah hasil analisis Drone Emprit, analis sosial media, tentang viralnya perbincangan mengenai Omnibus Law, dikutip dari utas @ismailfahmi, Founder Drone Emprit, Senin (5/10/2020).

Tren Keyword

Berdasarkan pantauan Drone Emprit, keyword atau kata kunci yang diperbincangkan oleh warganet seputar Omnibus law adalah Omnibus Law, OmnibusLaw, Ciptaker, dan Cipta Kerja. 

“Tren 4-5 Oktober berdasarkan jam menunjukkan spike mulai terjadi pada pukul 18:00. Sekitar jam tersebut, ada STOP PRESS dari @TirtoID bahwa RUU Ciptaker sudah disahkan jadi UU,” tulis @ismailfahmi.

“Puncaknya pada pukul 21.00, sebanyak 56k (ribu) mention ditangkap oleh Drone Emprit di Twitter. Lalu percakapan turun, dengan volume yang masih sangat tinggi, 45k dst,” tulisnya melanjutkan.

Peta percakapan hingga K-Popers

Berdasarkan Social Network Analytics (SNA) Drone Emprit, Senin (5/10/2020) pukul 17.00 – 22.00 WIB, ditemukan kluster percakapan besar tentang Omnibus Law.

“Peta percakapan di Twitter pada periode jam ini memperlihatkan pola yang menarik. Hanya ada satu cluster besar, cluster kontra Omnibus Law. Akun-akun akademisi, BEM, LSM, aktivis, serta K-Popers, semua bersatu saling dukung dalam cluster ini,” tulis Ismail Fahmi.

Sementara itu, akun-akun media seperti @TirtoID, @CNNIndonesia, @kompascom, dan @tempodotco berada di tengah sebagai referensi. Sedangkan akun-akun yang selama ini terafiliasi sebagai oposisi, berada di salah satu sudut kluster.

“Artinya, percakapan ini benar-benar didominasi oleh publik umum non partisan,” tulisnya.

Top twit

Dalam perbincangan tentang Omnibus Law, twit dari akun Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) Universitas Gadjah Mada menjadi top twit alias twit nomor 1.

“Akun PUKAT UGM ini membuat sebuah utas yang menjelaskan dengan ringkas dan mudah dipahami, tentang permasalahan dalam RUU Ciptaker, dari sisi proses, metode pembentukan, dan substansinya,” tulis Ismail Fahmi.

“Hingga saat ini, utas ini terus mendapat RT dan like dari netizen,” tulisnya.

K-Popers ikut meramaikan

Selain berasal dari kalangan akademisi, LSM, serta aktivis, para penggemar K-Pop atau lazim disebut Kpopers juga ikut meramaikan perbincangan tentang Omnibus Law.

“Salah satu cuitan dari akun K-popers yang paling banyak dishare, dan juga disupport oleh akun aktivis lain adalah dari @ustadchen. Thread pendek tentang Omnibus Law yang dibuatnya mendapat banyak RT,” tulis Ismail Fahmi.

Kpopers juga mendapat dukungan dari warganet lain karena kepekaan mereka terhadap isu yang saat ini sedang menjadi perhatian banyak pihak.

“Cuitan dari @iniardhike yang memberi support pada K-popers karena mau aware dengan isu Omnibus Law ini mendapat engagement tinggi,” tulis Ismail Fahmi.

“Banyak support kepada K-popers, salah satunya lagi dari @kamalbukankemal. Ucapan terimakasih kepada mereka, sekaligus mengajak yang lain untuk turut mengritik negara yang telah mengesahkan UU Ciptaker ini,” tulisnya melanjutkan.

Kesimpulan

Analisis lengkap mengenai viralnya perbincangan tentang Omnibus Law di media sosial Twitter dapat dilihat pada utas Ismail Fahmi.

Berdasarkan hasil analisis Drone Emprit, terdapat empat kesimpulan yang bisa diambil:

  1. Setelah RUU Omnibus Law disahkan DPR, DPD, dan Pemerintah, percakapan naik pesat, yang dimotori oleh narasi dari akademisi (@PUKAT_UGM), LSM, dan aktivis tentang problem dalam RUU ini.
  2. K-popers yang tadinya tidak paham, turut membaca masalah RUU ini. Setelah paham, mereka dalam waktu singkat bersatu mengangkat tagar #MosiTidakPercaya dan tagar2 lain, sehingga menjadi TT dunia.
  3. Antara akademisi, BEM, aktivis, LSM, media, oposisi, dan K-Popers semua membentuk sebuah cluster besar. Mereka saling berinteraksi dalam satu jaringan.
  4. UU Omnibus Law ini telah menjadi perhatian publik non partisan. Bahkan, oposisi bukan yang paling dominan seperti biasanya.  

“Secara demografi, K-popers merupakan generasi pengguna media sosial terbanyak. Jika sebelumnya mereka kurang paham soal Omnibus Law, dengan ikut angkat tagar ini mereka jadi tahu,” tulis Ismail Fahmi.

“Sehingga, jika suatu saat dampak negatif terjadi karena UU ini, mereka tahu siapa yang membuatnya,” tulisnya melanjutkan.

Link: https://www.kompas.com/tren/read/2020/10/06/092000765/ramai-aktivis-hingga-k-popers-tolak-omnibus-law-cipta-kerja-di-twitter?page=all#page2

Ismail Fahmi Berbagi Tips Pakai Masker Scuba Yang Efektif Cegah COVID-19

Di masa pandemi COVID-19, menggunakan masker saat berpergian ke luar rumah diwajibkan sebagai upaya mencegah penularan virus Corona.

Terdapat berbagai model dan jenis masker yang bisa digunakan, salah satunya berbahan scuba atau buff. Namun, masker scuba atau buff ini ternyata tidak dianjurkan untuk digunakan,

Hal ini sejalan pernyataan dari Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Achmad Yurianto yang menjelaskan alasan di balik pelarangan menggunakan masker scuba.

Menurutnya, bahan buff tidak memberikan ruang bagi pergerakan mulut kita karena sifatnya yang elastis. Karena itu, kita sering merasakan pengap dalam pemakaian jangka waktu yang lama.

Bagi Anda yang telah menyimpan persediaan masker scuba, tidak perlu khawatir. Ada cara lain menggunakan masker scuba dengan menambah lapisannya.

Pengamat sosial politik Ismail Fahmi lwat akun Twitternya @ismailfahmi membagikan cara menggunakan masker scuba atau buff yang lebih efektif untuk menangkal Corona.

Menurutnya, Ini dalam rangka memanfaatkan masker Scuba atau Buff yang sudah terlanjur banyak dibeli dan dijual masyarakat.

Selain itu, Founder dari Drone Emprit ini juga menguji apakah menggunakan masker scuba atau buff berlapis direkomendasikan.

Langkah uji coba yang dilakukan Ismail Fahmi diawali penggunaan masker scuba satu lapis. Hasilnya, korek api gas yang dinyalakan sekejap mati saat dia meniup dengan sekuat tenaga.

Kenapa? Mengacu pernyataan Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito bahwa masker sangat tipis. Sehingga dengan satu lapisan saja, memungkinkan virus menembus ke dalam saluran pernapasan.

Sifatnya yang elastis memungkinkan pori-pori masker melebar. Sehingga partikel kecil mampu melewatinya. Berdasarkan penelitian ilmiah dalam jurnal ACS Nanoi, bahan masker perlu mementingkan filtrasi terhadap partikel-partikel yang lebih kecil menjadi hal yang krusial untuk mencegah virus masuk.

Untuk mencegah partikel kecil masuk, Ismail Fahmi lalu mengakalinya dengan menambahkan tisu 2 lapis dan masker scuba atau buff lainnya.

Usai uji coba, api dari korek api gas yang diletakkan di depan wajahnya tidak langsung redup saat ditiup.

Penambahan lapisan ini dapat mengoptimalkan penyaringan terhadap partikel kecil. Sehingga, partikel tersebut sulit menembusnya.

Kenapa tisu efektif? Hong Kong University membuat panduan bikin masker dari tisu. Penelitian City University tentang kemampuan memfilter droplet dan aerosol masker tissue 80-90%

Namun, Ismail Fahmi menganjurkan hindari membeli tisu yang belum mendapatkan izin edar dari Depkes. Biasanya nomor surat izin edar tercantum pada kemasan. Umumnya tisu yang sudah memiliki izin edar adalah tisu yang terbuat dari 100% serat alami yang bebas BPA, logam berat, atau klorin.

Unggahan uji cobanya membuka ruang diskusi untuk warganet. Sebagian dari mereka banyak meresponsnya dengan berbagai pertanyaan. Hal ini agar pemakaian masker dapat efektif.

“Saya biasanya kalau make scuba dalemnya make tissue lagi bang tapi ngap banget tisu nempel kehidung dan mulut langsung.. apakah itu berbahaya??” tulis akun @rahalazuardi.

“Mas, biar kacamatanya ga ngembun gimana, ya, caranya…?” balas akun @bagusfarisa.

“Ya ampun satu lapis aja udah ngap gueee ya tuhan, PR banget buat yang gendut kaya gue ga pake masker aja engap apalagi disuruh masker 2 lapis tambah tisu, ampun dah, udahan deh coronjing,” ucap akun @ndingesw.

“Secara fungsi memang mungkin lebih baik mas…tapi secara aturan bakaln jadi masalah gak ya ? mosok kita harus jelasin ke setiap petugas yg melarang bahwa kita pake masker scuba dua lapis ditambah tisu…apa gak sebaiknya jangan dipakai utk bepergian kali ya ?” cuit akun @ramadian40 [liputan6]

Link: https://radaraktual.com/47879/ismail-fahmi-berbagi-tips-pakai-masker-scuba-yang-efektif-cegah-covid-19.html

Istilah PSBB Total, Siapa yang Memulai dan Mempopulerkan?

Istilah PSBB Total, Siapa yang Memulai dan Mempopulerkan?

Jakarta, IDN Times – Istilah PSBB total sempat memicu kontroversi dalam beberapa hari terakhir. Kebijakan yang direncanakan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan pada Rabu, 9 September 2020 itu mengundang banyak perhatian masyarakat yang mempertanyakan maksud dari PSBB total tersebut.

Anies sebenarnya tidak pernah mengucapkan kata-kata “PSBB total” sama sekali dalam dua kali konferensi pers yang ia sampaikan pada 9 dan 13 September. Hal itu dibenarkan oleh Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Doni Monardo.

“Saya juga mohon bantuan nih kepada teman-teman semua nih terutama kawan media, Pak Anies itu tidak pernah menyebutkan PSBB total, saya ulangi lagi, saya ikuti perkembangannya Pak Anies tidak pernah menyebutkan PSBB total,” kata Doni dalam acara bertema Radio Bertanya, Doni Monardo Menjawab melalui streaming YouTube BNPB Indonesia, Minggu, 13 September 2020.

Lalu siapa yang pertama kali memulai dan mempopulerkan istilah PSBB total? Pakar media sosial dari Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menjelaskan dalam utas di Twitter.

1. Yang pertama kali menggunakan istilah PSBB total

Istilah PSBB Total, Siapa yang Memulai dan Mempopulerkan?Dok. IDN Times

Artikel pertama yang tercatat oleh Drone Emprit dimuat oleh CNN Indonesia pada Rabu, 9 September 2020 pukul 19.58 WIB dengan judul “Anies Tarik Rem Darurat, Jakarta PSBB Total”.

“Artikel dari CNN Indonesia ini menggunakan istilah ‘PSBB Total’ dalam judulnya. Namun tidak ada satu pun dalam body berita pernyataan baik langsung maupun tidak langsung yang menggunakan istilah ini,” tulis Ismail dalam sebuah utas di akun Twitternya @ismailfahmi yang dikutip pada Senin (14/9/2020) malam.

2. Diikuti media lainnya

Istilah PSBB Total, Siapa yang Memulai dan Mempopulerkan?Ilustrasi media sosial (IDN Times/Sunariyah)LANJUTKAN MEMBACA ARTIKEL DI BAWAH

Berita CNN Indonesia kemudian diikuti oleh media lain seperti CNBC Indonesia, Viva, Sinar Harapan, Antara News dan Detik hingga pukul 23.00 WIB pada hari itu.

Drone Emprit mencatat pada tanggal 9 September terdapat lebih dari seratus artikel yang menggunakan istilah PSBB total.Istilah PSBB Total, Siapa yang Memulai dan Mempopulerkan?Twitter.com/@ismailfahmi

3. Media yang paling banyak menulis PSBB total

Istilah PSBB Total, Siapa yang Memulai dan Mempopulerkan?Suasana sepi di Jalan Sudirman, Jakarta pada Kamis (9/4/2020). (IDN Times/Herka Yanis)

Analisis Drone Emprit selanjutnya adalah situs berita yang paling banyak menulis PSBB total. Dari data tersebut menunjukkan CNBC Indonesia menjadi situs berita yang paling banyak menulis soal PSBB total pada 9 September sebanyak 13 berita, diikuti CNN Indonesia 11 berita dan Antara News 10 berita. Situs berita lainnya menulis di bawah 10 berita.

Secara kumulatif, dari tanggal 9 hingga 14 September, CNBC Indonesia menulis 209 berita soal PSBB total, diikuti CNN Indonesia 174 berita, Republika 154 berita, Detik 143 berita, Antara News 114 berita dan Warta Ekonomi 106 berita. Media lainnya menulis di bawah 100 berita pada rentang waktu tersebut.

4. Influencer terbesar PSBB total

Istilah PSBB Total, Siapa yang Memulai dan Mempopulerkan?Twitter.com/@ismailfahmi

Ismail juga menuliskan 5 besar influencer dengan engagement terbesar untuk PSBB total ini. Yakni CNN Indonesia sebanyak 11.109 engagement, @kleponwajik 1.614 engagement, @kabarpolitik 1.273 engagement, @eko_kuntadhi 1.032 engagement dan @tubirfess dengan 986 engagement.

“Intinya, istilah ‘PSBB Total’ ini telah menimbulkan kontroversi yang sangat ramai di media sosial. Baik dari mereka yang pro maupun yang kontra Anies Baswedan dengan referensi dari media. Apa yang bisa kita lihat, sebuah pemberitaan yang pertama muncul dari sebuah media, ternyata dengan sangat cepat bisa direplikasi oleh media-media lain secara masif, tanpa ada ‘crosscheck’ atas headline dan istilah yang bikin kontroversi,” kata Ismail menerangkan.

Link: https://www.idntimes.com/news/indonesia/helmi/istilah-psbb-total-siapa-yang-memulai-dan-mempopulerkan/4

Drone Emprit: Popularitas Tilik Alami, Jejak Khilafah Ketahuan Pakai Bot

Analisa Drone Emprit Tilik VS Jejak Khilafah
Popularitas Tilik Alami, Jejak Khilafah Ketahuan Pakai Bot (Foto: @ismailfahmi/Twitter)

Jakarta – 

Dalam dua minggu ini, media sosial ramai membahas dua film, yaitu Tilik dan Jejak Khilafah. Namun cuma 1 yang populer dibantu rekayasa.

Film Tilik meluncur di Youtube pada tanggal 17 Agustus 2020, berkisah tentang obrolan ibu-ibu dan karakter Bu Tejo. Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN) meluncur pada 20 Agustus 2020, berkisah tentang hubungan khilafah di Mesir dan Turki di Nusantara.

Dua-duanya viral dan jadi trending topic di Twitter. Namun, mana yang benar-benar menjadi perhatian dan mempengaruhi masyarakat?

“Kalau JKDN dari awal sudah dikondisikan. Dan dicek, itu bot. Kalau Tilik itu natural,” kata founder Drone Emprit, Ismail Fahmi kepada detikINET, Jumat (28/8/2020).

Ismail Fahmi rupanya punya data untuk mengatakan itu dan dipaparkan di Twitter. Dia melakukan analisa tren dalam 2 minggu terakhir. Percakapan tentang JKDN sudah masif bahkan sejak sebelum peluncuran film. Puncak kampanye adalah tanggal 18 Agustus dan lalu puncak popularitas tanggal 20 Agustus.

Analisa Drone Emprit Tilik VS Jejak Khilafah

Sedangkan, Tilik tidak ada kampanye apa-apa sebelumnya. Film ini dirilis biasa saja tanggal 17 Agustus lalu ditangkap para kritikus film dan menjadi viral mulai tanggal 20 Agustus.

Tilik mulai menyalip popularitas JKDN mulai tanggal 21 Agustus 2020 dan sampai sekarang masih lebih populer daripada JKDN. Menurut Ismail, JKDN populer di Twitter sedangkan Tilik populer juga di Instagram dan pemberitaan media online.

Menurut Ismail, dari analisa Drone Emprit, Tilik kebanyakan dibahas oleh cluster non partisan yang tidak terlalu minat dengan JKDN. Sedangkan JKDN dibahas oleh tiga kelompok yaitu pro khilafah, pro oposisi dan pro pemerintah. 3 Kelompok ini pun tidak terlalu minat dengan Tilik.

Saat dilakukan Social Network Analysis, tampaklah mana yang popularitasnya alami dan buatan. Ismail lalu menghitung Bot Score dengan skala 1 (manusia/hijau) – 5 (bot/merah).

Tilik dapat skor 1,34 dan kurva distribusinya dominan di tengah. Artinya percakapannya adalah natural. 75,8 persen postingan dilakukan oleh akun sungguhan dengan follower 100-100 ribu. Hanya 24,2 persen postingan dari akun yang minim follower atau terindikasi bot.

Analisa Drone Emprit Tilik VS Jejak Khilafah
Analisa Tilik dominan hijau dan merata, yang artinya natural (@ismailfahmi/Twitter)

Sedangkan JKDN mendapatkan skor 2,54 dan kurva distribusinya dominan di kiri. Artinya ada indikasi separuh postingan dilakukan oleh bot. Sebanyak 56,67% Cuitan JKDN dilakukan akun minim follower atau bot. Jika kluster pro khilafah diperbesar, tampak node warna oranye atau merah yang mengindikasikan bot. Bahkan terdeteksi jelas ada 3 akun robot yang super aktif, tapi menyendiri di sudut kanan bawah.

Analisa Drone Emprit Tilik VS Jejak Khilafah
3 Kelompok yang bicara JKDN, banyak warna merah, ditambah robot di kanan bawah (@ismailfahmi/Twitter)

“Kalau isu-isunya khilafah biasanya selalu pakai robot dan orang. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, biasanya suka ada tagar khilafah, itu pakai robot dulu untuk menaikkan tagar. Kalau sudah kelihatan baru diangkat oleh influencer, buzzer dan fans,” pungkas Ismail.

Link: https://inet.detik.com/cyberlife/d-5150722/drone-emprit-popularitas-tilik-alami-jejak-khilafah-ketahuan-pakai-bot

Drone Emprit: Anies Lebih Populer dari Ganjar-RK di Medsos, Tapi Paling Tak Disukai

Anies, Ridwan Kamil, Ganjar di Balai Kota DKI (Zhacky/detikcom)
Foto: Anies, Ridwan Kamil, Ganjar di Balai Kota DKI (Zhacky/detikcom)

Jakarta – 

Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menyampaikan analisa bahwa Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, lebih populer di media sosial dibandingkan dengan Gubernur Ganjar Pranowo dan Gubernur Ridwan Kamil (RK). Namun, Anies juga mendapat nilai paling rendah disukai dibanding Ganjar dan RK.

“Bagaimana hasil pengamatan menggunakan big data dengan sumber berita online, Twitter, FB, IG, dan YouTube? Hasil Drone Emprit, @aniesbaswedan paling populer (64%), @ganjarpranowo nomor dua (19%), @ridwankamil paling rendah (17%),” tulis Ismail dalam akun twitternya, seperti dilihat detikcom, Rabu (17/6/2020).

Kemudian, Ismail membandingkan antara popularitas dengan disukai. Hasilnya, Anies memiliki nilai rendah untuk disukai daripada Ganjar dan RK.

Anies memiliki favorabilitasnya sebesar 31%, sedangkan Ganjar 53%, dan RK 54%. Dengan begitu, RK menjadi yang paling disukai dibandingkan dengan Ganjar dan Anies.https://fb8643f7c432c24001b1e4b44f4d7963.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

“Dalam grafik popularitas vs favorabilitas, siapa yang berada di titik paling kanan (paling populer) dan paling atas (paling disukai) memiliki peluang besar untuk: dipilih,” tulis Ismail.

“Namun itu bukan satu-satunya ukuran. Karena artis yang sangat terkenal, sangat disukai, belum tentu akan dipilih untuk jadi presiden,” katanya.

Popularitas lawan disukai antara Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil versi Drone Emprit.Popularitas lawan disukai antara Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil versi Drone Emprit. Foto: dok. @ismailfahmi.

Tonton juga video ‘Survei Indikator: Elektabilitas Anies Turun, RK-Ganjar Naik’:https://20.detik.com/embed/200608075

Ismail menyampaikan Anies memiliki jumlah audiens yang membicarakannya di Twitter paling banyak di antara Ganjar, maupun RK dengan 68 ribu audiens. Di tempat kedua diisi oleh RK dengan 45 ribu audiens, dan Ganjar dengan 36 ribu audiens.

Dia juga menganalisis Social Network Analysis (SNA) dari tiga Gubernur tersebut. Anies disebut masif dukungan tapi juga masif kontra.

“Di SNA @aniesbaswedan ada dua cluster besar. Terbesar cluster Pro Anies, warna hijau (positif). Kedua cluster Kontra Anies, warna merah (negatif). Artinya, Anies punya basis pendukung yang besar, tapi juga serangan yang masif,” ucap Ismail.

Untuk RK, Ismail menyebutnya sebagai ‘Lone Ranger.” RK tanpa promotor juga minim kontra.

“Menarik melihat audiens @ridwankamil. Popularitas dan sentimen positifnya sangat tergantung dari satu akun, yaitu akun RK sendiri yang memiliki basis follower yang sangat besar. Cluster yang kontra hampir tidak ada,” kata Ismail.

“Follower @ridwankamil yang sangat besar ini kebanyakan meretweet pesan RK. Ini yang menjelaskan kenapa jumlah audiens RK lebih tinggi dari Ganjar, tetapi percakapan tentang RK lebih sedikit. Karena retweet ini sifatnya pasif. Menunggu cuitan dari RK. Mereka tidak aktif promosi,” kata Ismail.

Sementara itu, untuk SNA Ganjar, Ismail menyebut Ganjar masif dukungan, dan minim kontra.

“SNA @ganjarpranowo memperlihatkan satu cluster besar berwarna hijau (positif). Top influencernya adalah akun Ganjar sendiri. Juga ada banyak akun yang sangat aktif bicarakan Ganjar secara positif. Cluster kontra hampir tidak ada,” ucap Ismail.

Ismail lalu menyimpulkan bagaimana variabel popularitas dan disukai terbentuk. Hal itu bisa dilihat dari peta SNA yang dijelaskan.

“Popularitas: @aniesbaswedan dari pendukung dan lawan, @ridwankamil dari follower, @ganjarpranowo, dari follower dan pendukung,” ucap Ismail.

“Favorabilitas: Anies jatuh karena lawan, RK & Ganjar tak ada halangan,” ujarnya.

Link: https://news.detik.com/berita/d-5056958/drone-emprit-anies-lebih-populer-dari-ganjar-rk-di-medsos-tapi-paling-tak-disukai?single=1

Belum September, Isu Bahaya PKI Ramai di Medsos Sejak Mei

Belum September, Isu Bahaya PKI Ramai di Medsos Sejak Mei

Jakarta, CNN Indonesia — Percakapan tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) beberapa hari belakangan semakin banyak dibicarakan. Muncul pertanyaan, mengapa pembahasan organisasi yang sudah ditetapkan terlarang di Indonesia itu muncul pada bulan Mei.

Lazimnya, perbincangan partai yang dihabisi selama rezim Orde Baru Soeharto itu biasanya meningkat saat adanya peringatan gerakan pengkhianatan PKI di akhir bulan September 1965 atau yang dikenal dengan G30S/PKI.

Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menganalisis bagaimana narasi PKI diramaikan di bulan Mei dan siapa saja yang meramaikannya di media sosial. Menurut Fahmi percakapan soal PKI naik signifikan pada 23 Mei 2020 dengan total 32 ribu cuitan.

“Isi ini naik siginifikan di media sosial pada 23 Mei, di media online tidak,” kata Fahmi lewat akun @ismailfahmi, Selasa (26/5).

Sejak 22 hingga 25 Mei, ada dua cluster tentang PKI yang sangat besar ukurannya. Beberapa di antaranya adalah akun top influencer seperti milik putra Presiden ke-2 RI Tommy Soeharto di akun @tommy_soeharto, pendakwah Haikal Hassan di akun @haikal_hassan, Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain di @ustadtengkuzul, politikus Gerindra Fadli Zon di akun @fadlizon dan akun @lutfimuhammad008 serta @plato_ids.

Sementara cluster kecil dicuitkan oleh akun @_digeeembok, @eko_kuntadhi, dan @ferdinandHaean2.

“Di antara kedua cluster itu, ada akun-akun tengah, yaitu @Dandhy_Laksono, @sejarahRI, dan @historia_id,” cuit Fahmi.

Fahmi kemudian mengungkapkan ada top 5 narasi yang dimainkan top influencer terkait bahaya PKI yang paling banyak di-retweet.

Beberapa narasi tersebut adalah PKI menyerbu Gontor, bocoran Wikileaks agar China tak bisa meremehkan warga RI terkait isu PKI, dan isu jurnalis Dandhy Laksono adalah anak PKI asal Lumajang yang ditugaskan merekrut kader muda komunis di Indonesia.

Dari beberapa top narasi yang dimainkan, Fahmi menyimpulkan isu PKI bisa meningkat pada bulan Mei karena ada narasi bahwa 23 Mei 2020 adalah 100 tahun hari jadi PKI, dan peringatan akan ada rapat akbar anak PKI di Menteng, Jakarta untuk membahas ulang tahun PKI lengkap dengan lagu gengjer-genjer khas PKI.

Narasi tersebut kemudian memunculkan pihak yang kontra yang muncul di cluster kecil. Salah satu yang cukup banyak di-retweet adalah narasi yang dimainkan @_digemeembok bahwa masalah kebangkitan PKI adalah permainan yang dipoles oleh keluarga Suharto alias Cendana.

Adapun narasi tengah, salah satunya dimainkan oleh majalah sejarah online historia yang menuliskan sejarah tumbuh dan runtuhnya PKI, dimana 23 Mei 2020 adalah satu abad kemunculannya.

Fahmi mengakui bahwa pemberitaan di media online tentang hari kebangkitan PKI tidak banyak muncul. Beberapa artikel soal PKI ramai dibahas di blog. Sementara sisnya, topik PKI di media online lebih banyak membahas soal hoaks surat Majelis Ulama Indonesia yang anti terhadap rapid test corona dan modus PKI.

“Memang kita perlu waspada terhadap paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila dan khususnya agama. Namun kita juga harus cerdas dan teliti dalam menerima setiap informasi, agar keyakinan kita tidak membuat kita jadi buta,” kata Fahmi.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200526073035-192-506863/belum-september-isu-bahaya-pki-ramai-di-medsos-sejak-mei