Pengamat Kritik Kemenkes Ceroboh Kelola Data dengan Mitra

Jakarta, CNN Indonesia — Analis media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, kritik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) terkait pengelolaan data eHAC Kemenkes dengan mitra.
Kritik tersebut dilontarkan terkait kebocoran data pribadi pada aplikasi Electronic Health Alert Card atau eHAC milik yang dikelola Kemenkes.

Ismail mengatakan bahwa pernyataan Kemenkes menyoal data pada eHAC Kemenkes aman, namun kebocoran terdapat pada data di pihak mitra, membuat lebih khawatir karena bisa diasumsikan bahwa mitra memiliki copy atau Salinan data dari Kemenkes.

“Kita lebih khawatir, khawatirnya di sini disampaikan bahwa yang bocor itu dari mitra, mitra ini asumnsiya kan mereka punya copy, data yang persis harusnya data ini dimiliki oleh kemenkes saja gak boleh ada mitra, saya enggak tahu mitra ini siapa,” papar Ismail kepada CNN Indonesia TV, Rabu (1/9).

Sebelumya, data pengguna aplikasi eHAC milik Kementerian Kesehatan diduga bocor akibat kurangnya protokol yang dibuat oleh pengembang aplikasi.

Data eHAC yang bocor sebesar 2 Gigabyte. Jumlah data warga Indonesia dan warga asing yang menginstal eHAC dan bocor diperkirakan mencapai lebih dari 1.4 juta orang.

Menurut Ismail mudah sekali untuk memindahkan data dari elasticsearch data base eHAc ke pihak mitra. Meski data dari Kemenkes diklaim aman namun data yang dimiliki mitra belum tentu.

Lihat Juga :

Pasal Keamanan Data PeduliLindungi Disorot Dampak Kasus eHAC
Data dalam aplikasi eHAC, kata Ismail, merupakan data yang besar, mencakup data traveling, rumah sakit, hotel dan seterusnya. Data tersebut sangat kaya dan bermanfaat jika dimanfaatkan oleh pihak yang bertanggung jawab entah itu untuk bisnis atau kejahatan.

“Saya enggak yakin, tidak untuk kejahatan karena mitra pasti kan baik lah ya. Tapi untuk keperluan yang lain di luar keperluan yang kita inginkan,” kata Ismail.

“Ini kalau ada pemanfaatan yang lain yang lebih dalam untuk kepentingan mitra ini berbahaya,” tambahnya.

Selain itu, keamanan pada aplikasi Peduli Lindungi yang sudah diintegrasikan dengan eHAC juga menimbulkan kekhawatiran. Ismail mempertanyakan apakah mitra juga punya Salinan data pada aplikasi tersebut atau tidak. Hal tersebut harus diyakinkan kepada publik.

FOTO: Gerak Senyap Mobil dan Motor di Paris
slide 1 of 6

slide 1 to 5 of 6

“Nah ini yang harus diyakinkan kepada publik bahwa tidak ada copy data yang lain. Tidak boleh ada mitra yang punya copy data ini karena hacking mungkin enggak ada, tapi kalau mitra punya copy, nah ini yang lebih berbahaya lagi, saya kira,” kata Ismail.

Tidak hanya sampai di situ, Ismail juga menyoroti point pada term and condition aplikasi Peduli Lindungi. Dari pengamatannya, dalam term and condition tersebut dinyatakan bahwa jika ada penyalahgunaan data dengan cara yang tidak legal, pemerintah tidak bertanggung jawab.

“Ini menjadi kekhawatiran juga, kita serahkan data, tidak bisa menolak, kemana pun harus instal itu [Peduli Lindung], tetapi kalau misal data itu hilang tidak ada yang bertanggung jawab. Ini yang saya kira harus diganti,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menyatakan dugaan kebocoran data Indonesia Health Alert Card atau eHACterjadi pada aplikasi versi lama.

“Kebocoran data terjadi di aplikasi eHAC yang lama, yang sudah tidak digunakan lagi sejak Juli 2021, sesuai dengan surat edaran kemenkes tentang digitaliasi bagi pengguna transportasi yang terintegrasi di pedulilindungi,” kata Kapusdatin Kemenkes, Anas Ma’ruf, dalam jumpa pers secara virtual, Selasa (31/8).

Anas mengatakan aplikasi eHAC saat ini sudah terintegrasi di dalam aplikasi Pedulilindungi. Menurut dia sistem di eHAC versi lama berbeda dengan yang sudah tergabung dengan Pedulilindungi.

“Perlu saya sampaikan bahwa eHAC yang di Pedulilindungi servernya dan infrastrukturnya berada di pusat data nasional dan didukung oleh Kominfo dan BSSN (Badan Siber Sandi Negara),” ujar Anas.

(mrh/eks)

Linki: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210902205027-185-689087/pengamat-kritik-kemenkes-ceroboh-kelola-data-dengan-mitra.

Apa Risiko Sertifikat Vaksinasi Jokowi yang Beredar di Medsos?

Jakarta – 

Tersebarnya sertifikat vaksinasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) bikin heboh publik. Apa risikonya jika sertifikat ini beredar luas di dunia maya?

Kabar terbaru, Menkes Budi Gunadi Sadikin bicara soal bocornya NIK Jokowi di sertifikat vaksinasi. Budi menegaskan saat ini Kemenkes sudah membenahi kebocoran itu dan menutup sementara data Jokowi dan beberapa pejabat lain.

“Jadi memang yang pertama kami sampaikan, bahwa tadi malam kami terinfo mengenai masalah ini. Sekarang sudah dirapihkan, sehingga data para pejabat itu ditutup,” ujar Budi saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (3/9/2021).

Terkait dengan hal ini, pakar medsos Ismail Fahmi, founder Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia mengatakan risiko dari tersebarnya sertifikat vaksinasi adalah tersebarnya data pribadi berupa NIK dan tanggal lahir. Karena angka NIK itu unik karena gabungan kode domisili wilayah dan tanggal lahir.

Baca juga:Ramai ‘Sertifikat Vaksin’ Presiden Jokowi Beredar di Medsos

Dalam kasus NIK Jokowi yang tersebar, kode NIK-nya terbaca wilayah Surakarta kota dan tentunya tanggal lahir Jokowi. Namun menurut Fahmi, data NIK itu saja tidak cukup untuk disalahgunakan orang jahat.

“Kalau dari ini saya nggak lihat masalah besar. Kalau mau daftar nomor telepon palsu kan NIK nggak cukup, harus ada KK. Untuk pinjol juga kan butuh foto selfie dan foto KTP,” kata dia.

Sertifikat vaksinasi yang tersebar di medsos, menurut Ismail baru berbahaya jika pelaku kejahatan memegang data pribadi kita yang lainnya. Data NIK jika digabung dengan data pribadi lainnya, barulah bisa disalahgunakan.

“Untuk sertifikat vaksinasi, kalau dari situ orang tahu NIK kita dari dari sumber lain tahu KK kita, barulah itu bisa berisiko,” kata Ismail.

Link: https://inet.detik.com/security/d-5708468/apa-risiko-sertifikat-vaksinasi-jokowi-yang-beredar-di-medsos

Di PeduliLindungi Memang Bisa Cek Sertifikat Orang Lain

Jakarta – 

Publik ramai dengan beredarnya gambar seperti sertifikat vaksinasi Presiden Jokowi. Tapi memang, di aplikasi PeduliLindungi pengguna bisa cek sertifikat orang lain.

“Aplikasi ini memungkinkan orang bisa minta tolong siapapun cek sertifikat dari aplikasi PeduliLingdungi,” kata pakar media sosial dan founder Drone Emprit, Ismail Fahmi kepada detikINET, Jumat (3/9/2021).

Hal ini seperti penjelasan Ismail Fahmi dari tweetnya. “Siapapun yang sudah login di apps, bisa cek sertifikat siapapun selama tahu NIK, nama dan tanggal lahir,” kata dia.

Menurut pendapat Ismail Fahmi, dia melihat ini sebagai sebuah fitur dari aplikasi PeduliLindungi. Dalam kondisi di lapangan terutama di pedesaan, banyak orang tidak punya HP atau email. Sehingga mereka meminta bantuan orang lain untuk mendownload sertifikat vaksinasi.

Baca juga:Ramai ‘Sertifikat Vaksin’ Presiden Jokowi Beredar di Medsos

“Kalau disyaratkan email atau HP kan di desa susah. Makanya bisa minta tolong di-download ke orang lain. Spesifik terkait ini, mungkin adalah fitur untuk menjembatani digital device dengan syarat kita tahu datanya,” kata Ismail Fahmi.

Ismail mengatakan Babinsa di pedesaan membantu proses entry data dan download sertifikat vaksinasi untuk masyarakat yang tidak punya ponsel. Hal senada disampaikan netizen mengomentari tweet Ismail Fahmi.

“Sepanjang kita tahu NIK-nya bisa kok cek sertifikat vaksinnya,” kata @damar***.
“Saya sertifikat istri dan beberapa teman, saya yang download,” kata @kunto***.

Link: https://inet.detik.com/cyberlife/d-5708112/di-pedulilindungi-memang-bisa-cek-sertifikat-orang-lain

Bahaya NIK Tersebar Seperti Jokowi, Lindungi Datamu!

Jakarta – 

Nomor Induk Kependudukan (NIK) Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan sertifikat vaksinasi tersebar di media sosial. Lalu bagaimana dampak ketika NIK seseorang diketahui orang lain dan bisa digunakan untuk apa saja?

Pakar media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengatakan NIK adalah pintu masuk untuk menemukan data pribadi seseorang secara lebih detail. Jika NIK itu dicari di Google, akan muncul data mengenai yang bersangkutan.

“Itu kan data pribadi, kalau udah tersebar bisa dimanfaatkan data yang lain-lain. Misalnya dapat NIK Pak Jokowi, cari di Google langsung keluar kan foto-foto KTP Pak Jokowi yang tersebar. Artinya pintu masuk, kayak kunci, dapetin informasi unik dan spesifik tentang Pak Jokowi,” kata Ismail Fahmi kepada wartawan, Jumat (3/9/2021).

Baca juga:Sertifikat Vaksin Jokowi Bocor, Dasco: Perlindungan Data Pribadi Penting!

Ismail mengatakan, dari NIK tersebut, bisa ditemukan data yang lebih spesifik mengenai seseorang. Data tersebut bisa digabungkan dengan data lain untuk disalahgunakan. Ismail menyebut penggabungan itu dilakukan dengan teknik social engineering.

“Kalau NIK saja itu nama dan tanggal lahir, itu bisa langsung dipake, tapi itu bisa awalan untuk mencari informasi lebih jauh lagi tentang seseorang. Soalnya kalau pakai Ismail Fahmi itu banyak, masukin di Google ‘Ismail Fahmi’, oh banyak itu ada orang Kementerian Agama, ada dari kabupaten apa namanya Ismail Fahmi. Tapi kalau NIK itu hanya saya, Ismail Fahmi aja,” kata dia.

“Coba cari di Google atau di mana, itu social engineering itu, ketahuan dapat data-data yang lain, yang persis tentang saya itu,” lanjutnya.

Baca juga:Apa Risiko Sertifikat Vaksinasi Jokowi yang Beredar di Medsos?

NIK Bisa Digunakan untuk Apa?

Islamil Fahmi juga menjelaskan untuk apa NIK itu digunakan jika sudah tersebar. Salah satunya untuk aktivasi nomor telepon.

“Nantikan kalau dapat NIK, dapat KK orang bisa bikin nomor registrasi baru telepon. Nanti pas Pilpres misalnya dipakai untuk blasting daftar ini, daftar itu,” kata dia.

Selain itu, pada saat pendemi Corona ini, NIK sering kali digunakan untuk mengakses sertifikat vaksinasi seseorang. Seperti yang dialami oleh NIK Jokowi.

“Kemudian juga dari NIK tahu nama, tanggal lahir, kayak gitu kan bisa kita dengan PeduliLindungi yang sekarang kita bisa ambil sertifikat orang lain,” ujar Ismail.

“Misalnya kalau nggak tahu tanggal, tahu NIK dan nama saya nih, dari NIK tahu tanggal lahir, terus ingin ambil sertifikat saya, tinggal lihat saja di Facebook saya, saya kan biasanya foto kapan saya vaksinasi pertama dan kedua, dapat tanggalnya, kemudian cek saya pakai apa, saya bilang juga pakai Sinovac, pakai ini dengan bangga. Ya udah masukin PeduliLindungi, bisa download itu sertifikat saya,” jelasnya.

Baca juga:Menkes Buka Suara soal Tersebarnya Sertifikat Vaksin Jokowi

Sertifikat itu, kata Ismail, kemudian digunakan untuk mengakses fasilitas umum yang mewajibkan vaksinasi. Terutama di tempat yang tidak menggunakan aplikasi PeduliLindungi.

“Kalau dapat sertifikat saya, misalnya kalau mau di-print, orang yang tidak vaksinasi ngeprint itu terus dibawa aja sertifikat orang lain dibawa. Kan nggak semua menerapkan PeduliLindungi, banyak mal atau pasar ya udah tunjukin aja kalau ada sertifikatnya kan. Terus liatin, ‘namamu siapa?’ ‘Ir. Joko Widodo’ ‘kok sama sama presiden?’ ‘ya emang sama’, nggak dicek,” kata dia.

Pinjol Tak Cukup dengan NIK

Lalu, apakah tersebarnya NIK bisa digunakan untuk mendaftar pinjaman online (pinjol). Ismail mengatakan data NIK tak cukup untuk melakukan pinjol karena membutuhkan KTP serta swafoto bersama KTP.

“Kalau NIK saja nggak cukup, kalau pinjol kita perlu foto KTP lengkap, sama selfie KTP di-upload, banyak orang yang pinjol itu dia upload foto KTP dan selfie KTP orang lain,” jelasnya.

Akan tetapi, untuk mendapatkan pinjol dengan data orang lain itu, Ismail mengungkap banyak tips di Facebook agar orang tertarik memfoto KTP dan swafoto dengan KTP. Data itu kemudian disalahgunakan.

“Sering itu mereka bikin tips-tips begituan di Facebook, jadi ngajuin pinjol atas nama dia makanya banyak orang yang merasa saya nggak pinjam, saya nggak instal, tapi kok saya dapat tagihan terus, karena banyak orang lain yang pakai,” jelasnya.

Baca juga:Polisi Buru Pengguna 93 Sertifikat Vaksin yang Dibeli dari Pembobol


Dari Mana NIK Dapat Tersebar

NIK bisa tersebar dari berbagai hal. Salah satunya data penduduk yang menerima bantuan sosial.

“Kan sering itu misalnya di kabupaten suka ngasih data orang terima bantuan dan seterusnya. Dari situ kita bisa mengumpulkan data pribadi tentang seseorang lebih detail,” jelasnya.

Tersebar Saat Fotokopi KTP

Data NIK ini juga bisa tersebar saat pemilik melakukan fotokopi KTP. Ataupun di konter HP yang meminta pembeli menunjukkan KTP-nya.

“Sekarang orang dapatnya bukan cuma hanya NIK, tapi KTP langsung. Misalnya mau vaksinasi tolong fotokopi KTP, ya dapat lengkap, NIK-nya, namanya, alamatnya, tanggal lahir, semua dapat toh. Mau konter nomor telepon yang diminta KTP, kita nggak tahu difoto,” kata dia.

“Konter-konter itu bisa mereka ngumpulin. Kadang-kadang masuk ke mal, mau nggak ini bantuin anak yatim segala macam, boleh minta KTP-nya. Orang nggak ngerti kasih KTP, terus difoto. Orang-orang kita belum paham KTP itu data pribadi yang harus dijaga,” sambungnya.

Selain itu, data KTP rentan digunakan pada saat pemasangan instalasi, seperti sambungan internet. Pada saat itu petugas meminta pelanggan memberikan KTP-nya.

Masang instalasi ini, itu minta KTP lagi. Petugasnya masang internet biasanya petugas minta KTP, dan dia sehari misalnya dapat klien 3, kalikan sebulan dapat berapa 90 KTP orang, kerja setahun dapat berapa coba. Gampang ngumpulinnya, bukan hanya NIK, tapi KTP,” katanya.

Baca juga:NIK dan Sertifikat Vaksin Jokowi Bocor, Menkes Tutup Sementara Data Pejabat

Desak UU PDP Disahkan

Ismail meminta pemerintah memberikan perhatian khusus pada perlindungan data pribadi. Dia berharap agar Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) segera disahkan.

“Sebetulnya ini imbauan lebih banyak ke Pemerintah, tolong lah dijaga. Bikin Undang-Undang PDP itu, nanti punya otoritas untuk setiap aplikasi itu nanti diawasi oleh otoritas perlindungan data pribadi ini,” katanya.

Selain itu, Ismail mendorong agar dibentuk badan yang khusus mengawasi data pribadi di setiap aplikasi. Jadi, apabila sebuah aplikasi didapati data penggunanya bocor, aplikasi itu ditindaklanjuti dan dilakukan investigasi.

“Ketika ada bikin aplikasi misal PeduliLindungi ada isu kayak gini langsung diinvestigasi, dia (otoritas pengawas) bisa mengatur sesuai UU tadi. Itu memastikan agar ke depan pada takut yang membuat aplikasi itu bikin aplikasi. Sekarang aplikasi belum dites tapi banyak dirilis,” katanya.

Link: https://news.detik.com/berita/d-5708685/bahaya-nik-tersebar-seperti-jokowi-lindungi-datamu/2

Bukan Cuma eHAC, Aplikasi PeduliLindungi Diduga Juga Bermasalah

Suara.com – Analis media sosial sekaligus Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengungkap berbagai kelemahan yang ada di aplikasi PeduliLindungi. Menurutnya, aplikasi besutan Kementerian Komunikasi dan Informatika itu terlalu sering meminta akses, terutama akses GPS atau pelacak lokasi pengguna di tampilan latar belakang.

Aplikasi PeduliLindungi ini selalu minta akses lokasi. Terus aplikasi kerap memberikan notifikasi di ponsel,” kata Ismail saat dihubungi Suara.com via telepon, Selasa (31/8/2021).

Ismail menilai, aplikasi PeduliLindungi tak perlu melacak pengguna untuk merekam data saat bepergian. Seharusnya, akses lokasi cukup dinyalakan di beberapa tempat penting seperti di mal.

“Kita enggak perlu dipantau ke mana-mana. Kalau misalkan mau ke mal, ya sudah GPS harusnya menyala di sana saja. Kalau ke luar sebentar atau kamar mandi, itu enggak perlu dinyalakan (GPS) seharusnya,” jelas Ismail.

Baca Juga:BSSN Akui Terima Laporan Tercecernya Data Pengguna eHAC dari vpnMentor

Ismail juga memberikan tipsnya dalam menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Ia bercerita, jika harus menggunakan PeduliLindungi saat keluar rumah, maka ia akan mengunduh aplikasi. Jika urusan selesai, ia lantas menghapusnya kembali.

“Hapus-download kalau saya, jadi berulang saja. Meskipun tidak praktis,” ujarnya.

Hal ini dipilih karena Ismail masih merasa belum yakin terkait keamanan data yang direkam di PeduliLindungi. Terlebih, informasi terbaru aplikasi eHAC telah ramai diberitakan karena adanya dugaan kebocoran data.

“Kalau saya sih belum yakin saja, makanya saya lakukan (hapus-download) itu,” jelas Ismail.

Secara terpisah, Kementerian Kesehatan mengakui bahwa aplikasi PeduliLindungi masih belum ramah digunakan masyarakat. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anas Ma’ruf mengaku pihaknya banyak mendapat laporan bahwa aplikasi memang masih sulit diakses masyarakat banyak.

Baca Juga:Tercecernya Data Aplikasi eHAC Coreng Indonesia di Mata Dunia

“Tentu pemerintah akan meningkatkan dan mengembangkan aplikasi PeduliLindungi sehingga fitur-fitur dan akses menjadi lebih mudah,” kata Anas dalam konferensi pers virtual.

Lebih lanjut, kata Anas, upaya ini akan terus dilakukan pemerintah. Alasannya, aplikasi PeduliLindungi saat ini sudah banyak digunakan untuk berkunjung di berbagai tempat, salah satunya mall.

“Pemerintah terus mengembangkan aplikasi PL. Sehingga dari sisi infrastruktur, arsitektur, performance, dan fitur-fitur yang ada, terus dikembangkan dan diperbaiki. Sehingga aksesibilitas ke seluruh masyarakat jadi lebih mudah,” paparnya.

Sebagai informasi, PeduliLindungi adalah aplikasi yang dikembangkan untuk membantu instansi pemerintah terkait dalam melakukan pelacakan untuk menghentikan penyebaran Coronavirus Disease (COVID-19).

Aplikasi ini mengandalkan partisipasi masyarakat untuk saling membagikan data lokasinya saat bepergian agar penelusuran riwayat kontak dengan penderita COVID-19 dapat dilakukan.

Berdasarkan pantauan Suara.com di Google Play Store, aplikasi PeduliLindungi memerlukan akses izin seperti kamera, lokasi (GPS), hingga penyimpanan (galeri).

Link: https://www.suara.com/tekno/2021/08/31/221227/bukan-cuma-ehac-aplikasi-pedulilindungi-diduga-juga-bermasalah?page=all

Kapokmu Kapan Le? Ini Ngerinya Pinjam Uang di Pinjol Ilegal

Jakarta, CNBC Indonesia – Jangan meminjam ke pinjaman online (pinjol) ilegal bila tak mau menghadapi utang yang membengkak karena bunga yang tinggi dan denda yang besar serta debt collector atau penagih utang yang intimidatif.

Pelajaran ini bisa dipetik dari kasus karyawan berinisial HP (25). Karyawan baru bank perkreditan rakyat di Bojonegoro ini memilih gantung diri karena terlilit untang pinjol.

Dalam surat wasiatnya dia mengaku terjerumus dunia online dan kecanduan serta tak sanggup hidup lagi. Ia menyebut memiliki pinjaman kepada Cairin, Kredit KTA, KTA Kilat, Ada KAMI, dan Kredit Pintar. Ia juga memiliki utang kepada temannya. Total utangnya Rp 23,1 juta.

Kasus lainnya terjadi pada guru TK di Malang yang diteror puluhan debt collector pinjol. Ia meminjam dari beberapa pinjol untuk biaya kuliah. Total utangnya membengkak hingga 40 juta karena bunga yang tinggi yang membuatnya kesulitan membayar, seperti dikutip dari detikcom, Senin (30/8/2021).

Aksi pinjol ilegal dan debt collector-nya memang meresahkan. Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit mengungkapkan penagihan dilakukan pinjol ilegal di luar kebiasaan. Saat peminjam terlambat bayar utang, debt collector menagih pada nama-nama yang disimpan peminjam di kontak ponselnya.

“Apabila keterlambatan dalam pembayaran, maka pemberi pinjaman melakukan penagihan pad nama-nama di kontak,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Selain itu, pinjol ilegal juga menggunakan data korban untuk meminjam ke aplikasi lain. “Data KTP dipakai oleh penyelenggara untuk mengajukan peminjaman di aplikasi lain,” ungkap Listyo Sigit.

Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi menjelaskan pinjol ilegal memang mengambil data peminjam berlebihan. Mereka mengambil data pengguna berlebihnya mulai dari history,contact card,storage(foto dan video)phone call, kamera, mikrofon dan lokasi dan lainnya. Padahal OJK hanya izinkan pinjol mengambil data kamera, mikrofon, dan lokasi, seperti dikutip dari akun Twitter resminya.

Link; https://www.cnbcindonesia.com/tech/20210830135237-37-272263/kapokmu-kapan-le-ini-ngerinya-pinjam-uang-di-pinjol-ilegal

Pakar Sebut Hoaks Covid-19 Tertinggi Pada Januari 2021

Jakarta, CNN Indonesia — Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyebut hoaks terkait Covid-19 tercatat paling tinggi ditemukan pada Januari 2021.
Temuan itu merupakan hasil penelitian yang dibuat oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) selama Januari hingga Juni 2021.

“Kalau kita lihat lagi kapan itu paling tinggi spesifik Covid itu fakta-faktanya kita lihat pas bulan Januari paling tinggi,” kata Ismail dalam sebuah webinar, Minggu (15/8) malam.

Rinciannya, 92 hoaks di Januari, 38 hoaks di Februari, 37 hoaks pada Maret dan April, 24 hoaks pada Mei, dan 34 hoaks pada Juni.

Lihat Juga :

Pakar Analisis Motif Gerakan Stop Berita Covid di Medsos
“Tapi Januari gede banget tentang covid, karena apa itu awal-awal kita mau rilis tentang vaksin itu kemarin orang percaya dan enggak percaya,” ucap Ismail.

Di luar hoaks soal Covid-19, tercatat ada ribuan hoaks yang beredar selama Januari hingga Juni. Yakni, 1.210 hoaks yang bersifat umum dan 105 hoaks tentang vaksin.

Ismail menuturkan hoaks yang berkaitan dengan vaksin biasanya berkaitan dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

“Yang paling banyak tentang KIPI, habis divaksinasi orang kejang-kejang, ada yang meninggal, luar biasa banyak dan itu yang kemudian dipakai lagi untuk membuat teori konspirasi dan macam-macam dalam bentuk video,” tutur Ismail.

Menurut Ismail informasi hoaks itu muncul dengan berbagai jenis atau tipe. Antara lain, satire atau parodi, konten palsu, konten yang dimanipulasi, konten yang menyesatkan, koneksi yang salah, konten yang salah, hingga konten tiruan.

Lihat Juga :

Pakar Ungkap Analisis di Balik Tagar Turunkan Jokowi
Ismail juga menyebut konteks hoaks dalam bentuk video sebenarnya terhitung tak terlalu banyak. Namun, penyebaran video itu cukup luas.

“Hoaks-hoaks dalam bentuk video itu jumlahnya memabg enggak banyak, tapi begitu ada penyebarannya luar biasa, orang bisa berulang-ulang share terus menerus,” ujarnya.

(dis/ayp)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210816010214-192-680705/pakar-sebut-hoaks-covid-19-tertinggi-pada-januari-2021.

Arti ‘404: Not Found’ yang Viral Jadi Mural Jokow

Jakarta, CNN Indonesia — Mural bergambar wajah diduga mirip dengan Presiden Jokowi yang bagian matanya ditutupi dengan tulisan 404: Not Found belakangan ramai dibicarakan netizen.
Kepolisian menghapus mural tersebut karena menafsirkan gambar mirip Jokowi di dinding itu sebagai lambang negara dan pimpinan tertinggi dari institusi Korps Bhayangkara.

Lalu apa arti dan maksud dari 404: Not Found?

Dunia digital terus berkembang dan warga dunia semakin dimudahkan pencariannnya menggunakan internet. Ada kalanya mesin pencari menolak untuk melakukan tugasnya.

Lihat Juga :

Polisi Periksa 2 Saksi Kasus Mural ‘Jokowi: 404 Not Found’
Ketika mengklik tautan, alih-alih mendapatkan situs dan informasi yang diinginkan, malah muncul kesalahan yang menunjukkan bahwa halaman yang diminta tidak tersedia dan muncul pesan Error 404:Not Found.

404:Not Found merupakan istilah teknis dan kode status HTTP. Artinya browser telah terhubung dengan server, tetapi halaman web yang ingin diakses tidak dapat ditemukan atau dijangkau.

Dikutip dari Makeuseof, hal tersebut dapat terjadi ketika kita meminta halaman yang tidak pernah ada di situs web atau yang telah dipindahkan dan diberi alamat yang berbeda.

Terdapat beberapa alasan mengapa 404: Not Found bisa muncul, di antaranya URL atau konten seperti file atau gambar telah dihapus atau dipindahkan tanpa menyesuaikan tautan internal yang sesuai, penulisan URL yang tidak benar atau salah ketik di browser.

Bisa juga server tidak berjalan atau koneksi yang terputus, nama domain yang diminta tidak dapat dikonversi ke IP oleh domain name system (DNS), dan yang terakhir, nama domain yang dimaksudkan tidak ada alias hilang dilansir dari Ionos.

Lihat Juga :

Mural ‘Jokowi 404: Not Found’ Dihapus, Pelukis Diburu Polisi
Pakar media sosial asal Drone Emprit Ismail Fahmi lewat postingannya menjelaskan, 404: Not Found berawal dari Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire (CERN). CERN merupakan sebuah organisasi Eropa yang melakukan riset terkait nuklir.

“Di gedung CERN Swiss lantai 4, ruangan 404, database WWW pertama di dunia disimpan. Setiap ada permintaan file dari staff CERN, petugas database mencari secara manual, dan mengirim balik lewat WWW. Kalau filenya ndak ketemu, responnya: “Room 404: File not found,” kata Ismail.

Menurut Ismail, ketika WWW (world wide web) digunakan makin luas, tidak hanya di lingkungan simulasi gedung CERN, protokol WWW tetap menggunakan 404 sebagai kode eror atau ketika halaman yang dicari di sebuah situs web tidak ditemukan.

“Di gedung CERN, lantai 4, di ruangan 404 ini lah, Tim Berners-Lee membuat invention yang mengubah dunia: WWW (World Wide Web). Jadi, 404 itu angka magic, historical, yang mengubah dunia,” ucap Ismail.

Hingga saat ini Tim Berners-Lee dan Robert Cailiau sebagai pencipta WWW sendiri tutup mulut soal sejarah awal kode itu.

“Yang pasti bukan dari Room 404. Misteri biarlah misteri 404 ini tetap berlangsung. Sama misterinya pesan yg dibawa: file not found,” tutup Ismail.

(mrh/mik)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210816082554-185-680803/arti-404-not-found-yang-viral-jadi-mural-jokowi.

Apa Arti 404 Not Found yang Ada di Mural Wajah Mirip Jokowi?

Jakarta – 

Mural wajah yang mirip Presiden Joko Widodo (Jokowi) ditutupi tulisan 404 Not Found di Batuceper, Tangerang, ramai diperbincangkan di media sosial. Apa arti 404 Not Found?

Kode error 404 not found adalah istilah yang ada di bidang teknologi. Biasanya hal tersebut ditemukan saat pengguna tidak bisa menemukan sesuatu yang dicarinya.

Misalnya, ketika pengguna mencari dengan mengetik sesuatu di internet, namun browser tidak menemukan sesuatu tersebut. Pada akhirnya, browser akan menampilkan kode error 404 not found.

Baca juga:Pesan Error ‘404: Not Found’ dan Legenda di Baliknya

Pakar media sosial dari Drone Emprit, Ismail Fahmi mengungkapkan, angka 404 itu muncul di layar komputer atau browser bila pencarian gagal menemui hasil.

Ia lantas menjelaskan sejarah dari kode error 404 not found tersebut. Berdasarkan informasi yang diterimanya, 404 tercipta di lantai 4 gedung CERN (Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire/Dewan Eropa untuk Riset Nuklir), di Swiss. Di lantai 4 gedung CERN, ada ruangan bernama Room 404.

Di dalam Room 404, staf-staf ditugasi untuk mencari berkas-berkas. Hasil pencarian yang didapat staf akan dikirim lewat sistem informasi yang sudah sangat lazim digunakan saat ini, yakni world wide web (WWW). Adapun WWW sendiri ditemukan oleh Tim Berners-Lee pada 1990.

Saat itu, bila staf-staf di Room 404 tidak menemukan berkas yang dicari, mereka akan berkirim pesan lewat WWW dengan menyampaikan keterangan bertuliskan ‘Room 404: File not found’.

“Ketika WWW (world wide web) digunakan makin luas, tidak hanya di lingkungan simulasi gedung CERN, protokol WWW tetap menggunakan 404 sebagai kode eror ketika halaman yang dicari di sebuah situs web tidak ditemukan,” kata Ismail Fahmi lewat akun Twitter-nya.

Baca juga:Cara Download Sertifikat Vaksin, Lebih Aman Daripada Dicetak

Tak sedikit yang menggunakan istilah kode error 404 not found tersebut, seperti salah satunya melalui mural wajah yang mirip Presiden Jokowi.

Saat ini mural tersebut sudah dihapus oleh pihak kepolisian dan dikabarkan aparat tengah mencari pembuat mural wajah mirip Jokowi 404 Not Found tersebut.

Pencarian pembuat mural itu karena dianggap Presiden Jokowi sebagai lambang negara.

Link: https://inet.detik.com/cyberlife/d-5682680/apa-arti-404-not-found-yang-ada-di-mural-wajah-mirip-jokowi

Pakar: Popularitas Puan Buah Baliho Meski Disindir Netizen

Jakarta, CNN Indonesia — Baliho Ketua DPR RI Puan Maharani yang bertebaran sejak beberapa minggu terakhir diklaim berhasil mendongkrak popularitas politikus PDIP tersebut meski lewat banyak komentar negatif dan netizen.
Hasil analisis Drone Emrpit mengungkapkan bahwa strategi Puan untuk mendongkrak popularitas lewat Baliho disinyalir untuk menggeser atau mengimbangi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

“Popularitas Puan meningkat meski banyak sentimen negatif (sindiran),” kicau pakar media sosial asal Drone Emprit Ismail Fahmi lewat akun @ismailfahmi, Senin (9/8).

Menurut Ismail, dari hasil riset tersebut terlihat bahwa popularitas putri sang Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri itu hampir mengejar tren Ganjar. Sejauh ini paling tidak, tren Puan kata Ismail sudah setara dengan tren Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil alias RK.

“Setara dengan @ridwankamil setelah dikatrol dengan kampanye baliho. Response netizen terhadap baliho turut meningkatkan tren Puan,” kicau Ismail.

Lihat Juga :

Pakar Sebut Akun Asli Mendominasi Tagar Turunkan Jokowi
Masih Kalah dengan Anies Baswedan
Kendati demikian, menurut Ismail, popularitas Puan masih kalah dengan tren Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

“Dibandingkan dengan tren @aniesbaswedan, tren Puan jauh di bawahnya,” tegas Ismail.

Kalau digabungkan, tren keempat tokoh yakni Puan, Ganjar, dan RK, Anies tetap jadi juaranya. Menurut Ismail, dalam 1 bulan terakhir di semua media, tren Anies selalu tertinggi. Menyusul di bawah Anies, Ganjar dan kemudian Emil.

“Tren Puan awalnya paling rendah, perlahan naik setara RK, lalu mengejar Ganjar,” kata Ismail.

Sementara urutan share of voices dalam 1 bulan terakhir adalah Anies 49 persen, Ganjar 27 persen, RK 13 persen, dan Puan 12 persen. Adapun Share of voices berdasarkan kanal berita online, Anies 43 persen, Ganjar 25 persen, RK 19 persen, dan Puan 13 persen.

Untuk Twitter atau medsos, Anies tetap tertinggi yakni 50 persen. Menyusul Ganjar 27 persen, RK 12 persen, dan Puan 12 persen.

Lihat Juga :

Pakar: Akun Netral-Asli Dominan Kritik Jokowi dan Rektor UI
Dari data di atas, tampak Anies dan Ganjar diuntungkan oleh percakapan netizen (pro-kontra) di media sosial, dan RK oleh pemberitaan media. Ismail menggarisbawahi popularitas merupakan gabungan percakapan yang bernada positif, negatif, dan netral, tak peduli sentimennya apa.

“Anies paling banyak diserang di medsos, popularitasnya selalu tertinggi. Puan juga makin populer, lewat baliho yang banyak disindir dan jadi meme netizen,” kata Ismail.

Menurut Ismail, dari popularitas, diharapkan nanti akan naik favorabilitasnya (sentimen positif-negatif), lalu dikapitalisasi jadi elektabilitas.

“Namun populer saja tidak cukup, apalagi populer karena hal yang negatif dan tidak ada positifnya. Harus ada bukti kerja dan prestasi yang bisa digunakan untuk menaikkan tren positif,” kata Ismail.

Adapun narasi negatif yang mengkritik Puan di medsos datang dari kalangan umum, aktivis dan oposisi. Sementara yang positif dari tim media sosial Puan, khususnya via meme dan infografis.

(dal/DAL)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210809141628-192-678257/pakar-popularitas-puan-buah-baliho-meski-disindir-netizen.