JAKARTA, KOMPAS.TV – Kebijakan kepala daerah dalam menangani corona ternyata mempengaruhi popularitas dan favorabilitas.
Hasil analisis data media sosial yang dilakukan drone emprit 9 Mei 8 Juni 2020 menunjukkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memiliki popularitas yang tinggi. Berdasarkan analisis percakapan di media sosial, popularitas Anies mencapai 64 persen.
Popularitas Anies Baswedan berada di atas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mencapai 19 persen, serta Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di angka 17 persen. Namun dari tingkat kesukaan atau favorabilitas, Anies Baswedan lebih rendah dibandingkan Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Anies Baswedan 31 persen, sementara Ganjar Pranowo 53 persen, dan Ridwan Kamil 54 persen.
Dalam akun Twitter nya, pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi menjelaskan keterkaitan popularitas dengan elektabilitas. “Popularitas serta konstruksi citra merupakan elemen penting dalam elektabilitas”.
Apa yang menyebabkan seorang gubernur bisa menjadi populer? Apakah ini akan berdampak elektabilitas seorang kepala daerah di pilpres nanti? Lebih lengkap simak dialog bersama dengan Analis Media Sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah, serta Ketua DPP PKS Pipin Sopian.LEBIH SEDIKIT
Berdasarkan analisis percakapan di media sosial, popularitas Anies mencapai 64 persen.
Popularitas Anies Baswedan berada di atas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mencapai 19 persen, serta Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di angka 17 persen.
Namun dari tingkat kesukaan atau favorabilitas, Anies Baswedan lebih rendah dibandingkan Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil.
Anies Baswedan 31 persen, sementara Ganjar Pranowo 53 persen, dan Ridwan Kamil 54 persen.
Dalam akun Twitter nya, pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi menjelaskan keterkaitan popularitas dengan elektabilitas.
“Popularitas serta konstruksi citra merupakan elemen penting dalam elektabilitas”.
Apa yang menyebabkan seorang gubernur bisa menjadi populer?
Apakah ini akan berdampak elektabilitas seorang kepala daerah di pilpres nanti?
Untuk membahasnya lebih lengkap, simak dialog bersama dengan Analis Media Sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah, serta Ketua DPP PKS Pipin Sopian
Menurut analisa Ismail Fahmi, dari analis media sosial Drone Emprit, fitnah terhadap Bintang Emon pertama kali datang dari tiga akun Twitter bernama @LintangHanita, @Tiara616xxx, dan @LiarAngsa.
JAKARTA – Pada Senin kemarin, (15/6/2020), jagat maya dihebohkan dengan munculnya serangan fitnah terhadap komika Bintang Emon, dari akun abal-abal di Twitter. Dalam cuitannya, mereka menuding Bintang menggunakan narkotika jenis sabu-sabu.
“Kalo nanti masih ada berita ditangkap karena narkoboy (narkoba), lucu juga sih. Bintangemon negatif narkoba, positif kentang mustofa,” tulis Bintang, melalui akun Instagramnya saat membagikan hasil pemeriksaan rumah sakit, Selasa (16/6/2020).
Fitnah terhadap Bintang muncul, lantaran sebelumnya komika tersebut membagikan video komentarnya mengenai persidangan dan hasil tuntutan jaksa yang tidak masuk akal, atas kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.
Menurut analisa Ismail Fahmi, dari analis media sosial Drone Emprit, fitnah pertama kali datang dari tiga akun Twitter bernama @LintangHanita, @Tiara616xxx, dan @LiarAngsa. Masing-masing akun tersebut hanya memiliki 2 pengikut, 9 pengikut, dan 0 pengikut.
“Serangan terhadap Bintang Emon mulai terjadi pada tanggal 14 Juni 2020 pukul 23.47 WIB,” jelas Fahmi, dikutip dari akun Twitter-nya, Rabu (17/6/2020).
Setelah fitnah itu muncul, warganet kemudian satu suara membela Bintang Emon. Ketiga akun abal-abal kini sudah dihapus pihak Twitter, diduga karena banyaknya warganet yang melaporkan akun tersebut.
Padahal, masih berdasarkan analisa Fahmi, sebelum fitnah muncul, tepatnya pada Jumat (12/6/2020), mayoritas percakapan tertinggi di Twitter berisi dengan kata kunci “Novel Baswedan”. Kemudian keesokan harinya berubah menjadi “Gak Sengaja”. Barulah kata kunci “Emon” menguasai percakapan pada Senin lalu.
“Dari trend di atas, tampaknya netizen bergeser perhatiannya, dari membahas isu esensial (Novel Baswedan) menuju isu penyerta,” kata Fahmi.
Bandung – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memastikan tak menggunakan jasa tim buzzer untuk melejitkan citranya di akun media sosial. Hampir semua aktivitas di berbagai platform media sosialnya, ia kelola sendiri.
“Akun media sosial mayoritas dikelola sendiri, sebagai salah satu sarana melaporkan pekerjaan yang sedang maupun yang akan dilakukan,” kata pria yang akrab disapa Kang Emil, Rabu (17/6/2020).
Saat ini akun Instagramnya telah diikuti oleh 12,4 juta orang. Sementara Twitternya diikuti 4 juta orang dan Facebook 3,5 juta orang.
Menurutnya, media sosial menjadi ajang untuk berinteraksi dengan publik, selain forum tatap muka langsung. “Kami tidak menggunakan tim buzzer untuk menaikkan percakapan. Semua natural apa adanya,” katanya.
Sebelumnya, Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia Ismail Fahmi, menyampaikan bahwa Kang Emil paling disukai di media sosial dibandingkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Kang Emil memiliki favoribilitas 54%, sedangkan Ganjar 53% dan Anies 31%. Pengamatan menggunakan big data dengan sumber berita online, Twiiter, FB, IG dan Youtube.
Walau demikian popularitas Kang Emil di angka 17%, atau masih di bawah akun media sosial Anies Baswedan (64%) dan Ganjar Pranowo (19%).
“Dalam grafik popularitas vs favorabilitas, siapa yang berada di titik paling kanan (paling populer) dan paling atas (paling disukai) memiliki peluang besar untuk dipilih,” tulis Ismail.
“Namun itu bukan satu-satunya ukuran. Karena artis yang sangat terkenal, sangat disukai, belum tentu akan dipilih untuk jadi presiden,” katanya.
Dari Social Network Analysis (SNA) dari tiga Gubernur tersebut, Anies disebut masif dukungan tapi juga masif kontra.
“Di SNA @aniesbaswedan ada dua cluster besar. Terbesar cluster Pro Anies, warna hijau (positif). Kedua cluster Kontra Anies, warna merah (negatif). Artinya, Anies punya basis pendukung yang besar, tapi juga serangan yang masif,” ucap Ismail.
Untuk Kang Emil, Ismail menyebutnya sebagai ‘Lone Ranger’. RK tanpa promotor juga minim kontra.
“Menarik melihat audiens @ridwankamil. Popularitas dan sentimen positifnya sangat tergantung dari satu akun, yaitu akun RK sendiri yang memiliki basis follower yang sangat besar. Cluster yang kontra hampir tidak ada,” kata Ismail.
“Follower @ridwankamil yang sangat besar ini kebanyakan meretweet pesan RK. Ini yang menjelaskan kenapa jumlah audiens RK lebih tinggi dari Ganjar, tetapi percakapan tentang RK lebih sedikit. Karena retweet ini sifatnya pasif. Menunggu cuitan dari RK. Mereka tidak aktif promosi,” kata Ismail.
Sementara itu, untuk SNA Ganjar, Ismail menyebut Ganjar masif dukungan, dan minim kontra.
“SNA @ganjarpranowo memperlihatkan satu cluster besar berwarna hijau (positif). Top influencernya adalah akun Ganjar sendiri. Juga ada banyak akun yang sangat aktif bicarakan Ganjar secara positif. Cluster kontra hampir tidak ada,” ucap Ismail.
“Favorabilitas: Anies jatuh karena lawan, RK & Ganjar tak ada halangan,” ujarnya.
“Bagaimana hasil pengamatan menggunakan big data dengan sumber berita online, Twitter, FB, IG, dan YouTube? Hasil Drone Emprit, @aniesbaswedan paling populer (64%), @ganjarpranowo nomor dua (19%), @ridwankamil paling rendah (17%),” tulis Ismail dalam akun twitternya, seperti dilihat detikcom, Rabu (17/6/2020).
Kemudian, Ismail membandingkan antara popularitas dengan disukai. Hasilnya, Anies memiliki nilai rendah untuk disukai daripada Ganjar dan RK.
“Dalam grafik popularitas vs favorabilitas, siapa yang berada di titik paling kanan (paling populer) dan paling atas (paling disukai) memiliki peluang besar untuk: dipilih,” tulis Ismail.
“Namun itu bukan satu-satunya ukuran. Karena artis yang sangat terkenal, sangat disukai, belum tentu akan dipilih untuk jadi presiden,” katanya.
Popularitas lawan disukai antara Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Ridwan Kamil versi Drone Emprit. Foto: dok. @ismailfahmi.
Ismail menyampaikan Anies memiliki jumlah audiens yang membicarakannya di Twitter paling banyak di antara Ganjar, maupun RK dengan 68 ribu audiens. Di tempat kedua diisi oleh RK dengan 45 ribu audiens, dan Ganjar dengan 36 ribu audiens.
Dia juga menganalisis Social Network Analysis (SNA) dari tiga Gubernur tersebut. Anies disebut masif dukungan tapi juga masif kontra.
“Di SNA @aniesbaswedan ada dua cluster besar. Terbesar cluster Pro Anies, warna hijau (positif). Kedua cluster Kontra Anies, warna merah (negatif). Artinya, Anies punya basis pendukung yang besar, tapi juga serangan yang masif,” ucap Ismail.
Untuk RK, Ismail menyebutnya sebagai ‘Lone Ranger.” RK tanpa promotor juga minim kontra.
“Menarik melihat audiens @ridwankamil. Popularitas dan sentimen positifnya sangat tergantung dari satu akun, yaitu akun RK sendiri yang memiliki basis follower yang sangat besar. Cluster yang kontra hampir tidak ada,” kata Ismail.
“Follower @ridwankamil yang sangat besar ini kebanyakan meretweet pesan RK. Ini yang menjelaskan kenapa jumlah audiens RK lebih tinggi dari Ganjar, tetapi percakapan tentang RK lebih sedikit. Karena retweet ini sifatnya pasif. Menunggu cuitan dari RK. Mereka tidak aktif promosi,” kata Ismail.
Sementara itu, untuk SNA Ganjar, Ismail menyebut Ganjar masif dukungan, dan minim kontra.
“SNA @ganjarpranowo memperlihatkan satu cluster besar berwarna hijau (positif). Top influencernya adalah akun Ganjar sendiri. Juga ada banyak akun yang sangat aktif bicarakan Ganjar secara positif. Cluster kontra hampir tidak ada,” ucap Ismail.
Ismail lalu menyimpulkan bagaimana variabel popularitas dan disukai terbentuk. Hal itu bisa dilihat dari peta SNA yang dijelaskan.
“Popularitas: @aniesbaswedan dari pendukung dan lawan, @ridwankamil dari follower, @ganjarpranowo, dari follower dan pendukung,” ucap Ismail.
“Favorabilitas: Anies jatuh karena lawan, RK & Ganjar tak ada halangan,” ujarnya.
Pengamat media sosial dari Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyatakan kasus serangan negatif terhadap Bintang Emon menjadi viral setelah direspons oleh tiga akun.
Tiga akun itu adalah @ramydhia yang membuat utas soal kasus ini dan lantas dipopulerkan oleh akun influencer Pandji Pragiwaksono (@pandji) dan Arie Kriting (@Arie_Kriting).
Cuitan yang memention Bintang Emon (@bintangemon) sendiri muncul sejak Minggu (14/6). Namun, sepanjang hari percakapan tentang Bintang Emon masih rendah. Percakapan baru naik pesat keesokan hari setelah @ramydhia membuat utas pada Senin (15/6) dini hari pukul 04:25
Tren makin naik setelah Pandji mencuitkan cerita soal fitnah narkoba kepada Bintang pada pukul 07:21 WIB. Grafik pembicaraan terus naik setelah Arie mencuitkan topik serupa pada pukul 07:38 WIB.
Dalam utas analisis Selasa (16/8), Ismail sempat menyebut kalau meme yang paling banyak direspons netizen adalah gambar yang dibagikan akun Udztad Hilmi (@Hilmi28).
Namun, menurutnya banyak warganet yang salah memahami cuitannya ini. Hal ini diungkap Ismail setelah Udztad Hilmi mempertanyakan analisis Ismail.
Ia heran mengapa akun miliknya yang dijadikan akun yang paling banyak dibagikan (1st Top most shared). Beberapa netizen pun memprotes lantaran angka retweet Panji lebih tinggi ketimbang sang Udztad.
Ismail pun menjelaskan hitungan Drone Emprit untuk akun yang paling banyak dibagikan merupakan hasil perhutungan dari total retweet, termasuk retweet of retweet of retweet dst. Sementara retweet yang ditampilkan di Twitter adalah retweet langsung.
Ismail pun lantas memperbarui data analisis gambar yang paling Drone Emprit pada Selasa malam.
“Ini update top most shared Images hingga hari ini. Akun @pandji nomor 1, lalu @Hilmi28 nomor 2,” kicau Ismail lewat Twitter, Rabu (17/6).
Saya perhatikan banyak netizen yg salah memahami atau mungkin memframing data ini untuk menyerang pak @Hilmi28.
Padahal data timeline sudah jelas bukan yg pertama. Makna 1st Top most shared ini artinya yg total retweet of retweet dst.. yang paling tinggi. https://t.co/JcX7nS2OKO
Lebih lanjut, Ismail menyampaikan akun yang paling banyak mendapat perhatian dari warhanet usai memposting meme fitnah terhadap Bintang Emon hingga 16 Juni 2020 adalah akun @pandji dengan 34.335 retweet. Kemudian diikuto oleh @Hilmi28 dengan 24.818 retweet, @TretanMuslim dengan 6.594 retweet, dan @fermendkis dengan 2.850 retweet.
Sebelumnya, Ismail menyampaikan fitnah terhadap Bintang Emon dilakukan oleh tiga akun. Dia mengatakan ketiga akun itu mengunggah meme fitnah yang sama persis.
“Siapa yang pertama kali menyebarkan meme fitnah tersebut? Kita cari di “raw data” Drone Emprit, tanggal 14 Juni. Search dengan keyword “sabu” dan “narkoba” menghasilkan 3 akun yang membuat postingan yg sama persis, pada menit yang sama pula,” kata Ismail lewat Twitter.
Ismail membeberkan ketiga akun iyu adalah @LintangHanita, @Tiara616xxx, dan @LiarAngsa. Ketika diekplorasi, dia menyebut ketiga akun itu menampilkan 5 postingan yang sama persis dan jam yang sama, antara 22.45 hingga 22.49 WIB.
Ismail menyampaikan ketiga akun tersebut sudah dalam status suspended. Sehingga, dia mengaku pihaknya tidak bisa menelusuri hstori dan afiliasi dari ketiga akun tersebut.
Social media users, known in Indonesia as “buzzers”, have steered discourse in Indonesia following customer complaints against state-owned electricity firm PLN for a significant spike in electricity bills in June resulting from a new billing method and increased at-home work. The response has raised questions about whether it was organic or an artificially mustered campaign.
Buzzers have been known to weigh in on political matters, but their involvement in public service disputes is new. At one point, they even launched a negative campaign against a customer who had complained.
The hashtag #TagihanPLNOkSaja (PLN billing is fine) was one of the most popular hashtags on Twitter on Tuesday and Wednesday to counter complaints from customers who said their bills were higher than usual.
One of the customers was famous singer Tompi, who is also a plastic surgeon, a social media influencer with 1.1 million followers and a supporter of President Joko “Jokowi” Widodo. On his account @dr_tompi he said his electricity bill had increased significantly and that PLN had not notified him about the change.
TAGIHAN PLN MENGGILA! Ini dr PLN kagak ada konfirmasi2 main sikat aja— dr tompi spBP (@dr_tompi) June 10, 2020
The tweet had more than 6,000 likes and 2,900 retweets as of Friday afternoon. Others said they had the same experience with PLN.
But later, Tompi was on the receiving end of criticism. Some people accused him of changing into a “kampret”, a term used by Jokowi supporters to insult those who supported Jokowi’s opponent during the 2014 and 2019 presidential elections, current Defense Minister Prabowo Subianto. Some Twitter users accused Tompi of complaining about PLN because he had not received a position in Jokowi’s administration.
Big data consulting company Drone Emprit founder Ismail Fahmi said on Wednesday that users who promoted #TagihanPLNOkSaja were mostly accounts with less than 10 followers, meaning they were new accounts or perhaps bots. The hashtag reached its peak on the morning of June 9, when the messages tended to anticipate complaints about electricity bills. Some posts that contained the hashtag, for example, explained how to calculate an electricity bill.
However, by the afternoon, the tone turned into “anger” because the hashtag was being used by customers upset about their bills, Ismail said. The customers later created a counter-hashtag, which added an expletive to the phrase “PLN billing is fine”. The combative tone continued to the next day.
The top tweet for the hashtag, he said, was from a customer who used the hashtag ironically and showed a Rp 20 million electricity bill and a previous bill of Rp 2.5 million.
“Have companies changed their way of communicating with the public or clients in this social media era? Should a state-owned company communicate with their clients using memes and ‘buzzers’ without showing sympathy?” Ismail said.
PLN has acknowledged the customers’ reports. The spike in electricity bills has been attributed to PLN’s new billing method, where it calculates monthly residential power bills based on consumption during the previous three months. Higher-than-usual consumption in April and May was billed in June.
Last week, PLN promised to relax billing for some disgruntled customers.
In June, 4.3 million post-paid residential customers saw bills 20 percent higher than in the previous month, PLN data showed.
PLN vice president of public relations Arsyadani Ghana Akmalaputri denied that the company had engaged buzzers to drown out customer complaints.
“PLN didn’t use buzzers. That is the information that we can convey,” she told The Jakarta Post on Friday.
JAKARTA, KOMPAS.com – Pembicaraan warganet di media sosial mengenai kenaikan iuran BPJS Kesehatan di tengah pandemi Covid-19 didominasi sentimen negatif.
Hal itu berdasarkan hasil analisis big data yang dilakukan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial ( LP3ES) serta Drone Emprit.
“Total dari 5 Mei hingga 25 Mei (periode ketiga analisa), hampir separuh warganet (48 persen) memiliki sentimen negatif pada kenaikan ini. Lebih besar dari mereka yang memiliki sentimen positif (46 persen),” kata Direktur Center for Media and Democracy LP3ES Wijayanto melalui keterangan tertulis, Senin (1/6/2020).
Analisis big data yang dilakukan untuk mendalami reaksi publik itu dilakukan menggunakan software Astramaya yang dikembangkan Drone Emprit.
Terdapat tiga periode yang dianalisis yaitu, sejak Perpres ditandatangani Presiden Joko Widodo (5 Mei-13 Mei 2020), periode kedua (14 Mei-25 Mei 2020), dan tiga minggu setelah Perpres terbit (5 Mei-25 Mei 2020).
Selama tiga minggu sejak Perpres diteken Jokowi, LP3ES dan Drone Emprit mencatat terdapat 115.599 percakapan di media sosial. Sebanyak 101.745 percakapan di antaranya terjadi di Twitter.
Hasil analisis, kata Wijayanto, menunjukkan adanya dinamika sentimen dari warganet terkait topik tersebut. Pada periode pertama, sentimen positif warganet sebesar 54 persen, sementara sentimen negatif 42 persen.
Sentimen negatif kemudian meningkat menjadi 50 persen pada periode kedua. Di sisi lain, sentimen positif menurun menjadi 44 persen.
Menurut Wijayanto, peningkatan sentimen negatif tersebut dipengaruhi oleh pemberitaan media daring.
“Media arus utama secara umum memiliki sentimen negatif pada kenaikan ini. Salah satu cuitan yang paling banyak diretweet adalah justru dari akun media daring yang berjudul: ‘Iuran BPJS Naik Lagi, Masyarakat KenaPrank Jokowi’,” tuturnya.
Wijayanto menuturkan, kebijakan tersebut menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah.
Hal itu terlihat dari sisi emosi yang menonjol dari percakapan warganet, yaitu ketidakpercayaan. Ia mengatakan, terdapat 5.800 unggahan terkait ketidakpercayaan tersebut.
“Kebijakan ini justru menerbitkan distrust yang semakin tinggi kepada pemerintah, setelah distrust terkait penanganan corona,” ucap dia.
Topik mengenai kenaikan iuran BPJS tersebut mendapat perhatian hingga satu bulan lamanya. Menurut Wijayanto, hal itu dikarenakan isu jaminan kesehatan dinilai penting bagi publik.
Padahal, sebuah isu rata-rata dibicarakan selama satu minggu atau hanya beberapa hari.
Ia berpandangan, hal itu menunjukkan penguatan kesadaran publik terhadap hak-hak mereka sehingga dinilai baik bagi proses demokrasi.
Peserta BPJS Kesehatan tengah mengurus kelengkapan administrasi di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Pasar Minggu, Jakarta, Kamis, 14 Mei 2020. Presiden Joko Widodo alias Jokowi kembali mengumumkan Perpres kenaikan tarif BPJS Kesehatan. Tempo/Tony Hartawan
TEMPO.CO, Jakarta – Center for Media and Democracy Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan, Ekonomi, dan Sosial (LP3ES) bersama Drone Emprit merilis analisis big datanya untuk melihat reaksi publik terhadap kebijakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan. Riset itu sebelumnya ditelisik melalui semua platform media sosial, mulai YouTube, Twitter, Facebook, hingga Instagram.
Seperti keterangan yang diterima Tempo pada 1 Juni 2020, sigi tersebut dibagi atas tiga periode. Periode pertama dilakukan 5-13 Mei atau sejak Perpres Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan ditandatangani sampai 8 hari sesudahnya.
Lalu periode kedua pada 14-25 Mei. Selanjutnya periode ketiga pada 5-25 Mei atau sejak Perpres terbit sampai sekitar tiga pekan sesudahnya.
Menurut sigi tersebut, LP3S dan Drone Emprit menemukan terjadinya lonjakan sentimen negatif pada periode kedua analisis, yakni sebesar 50 persen. Angka itu lebih besar dari sentimen positif yang hanya 44 persen.
Salah satu sentimen negatif terlihat dari fenomena cuitan yang paling banyak di-retweet warganet ialah yang bertajuk “kena prank Jokowi”. Cuitan tersebut muasalnya dari tulisan di akun media daring yang berjudul “Iuran BPJS Naik Lagi, Masyarakat KenaPrank Jokowi”.
“Dalam hal ini tampak bahwa pemberitaan media daring yang menjadikan topik ini sebagai headline ikut membawa pengaruh pada lonjakan sentimen negatif,” tutur Direktur Center for Media and Democracy LP3ES Wijayanto.
Sedangkan dari sisi emosi, sigi itu memperlihatkan adanya ketidakpercayaan publik atau distrust yang jumlahnya mencapai 5.800 unggahan. Hal ini sejalan dengan ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah terkait penangangan corona.
Kemudian, dari sisi narasi, muncul beberapa pertanyaan utama publik. Pertanyaan itu berkisar pada persoalan inkonsistensi yang terjadi karena sebelumnya Mahkamah Agung membatalkan kenaikan iuran, waktu atau timing kenaikan tarif yang bersamaan dengan pandemi, serta kekecewaan publik terhadap kebijakan Jokowi.
Adapun dari sisi lain, tagar yang paling banyak digunakan adalah yang bersentimen menyerang. Misalnya “Istana Mesin Kapitalis”, “Membebani Rakyat”, “Merakyat Tapi Boong”, “Rezim Paranoid”, dan “Jokowinomics”.
Selanjutnya, LP3S dan Drone Emprit juga menemukan aktor yang terlibat dalam percakapan ini cukup beragam, mulai kubu oposisi, masyarakat sipil, hingga kubu pro pemerintah. Beberapa di antaranya yang paling berpengaruh dan mendapat retweet terbanyak adalah akun @tengkudzul, @dandhywilaksono, @tsembiring, @aminrais, @prastowo, @teddygusnaidi. Seluruh akun itu merupakan akun organik.
Secara keseluruhan, total percakapan terkait kenaikan BPJS Kesehatan mencapai 115.599. Dari seluruh percakapan itu, volume paling besar ditemukan di Twitter, yakni sebesar 101.745 percakapan.
Dalam analisisnya, LP3ES menggunakan software Astramaya yang dikembangkan oleh Drone Emprit. Metode iniberfungsi untuk melakukan analisa big data yang muncul dari percakapan di berbagai media sosial dan media daring.
Jakarta, CNN Indonesia — Percakapan tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) beberapa hari belakangan semakin banyak dibicarakan. Muncul pertanyaan, mengapa pembahasan organisasi yang sudah ditetapkan terlarang di Indonesia itu muncul pada bulan Mei.
Lazimnya, perbincangan partai yang dihabisi selama rezim Orde Baru Soeharto itu biasanya meningkat saat adanya peringatan gerakan pengkhianatan PKI di akhir bulan September 1965 atau yang dikenal dengan G30S/PKI.
Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menganalisis bagaimana narasi PKI diramaikan di bulan Mei dan siapa saja yang meramaikannya di media sosial. Menurut Fahmi percakapan soal PKI naik signifikan pada 23 Mei 2020 dengan total 32 ribu cuitan.
“Isi ini naik siginifikan di media sosial pada 23 Mei, di media online tidak,” kata Fahmi lewat akun @ismailfahmi, Selasa (26/5).
Sejak 22 hingga 25 Mei, ada dua cluster tentang PKI yang sangat besar ukurannya. Beberapa di antaranya adalah akun top influencer seperti milik putra Presiden ke-2 RI Tommy Soeharto di akun @tommy_soeharto, pendakwah Haikal Hassan di akun @haikal_hassan, Wakil Sekjen MUI Tengku Zulkarnain di @ustadtengkuzul, politikus Gerindra Fadli Zon di akun @fadlizon dan akun @lutfimuhammad008 serta @plato_ids.
Sementara cluster kecil dicuitkan oleh akun @_digeeembok, @eko_kuntadhi, dan @ferdinandHaean2.
“Di antara kedua cluster itu, ada akun-akun tengah, yaitu @Dandhy_Laksono, @sejarahRI, dan @historia_id,” cuit Fahmi.
Fahmi kemudian mengungkapkan ada top 5 narasi yang dimainkan top influencer terkait bahaya PKI yang paling banyak di-retweet.
Beberapa narasi tersebut adalah PKI menyerbu Gontor, bocoran Wikileaks agar China tak bisa meremehkan warga RI terkait isu PKI, dan isu jurnalis Dandhy Laksono adalah anak PKI asal Lumajang yang ditugaskan merekrut kader muda komunis di Indonesia.
Dari beberapa top narasi yang dimainkan, Fahmi menyimpulkan isu PKI bisa meningkat pada bulan Mei karena ada narasi bahwa 23 Mei 2020 adalah 100 tahun hari jadi PKI, dan peringatan akan ada rapat akbar anak PKI di Menteng, Jakarta untuk membahas ulang tahun PKI lengkap dengan lagu gengjer-genjer khas PKI.
Narasi tersebut kemudian memunculkan pihak yang kontra yang muncul di cluster kecil. Salah satu yang cukup banyak di-retweet adalah narasi yang dimainkan @_digemeembok bahwa masalah kebangkitan PKI adalah permainan yang dipoles oleh keluarga Suharto alias Cendana.
Adapun narasi tengah, salah satunya dimainkan oleh majalah sejarah online historia yang menuliskan sejarah tumbuh dan runtuhnya PKI, dimana 23 Mei 2020 adalah satu abad kemunculannya.
Fahmi mengakui bahwa pemberitaan di media online tentang hari kebangkitan PKI tidak banyak muncul. Beberapa artikel soal PKI ramai dibahas di blog. Sementara sisnya, topik PKI di media online lebih banyak membahas soal hoaks surat Majelis Ulama Indonesia yang anti terhadap rapid test corona dan modus PKI.
“Memang kita perlu waspada terhadap paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila dan khususnya agama. Namun kita juga harus cerdas dan teliti dalam menerima setiap informasi, agar keyakinan kita tidak membuat kita jadi buta,” kata Fahmi.
P.K.I
Percakapan tentang PKI beberapa hari ini naik lumayan tinggi. Banyak yang bertanya, kenapa Mei, kan biasanya September/Oktober. Apa narasinya, siapa yang meramaikannya?