Heboh dr Lois, Siapa Saja Kelompok Pro-COVID Deniers di Medsos?

Jakarta – 

Kemunculan seorang dokter bernama Lois Owien bikin heboh jagat media sosial hingga akhirnya dia ditangkap dan terjerat kasus hoax. Narasi dr Lois sebagai ‘COVID deniers‘ ternyata masih meraup banyak dukungan di medsos. Sebenarnya siapa saja pendukung dr Lois dan bagaimana peta keriuhannya di media sosial?

Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, melakukan analisis peta pendukung ‘COVID deniers‘ dengan studi kasus dr Lois. Analisis ini dilakukan dengan melihat peta percakapan pada 5-11 Juli 2021.

Cuitan dr Lois ada yang masih terbuka, ada yang sudah dihapus. Ismail Fahmi merangkum sederet klaim dr Lois antara lain:
– kematian karena keracunan obat, bukan virus
– vaksin menurunkan imunitas
– vaksin adalah logam berat dan racun
– saya adalah ‘suara kebenaran’
– saya anti-hoax, paling ilmiah sedunia
– semua penganjur vaksin = penjahat perang, pengkhianat bangsa

“Dalam periode 5-11 Juli, tren percakapan naik pesat tgl 11 Juli. Ini dipicu oleh munculnya Lois di acara Hotman Paris dan Podcast seorang netizen pendukung,” kata Ismail Fahmi lewat penjelasannya di Twitter seperti dikutip pada Rabu (14/7/2021).

Peta percakapan tentang akun dr Lois pada 5-11 Juli 2021 menampilkan dua klaster besar yaitu pro Lois dengan akun sentral @LsOwien dan kontra Lois dengan akun sentral @tirta_hudhi.

Akun Apa Saja yang Pro dan Kontra-dr Lois?

Ismail Fahmi menyebut beberapa akun Twitter yang terang-terangan pro-dr Lois, yaitu @AldoBabeh, @mysubuh, @N4t0, @Cobeh09, @mtaufikmJKT48, @Hitamputih2010. Salah satu akun pendukung yang paling aktif adalah @AldoBabeh. Tak hanya memberi dukungan, mereka juga membuat podcast bersama.

“Profile beberapa akun top pendukung Lois memiliki karakteristik yang mirip. Dan dalam cluster sebelumnya tampak mereka saling berjejaring,” kata Ismail Fahmi.

Di sisi lain, banyak pula yang terus memberikan narasi kontra terhadap dr Lois. Salah satunya adalah dr Tirta, yang juga menyampaikan langkah IDI dan MKEK.

Dampak Podcast dan Acara TV yang Tampilkan dr Lois

Keriuhan soal dr Lois tak hanya menyebar di Twitter atau YouTube, tapi juga masuk ke grup-grup WA. Video yang menyebar merupakan potongan podcast dan acara TV yang menampilkan dr Lois.

“Acara TV dengan Hotman Paris serta Podcast dengan @AldoBabeh ternyata cukup besar pengaruhnya di kalangan orang-orang yang cenderung menolak vaksin, obat, dan covid19. Potongan videonya menyebar di medsos dan group-group WA,” paparnya.

Posisi Para Pendukung dr Lois

Ismail Fahmi menggabungkan peta social network analysis (SNA) tentang dr Lois dan peta SNA ‘vaksin COVID’ yang lebih luas. Pada pendukung membentuk cluster sendiri yang terdiri atas netizen dengan berbagai latar belakang, seperti oposisi, nakes, aktivis politik, media, netizen umum, dan akun-akun propemerintah.

“Sebagian pendukung @LsOwien ini dekat dengan kalangan Oposisi. Tapi tak semua oposisi setuju dengan Lois, dan tak semua pendukung Lois itu oposisi. Oposisi banyak yang satu cluster dengan nakes, media, dan aktivis politik terkait vaksin covid. Banyak beri kritikan ke pemerintah,” ungkap Ismail Fahmi.

“Dari narasi konspiratif yang banyak disampaikan @LsOwien di awal analisis ini, para pendukungnya kebanyakan dari mereka yang percaya teori konspirasi. Tidak semua dari oposisi dalam percakapan ini yg percaya teori konspirasi. Kalau kebetulan percaya, mereka manfaatkan @LsOwien untuk menyerang pemerintah juga, misal dengan menambahkan tagar #PakPresidenKapanMundur,” sambungnya.


Irisan Pendukung COVID Deniers

Dari analisis tersebut, Ismail Fahmi merangkum siapa saja pendukung seorang influencer COVID deniers. Bisa saja mereka merupakan irisan dari kalangan pro-teori konspirasi, antivaksin, dan pengkritik pemerintah (oposisi). Kesamaan frekuensi di antara kalangan-kalangan itu membuat narasi COVID deniers juga cepat menyebar.

“Kesamaan frekuensi ini pula yang bisa membuat orang-orang menyebarkan pesan-pesan yang tidak 100% beririsan dengan narasi mereka, ke dalam group-group WA mereka. Biasanya sudah dicampur (collapse) dengan narasi lain yang berbeda konteks agar makin sefrekuensi,” kata Ismail Fahmi.

Dari sederet analisis itu, Ismail Fahmi menarik kesimpulan soal bahwa pendukung COVID deniers yang merupakan irisan dari kelompok antivaksin, pro teori konspirasi, dan oposisi. Dia juga memaparkan dampak negatifnya.

“Dampak negatif dari influencer covid deniers seperti ini adalah, akan selalu ada kelompok orang yang memanfaatkan narasi, grafis, dan videonya, yang di-“context collapse”-kan dengan narasi lain yang cocok dengan narasi kelompoknya, dan disebar ke group-group WA,” jelasnya.

“Penyebaran di group WA ini sangat cepat viralnya dan tidak bisa dimonitor, khususnya dalam jejaring tiga kelompok tersebut. Dan ini mudah mempengaruhi pengguna, khususnya dari kalangan yang tidak bisa melakukan verifikasi (seperti orang tua, post truth believers),” sambung Ismail Fahmi.

Link: https://news.detik.com/berita/d-5642786/heboh-dr-lois-siapa-saja-kelompok-pro-covid-deniers-di-medsos/2

Leon BEM UI Disebut Intelijen Penguasa Agung Sejagat

POJOKSATU.id, JAKARTA – Banyaknya tuduhan terhadap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Leon Alvinda Putra mendapat tanggapan dari pakar media sosial, Ismail Fahmi.

Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia ini meretwit cuitan dosen Universitas Monash Australia yang juga kiai NU, Nadirsyah Hosen.

Dalam cuitannya, Nadirsyah Hosen terheran-heran dengan banyaknya tuduhan buzzer kepada Leon BEM UI.

“Lha kemarin katanya Leon BEM UI itu HMI yang dikuasai PKS. Ada lagi yang bilang dia terhubung dengan Partai Demokrat karena ketemu Bu Ani di Istana. Terus katanya dia pendukung FPI. Sekarang Bang El bilang dia PKB. Yang bener yang mana sih? Pusing pala barbie neeh,” kata Nadirsyah Hosen melalui akun Twitter @na_dirs.

BACA: Sentil Kasus BEM UI, Melanie Subono : Di Negara Kita, Cuma Boleh Muji

Ismail Fahmi menanggapi cuitan Nadirsyah Hosen melalui akun Twitter pribadinya, @ismailfahmi pada Kamis (1/7).

Ismail Fahmi berkelakar bahwa Leon BEM UI adalah anggota intelijen Penguasa Agung Sejagat.

“Fix, Leon anggota intelijen Penguasa Agung Sejagat yang bisa masuk ke istana mempengaruhi sebuah negara sejak usia 13 tahun,” canda Ismail Fahmi.

Diketahui, Leon BEM UI pernah bertemu dengan Ibu Ani Yudhoyono di Istana Negara pada Juni 2013. Saat itu, Leon baru berusia 13 tahun.

Gara-gara pertemuan itu, Leon BEM UI dijuluki ‘Asuhan Ciekas’. Bahkan ada yang menyebut Leon merupakan kader Partai Demokrat.

Leon menjelaskan dia diundang ke Istana Negara saat masih kelas 2 SMP.

Leon memang mendapat kesempatan ke Istana karena menang lomba karya tulis tingkat nasional.

“Tahun 2013, saya masih kelas 2 SMP di SMPN 1 Grogol Sukoharjo. Alhamdulillah menang juara 3 di bidang karya tulis dalam lomba penyuluhan sanitasi yang diadakan Satker PPLP Jawa Tengah,” ujar Leon.

Saat itu, Leon mengikuti jambore sanitasi nasional di Jakarta yang juga dikukuhkan oleh Ani Yudhoyono di Istana.

“Saya pun mengikuti jambore sanitasi nasional di Jakarta dan dikukuhkan oleh ibu Ani di Istana Negara,” kata Leon.

Leon Klarifikasi Pro FPI

Leon BEM UI juga mengklarifikasi tuduhan para buzzer yang menyebutnya pro terhadap FPI.

Tuduhan itu muncul setelah BEM UI mengkritik kebijakan pemerintah membubarkan ormas FPI tanpa melalui pengadilan.

Menurut Leon, sikap BEM UI terkait pembubaran FPI dikeluarkan pada tanggal 3 Januari 2021 yaitu pada ujung kepengurusan BEM UI 2020.

Saat itu, Leon sudah terpilih sebagai ketua BEM UI 2021, tetapi dia belum dilantik.

Leon mengaku sudah non aktif dari BEM UI 2020 mulai tanggal 2 Desember 2020 karena mengikuti proses Pemilu Ketua BEM UI 2021 dan tidak terlibat dalam perumusan sikap pembubaran FPI itu.

Leon BEM UI menjadi perbicangan ramai setelah BEM UI membuat meme Jokowi dan menjulukinya sebagai The King of Lip Service alias raja pembual. BEM UI meminta Jokowi stop membual karena rakyat sudah mual. (one/pojoksatu)

Link: https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2021/07/01/leon-bem-ui-disebut-intelijen-penguasa-agung-sejagat/

Cerita Dokter Lihat Pasien Corona Usia Produktif Menanti Ajal di RS

Jakarta – 

Seorang dokter bercerita tentang pasien Corona usia produktif yang masuk dalam daftar tunggu ‘antrean kematian’. Kondisi ini terjadi karena mereka belum mendapat ruang ICU.

Cerita ‘Berapa lama lagi saya bisa hidup, Dok?’ ini diungkap oleh dokter bernama Agnes Tri Harjaningrum melalui status Facebook-nya. Cerita tersebut kembali dibagikan oleh pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, lewat akun Twitternya. detikcom telah mendapat izin untuk mengutip cerita tersebut.

Baca juga:Pemprov DKI Bantah Tak Libatkan Ormas Islam dalam Penanganan COVID-19

Mulanya, Agnes bercerita soal kondisi sebuah RSUD di Jakarta yang penuh. Akibat kondisi ini, sejawat dia yang dokter jaga mendapat pertanyaan dari para pasien soal berapa lama lagi mereka bisa bertahan hidup.

Dia mengatakan sejumlah pasien dalam daftar tunggu sudah menandatangani do not resuscitate (DNR). DNR merupakan keputusan tidak melanjutkan tindakan pertolongan (CPR/cardiopulmonary resuscitation) setelah 30 menit tidak menunjukkan ada return of spontaneous circulation (ROSC). Pasien-pasien dengan DNR termasuk dalam kategori sebagai pasien menjelang ajal.

Mereka hanya bisa diberi obat-obatan sederhana, infus, dan oksigen. Sehingga, jika kondisinya memburuk, mereka tidak akan mendapat tindakan apa-apa lagi. Ironisnya, para pasien dalam daftar antrean ini rata-rata berada di rentang usia antara 30-50 tahun.

“Mereka benar-benar seperti menunggu antrian kematian kan jadinya hiks. Dan sedihnya pasien-pasien yang antri itu bukan yang sudah sepuh-sepuh, tapi usia 30 sampai 50-an. Usia produktif, meskipun ada juga yang beneran sepuh memang. Kadang ada yang DOA (death on arrival), ada juga yang meninggal di perjalanan,” tulisnya.

Dia menuturkan bahwa angka kematian di RSUD tersebut tinggi. Hampir setiap hari ada pasien yang meninggal dunia.

“Angka kematian di RS ini pasti tinggi, karena hampir setiap hari ada pasien meninggal. Hari ini dua, kemarin satu. Padahal sebulan lalu seminggu juga belum tentu satu. Bagian peralatan sudah menyiapkan peti mati lebih banyak karena kebutuhan meningkat,” katanya.

BOR DKI Jakarta

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan data bed occupancy rate (BOR) isolasi pasien Corona di rumah sakit di Jakarta sudah menyentuh angka 93 persen. Sementara itu, keterisian ruang ICU saat ini mencapai 87 persen.

“Okupansi memang tempat tidur sudah mencapai 93 persen, ruang ICU 87 persen,” kata Riza setelah meninjau posko terpadu PPKM mikro di Kelurahan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (28/6/2021).

Baca juga:Stok Oksigen di Pasar Pramuka Sudah Tiga Hari Kosong

Riza menerangkan pihaknya terus menambah tempat tidur dan ruang ICU di beberapa rumah sakit. Selain itu, Pemprov DKI akan menambah beberapa tenaga kesehatan dan laboratorium.

“Namun kami terus meningkatkan dan mengupayakan peningkatan penambahan tempat tidur dan ruang ICU, penambahan tenaga kesehatan, laboratorium, dan berbagai fasilitas dukungan,” ungkapnya.

Lebih lanjut politikus Gerindra ini menyebut penambahan kasus Corona di DKI yang terus mencetak rekor terjadi karena jumlah testing di DKI yang tinggi. Kata Riza, jumlah testing di DKI mencapai 135.940 atau setara 14 kali lipat dari standar WHO.

“Sekalipun memang di Jakarta dalam dua hari terakhir ini mencapai rekor sampai 9.000, perlu diketahui itu juga disebabkan karena memang tes PCR di Jakarta, 3T kami tracing, testing, dan treatment kami tinggi ya, testing kami mencapai 135.940 itu. Artinya, hampir 14 kali dari standar WHO, memang itulah cara yang dilakukan ini kami Pemprov untuk segera menyelesaikan dengan cara meningkatkan 3T, tugas masyarakat mari kita tingkatkan 3M,” ungkapnya.

Link: https://news.detik.com/berita/d-5624150/cerita-dokter-lihat-pasien-corona-usia-produktif-menanti-ajal-di-rs

Melangkah di Tengah Labirin Informasi

Bak air bah, banjir informasi menghampiri semua orang, baik pembuat kebijakan maupun masyarakat. Di tengah kondisi itu, kemampuan memilah informasi dan memanfaatkannya secara jernih menjadi tantangan.

Dalam sejarah umat manusia, saat ini mungkin adalah era ketika informasi paling mudah didapatkan. Perkembangan teknologi membuat berbagai informasi berseliweran dengan cepat, dalam hitungan detik.

Di satu sisi, hal ini patut disyukuri karena banyak hal dapat diketahui dengan mudah. Demokratisasi informasi terjadi di mana-mana. Namun, pada saat yang sama, kondisi ini juga sering membuat bingung, bahkan dapat memicu konflik sosial. Pasalnya, informasi yang beredar sering tak sesuai kenyataan atau dimaksudkan untuk niat tertentu yang tak baik.

Menteri Sosial Tri Rismaharini menceritakan, suatu ketika Kementerian Sosial (Kemensos) pernah mendapat informasi melalui aplikasi percakapan tentang seorang nenek yang hidup telantar. Sebagai kementerian yang mengurusi masalah sosial, informasi itu ditindaklanjuti.

Akan tetapi, saat tim dari Kemensos mendatangi lokasi, ternyata nenek itu sudah meninggal dua tahun silam. ”Saya tetap harus mendapatkan bukti dengan mencari akta kematiannya,” kata Risma di Jakarta, Jumat (25/6/2021).

Karakter informasi dari media sosial (medsos) dan aplikasi pesan yang tak selalu akurat membuat Risma tidak menggunakannya sebagai basis informasi utama untuk membuat kebijakan yang besar.

Risma menegaskan, tidak semua informasi dari aplikasi percakapan itu hoaks. Ada juga yang berupa fakta.

Namun, karakter informasi dari media sosial (medsos) dan aplikasi pesan yang tak selalu akurat membuat Risma tidak menggunakannya sebagai basis informasi utama untuk membuat kebijakan yang besar.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Menteri Sosial Tri Rismaharini menemui komunitas Orang Rimba di wilayah Bukit Duabelas, Kabupaten Batanghari. Jambi, Rabu (10/3/2021). Selain membari sejumlah bantuan ekonomi dan sosial, Risma menawarkan bantuan lahan kelola untuk pangan serta layanan internet untuk mendukung pendidikan bagi anak-anak rimba.

Dalam membuat kebijakan pembenahan data terpadu penerima bantuan sosial, misalnya, Risma menggunakan acuan data laporan Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, serta Komisi Pemberantasan Korupsi. Sumber informasi lain yang digunakan adalah media arus utama. ”Dari awal, sumber informasinya sudah valid karena temuan lapangan lembaga tepercaya,” ujarnya.

Baca juga: Harapan Sekaligus Tantangan Media Tepercaya

Menghadapi informasi yang simpang siur belakangan ini juga dirasakan Yustinus Prastowo, Staf Ahli Menteri Keuangan Sri Mulyani. Hampir setiap hari ia meluruskan informasi yang beredar melalui akun media sosialnya terkait kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang diatur dalam RUU Ketentuan Umum Perpajakan.

Baca juga: Kontroversi ”Pajak Sembako”

”Ada informasi yang mengatakan kementerian memajaki sembako atau nanti orang melahirkan akan kena pajak. Informasi itu tidak benar karena konteksnya tidak seperti itu sehingga kami memang harus menjelaskan kepada publik duduk masalahnya,” ucapnya.

Ia berharap, perbincangan terkait isu itu tidak kehilangan konteksnya dan perlu memahami semangat utuh dari penyusunan kebijakan.

Yustinus Prastowo

Banjir informasi juga membuat publik kebingungan dan bahkan memicu keresahan. Hal ini, antara lain, terlihat saat lonjakan kasus Covid-19 di Bangkalan, Jawa Timur. Seiring dengan lonjakan kasus itu, di medsos beredar informasi, antara lain, Covid-19 adalah konspirasi dan ketika menerima vaksin justru akan muncul gejala penyakit itu.https://ads.kompas.id/www/delivery/afr.php?zoneid=758&cb=EQ9JnPQVrXUoiE1l

Baca juga: Pasukan Siber Mengepung Dunia, Turut Mengancam Indonesia

Pada tahun 2019, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara memutuskan memblokir akses internet di Papua sebagai upaya pengendalian informasi yang beredar agar tidak memperkeruh suasana yang saat itu sedang panas. Namun, tindakan itu dipandang melanggar kebebasan informasi sehingga digugat kalangan masyarakat sipil ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Pada 2020, PTUN menilai pemerintah melanggar hukum dengan kebijakan itu.

Baca juga: PTUN Nyatakan Pemerintah Melanggar Hukum Blokir Akses Internet di Papua

Literasi

Terkait banjir informasi, Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam wawancara khusus dengan Kompas mengatakan, diperlukan edukasi terus-menerus kepada masyarakat dalam mengonsumsi informasi yang beredar.

”Itulah kita harus mengedukasi masyarakat supaya masyarakat cerdas dan tidak menerima semua informasi yang diperoleh. Sebab, ada informasi positif, ada informasi negatif, ada fitnah, ada juga kabar bohong. Kita harus mengedukasi masyarakat untuk tidak menerima saja,” tuturnya.BPMI – SETWAPRES

Banjir informasi, menurut Menkominfo Johnny G Plate, adalah wajar sepanjang tak membingungkan, memecah belah, dan membuat kekalutan masyarakat. Kemenkominfo saat ini melakukan patroli siber 24 jam nonstop yang dilengkapi crawling machine guna menangkal kabar bohong.

Kita harus mengedukasi masyarakat supaya masyarakat cerdas dan tidak menerima semua informasi yang diperoleh. Sebab, ada informasi positif, ada informasi negatif, ada fitnah, ada juga kabar bohong. Kita harus mengedukasi masyarakat untuk tidak menerima saja.

Saring medsos

Kreator Drone Emprit, Ismail Fahmi, mengatakan, tidak semua hal yang ada di medsos mewakili ekspresi publik. Medsos lebih menyerupai survei real time yang boleh jadi menunjukkan kecenderungan tertentu, tetapi bukan kebenaran. Jika ingin mencermati medsos, harus dilakukan analisis detail.

Baca juga: Ancaman Bernama Disinformasi

”Harus ada stakeholder mapping, misalnya, soal PPN. Muhammadiyah telah menyampaikan ketidaksetujuan. Lalu bagaimana pihak lainnya? Ini untuk mengetahui betul apakah suara publik itu. Sebab, ada juga bot atau mesin di medsos,” ujar Ismail.

Keberadaan tokoh sentral yang berwenang dan mendiseminasi informasi yang benar tentang sesuatu hal, lanjut Ismail, diyakini lebih efektif untuk mengatasi disinformasi ataupun misinformasi.KOMPAS/FAJAR RAMADHAN

Agus Sudibyo

Melihat fenomena banjir informasi, anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo, mengatakan, hal itu positif sebagai bagian dari demokratisasi informasi. Kehadiran hoaks atau berita bohong dalam banjir informasi itu pun nyata, tetapi tidak perlu disikapi berlebihan.

Dalam pembuatan kebijakan, menurut Agus, pemerintah dapat mendengarkan masukan publik, baik melalui medsos maupun media arus utama. Jika pemerintah ingin menangkap masukan publik, salah satu langkah paling aman ialah melakukan kajian mendalam terhadap pemberitaan media arus utama. Sebab, media massa memiliki metodologi dalam menyajikan suatu informasi.

”Menulis sesuatu dengan metodologi itu berbeda dengan menulis sesuatu dengan apriori. Jika ingin tahu publik maunya bagaimana, lakukan survei opini publik. Kalau kurang yakin, lakukan konten analisis pemberitaan media arus utama tentang satu isu,” tuturnya.

Link: https://www.kompas.id/baca/polhuk/2021/06/28/melangkah-di-tengah-labirin-informasi

Pengamat Sebut Kebocoran dan Penyalahgunaan Foto Selfie KTP Persoalan Mengerikan

JAKARTA – Maraknya dugaan foto selfie dengan KTP diperjualbelikan di media sosial menunjukkan bagaimana lemahnya perlindungan terhadap data pribadi konsumen.

BACA JUGA:4 Alasan Mengapa Xiaomi Mi 11 Lite Digilai Kaum Hawa

Foto diri dan KTP ini memang digunakan sebagai salah satu cara verifikasi akun layanan tertentu (umumnya keuangan).

Kebutuhannya pun macam-macam, untuk bank digital, pembukaan aplikasi kartu kredit, hingga berbagai layanan fintech seperti pinjaman online (pinjol). Bahkan program Pemerintah seperti Kartu Prakerja juga mensyaratkan foto selfie sembari memegang KTP.

Namun, mengapa data pribadi yang seharusnya dijaga ketat kerahasiaannya itu bisa bocor dan bahkan diduga diperjual belikan secara bebas, menjadi pertanyaan.

Baca Juga:Kominfo Lakukan Penelusuran 279 Juta Data Pribadi yang Diduga BocorPenjelasan Kominfo Soal KTP yang Dititipkan

Peretasan atau pembajakan data pribadi atau account pribadi seseorang disebut dengan cracking.

Tapi, kemungkinan bocornya data pribadi secara masif ini memang beragam. Bisa jadi karena adanya serangan siber/peretasan/pembajakan data. Atau malah sebaliknya, penyelenggara/perusahaan yang tidak profesional dalam melindungi data konsumen atau malah sengaja membagikan data konsumen ke unit usaha yang lain.

Sayangnya, UU ITE memang belum memuat aturan perlindungan data pribadi secara khusus. Hanya ada di Pasal 26 ayat (1) dan penjelasannya UU 19/2016.

Dalam pasal itu disebutkan jika terjadi penggunaan data pribadi seseorang tanpa izin dari orang yang bersangkutan, maka orang yang dilanggar haknya itu dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan.

Sementara itu, perlindungan data pengguna khusus fintech peer to peer lending atau pinjaman online alias pinjol juga diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan nomor 77/POJK/01/2016 tentang layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi.

Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi lewat cuitannya menyebut bahwa kebocoran data foto e-KTP dan foto selfie e-KTP ini sebagai sesuatu yang mengerikan. ”Ini perlu menjadi perhatian publik dan pengambil kebijakan,” ujarnya.

BACA JUGA:Mengenal Bokeh Flare Potrait Video, Fitur Andalan OPPO Reno6

Bahkan, Fahmi mendorong warganet untuk menolak pengumpulan data pribadi oleh berbagai pihak.

”Katakan tidak untuk fotokopi e-KTP/KK, foto e-KTP/KK, dan foto selfie memegang e-KTP/identitas,” ujarnya. Lantas, apa solusinya? ”Biarlah para engineer yang mencari cara lain yang lebih aman untuk verifikasi,” tutupnya.

Link: https://tekno.sindonews.com/read/467240/207/pengamat-sebut-kebocoran-dan-penyalahgunaan-foto-selfie-ktp-persoalan-mengerikan-1624709167

Jangan Lewatkan! Pendiri Drone Emprit Bakal Hadir di Penganugerahan Solopos Digital Award 2021

Solopos.com, SOLO — Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi bakal mengisi talkshow Makin Dekat Makin Cepat yang membahas soal penggunaan media sosial bagi para kepala daerah dan humas Pemda. Acara ini digelar berbarengan dengan Penganugerahan Solopos Digital Award 2021 pada Rabu (7/7/2021).

Perlu diketahui, Drone Emprit merupakan sebuah sistem yang berfungsi untuk memonitor serta manganalisis media sosial dan platform online lainnya berbasis big data.

Baca Juga:  Apa Kabar Penelitian Ganja untuk Obat Virus Corona?

Drone Emprit bekerja dengan cara menganalisis informasi yang tersebar di media sosial dan belum tentu kebenarannya. Terbaru, Drone Emprit mengungkap fakta rumah mewah yang dinarasikan milik Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Dalam foto yang beredar luas di media sosial itu, disebutkan rumah mewah berwarna putih tersebut merupakan hadiah dari pihak pengembang kepada Anies Baswedan. Tetapi, Drone Emprit hadir dan membantahnya.

Baca Juga:  Viral Besaran Gaji Kuli Bangunan, Seminggu Bisa Lebih dari Satu Juta

Melalui unggahan di akun Twitternya, pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi mengungkap hoaks tersebut. Dia menjelaskan langkah-langkah untuk mencari tahu keaslian foto viral tersebut.

Hasilnya, rumah mewah berwarna putih itu merupakan properti yang dijual di daerah Tangerang Selatan, Banten bukan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang dinarasikan di foto viral itu.

Baca Juga:  Kejadian Lagi! Kurir COD Boyolali Kena Marah Pembeli, Barang Pesanan Sampai Dibanting

Kiprahnya yang luar biasa untuk mengungkap informasi hoaks di media sosial kerap menjadi rujukan bagi media massa di Indonesia. Namun, siapa sangka Drone Emprit baru dikembangkan mulai 2009 bukan di Indonesia, melainkan di Amsterdam, Belanda oleh sang pendiri, Ismail Fahmi melalui Media Kernels Netherlands B.V.

Nantinya, Ismail Fahmi bakal hadir di acara Malam Penganugerahan Solopos Digital Award (SDA) 2021 yang diadakan pada 7 Juli 2021 pukul 19.00 WIB secara virtual. Dia bakal menjadi pembicara bersama para pemenangan SDA 2021 dengan dimoderatori Direktur Konten dan Bisnis Solopos Media Grup, Suwarmin.

Baca Juga: Alami Napas Berbunyi atau Mengi? Hati-hati Bisa Jadi Ini Penyebabnya!

Drone Emprit Jadi Narasumber

“Drone Emprit jadi narasumber juga yang akan mengulas penggunaan media sosial para kepala daerah dan humas Pemda,” ujar Ketua Panitia SDA 2021, Yonantha Chandra kepada Solopos.com, Senin (21/6/2021).

Nantinya, acara talkshow ini akan didahului dengan pengumuman pemenang SDA 2021 yang terdiri dari berbagai kategori. Beberapa di antaranya,  Best Digital Performance Kategori Pemda di Jawa Tengah, Best Digital Performance Divisi Humas Pemda di Jawa Tengah, Best Digital Performance Kategori Pemda di Soloraya dan Best Digital Performance Kategori Divisi Humas Pemda di Soloraya.

Baca Juga:  Vaksin Covid-19 AstraZeneca 92% Efektif Lawan Varian Delta

Kemudian, ada pula Best Digital Performance Kategori Pemda di Madiun Raya, Best Figure Digital Performance, Best Figure Digital Performance di Soloraya, Best Figure Digital Performance di Jateng Versi Youtube, Best Figure Digital Performance di Jateng Versi Twitter, Best Figure Digital Performance di Jateng Versi Instagram, dan Best Figure Digital Performance di Jateng Versi Facebook.

“SDA mengundang kepala daerah dan humas serta Kominfo yang memenangi penghargaan yang untuk kali pertama digelar oleh Solopos.com ini. Mereka kami undang melalui platform Zoom untuk bergabung dalam talkshow bertema Makin Dekat Makin Cepat,” tambah Yonantha.

Baca Juga:  Bukan Hanya Nasi Gandul, Ini Sederet Makanan Enak khas Pati

Acara Penganugerahan Solopos Digital Award 2021 bakal diadakan secara virtual yang ditayangkan di Youtube Solopos TV, Instagram @koransolopos dan juga Facebook Solopos.com.

“Semua virtual karena kondisi masih belum memungkinkan untuk dilakukan acara offline. Jadi panitia memutuskan semua acara dilakukan secara virtual dan disiarkan langsung melalui tiga platform tadi,” pungkas Yonantha.

Link: https://www.solopos.com/jangan-lewatkan-pendiri-drone-emprit-bakal-hadir-di-penganugerahan-solopos-digital-award-2021-1134044?utm_source=terkini_desktop

Poster Penyambutan Maba Universitas Indonesia Ramai Disorot Hingga ‘Sekelas UI’ Trending

Poster Penyambutan Maba Universitas Indonesia Ramai Disorot Hingga 'Sekelas UI' Trending

Pihak UI Mengunggah Sebuah Poster Penyambutan Maba Yang Lulus Lewat Jalur SBMPTN Ke Akun Media Sosial Resminya. Namun, Poster Tersebut Justru Ramai Disorot Dan Diperbincangkan Oleh Warganet.

WowKeren – Hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2021 telah diumumkan pada Senin (14/6) kemarin. Sejumlah PTN pun menyambut calon mahasiswa baru (maba) yang telah berhasil diterima melalui jalur SBMPTN tahun ini, salah satunya Universitas Indonesia (UI).

Pihak UI mengunggah sebuah poster penyambutan maba yang lulus lewat jalur SBMPTN ke akun media sosial resminya. Namun, poster tersebut justru ramai disorot dan diperbincangkan oleh warganet.

Dalam poster tersebut tampak sejumlah mahasiswa dan mahasiswi mengenakan jaket alamamater kuning khas UI. Langit biru dengan awan dan sinar matahari menjadi latar belakang foto mahasiswa-mahasiswi UI tersebut. Ucapan “Selamat Datang Mahasiswa Baru Jalur SMBPTN 2021” pun tertulis di dalamnya.

Poster UI

Twitter/@univ_indonesia

Poster tersebut menuai perhatian banyak warganet karena dinilai memiliki desain yang kurang bagus untuk institusi sekelas UI. Kata kunci “Sekelas UI” bahkan masuk dalam jajaran trending topic Twitter Indonesia pada Selasa (15/6).
Playvolume00:02/01:07iPod classic brought back to life with web playerTruvidfullScreen

Twitter

Sekelas UI dan desainnya separah ini. On the other hand, artinya kesempatan kerja/bisnis desain masih terbuka luas. @univ_indonesia please hire a pro!” komentar akun @Ha***go. “‘Sekelas UI’ trending karena design welcoming maba nya wkwkwk. abis kek opening sinetron indosiar HAHAHA,” tulis akun @bi***wi.

Meski demikian, ada sejumlah warganet yang menilai desain poster tersebut memang sengaja dibuat demikian. Hal ini diduga bertujuan untuk menarik perhatian publik.

Gara-gara postingan akun UI buat maba sbmptn langsung heboh soal designnya, sekelas UI kok gitu wkwk. Terus ada yang komen dan menurut gw ya bener aja si, bisa aja emang sengaja gitu biar tenar dan nyuri atensi HAHAHA. Soalnya kan yang rame belakangan ini sinetron cuy,” tambah akun @mo***20. “Ya kemungkinannya cuma 2, sengaja bikin gini biar viral, atau yang pegang tanggung jawabnya aja kurang profesional. instead of that, banyak yg ngakak dan malah ngetawain kinerjanya sekelas UI. wkwk,” tulis akun @D0***ES.

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, juga turut mengomentari desain poster UI tersebut. Menurutnya, desain poster UI tersebut sukses membuat banyak warganet tertarik.

Desainnya mungkin ndak bagus. Tapi karena itu lah jadi viral dan menarik banyak netizen ikutan usil. Well done mimin @univ_indonesia,” cuit Ismail. “Kalau saya pingin ngedit, masing2 mahasiswa ini pegang buku. Buku apa coba? You know what I mean.”(wk/Bert)

Link: https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00370421.html

Menerka Fanatisme Fans K-Pop

Akhir-akhir ini jagat maya dihebohkan oleh BTS Meal, yaitu produk makanan cepat saji hasil kolaborasi antara grup musik Korea BTS dengan restoran cepat saji Mc Donald’s. Berbagai cerita mewarnai kehebohan, atau bisa juga disebut demam BTS Meal ini. Dari mulai driver ojol yang harus menunggu 3 jam untuk mendapatkan pesanan pelanggan (yang ongkos kirimnya mungkin hanya sekitar 10 ribuan saja), gerai Mc Donald’s yang sampai harus dijaga polisi karena saking ramainya antrian, hingga Polda Metro Jaya akhirnya harus meminta pihak McDonald’s untuk menghilangkan paket BTS meal untuk sementara demi mencegah kerumunan massa.

sumber: cnnindonesia.com

sumber: cnnindonesia.com

Bukan kali ini saja pasukan militan fans KPOP tanah air meramaikan jagat maya. Beberapa bulan lalu, ketika indonesia dihebohkan oleh  RUU Cipta Kerja atau yang populer disebut Omnibus Law, fans KPOP tanah air juga menunjukkan taringnya. 

Berkat solidaritas dan tentu saja militansi mereka, tagar #MosiTidakPercaya mampu menggema hingga mampu mencapai Trending Topic Dunia. Ya, dunia. 

Jika dilihat dari analisa Ismail Fahmi dalam kanal Drone Emprit, polanya adalah ada beberapa cuitan dari akun K-popers yang kemudian banyak dishare dan juga disupport oleh akun aktivis lain yang kemudian terus menerus diretweet oleh akun-akun dengan ava Korea ini. 

sumber: pers.droneemprit.id

sumber: pers.droneemprit.id

image-73-60c74662d541df334a1ed902.png

image-73-60c74662d541df334a1ed902.png

sumber: pers.droneemprit.id

sumber: pers.droneemprit.id

Selain solidaritas dan militansinya, K-Popers juga terkenal sangat loyal bahkan royal terhadap para idola mereka. Banyak sekali cerita tentang K-Popers yang rela bahkan dengan senang hati menghabiskan uang jutaan rupiah demi membeli koleksi merchandise resmi dari grup band idolanya. 

Barang yang dibeli pun terbilang remeh atau bahkan tidak berguna jika dilihat dari kacamata orang awam, misal seperti light stick dan photo card idola mereka yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah per buahnya.

 Fakta-fakta tersebutlah yang membuat saya penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada para K-Popers tersebut. Sampai akhirnya saya juga menemukan fakta bahwa sudah banyak skripsi dan jurnal akademis dari Indonesia yang membahas tentang fenomena ini terutama dari bidang ilmu Psikologi. 

Perilaku Konsumtif

Jelas, perilaku ini lah yang menyebabkan demam BTS Meal menghebohkan Indonesia dan laku keras nya berbagai macam pernak pernik KPOP. Namun, apa itu perilaku konsumtif sebenarnya?

Menurut Grinder (dalam Fitriyah, 2013) menjelaskan bahwa perilaku konsumtif merupakan pola hidup manusia yang dikendalikan dan didorong oleh suatu keinginan untuk memenuhi hasrat kesenangan semata-mata.

Sedangkan menurut Dharmmesta dan Handoko (2011), perilaku konsumtif adalah kondisi ketika konsumen tidak dapat lagi membedakan antara kebutuhan dan keinginannya. Fromm (1995) juga mengemukakan bahwa perilaku ini juga didorong oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor kelompok referensi dan faktor konsep diri sang fans tersebut.

Faktor kelompok referensi ini maksudnya bahwa perilaku anggota kelompok Fans KPop akan sangat mempengaruhi anggota yang lainnya. Interaksi seseorang di dalam kelompok sosial akan sangat berpengaruh terhadap pendapat dan seleranya. Sehingga mungkin saja terjadi ada seorang fans yang awalnya tidak memiliki keinginan untuk membeli merchandise pada akhirnya akan terpengaruh oleh kelompoknya hingga akhirnya menjadi kolektor merchandise KPop.

Sedangkan faktor konsep diri adalah ketika persepsi atau penilaian seorang fans terhadap dirinya sendiri akan mempengaruhi perilakunya untuk membeli dan menggunakan produk tertentu, yang dalam hal ini adalah merchandise resmi grup band Kpop. Misalnya seseorang yang memandang dirinya secara negatif cenderung berperilaku konsumtif untuk menaikkan citra dirinya.

Jadi itulah hasil yang saya dapat dari membaca tulisan akademik yang membahas tentang fenomena demam KPop ini. Namun, ternyata bukan hanya itu saja, ketika saya mecari lebih jauh, ternyata ada faktor lain yang lebih kuat lagi dalam mengobarkan fanatisme para pecinta KPop ini.

Perlakukan Istimewa Terhadap Penggemar

       Ya, manajemen grup band KPop sangat menyadari bahwa fanatisme dari penggemar adalah bahan bakar utama mereka untuk tetap eksis, sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk menjaga tensi fanatisme tersebut. Beberapa yang dilakukan manajemen adalah dengan mengakui secara resmi Fanbase yang muncul, dan melakukan kegiatan Fan Service secara rutin. 

       Fan service biasanya dilakukan dengan tajuk Fansign yang di dalamnya para penggemar bisa meminta tanda tangan dan berinteraksi fisik secara langsung dengan para idolanya. Fanservice grup band Kpop adalah yang paling terkenal istimewa dalam memperlakukan penggemarnya dibandingkan dengan grup musik Amerika dan Asia lainnya. Bayangkan apa yang kamu rasakan jika idolamu mengusap rambut dan pipimu sambil menatap mata mu dari jarak 30 cm?

       Konsep bahwa support dari fans sangat penting untuk tetap eksis, tertanam sangat kuat di kepala para fans. Itulah yang menyebabkan mereka rela membeli merchandise resmi dari Korea, meskipun harganya tidak masuk akal, demi meningkatkan keuntungan manajemen dan memperkaya Idola mereka. Mereka menyadari itu, dan bangga melakukannya. Hal itulah yang mereka sebut dengan kontribusi nyata untuk idolanya. Mereka tidak mau jika idolanya kalah bersaing dengan Idol-idol Kpop lain yang terus bermunculan dari waktu-kewaktu. Keren. Bayangkan jika seorang Presiden Jokowi mampu menanamkan konsep serupa kepada seluruh rakyat Indonesia.

Idol Yang Terus Jomblo

       Yang terakhir (yang saya tahu), ternyata fanatisme fans lah yang sepertinya menyebabkan para KPop Idol terus men-jomblo. Ya, dibalik alasan “Agar para Idol fokus terhadap karier mereka”, manajemen pasti cukup cerdas untuk memanfaatkan fantasi para penggemar untuk dapat menjadi pacar Idolanya sendiri. Tentu saja ini menjadi energi yang cukup besar bagi para Fans untuk tetap mencintai dan mengidolakan malaikatnya masing-masing.

maxresdefault-13-60c761e58ede4805bc7774a2.jpg

maxresdefault-13-60c761e58ede4805bc7774a2.jpg

Link: https://www.kompasiana.com/gilangtata2577/60c763fa8ede48191d4504d2/menerka-fanatisme-fans-kpop?page=1

#DeklarasiTemanGanjar Disebut Lebih Besar dari Anies-RK

Jakarta, CNN Indonesia — 

Percakapan yang menggunakan tagar #DeklarasiTemanGanjar di media sosial Twitter disebut memiliki volume lebih besar, aktif, dan serius dari pada percakapan mengenai Anies Baswedan-Ridwan Kamil.

Hal ini diungkapkan oleh pendiri Drone Emprit, sebuah program Social Analytic Network (SNA), Ismail Fahmi melalui hasil analisisnya yang berjudul Persiapan 2024? #DeklarasiTemanGanjar VS Anies-RK.

Menurut Ismail, dalam seminggu terakhir, terdapat tagar #DeklarasiTemanGanjar yang digaungkan di media sosial Twitter guna mendukung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Di sisi lain, terdapat cuitan yang mempromosikan pertemuan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Sumedang.

“Ini menunjukkan tim Ganjar sudah lebih serius mempromosikan tagar dibanding Anis-RK (Ridwan Kamil),” kata Ismail melalui akun Twitter pribadinya, Minggu (13/6) dini hari.

Baca juga: Daftar Elektabilitas Para Pemimpin Parpol Bakal Capres 2024

Ismail lantas menunjukkan peta SNA hasil analisis Drone Emprit. Dalam peta itu terlihat jaring percakapan antara pengguna media sosial di Twitter mengenai #DeklarasiTemanGanjar jauh lebih besar dan banyak dibanding peta percakapan Anies-RK. Bahkan jejaring pesan Anies-RK tampak jauh lebih sedikit.

Dalam cluster #DeklarasiTemanGanjar, Ismail menemukan beberapa narasi seperti “Tenab Ganjar akan deklarasi. Mohon doa dan dukungannya. Salam TEGAR,”sebagaimana diunggah oleh akun @TemanGanjar2705. Selain itu adalah, “Dalam rangka deklarasi Teman Ganjar, saya mau bagi-bagi kaos teman Ganjar,” yang diunggah oleh akun @ChysnulCH.

Sementara, dalam cluster Anies-RK, beberapa narasinya hanya bersifat informatif dan tidak menggalang dukungan. Seperti, “Gubernur @aniesbaswedan mengunjungi KEraton Sumedang bersama Gubernur Jawa Barat @ridwankamil,” sebagaimana diunggah oleh @kebijakananies. Sementara narasi lainnya seperti, “Sumendang kedatangan Anies BAswedan dan Ridwan Kamil” serta “Subuh Keliling, Anies-RK Subuhan Bareng di Sumedang.”

Selain itu, Ismail juga mengungkap bahwa infografis dan meme yang telah didesain secara serius untuk deklarasi Teman Ganjar. Selain itu, dalam cluster percakapan Teman Ganjar ini juga terdapat banyak video. Sementara, cuitan mengenai Anies-RK tidak banyak.

“Tak banyak cuitan yang berisi promosi Anies-RK. Belum terlihat serius,” ujar Ismail.

Baca juga: Adu Kuat Capres Muda vs Tua, Siapa Paling Diminati?

Ismail lantas menyimpulkan bahwa relawan Ganjar sudah cukup serius mendeklarasikan dukungannya kepada Gubernur Jawa Tengah itu.

Sementara, pertemuan Anies dan Ridwan Kamil di Sumedang belum serius digarap oleh tim Anies-RK. Ismail lantas menduga bahwa hubungan Anies dan RK belum serius dan masih terlalu dini.

Ismail juga menyimpulkan bawa meskipun pemilihan presiden 2024 masih jauh, beberapa tokoh politik telah melakukan persiapan sejak sekarang.
“Baik secara terus terang maupun masih tipis-tipis,” kata Ismail.(iam/chs)

Link: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210613095939-32-653666/deklarasitemanganjar-disebut-lebih-besar-dari-anies-rk

Ahli Bongkar Pro Kontra PPN 12 Persen yang Viral di Medsos

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi baru-baru ini mengemukakan beberapa temuan menarik mengenai pro-kontra tentang rencana PPN menjadi 12 persen diduga untuk berbagai sektor di media sosial.

readyviewed Diketahui, pemerintah berencana menaikkan PPN menjadi 12 persen melalui draf RUU Perubahan Kelima atas Undang-Undang No 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Menurut Ismail Fahmi mengatakan bahwa warganet yang menunjukkan penolakan terhadap rencana tersebut berasal dari pihak oposisi dan umum.

SNA PPN. Menarik melihat peta SNA pro-kontra tentang PPN. Rencana PPN sembako 12%, PPN batubara 10%. Sekolah dan kesehatan beritanya juga akan dikenai PPN. Tapi yang menolak hanya netizen umum dan oposisi. Mereka yang pro pemerintah tidak tampak di peta. Apakah setuju?” tulis Ismail lewat akun @ismailfahmi, Sabtu (12/6).

SNA PPN

Menarik melihat peta SNA pro-kontra tentang PPN. Rencana PPN sembako 12%, PPN batubara 10%. Sekolah dan kesehatan beritanya juga akan dikenai PPN.

Tapi yang menolak hanya netizen umum dan oposisi. Mereka yang pro pemerintah tidak tampak di peta. Apakah setuju? pic.twitter.com/JNQepgEdXZ— Ismail Fahmi (@ismailfahmi) June 11, 2021

Ismail kemudian membuat perumpamaan jika tanpa oposisi maka tidak ada yang melakukan kontrol terkait kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah.

Ada ndak ya, negara yang tanpa oposisi? Jadi pajak dinaikkan berapapun, dan diperluas pun mungkin ndak ada yang keberatan,” ujarnya.

Ada ndak ya, negara yang tanpa oposisi? Jadi pajak dinaikkan berapapun, dan diperluas pun mungkin ndak ada yang keberatan. 😅— Ismail Fahmi (@ismailfahmi) June 11, 2021

Tak butuh waktu lama, unggahan itu pun langsung mendapat banyak tanggapan dari netizen. Tidak sedikit warganet kemudian memberikan contoh negara yang tidak memiliki oposisi.

sepertinya hampir ada pak, negara australia utara itu,” ujar salah satu netizen.

sepertinya hampir ada pak, negara australia utara itu— Bagas Kema (@bagaskema) June 11, 2021

Terlihat, Bro Kim Jong-un menengadah sambil ‘mbatin : “Hhmmm……negara mana ya…” timpal akun lain

Terlihat,
Bro’Kim Jong-un menengadah sambil ‘mbatin :

“Hhmmm……
negara mana ya…❔❔❔ pic.twitter.com/2KFiImEyT0— $tafsus kedai kopi (@rahmadiheru88) June 12, 2021

Ada kok negara tanpa oposisi…Tapi gak pernah ada wacana kenaikan pajak…. apalagi naek seenaknya…” balas netizen lain.

Ada kok negara tanpa oposisi…
Tapi gak pernah ada wacana kenaikan pajak…. apalagi naek seenaknya…— ASK_🄹🄾🄼🄱🄻🄾ⒷⓈⒺⓇⓋⒺⓇ (@roses_man) June 12, 2021

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, pemerintah berencana akan mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ke sederet produk dan jasa.

Selain jasa sekolah, pemerintah juga akan mengenakan PPN terhadap sembako atau kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Wacana pengenaan PPN itu tertuang dalam rencana revisi Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Rencana pengenaan pajak diatur dalam Pasal 4A draf revisi UU Nomor 6 yang didapat CNNIndonesia.com.

Keputusan ini kemudian menuai penolakan salah satunya dari anggota DPR RI yang ramai-ramai menolak rencana pemerintah memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari bahan pokok alias sembako. Pasalnya, rencana tersebut memberatkan masyarakat.

Anggota DPR dari Fraksi Demokrat Marwan Cik Asan menilai pungutan PPN atas sembako merupakan bentuk pengkhianatan kepada rakyat.(nly/mik)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210612111334-185-653476/ahli-bongkar-pro-kontra-ppn-12-persen-yang-viral-di-medsos