LUAR BIASA FOUNDER DRONE EMPRIT PUNYA CARA MURAH KELILING DUNIA | Indy Rahmawati vlog

kalian mau tau cara mudah liburan aman tanpa perlu di test test swab DLL ismail fahmi punya caranya loh guys langsung aja ditonton

————————————————————————————————

Instagram : https://instagram.com/indyrahmawati?i…

Tiktok: https://www.tiktok.com/@indy.stories?…

————————————————————————————————-

#ismailfahmi#indyrahmawati

Analisis Klaster Medsos Jokowi, Banjir NTT dan Atta-Aurel

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyatakan berita siklon tropis Seroja yang kemudian heboh banjir di Nusa Tenggara Timur (NTT) tertutupi oleh perbincangan dengan pernikahan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah.

Dari grafik tren berita online untuk topik ‘Siklon’ vs ‘Jokowi AND (pernikahan, atta, aurel, nikah)’ yang bikin heboh, tampak tren Siklon mulai naik setelah jam 12 tanggal 3 April. Namun kalah oleh berita pernikahan AA,” ujar Ismail lewat Twitter, Senin (5/4).

Berdasarkan analisis DE, Ismail mengatakan berita tentang ‘Siklon’ hampir hilang pada 4 April 2021. Media disebut masih fokus pada isu ‘Jokowi dan Pernikahan Atta-Aurel’ ketika sudah mulai ada berita di media sosial bahwa badai siklon sudah datang dan banjir sudah menerjang.

Tanggal 5 April 2021, Ismail menyampaikan media baru mulai berkurang membahas pernikahan Atta-Aurel. Media beralih mengangkat badai Siklon Seroja setelah tagar #prayforNTT trending.

Terkait dengan frekuensi publik dan bencana, Ismail menyatakan media sosial tampak sepi, seolah tidak mendengar adanya peringatan @infoBMKG. Sebaliknya, pemberitaan oleh media tentang readyviewed kehadiran Jokowi dalam pernikahan Atta-Aurel sangat besar.

Sedangkan kaitan K-Poppers dan #prayforNTT, menurut data DE muncul pertama tanggal 4 April oleh akun @Anak_Termanu. Akun itu membuat thread berisi video-video banjir di NTT. Pukul 16:58 akun @cicibancaa melihat ini belum trending di berita nasional, lalu mengajak K-poppers turun.

Sejak saat itu, tagar #prayforNTT terus naik posisinya di trending topic Twitter, seperti diperlihatkan oleh grafik tren topik trending Twitter dari Drone Emprit ini. Sejak 4 April 2021, pukul 10 malam sudah jadi top trending Twitter, hingga sekarang (5 April),” kata Ismail.

Terkait tagar #prayforNTT, Ismail berkata akun yang meramaikan tagar itu bukan dari cluster pro-kontra seperti yang terlihat selama ini. Dia melihat tagar itu sebagian besar dari akun K-poppers.

Akun K-poppers dinilai berkolaborasi membangun awareness soal bencana di NTT, ketika media dan netizen masih fokus pada pernikahan Atta-Aurel.

Dari tanggal 4-5 April, top akun yang paling besar jumlah RT+Reply (top influencers) bisa dilihat avatarnya mayoritas dari kalangan K-Poppers,” ujar Ismail.

Di sisi lain, Ismail membeberkan sebanyak lebih dari 20.500 akun (47 persen) dari total lebih dari 43.700 akun yang ikut aktif dalam percakapan tagar #prayforNTT berhasil dianalisis oleh DE. Hasilnya, score bot mereka 1.52, yang berarti percakapan sangat natural, bukan oleh akun bot.

Ismail menyampaikan tren percakapan Jokowi naik dan turun dengan volume yang tinggi sejak tanggal 3-4 April 2021. Saat media online sudah turun, di medsos masih ramai pro-kontra.

Peta SNA, kata dia memperlihatkan beberapa cluster yang pola retweetnya berdekatan. Paling besar cluster kontra, yang mengritik kehadiran Jokowi ke acara itu.

Mereka dari kalangan oposisi, publik, bahkan juga dari pendukung (spt @sahaL_AS),” ujar nya.

Ismail menyatakan klaster pro Jokowi sangat kecil. Dia menyebut hanya didominasi oleh akun @KemensetnegRI yang mendapat sangat banyak retweet, juga reply dan retweet with quote.

Postingan resmi Setneg tentang acara ini melahirkan banyak kritikan. Juga oleh akun-akun yang tidak besar followernya, yg memberi narasi positif,” ujar Ismail.

Ismail menambahkan klaster yang pro dan yang kontra atas kehadiran Pak Jokowi tampak membicarakan dua hal yang berbeda. Klaster pro bicara acara itu sudah menerapkan prokes ketat. Klaster kontra bicara bahwa acara itu tidak memperlihatkan keadilan.

Jadinya mrk ndak nyambung,” ujarnya.

Lebih dari itu, Ismail menilai ters itu memperlihatkan bahwa publik mulai fokus pada kondisi banjir (situasi, dampak, dan bantuan). Istilah ‘siklon’ sendiri sudah sedikit digunakan dan kembali netizen fokus pada dampak dari siklon ini, yaitu banjir.

SNA GABUNGAN 5 APRIL 2021. Siapa sebenarnya yang masih ramai membahas Jokowi di nikahan Atta-Aurel? Ternyata yg dominan adalah cluster akun pro oposisi dan pro pemerintah. Sedangkan topik siklon, banjir, dan #prayforNTT jadi fokus K-poppers dan umum. Cluster ini lebih besar,” ujar Ismail.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210406114245-185-626479/analisis-klaster-medsos-jokowi-banjir-ntt-dan-atta-aurel/2

Bu Susi Pakai Aplikasi Ini Pantau NTT, Netizen Auto Download

Jakarta – 

Bencana yang menimpa saudara-saudara di NTT (Nusa Tenggara Timur) juga dikawal oleh Susi Pudjiastuti. Ia mengaku memantaunya menggunakan aplikasi ini.

Banjir akibat badai yang menerpa Kota Kupang dan beberapa daerah di NTT ini terjadi sejak Sabtu (3/4/2021). Tagar #prayforNTT pun menjadi trending topic di Twitter.

“Kawan2 mari kita berdoa untk saudara2 kita di NTT .. selatan Jawa pun sekarang hujan dan mendung tebal .. sementara pusaran taifun fi selatan NTT masih ungu warnanya,” tulis Susi.

“Semoga semua bisa bertahan sd bantuan datang,” ujarnya masih dalam cuitan yang sama.

Dalam tweet-nya, Susi mengunggah tangkapan layar yang menunjukkan pergerakan angin. Ia tampaknya menggunakan aplikasi untuk memantau.

Netizen berbondong-bondong menanyakan aplikasi apa yang digunakan Susi. Mereka mengaku juga ingin memantau kondisi di banjir NTT dan juga untuk digunakan dalam keseharian.

Susi pun menjawab bahwa ternyata, aplikasi itu bernama Windy. Windy berfungsi untuk radar cuaca, satelit dan juga ramalan cuaca.

Praktisi Media Monitoring & Analytic sekaligus Founder of Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi bahkan ikut mengunduh aplikasi rekomendasi dari mantan Menteri Kelautan tersebut.

“Langsung saya install. Makasih bu @susipudjiastuti. Publik pun bisa cek sendiri,” katanya sambil mengunggah tangkapan layarnya.

Link: https://inet.detik.com/cyberlife/d-5521326/bu-susi-pakai-aplikasi-ini-pantau-ntt-netizen-auto-download

Melawan Terorisme dari Rumah

Merdeka.com – Kompleks Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, dibuat geger pada Rabu sore pekan lalu. Perempuan muda dengan mudah masuk lewat pintu belakang. Kemudian melakukan penyerangan. Menggenggam senjata Airsoft Gun di tangan, dia menembaki tiap arah.

Suara letusan senjata terdengar berkali-kali. Petugas segera bertindak tegas. Pelaku dilumpuhkan. Ditembak hingga tewas di dekat area parkir pos penjagaan.

Setelah situasi terkendali, identitas sosok itu diketahui. Namanya Zakiah Aini (ZA). Usianya masih tergolong belia. 25 tahun. Diduga pelaku berideologi ISIS sehingga nekat menjadi lone wolf.

Tidak ada yang menduga jika gadis itu bakal melakukan aksi penyerangan. Tak hanya keluarga, para tetangga pun ikut terkejut. Gadis yang berdomisili di Ciracas, Jakarta Timur, ini padahal dikenal sebagai pribadi pendiam. Bahkan jarang keluar rumah.

Sikap diam yang ditampilkan Zakiah tak pernah dianggap aneh. Apalagi dicurigai akan berbuntut pada aksi yang menggemparkan. Bahkan menurut cerita keluarga, sifat pendiam itu sudah berlangsung sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Tidak ada (perilaku aneh). Ibu-bapaknya tidak pernah (menyangka) untuk ke arah situ (terlibat aksi penyerangan). (Aktivitas sehari-hari) biasa saja. Bantuin, nyapu ngepel biasa di rumah, kata keluarga,” ujar Kusdi selaku Ketua RT tempat Zakiah tinggal.

Fenomena lone wolf seperti yang dilakoni Zahkia memang mengkhawatirkan. Tidak saja di Indonesia, tapi sudah menjadi momok dalam upaya pemberantasan terorisme di berbagai negara. Namun, yang membuat lone wolf di Indonesia semakin mengkhawatirkan karena dilakukan banyak anak muda.

Guru Besar Unpad Bidang Keamanan Dalam Negeri, Prof Muradi, melihat kejadian pelaku penyerangan seorang diri alias lone wolf, banyak berusia di bawah 30 tahun. Tiap pelaku di usia muda itu juga dirasa belum matang secara psikologi.

Bila dibandingkan dengan aksi teror didalangi kelompok atau jaringan teror, memang aksi lone wolf lebih mengkhawatirkan. Kondisi ini dikarenakan seorang lone wolf justru tinggal dan berbaur di dalam masyarakat. Sehingga menyulitkan aparat penegak hukum untuk mendeteksi keberadaan dan aksi mereka.

Sementara untuk kelompok teroris cenderung membentuk sebuah kelompok eksklusif. Bahkan mereka melepaskan diri dari masyarakat. Salah satunya kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

“Kalau tanya ke saya lebih milih mana? JAD atau lone wolf untuk diperangi. Saya lebih suka menghajar kelompok JAD. Karena garis koordinasinya, garis komunikasinya itu masih kelihatan,” kata Muradi kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Keluarga Menjadi Kunci

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melihat sejak 2014 tepatnya sebelum adanya deklarasi ISIS, pola perekrutan lebih banyak dilaksanakan secara tatap muka dan pertemuan tertutup. Namun kehadiran ISIS, perekrutan dengan menggunakan media online semakin marak digunakan.

Per 12 Maret 2021, catatan BNPT terdapat 321 grup maupun kanal media sosial yang terindikasi menyebarkan propaganda radikal terorisme. Dari jumlah tersebut, 145 grup atau kanal platform Telegram. Sedangkan sepanjang tahun 2020, terdapat 341 konten siber yang terpantau menyebarkan propaganda radikal terorisme. Sebagian besar penyebar konten, lanjut dia, merupakan akun underbow organisasi yang telah resmi dilarang seperti HTI.

Perekrutan anggota kelompok terorisme saat ini memang menyasar golongan muda. Masa transisi krisis identitas kalangan pemuda membuat mereka terbuka untuk menerima gagasan baru yang lebih radikal. Alasan-alasan seperti inilah yang menyebabkan kaum sangat rentan terhadap pengaruh dan ajakan kelompok kekerasan dan terorisme.

Peran kaum muda yang dalam kelompok radikal pun bisa beragam. Sebagai contoh, kelompok Jamaah Islamiyah (JI) membentuk tim Askari. Tim ini terdiri dari 5-10 orang yang berperan sebagai tim penyerang yang beranggotakan anak-anak muda. Mereka kemudia melakukan aksi bom bunuh diri di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton pada 12 tahun lalu.

“Kita lihat pada kasus bom J.W. Marriott dan Ritz Carlton. Pelaku berusia 18 dan 27 tahun. Kemudian Bom Bali, pelaku berusia 20-23 tahun. Hingga kasus terkini yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri (berusia di bawah 30 tahun),” ungkap Direktur Penegakan Hukum sekaligus Juru Bicara BNPT Brigjen Eddy Hartono.

Beragam konten di media sosial memang seharusnya menjadi perhatian serius. Khususnya terkait terorisme. Memang sejauh ini sulit mendeteksi konten yang spesifik mengajarkan paham radikal maupun mengarah terorisme di dalam ruang publik media sosial.

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyebut biasanya pembahasan mengenai terorisme dilakukan dalam platform yang lebih aman. Mereka biasanya tergabung dalam tiap grup yang lebih privasi. Sehingg sulit dilakukan pemantauan.

“Mereka biasanya sudah masuk ke grup Telegram. Itu sudah ada pembahasan yang lebih dalam,” katanya kepada merdeka.com, Sabtu pekan lalu.

Tiap kelompok yang menyebarkan radikalisme, lanjut dia, sangat hati-hati dan selektif dalam memilih pengikut. Sebelumnya mereka akan memastikan dengan sungguh-sungguh bahwa seseorang memang bisa diajak untuk bergabung. Setelah dianggap dapat memenuhi kriteria, baru calon pengikut ini dimasukkan dalam grup yang lebih tertutup lagi.

Meski begitu, Ismail Fahmi melihat bahwa postingan yang bersifat umum juga menjadi pemicu mendorong kaum muda masuk ke dalam tiap pembahasan terkait radikalisme. Karena memberikan kesan pertama terkait sebuah tema. Jika satu postingan mendapatkan banyak dukungan maka bisa menggoda anak muda untuk mencari tahu lebih jauh.

“Tapi kalau semua orang kebanyakan menolak narasi-narasi yang tadi, dia akan kecut (takut). Sendiri kan tidak ada dukungan. Soalnya masih muda. Dia butuh dukungan dari publik. Makanya di sini publik pun juga punya peran. Perannya kita harus mengutuk itu,” dia mengungkapkan.

Peran keluarga menjadi penting untuk menjaga anak muda tidak jauh terperosok ke dalam jurang terorisme. Terutama menekan fenomena lone wolf.

Keluarga sebagai bagian paling dekat seharusnya mampu menangkap tiap sinyal perubahan perilaku anggotanya bilamulai terpapar radikalisme. Sehingga keluarga bisa segera menghalangi sebelum mereka melakukan aksi lebih jauh.

Setelah keluarga, masyarakat juga punya peran yang tidak kalah penting. Aparat negara seperti BNPT dan Polri tentu akan banyak bergerak di bagian penegakan hukum. Karena itu, keluarga lah yang harus memainkan peran untuk menyampaikan kontra narasi terhadap paham radikal.

Soal kondisi psikologis kaum muda yang rentan untuk tergoda, Muradi berpandangan bahwa itu memang merupakan karakteristik usia muda. Karena itu pendampingan dan komunikasi dari keluarga dan orang yang lebih dewasa amat diperlukan.

“Hampir semua anak muda mengalami itu. Tinggal seberapa jauh dia berinteraksi dengan keluarga. Kuncinya begitu ada perubahan sikap, sekecil apapun, keluarga harus paham,” Muradi menegaskan.

Sementara menurut Fahmi, menilik dari pengaruh respon publik terhadap satu konten dapat memengaruhi psikologi kaum muda, ke depan seharusnya semakin banyak hal positif yang didukung. Kemudian masyarakat digital juga bersatu melawan tiap konten berbau radikal.

“Yang bisa kita lakukan bersama-sama sebagai komunitas, dibanyakin konten-konten moderat. Konten dari tokoh-tokoh yang benar. Yang menjelaskan. supaya anak-anak muda ini ketika mereka cari di YouTube, di instagram. Masukan kata kunci yang sedang mereka pelajari, muncul yang paling atas itu konten-konten yang moderat ini,” kata Ismail mengungkapkan. [ang]

Link: https://www.merdeka.com/khas/melawan-terorisme-dari-rumah.html

Belajar Konten dan Diskusi Positif di Media Sosial Bersama #BagikanDenganBenar

Ada hari-hari ketika saya cukup lelah untuk melihat betapa kabar kabur begitu mudah beredar di media sosial ketika kabar yang benarnya justru lebih minim gaungnya. Kalau lagi nggak lelah, biasanya saya meluangkan waktu untuk menulis sedikit konten positif untuk meluruskan suatu kabar kabur, biasanya terkait isu obat dan makanan, dan kemudian entah mengirimnya ke media alternatif, menuliskannya di platform UGC, atau ya ditulis biasa saja di blog saya.

Kelelahan itu sebenarnya normal. Kalau lagi membaca perundungan pada tulisan-tulisan saya tentang vaksin COVID-19 maupun uji klinisnya, sesungguhnya saya malas menulis lagi. Mending juga cuci piring atau nyetrika. Akan tetapi, upaya untuk tetap turut serta dapat upaya berkonten dan berdiskusi positif di media sosial sejatinya tiada pernah padam. Paling ya sembunyi aja…

Beberapa waktu lalu, algoritma Instagram mengantarkan saya pada suatu gerakan bertajuk Akademi Virtual #BagikanDenganBenar. Di sela-sela tesis sik ora rampung-rampung iki, saya kemudian mencoba mendaftarkan diri dan ndilalah termasuk dalam 20 peserta terpilih.

Mengapa saya mendaftarkan diri?

Sederhana saja. Waktu edar saya di dunia akademis tinggal 5 bulan sebelum kembali ke dunia profesional. Di periode yang sedikit lagi ini, saya ingin melengkapi diri sebanyak-banyaknya dengan apapun yang dapat memperkaya isi otak saya. Siapa tahu kelak membantu apapun yang saya lakukan di dunia profesional.

Alasan kedua, tentu saja karena topik yang ditawarkan dan pembicara-pembicara pada akademi virtual ini cukup keren dan memang orang-orang yang kondang dalam urusan linimasa.

Belajar Apa di #BagikanDenganBenar?

Total jenderal kegiatan Akademi Virtual ini berlangsung selama 4 hari dengan durasi per hari sekitar 3-4 jam. Hari yang diambil juga adalah Sabtu dan Minggu. Sialnya, dua kali hari Sabtu itu pas istri saya ada pekerjaan. Walhasil, dua kali hari Sabtu itu pula anak saya baru mandi jam 2 siang segera sesudah kegiatan usai.

Yes, kami di rumah memang tidak (mampu) mempekerjakan orang lain. Jadi ya, masak-masak sendiri, cuci baju sendiri, tidur saja yang bertiga~

Pada hari pertama, topik yang dipelajari adalah perihal Transformasi Konflik dari Akar Rumput Melalui Media Sosial, dibawakan oleh Rudi Sukandar (Director of LSPR Centre for Research, Publication, and Community Service). Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan sesi perihal Analisa dan Diskusi Studi Kasus di Indonesia oleh Zain Maulana (Direktur Eksekutif Centre for Development and International Studies, UMY) dan Daniel Awigra (Human Rights Working Group).

Sudah kayak kuliah ya? Teori lanjut studi kasus. Dan sebagai apoteker yang menemukan keseruan kuliah ilmu sosial di jejang Magister, materi di hari pertama ini tentu cukup dapat diikuti.

Keesokan harinya, Minggu 22 Maret 2021, materinya adalah tentang Psikologi di Balik Ujaran Kebencian oleh Roosalina Wulandari (Psikolog Klinis). Dari materi ini, kita jadi tahu bahwa kebencian itu bukan sekadar benci. Ada penyebab yang jauh lebih dalam, bahkan jauh lebih dalam dari cinta diam-diam. Materi berikutnya dibawakan oleh Ismail Fahmi (Drone Emprit). Materi yang ini cukup relevan bagi saya yang memang tengah menganalisa engagement publik di media sosial.

Pada sesi ini saya sempat bertanya soal fenomena micro influencer suatu instansi yang rajin sekali update-nya dan rajin pula saling berkomentar satu sama lain. Saya tahu karena beberapa kali ikut project yang sama dan jadilah follow-follow-an dengan para micro atau bahkan nano influencer tersebut. Rupanya, hal ini juga dapat dianalisis pada Drone Emprit.

Setidaknya hal itu melengkapi pustaka-pustaka yang saya baca perihal Government 2.0 bahwa citizens engagement itu memang penting, tapi engagement yang tidak organik tidak akan membawa suatu konten pada level yang berbeda.Hari ketiga, peserta bersua dengan Damar Juniarto (SAFENet) untuk mempelajari tentang dua kata yang tarik ulurnya panjang betul di negeri ini: ujaran kebencian. Dua kata tapi diskusi satu jam saja kurang jadinya. Hal itu kemudian dilengkapi dengan diskursus kebebasan berekspresi yang dibawakan oleh Yuyun Wahyuningrum (Wakil Indonesia di AICHR).

Dari 3 hari ini, saya akhirnya sungguh memahami alasan kenapa Pak Asep, senior saya di kantor lama yang notabene seorang scientist kelas wahid pada akhirnya bisa ngeblok saya di Facebook hanya gara-gara saya doyan berkomentar di lapaknya soal pilihan politik.

Bayangkan, segala teori dari para pakar kok ya saya gunakan untuk menganalisis Pak Asep seorang. Sedih amat.

Di hari terakhir, peserta akademi bersua dengan Wildan Mahendra Ramadhani (SabangMerauke), Agung Yudha (Twitter), dan Noudhy Valdryno (Facebook). Pada hari ini, pembahasannya sudah di teknis, baik teknis membangun engagement, maupun teknis media sosial berikut algoritmanya.

Pada akhir akademi virtual ini, para peserta diminta mengerjakan dan mempresentasikan mini project yang tentu saja terkait dengan media sosial itu sendiri.

Secara umum, inti yang saya peroleh adalah kebutuhan kita untuk membanjiri lapak dengan konten positif. Walau demikian, bukan berarti kritik tidak boleh ya. Kritiklah secara tepat dan bebas dari ujaran kebencian. Masalah ‘membanjiri’ itu kemudian merupakan prahara sendiri bagi content creator sambilan kayak saya yang kadang-kadang sehari bisa ngonten lima biji, tapi lima bulan kemudian zonk.

Semoga ada lanjutan #BagikanDenganBenar selanjutnya supaya ilmu-ilmu semacam ini bisa dibagikan dengan lebih luas lagi. Monggo silakan digoda para pengelolanya di Twitter @bagikandgnbenar dan Facebook serta Instagram @bagikandenganbenar. Siapa tahu kalau digeruduk publik kayak akun BWF, pengelolanya mau bikin gelombang berikutnya.

Tabik~

Link: https://kumparan.com/alexander-arie-sadhar/belajar-konten-dan-diskusi-positif-di-media-sosial-bersama-bagikandenganbenar-1vReB9geNSf/full

BSSN, ACCI, Mafindo, dan Drone Emprit Luncurkan Digital Citizenship Indonesia

JAKARTA, investor.id – Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Asosiasi Cloud Computing Indonesia (ACCI), Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), dan Drone Emprit meluncurkan portal pembelajaran Digital Citizenship Indonesia yang beralamatkan di laman https://digitalcitizenship.id.

Peluncuran tersebut dilakukan secara daring oleh Direktur Proteksi Ekonomi Digital BSSN Dra Rr Retno Artinah S dalam kegiatan webinar bertema ‘Ruang Siber Yang Aman dan Nyaman di Era Industri 4.0’ yang berlangsung pada Selasa (23/3).

Digital Citizenship Indonesia merupakan inisiatif bersama untuk meningkatkan literasi terkait keamanan dan etika di ruang siber. Inisiator awal dari portal pembelajaran ini akan dimulai dengan menyusun kerangka kurikulum dan kegiatan yang ada. Platform ini juga didukung oleh Acara Seru dan CyberHub Indonesia. 

Peluncuran platform pembelajaran tersebut dilatarbelakangi oleh keprihatinan bersama terkait literasi keamanan dan juga etika di ruang siber. Risiko kejahatan siber (cybercrime) menjadi pengetahuan yang penting untuk diketahui oleh masyarakat.

Namun, dalam praktiknya, belum banyak masyarakat di Indonesia yang memahami hal tersebut. Karena itu, masih banyak masyarakat maupun organisasi di Tanah Air yang menjadi korban dari kejahatan siber. 

Juru Bicara dari BSSN Anton Setiyawan berharap, platform Digital Citizenship Indonesia bisa memberikan kontribusi yang signifikan bagi Indonesia. “Mudah-mudahan dengan platform ini, kita bisa maksimalkan dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan dan kesejahteraan bangsa ini,” ujar Anton. 

Founder dari Mafindo Harry Sufehmi menuturkan, Digital Citizenship Indonesia merupakan peluang yang sangat bagus untuk bergotong-royong guna membuat panduan bagi banyak orang mengenai etika digital.

“Secara komprehensif, etika digital saya belum tahu ada. Dan, saya rasa, ini peluang yang sangat bagus untuk kita garap bersama-sama, sehingga bisa menjadi panduan bagi banyak orang,” harapnya.

Ia juga berpendapat, dengan menjadi digital citizenship yang baik, kita tidak hanya membuat dunia siber menjadi lebih nyaman dan aman, tapi juga memungkinkan kita untuk bisa memanfaatkan dan sukses di dunia baru tersebut. 

Founder dari Drone Emprit Ismail Fahmi menyampaikan pentingnya pembelajaran digital citizenship untuk masyarakat Indonesia. Dia menyampaikan, hal tersebut menjadi kewajiban bersama  hukumnya.

“Mudah-mudahan kita bisa berkolaborasi bersama di digitalcitizenship.id, dan kita ramai-ramai gunakan itu sebagai suatu kontribusi kita bersama,” tutur Ismail. 

Baru Awal

Ketum ACCI Alex Budiyanto mengatakan, Digital Citizenship Indonesia baru inisiasi awal. Karena itu, diperlukan kolaborasi banyak pihak untuk bergotong-royong dan berkontribusi untuk memperbaiki literasi keamanan siber dan juga etika di ruang siber.

Alex pun mengajak sebanyak mungkin pihak untuk mendukung dan turut berkolaborasi dalam pengembangan materi pembelajaran Digital Citizenship Indonesia. 

“Butuh bantuan dan juga semangat gotong-royong untuk menyusun materi pembelajarannya, baik untuk anak-anak sampai orang dewasa. Untuk itu, bagi yang tertarik membantu dan ingin berkontribusi untuk bisa mengirimkan ke e-mail hi@digitalcitizenship.id,”tutup Alex. 

Rencananya, materi pembelajaran Digital Citizenship Indonesia mulai diperuntukkan bagi anak-anak playgroup, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, hingga orang dewasa dan  orang tua yang mempunyai anak.

Inisiatif bersama tersebut pun dalam jangka panjang diharapkan bisa berdampak positif terhadap terciptanya ruang siber yang aman dan nyaman di era Industri 4.0.  Editor : Abdul Muslim (abdul_muslim@investor.co.id)

link: https://investor.id/it-and-telecommunication/bssn-acci-mafindo-dan-drone-emprit-luncurkan-digital-citizenship-indonesia

Pemuda Muhammadiyah Kelola Tanah 19 Ribu Hektare dari Jokowi

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah mengaku telah menerima Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 19.685 hektar dari Presiden Joko Widodo.

Sekretaris Jenderal PP Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad Tawlla mengatakan pihaknya dipercaya untuk mengelola tanah yang tersebar di Kecamatan Babat Supat, Keluang, Sungai Lilin dan Batang Hari Leko, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Lahan ini nantinya akan dimanfaatkan, dan dikembangkan untuk pengelolaan sampah mandiri, pengembangan peternakan, dan pengembangan hidroponik, berbasis pemberdayaan masyarakat. Dengan ikhtiar membantu Visi Muba Maju Berjaya,” kata Dzulfikar dikutip dari website resmi Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah yang dipublikasi pada Jumat (19/3).https://c8670dd3101958aa91b86cda7b2f41ec.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

Dalam situs itu dijelaskan pada 24 Januari 2020, PP Pemuda Muhammadiyah bersilaturahmi dengan Presiden Jokowi di Istana Negara. Dalam kesempatan itu, Jokowi mendukung agenda PP Pemuda Muhammadiyah terkait pemberdayaan para pemuda di bidang ekonomi, kewirausahaan, dan agrobisnis.

Salah satu dukungan Jokowi yaitu memberikan konsesi lahan yang bisa dikelola secara mandiri oleh PP Pemuda Muhammadiyah.

Pada tanggal dan tempat yang sama, tercatat bahwa Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto menemui Jokowi untuk membahas sejumlah hal dalam pertemuan tertutup. Salah satunya terkait omnibus law UU Cipta Kerja yang kala itu belum disahkan pemerintah.

Terkait lahan TORA, menurut Dzulfikar, Jokowi menindaklanjutinya dengan mengarahkan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno pada 9 Juli 2020. PP Muhammadiyah pun diminta mendukung dengan mempersiapkan administrasi dan perizinan konsesi lahan.

Koordinasi juga dilakukan dengan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto hingga Dirjen Planologi Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Sigit Hardwinarto. Kemudian ditentukan bahwa lahan yang dipilih berada di Sumatera Selatan.

“Dari sini barulah kemudian jelas arahan hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK), serta menunjuk lokasi HPK yang ada di Sumatera Selatan,” kata Dzulfikar.

Pemberian tanah objek reforma agraria itu mendapat kritik dari berbagai kalangan. Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria Dewi Kartika menyebut hal ini sebagai tindakan yang memalukan. 

“Memalukan. Hak petani dan rakyat kecil kalian rampas dan selewengkan. Hindari diri dan kelompokmu menjadi penumpang gelap Reforma Agraria. #ShameOnYou,” tulis Dewi di akun Facebook pribadinya sambil mengunggah tangkapan layar berita yang berjudul “Presiden Berikan 19 Ribu hektare Lahan Kepada PP Pemuda Muhammadiyah untuk Dikelola”.

Ketua Dewan Nasional KPA, Iwan Nurdin lewat cuitannya juga menerangkan bahwa tanah berstatus TORA mestinya diberikan kepada para petani atau nelayan yang memiliki tanah.

Menurut dia, Pemuda Muhammadiyah bukan subjek yang berhak menerima TORA seperti diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria. Iwan menyebut pemberian semacam itu hanya hanya akan mengambil hak masyarakat yang mestinya lebih berhak menerima.

Iwan khawatir, cara demikian dapat menjadi legitimasi bagi pemerintah untuk melakukan hal serupa.

“Pemuda Muhammadiyah secara peraturan Perpres 86/2018 bukanlah subjek yang berhak menerima Tanah Objek Reforma Agraria. Pemberian semacam ini bisa mengambil rakyat yang berhak seperti petani, masyarakat adat, dan penggarap di lokasi,” kata dia.

Sementara pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi menyarankan agar lahan tersebut sebaiknya dikembalikan. Menurutnya, jika lahan tersebut memang diberikan, ia khawatir justru akan memunculkan polemik di tengah masyarakat.

Menjawab saran Ismail, PP Pemuda Muhammadiyah mengklaim bahwa tanah tersebut bukan diberikan dalam status hak milik, melainkan hak kelola.

“Terimakasih atensinya Abang @ismailfahmi, ‘diamanahkan mengelola’, bukan ‘diberikan’,” demikian dikutip dari akun resmi PP Muhammadiyah, Selasa (23/3).(thr/pmg)

Bareskrim: Hati-hati Ada Customer Care Bank Bodong!

Jakarta, CNBC Indonesia -Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Mabes Polri mengingatkan masyarakat berhati-hati dalam mengakses media sosial perbankan. Pasalnya mulai muncul akun bot yang berpura-pura menjadi costumer care bank untuk menipu nasabah.

Siber Polri menjelaskan biaya akun bot ini akan merespons keluhan dari nasabah di media sosial dengan memberikan nomor WhatsApp kemudian meminta data pribadi perbankan serta kode one time password (OTP).

Bila data pribadi perbankan dan kode OTP diberikan pada pelaku kejahatan maka kemungkinan besar dana nasabah yang ada di rekening bank akan dikuras habis.

“Hati-hati Akun Bot berpura-pura menjadi Customer Care Bank untuk menipu nasabah. Akun Bot akan merespon keluhan dari nasabah di media sosial dengan memberikan nomor Whatsapp, setelah itu penipu bisa meminta data pribadi perbankan serta kode OTP,” ujar Siber Polri seperti dikutip Selasa (23/3/2021).

Bila kalian ingin mengajukan keluhan kepada bank, pastikan akun media sosial tersebut sudah centang biru atau terverifikasi atau kunjungi situs resmi bank untuk mengetahui akun medsos resmi bank.

Kasus maraknya akun bodong perbankan juga sempat disuarakan pengamat keamanan siber Ismail Fahmi melalui akun twitter pribadinya.

Fahmi mengatakan dalam dua bukan terakhir ia mendapati setidaknya 331 akun penipuan Halo BCA di Twitter. Akun-akun tersebut rajin menjawab keluhan nasabah terkait masalah yang didapati saat melakukan transaksi.

Dalam cuitan Fahmi, terlihat akun-akun bodong tersebut meminta nasabah melaporkan masalahnya ke sebuah nomor telepon atau pesan singkat ke jejaring Whatsapp, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Menurut penemuan Fahmi, kejadian serupa bukan hanya dialami nasabah BCA. Tapi juga nasabah BNI, BRI, Mandiri dan Jenius. Ia mengatakan modus penipuan melalui akun bodong masif terjadi di jejaring internet.

Link: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20210323125754-37-232193/bareskrim-hati-hati-ada-customer-care-bank-bodong