Bareskrim: Hati-hati Ada Customer Care Bank Bodong!

Jakarta, CNBC Indonesia -Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Mabes Polri mengingatkan masyarakat berhati-hati dalam mengakses media sosial perbankan. Pasalnya mulai muncul akun bot yang berpura-pura menjadi costumer care bank untuk menipu nasabah.

Siber Polri menjelaskan biaya akun bot ini akan merespons keluhan dari nasabah di media sosial dengan memberikan nomor WhatsApp kemudian meminta data pribadi perbankan serta kode one time password (OTP).

Bila data pribadi perbankan dan kode OTP diberikan pada pelaku kejahatan maka kemungkinan besar dana nasabah yang ada di rekening bank akan dikuras habis.

“Hati-hati Akun Bot berpura-pura menjadi Customer Care Bank untuk menipu nasabah. Akun Bot akan merespon keluhan dari nasabah di media sosial dengan memberikan nomor Whatsapp, setelah itu penipu bisa meminta data pribadi perbankan serta kode OTP,” ujar Siber Polri seperti dikutip Selasa (23/3/2021).

Bila kalian ingin mengajukan keluhan kepada bank, pastikan akun media sosial tersebut sudah centang biru atau terverifikasi atau kunjungi situs resmi bank untuk mengetahui akun medsos resmi bank.

Kasus maraknya akun bodong perbankan juga sempat disuarakan pengamat keamanan siber Ismail Fahmi melalui akun twitter pribadinya.

Fahmi mengatakan dalam dua bukan terakhir ia mendapati setidaknya 331 akun penipuan Halo BCA di Twitter. Akun-akun tersebut rajin menjawab keluhan nasabah terkait masalah yang didapati saat melakukan transaksi.

Dalam cuitan Fahmi, terlihat akun-akun bodong tersebut meminta nasabah melaporkan masalahnya ke sebuah nomor telepon atau pesan singkat ke jejaring Whatsapp, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Menurut penemuan Fahmi, kejadian serupa bukan hanya dialami nasabah BCA. Tapi juga nasabah BNI, BRI, Mandiri dan Jenius. Ia mengatakan modus penipuan melalui akun bodong masif terjadi di jejaring internet.

Link: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20210323125754-37-232193/bareskrim-hati-hati-ada-customer-care-bank-bodong

LP3ES: Mengatasi Banjir Jakarta Perlu Kerja Sama Hulu Hilir DAS

Suara.com – Pendekatan dan Strategi pengendalian banjir Jakarta masih didominasi dengan penanganan bersifat struktural, skala mikro, reaktif, dan simptomatic.

Banjir sebagai gejala alamiah tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sungai dalam perspektif hubungan wilayah hulu dan hilir. Perspektif inilah yang menjadi salah satu kunci penyelesaian masalah banjir.

Penggunaan perspektif Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam perencanaan dan pengaturan sistem pengendalian banjir menjadi bagian pendekatan penanganan banjir.

Selain itu penguatan governance dengan meningkatkan peran masyarakat agar lebih proaktif dalam uapay pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan akibat banjir.

Kuswanto SA selaku peneliti senior Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), mengusulkan bahwa penerapan Integrated Flood Management dengan menggunakan model kombinasi penanganan struktur dan non struktur secara tepat, proporsional, terintegrasi dan saling mendukung.

“Penting bagi pemerintah untuk membangun visi bersama dengan melibatkan seluruh stakeholder mulai dari komunitas lokal sampai pengambil keputusan tertinggi,” ujar Kuswanto yang juga anggota Dewan Sumber Daya Air Nasional.

Sekretaris Dinas sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, Dudi Gardesi menyampaikan bahwa selain faktor 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta, kota metropolitan ini juga memiliki kerawanan lain terhadap bencana banjir, yaitu adanya penurunan daratan (land subsidence).

“Dari sisi wilayahnya sendiri 40% wilayah Jakarta terletak di dataran rendah dengan ketinggian rata-rata dibawah permukaan air laut. Ditambah lagi secara geomorfologi wilayah Jakarta merupakan bentukan hasil proses fluvial dan terletak di bagian Utara Pulau Jawa,” kata Dudi Gardesi.

Bias Perspektif Politik

Rentetan musibah banjir yang terjadi sejak awal tahun di berbagai daerah menjadi perbincangan hangat publik di media sosial.

Ismail Fahmi selaku pakar Social Network Analysis menyampaikan bahwa perbincangan mengenai banjir sudah tidak lagi di dominasi oleh Jakarta, perbincangan banjir di luar Jakarta ikut meramaikan media sosial yang ditandai dengan kemunculan hastag seperti #prayforkalsel, semarang, cikampek dan lainnya.

“Selama tahun 2021 percakapan tentang banjir di media sosial sudah tidak lagi menjadi perbincangan banjir secara murni tetapi bertransformasi menjadi sentiment politik,” kata Ismail Fahmi.

Meski demikian, Ismail Fahmi yang juga merupakan founder Drone Emprit ini mengatakan bahwa kampanye kontra Anies terkait banjir 2021 relatif berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Webinar yang dilaksanakan oleh LP3ES terkait permasalahan banjir juga untuk mempertemukan berbagai narasumber, baik dari pemerintah, maupun dari pakar lingkungan, serta sudut pandang perbincangan media sosial.

Link: https://www.suara.com/news/2021/03/18/183434/lp3es-mengatasi-banjir-jakarta-perlu-kerja-sama-hulu-hilir-das?page=all

Banyak Nasabah “Terjebak” Akun Bodong Bank di Twitter, Simak Analisis Drone Emprit

KOMPAS.com – Halo BCA menjadi trending di media sosial Twitter pada Minggu (14/3/2021) pagi, dengan lebih dari 4.000 twit berbagi dengan kata itu.

Kunto Aji, lewat akunnya @KuntoAjiW, membuat twit untuk memancing bot penipu yang biasanya membalas nasabah yang melaporkan keluhan lewat Twitter. 

“Halo BCA atm ku tertelan, boleh minta minum gak seret nih, nyangkut di tembolok, terima kasih BRI, BNI, Shopeecare,” tulis Kunto Aji.

Warganet ramai menggunakan kata Halo BCA hingga Minggu siang.

Diketahui, banyak akun bodong yang mencatut bank untuk “menjebak” para nasabah yang menyampaikan keluhan di media sosial Twitter.

Analisis Drone Emprit

Analisis Portal Data Analisis Media Sosial Drone Emprit menunjukkan, ada penipu yang mengaku customer care bank-bank yang ada di Indonesia.

Drone Emprit telah membuat analisis terkait penipuan terhadap nasabah BNI. Sementara itu, analisis rinci dari bank lainnya akan disampaikan menyusul.

Founder of Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menjelaskan, penipu yang mengaku customer care BNI setidaknya ada 113 akun penipu dalam 1 pekan ini.

Selain itu, dalam dua bulan terakhir, ada 331 akun penipu yang mengatasnamakan Halo BCA.

Ismail mengunggah peta “Live Chat” pada Sabtu (13/3/2021), yang menunjukkan akun-akun penipu di Twitter. Dari peta tersebut, diketahui target penipu antara lain nasabah BNI, BRI, Mandiri, BCA, dan Jenius.

Dengan keyword tersebut, akun penipu yang paling banyak ditemukan adalah BNI, kemudian BRI, setelah itu BCA.

Ismail menjelaskan, para penipu itu menggunakan bot untuk mengirim pesan kepada para nasabah yang sedang panik karena mengalami kendala urusan perbankan.

“Mereka (penipu) itu punya bot (program otomatis) yang memonitor semua percakapan yang mengandung kata, misalnya HaloBCA, BNI, dan sebagainya,” kata Ismail saat dihubungi Kompas.com, Minggu (14/3/2021).

Biasanya, lanjut Fahmi, nasabah yang panik langsung dikirimi DM atau reply (balasan).

Ada pula yang menambahkan nomor Whatsapp (WA) atau nomor telepon yang bisa dihubungi beserta link yang mengarahkan nasabah ke percakapan pribadi. 

Menurut Fahmi, yang paling sering terjadi adalah nasabah diarahkan ke Whatsapp.

“Kalau mau cepat silakan klik link ini, ngomong dengan WA, selalu diarahkan ke WA. Supaya apa dibelokkan, kalau sudah di-WA di sana itu sudah siap timnya,” kata Fahmi.

Oknum penipu juga kerap menindaklanjuti calon korban dengan menelepon atau video call, bahkan menggunakan background seolah berada di kantor dengan logo palsu untuk mengelabui nasabah.

Ismail Fahmi mengatakan, para penipu mengarahkan ke komunikasi personal seperti peran CS dan yang mereka lakukan adalah social engineering.

Kerja tim

Ia menduga, modus seperti ini dilakukan oleh tim, karena butuh banyak waktu untuk menanyakan data nasabah.

Artinya, kata dia, mereka itu komplotan karena untuk satu nasabah ditangani satu orang.

Fahmi menjelaskan, biasanya nasabah yang sudah terpancing akan menghubungi Whatsapp akan ditanyai beberapa hal, seperti data nomor rekening, nomor kartu ATM, nama, bahkan kode OTP (One-Time Password).

Adapun kode OTP merupakan kode yang dikirimkan ke nasabah misalnya saat akan mengganti PIN. Jika kode tersebut bocor ke penipu, uang di rekening nasabah bisa diambil.

“Ada OTP yang dikirim pakai SMS terus diminta kirim. Kalau itu dikirim, wassalam aja, itu adalah kode untuk mentrasfer uang dari rekening nasabah ke rekening lain,” kata Ismail.

Para nasabah yang tertipu, menurut Ismail, karena mereka sudah panik. Dalam kondisi mengalami kendala seperti ATM tertelan, mereka butuh solusi cepat.

Dalam kondisi seperti itu, nasabah bisa ceroboh atau tidak teliti ketika ada akun palsu yang menghubunginya.

“Apa yang diterima misalnya ada pesan WA ada logo BNI atau BCA dianggap betulan sering tertipu,” kata dia.

Banyak korban

Ismail mengatakan sudah banyak korban. Dalam sehari banyak sekali orang terjebak oleh akun-akun palsu.

Lewat akun Twitter-nya, Ismail juga me-retweet warganet yang melaporkan telah menjadi korban dari para penipu itu. Ada yang pernah tertipu Rp 2 juta, Rp 4,5 juta, Rp 16 juta, dan sebagainya.

Apa yang bisa dilakukan oleh pihak bank dan nasabah?

Fahmi mengatakan, langkah yang bisa dilakukan pihak bank adalah melawan bot penipu dengan bot juga.

Perlu dibuat sistem bot yang mendeteksi kemunculan reply dari akun penipu. Sarannya, gunakan pola yang sering mereka gunakan dan terus perbarui.

Sementara, para nasabah disarankan untuk tidak menanyakan persoalan terkait perbankan secara terbuka melalui media sosial.

Langkah yang lebih aman, kata dia, dengan langsung menelepon customer care bank, atau mengirimkan pesan atau DM akun-akun resmi bank.

Kompas.com menghubungi BCA dan BNI untuk meminta tanggapan mengenai hal ini. Hingga pukul 13.35 WIB, belum ada jawaban lengkap soal langkap apa yang diambil pihak bank merespons akun-akun bodong ini.

Link: https://www.kompas.com/tren/read/2021/03/14/145600565/banyak-nasabah-terjebak-akun-bodong-bank-di-twitter-simak-analisis-drone?page=all

Waspada Penipuan Akun Customer Care Bank Palsu di Twitter

Kehadiran media sosial Twitter mempermudah nasabah untuk menyampaikan masalah perbankan kepada akun customer care bank terkait. Namun, kemudahan ini memicu pelaku kejahatan siber untuk melancarkan modus penipuan mereka.

Menurut laporan firma analisis data Drone Emprit, saat ini marak penipuan nasabah bank yang dilancarkan oleh akun customer care bodong yang mengaku dari bank ternama Indonesia.

Drone Emprit, misalnya, menemukan 113 akun Twittercustomer care palsu yang mengatasnamakan BNI dalam sepekan terakhir, dari 6-12 Maret 2021. Ratusan akun itu bisa memproduksi 1.133 tweet penipuan dalam periode tersebut.

Selain BNI, Drone Emprit juga menemukan akun customer care palsu yang mengatasnamakan bank lain, mulai dari BCA hingga Bank Mandiri.

“Saya lihat kok banyak orang yang share kalau mereka ditipu, komplain lewat BNI, BCA, di Twitter, langsung disamber (akun palsu), terus diminta ini itu. Ada beberapa yang sudah tertipu,” kata founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, kepada kumparanTECH, Minggu (14/3).

“Itu sebenarnya sudah tahu lama saya, cuma kok enggak ada solusi selama ini?”

Modus operandi penipuan ini sebenarnya sederhana. Ketika seorang nasabah menyampaikan keluhan dan masalahnya dengan mention akun resmi customer care bank, akun penipu akan menimpali tweet nasabah seolah-olah sebagai akun resmi.

“Satu orang itu bisa dikerubungin sampai lima-delapan akun penipu. Ada yang pernah mengaku sampai 10. Ini luar biasa,” kata Ismail.

Dengan metode penipuan semacam itu, Ismail menyebut pelaku memakai program bot yang otomatis mengawasi, me-reply, dan mengarahkan pengguna ke nomor chat WhatsApp mereka.

Dalam analisisnya, Drone Emprit menemukan sebagian besar akun customer care palsu tersebut tak memiliki follower dan following.

Berdasarkan pantauan kumparanTECH, akun penipu customer care bodong juga memiliki akhiran username dengan angka acak, khas akun Twitter yang tidak organik (bot). Selain itu, akun customer care bank palsu juga tak memiliki tanda verified seperti akun resmi.

Ismail pun menyebut penipuan dengan akun customer care palsu juga terjadi di Instagram dan Facebook. Namun, laporannya kali ini hanya fokus kepada media sosial Twitter.

Manipulasi psikologis

Meski tanda-tanda akun palsu mudah dikenali, orang yang panik mungkin tidak begitu awas untuk menyadarinya. Ismail menjelaskan, penipuan akun customer care palsu itu sebenarnya menjalankan aksi social engineering atau rekayasa sosial.

Rekayasa sosial adalah aktivitas untuk mengelabui korban sedemikian rupa untuk mempercayai suatu hal hingga dapat ditipu. Kamu bisa pelajari aksi penipuan ini lewat artikel berikut:
https://widget.kumparan.com/story/satu-tips-mudah-cegah-magis-penipuan-online-di-aplikasi-digital-1uP3xRaRntq?variant=EMBED&fixedHeight=0&dark=0

Ismail mengatakan orang yang punya masalah perbankan dan sedang panik mungkin tidak dapat menyadari secara langsung akun customer care palsu yang membalas masalahnya, meskipun akun palsu bisa dikenali dengan akal sehat. Artinya, pelaku berhasil memanipulasi psikologi korban untuk menjalankan aksinya.

“Ini kan sebenarnya social engineering. Social engineering itu enggak perlu nge-hack, enggak perlu apa-apa. Cuma perlu secara psikologis meyakinkan orang-orang kalau dia itu seolah-olah dari customer service,” kata Ismail.

“Kalau akun resminya itu sendiri telat (menimpali tweet nasabah), pasti kan kalau dia (nasabah) sudah panik dia terima apapun. Ada yang kemudian sadar, dan banyak sekali yang tidak sadar,” sambungnya.

Kendati kesadaran nasabah penting agar tidak jadi korban penipuan rekayasa sosial, Ismail juga meminta bank untuk mengawasi aksi akun palsu yang mengatasnamakan mereka.

Ismail memberikan saran bahwa bank bisa menciptakan bot di Twitter untuk mendeteksi nasabahnya yang ditanggapi oleh akun customer care palsu. Jadi, ketika nasabah suatu bank didekati oleh akun customer carepalsu, bank terkait bisa mengingatkan segera kepada pelanggan bahwa yang menanggapinya bukan akun resmi mereka.

“Selama ini solusinya jangan bagi informasi rahasia ke orang yang menghubungi, atau selalu hubungi nomor asli. Ini kan enggak bekerja buat orang yang panik,” jelas Ismail, mengkritik solusi bank saat ini yang belum dapat mencegah penipuan rekayasa sosial.”Mudah-mudahan, (laporan) ini bisa bantuin bank-bank supaya bergerak. Kasihan banyak orang,” pungkasnya

Link: https://kumparan.com/kumparantech/waspada-penipuan-akun-customer-care-bank-palsu-di-twitter-1vLwXwGCioR/full.

Kesal Netizen soal Kasus Penipuan Akun Bodong BCA-BNI

Jakarta, CNN Indonesia — 

Warga internet ramai-ramai menyoroti akun bodong BCA dan BNI di jejaring sosial Twitter yang diduga telah melakukan rangkaian penipuan terhadap nasabah. Penipuan diduga dilakukan melalui live chat di jejaring tersebut.

Kasus ini salah satunya turut disuarakan oleh Ismail Fahmi, pendiri aplikasi Drone Empirit. Melalui cuitan di akun Twitter, ia mengungkap ada puluhan akun yang menamakan Halo BCA untuk melakukan upaya penipuan.

Fahmi mengatakan dalam dua bukan terakhir ia mendapati setidaknya 331 akun penipuan Halo BCA di Twitter. Akun-akun tersebut rajin menjawab keluhan nasabah terkait masalah yang didapati saat melakukan transaksi.

Dalam cuitan Fahmi, terlihat akun-akun bodong tersebut meminta nasabah melaporkan masalahnya ke sebuah nomor telepon atau pesan singkat ke jejaring Whatsapp.

Menurut penemuan Fahmi, kejadian serupa bukan hanya dialami nasabah BCA. Tapi juga nasabah BNI, BRI, Mandiri dan Jenius. Ia mengatakan modus penipuan melalui akun bodong masif terjadi di jejaring internet.

Beberapa netizen kemudian ramai melaporkan pengalamannya kepada Fahmi. Akun @ReginaIbnawati mengatakan dia tertipu hingga Rp4,5 juta gara-gara mempercayai akun bodong yang mengaku-ngaku dari pihak BNI.

Sebuah akun bernama @housecatraffi mengaku juga tertipu dan sudah melaporkan pelaku ke pihak berwenang. Ia bercerita tertipu akun bodong yang menjawab keluhannya di kolom komentar akun resmi BRI.

Karena ramainya pembahasan kasus penipuan ini, Halo BCA melesat jadi trending topic dengan 3.330 cuitan hingga pagi ini, Minggu (14/3). Beberapa figur publik, seperti penyanyi Kunto Aji, turut menyoroti kasus ini dengan mengungkap modus akun bodong tersebut.

Akun lain mengeluhkan akun bodong BNI yaitu, @cikaaaaL.

Prnhh kena krna panik bgt udh tf bbrp hari trnyata blm ada uang masuk katanya, eh disuru chat ke wa, aku chat dan diminta utk pindahin seluruh uang tab ke rek bni aku. Trus aku blg aku ga ada uang rekeningku sisa 3500 perak di BCA dan di BNI sisa 12.000. Gak diladenin ama mrekaRolling on the floor laughing,” cuitnya.

Ada juga yang cuma menyolek akun resmi BNI @BNICustomerCare atas maraknya kasus akun bodong BNI.

Yaa hallo BNI customer care, coba masih nongol gak,” ucap nih@serojargv.

Akun lain yang menyampaikan kekesalan terhadap akun bodong BNI, yaitu @hostingcounter. Ia kesal respon BNI di Twitter sementara akun bodong marak serang pengguna.

(fey/mik)

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210314092710-192-617189/kesal-netizen-soal-kasus-penipuan-akun-bodong-bca-bni

Ismail Fahmi: UU ITE Sangat Diperlukan, Tapi Harus Direvisi

Suara.com – Direktur Drone Emprit Ismail Fahmi mengatakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) masih sangat dibutuhkan tetapi perlu direvisi.

“Harapan publik atas revisi Undang-Undang ITE sangat besar. Nuansa rasa takut atas Undang-Undang ITE dirasakan oleh publik,” kata Ismail dalam seminar daring yang diadakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat diikuti dari Jakarta, Rabu (10/3/2021).

Ismail mengatakan bahwa masyarakat menyambut baik ketika Presiden Joko Widodo menyampaikan pernyataan yang membuka peluang revisi UU ITE.

Bila dilihat dari peta analisis jejaring sosial di internet, kata dia, dukungan dan pertentangan terhadap revisi Undang-Undang ITE memiliki korelasi kuat antara klaster propemerintah dan klaster nonpemerintah yang terdiri atas publik, pegiat, oposisi, dan lembaga swadaya masyarakat.

“Klaster propemerintah cenderung kontra revisi Undang-Undang ITE, sedangkan klaster nonpemerintah cenderung prorevisi,” tuturnya.

Menurut Ismail, media memiliki peran penting dalam membangun percakapan dan narasi terkait dengan isu revisi Undang-Undang ITE di kalangan publik.

Berdasarkan analisis emosi terhadap pernyataan Presiden Jokowi agar masyarakat mengkritik pemerintah dan revisi UU ITE, masyarakat cenderung ragu, bahkan tidak percaya hal itu akan dapat dijalankan.

“Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi pemerintah untuk serius menindaklanjuti pernyataan Presiden Jokowi, tidak hanya dengan membuat petunjuk pelaksanaan, tetapi dengan merevisi Undang-Undang ITE sebagaimana masukan dari banyak pihak,” katanya.

Menurut Ismail, revisi UU ITE penting dilakukan karena sejak 2012 muncul propaganda komputasional yang digunakan oleh aktor-aktor politik di berbagai negara untuk memanipulasi opini masyarakat melalui jejaring media sosial, seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan YouTube.

Propaganda komputasional juga telah memunculkan pasukan siber, yaitu tim siber yang digunakan pemerintah, militer, atau partai politik di seluruh dunia untuk mengembangkan atau memanipulasi opini masyarakat melalui media sosial. [Antara]

Link: https://www.suara.com/tekno/2021/03/12/014031/ismail-fahmi-uu-ite-sangat-diperlukan-tapi-harus-direvisi

Pakar: Masyarakat Awam Menjadi Korban Paling Dirugikan dari UU ITE

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pakar Sosial Media, Ismail Fahmi, menegaskan orang awam menjadi korban dari adanya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Sangat jelas orang yang menjadi korban ini orang biasa atau masyarakat awam. Mereka malah takut dan trauma ketika bersentuhan dengan Undang-Undang ITE ini,” kata Ismail Fahmi saat dihubungi TIMES Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3/2021).

pakar Ismail Fahmi 2

Menurut Fahmi, pada dasarnya masyarakat ingin hidup tenang dan tidak ingin berurusan dengan hukum. Kegiatan mereka di media sosial pun akan terkontrol dengan adanya UU ITE. Namun, lama kelamaan mereka menjadi korban.

Oleh karena itu, dia meminta kepada presiden cepat memberikan jalan keluar terkait status UU ITE ini. Dia menyarankan tidak perlu dihapus, namun cukup direvisi dan disesuaikan. Ini dilakukan agar masyarakat di bawah tidak takut dan trauma.

“Jadi yang paling rugi dalam UU ITE ini sebetulnya, masyarakat yang tidak punya apa-apa. Baik secara kekuasaan maupun status kekayaan mereka. Karena pada dasarnya mereka ingin hidup tenang dan tidak merasa diancam, nah kali ini UU ITE tanpa sengaja berusaha mengancam mereka,” sambung Ismail Fahmi.

Direktur Drone Emprit tersebut mengakui UU ITE ini tujuannya baik. Tapi pada ranah implementasi masyarakat awam menjadi korban. Semua syarat dengan kepentingan politik hingga saling serang lewat jalur hukum yang senajatanya difasilitasi oleh negara sendiri.

“Ini ada ketidakadilan dalam implementasinya dan itu sudah terbukti, yang paling sering menggunakan UU ITEini yang berkuasa dan kontra penguasa. Jadi nuansa takut dan trauma saling lapor itu dominan di tengah masyarakat,” tandas Ismail Fahmi(*)

Link: https://www.timesindonesia.co.id/read/news/333216/pakar-masyarakat-awam-menjadi-korban-paling-dirugikan-dari-uu-ite

Drone Emprit Mencatat UU ITE Sering Disalahgunakan Pemilik Kekuasaan

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Direktur Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyatakan, selama ini Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sering disalahgunakan oleh orang yang punya kekuasaan.

Menurut Fahmi, mereka merasa nama baiknya dicemarkan, haknya diambil sehingga merasa tersinggung dan mengunakan jalur hukum. 

Dia menegaskan, fenomena ini tidak baik jika dibiarkan sehingga perlu adanya keseriusan pemerintah dalam melakukan tindakan preventif. Misalnya merevisi atau bahkan ada siber police khusus yang ditugaskan untuk memantau.

“Ujaran kebencian, nama baik itu kan terjadi kepada orang yang punya kekuasaan. Mereka saling melaporkan, mereka mengerti bahwa haknya diambil. Itu akan memperkeruh suasana di media sosial,” kata Fahmi saat dihubungi TIMES Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3/2021).

Pakar media sosial tersebut menjelaskan berbanding terbalik dengan masyarakat yang tidak punya kekuasaan. Dia menempatkan masyarakat di sektor ini sebagai korban UU ITE. Ketenangannya diusik, bahkan hak asasi manusia mereka diabaikan.

“Berbeda halnya, dengan masyarakat yang tidak punya kekuasaan. Misalnya mereka yang tidak tau melaporkan atau tidak punya uang untuk melaporkan. Namun ketika bersinggungan dan punya masalah dengan masalah ini mereka hanya menjadi korban,” sambung Fahmi.

UU-ITE.jpg

Fahmi menambahkan, hasil riset dari lembaganya menyebutkan bahwa publik sangat berharap kepada presiden. Mereka ingin UU ITE ini segera direvisi, apalagi telah banyak korban yang dipenjara.

“Drone Emprit membawa publik itu sebenarnya mereka mengapresiasi pak Jokowi yang kemungkinan direvisi. Namun, banyak juga keraguan dari masyarakat kalau revisi ini betul-betul di wujudkan,” imbuhnya.

Jika tidak diubah, kata Fahmi, maka masyarakat akan hidup dalam situasi trauma dan takut kepada UU ITE. Dia mengajak, selama proses diskusi dan kajian terkait UU ITE ini jangan sampai aja yang melaporkan kepada pihak kepolisian. Karena tradisi ini tidak baik jika dilanjutkan.

“Tentu masyarakat sangat berharap Undang-undang ini dirubah, ada nuansa takut terkait penggunaan UU ITE secara berlebihan terutama kebanyakan yang sering melaporkan adalah orang yang punya kekuasaan. Karena mereka tau haknya di langgar misalnya soal nama baik,” ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengumumkan akan merevisi UU ITEkarena banyak laporan dari masyarakat. Dia juga telah membentuk Tim Kajian UU ITE, yang berfungsi untuk menyaring pendapat dari berbagai pihak apa saja yang perlu di revisi, termasuk dari Drone Emprit. (*)

Link: https://www.timesindonesia.co.id/read/news/333195/drone-emprit-mencatat-uu-ite-sering-disalahgunakan-pemilik-kekuasaan

Pakar: UU ITE Dibutuhkan tapi Perlu Direvisi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Drone Emprit Ismail Fahmi mengatakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) masih sangat dibutuhkan tetapi perlu direvisi.

“Harapan publik atas revisi Undang-Undang ITE sangat besar. Nuansa rasa takut atas Undang-Undang ITE dirasakan oleh publik,” kata Ismail dalam seminar daring yang diadakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat diikuti dari Jakarta, Rabu (10/3).

Ismail mengatakan bahwa masyarakat menyambut baik ketika Presiden Joko Widodo menyampaikan pernyataan yang membuka peluang revisi terhadap Undang-Undang ITE. Bila dilihat dari peta analisis jejaring sosial di internet, kata dia, dukungan dan pertentangan terhadap revisi Undang-Undang ITE memiliki korelasi kuat antara klaster propemerintah dan klaster nonpemerintah yang terdiri atas publik, pegiat, oposisi, dan lembaga swadaya masyarakat.

“Klaster propemerintah cenderung kontrarevisi Undang-Undang ITE, sedangkan klaster nonpemerintah cenderung prorevisi,” tuturnya.

Menurut Ismail, media memiliki peran penting dalam membangun percakapan dan narasi terkait dengan isu revisi Undang-Undang ITE di kalangan publik. Berdasarkan analisis emosi terhadap pernyataan Presiden Jokowi agar masyarakat mengkritik pemerintah dan revisi Undang-Undang ITE, masyarakat cenderung ragu, bahkan tidak percaya hal itu akan dapat dijalankan.

“Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi pemerintah untuk serius menindaklanjuti pernyataan Presiden Jokowi, tidak hanya dengan membuat petunjuk pelaksanaan, tetapi dengan merevisi Undang-Undang ITE sebagaimana masukan dari banyak pihak,” katanya.

Menurut Ismail, revisi Undang-Undang ITE penting dilakukan karena sejak 2012 muncul propaganda komputasional yang digunakan oleh aktor-aktor politik di berbagai negara untuk memanipulasi opini masyarakat melalui jejaring media sosial, seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan YouTube.

Propaganda komputasional juga telah memunculkan pasukan siber, yaitu tim siber yang digunakan pemerintah, militer, atau partai politik di seluruh dunia untuk mengembangkan atau memanipulasi opini masyarakat melalui media sosial.

Link: https://www.republika.co.id/berita/qprllb349/pakar-uu-ite-dibutuhkan-tapi-perlu-direvisi