Netizen RI Disebut Lebih Tertarik Bahas Babi Ngepet dari BRIN

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyampaikan warganet Indonesia lebih tertarik membahas isu ‘babi ngepet‘ yang sempat menghebohkan warga Depok ketimbang isu terkait Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hal ini ia peroleh dari hasil riset percakapan netizen di media sosial Twitter.

“Bagi publik, topik terkait riset dan inovasi tidak menarik bagi mereka. Meski ini sangat penting bagi kemajuan bangsa, tapi tampaknya minat dan pemikiran mereka belum sampai ke sana. Mereka lebih berminat dengan itu babi ngepet yang memperlihatkan kemunduran berpikir,” ujar Ismail lewat Twitter, Senin (3/5).

Ismail menyampaikan data SNA memperlihatkan ada tiga klaster besar dalam peta perbincangan BRIN dan babi ngepet, yakni dari kalangan pro-kontra pemerintah. Tapi, dalam topik BRIN, klaster pro pemerintah lebih kecil.

Ismail menyebut klaster ketiga sangat besar ukurannya, tapi bukan bagian dari pro-kontra, melainkan klaaster netizen umum. Dari warna node biru, tampak kebanyakan dari mereka membahas isu ‘babi ngepet’. Hanya sedikit yang berwarna orange tentang BRIN.

BRIN VS BABI NGEPET

Bagaimana dengan publik yang tidak masuk dalam cluster Pro-Kontra pemerintah di atas?

Kita overlay data SNA antara BRIN dengan isu super retjeh “babi ngepet” yang pada saat bersamaan juga sedang ramai di media sosial. Hasilnya menarik, seperti ini. pic.twitter.com/9KOZfiQSwU— Ismail Fahmi (@ismailfahmi) May 3, 2021

Terkait hal itu, Ismail menilai publik lebih suka membahas ‘small talk’ selama itu bersifat kontroversial. Menurutnya, hal itu berbahaya karena ke depan publik akan mudah dialihkan perhatiannya dari hal-hal besar dan esensial bagi masa depan bangsa.

Ismail juga menyinggung para akademisi yang tidak berminat atau berani menyampaikan pemikirannya secara terbuka, membangun diskursus di kalangan cendikiawan dan publik tentang isu penting di media sosial. Dia menduga peneliti lebih aktif di lingkungan tertutup seperti WA group dan webinar.

Dari SNA, dia berkata tampak bahwa hanya klaster kontra pemerintah yang banyak dan konsisten mengangkat isu BRIN. Dia melihat mereka tak banyak yang membahas ‘babi ngepet’. Jika klaster ini tidak bersuara, dia memprediksi medsos Indonesia sudah ditutup oleh isu ‘babi ngepet’.

“Semoga ini bukan tanda ‘matinya kepakaran’ di Indonesia. Kalau iya, yang rugi adalah seluruh bangsa ini,” ujar Ismail.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210505084617-192-638696/netizen-ri-disebut-lebih-tertarik-bahas-babi-ngepet-dari-brin

Kontroversi Joseph Paul Zhang: Antara Proksi dan Provokasi

Kontroversi sang nabi palsu Joseph Paul Zhang agaknya belum akan berakhir. Klaimnya sebagai “Nabi Jones” alias nabi ke-26 menyulut amarah publik Islam. Belum lagi pernyataan-pernyataan frontalnya yang secara sengaja mengejek Nabi Muhammad, sosok yang diagungkan dalam dunia Islam dan merendahkan bulan Ramadan, bulan suci bagi umat Islam. Tulisan Sitti Faizah di kanal Suara Kita Jalandamai.org berjudul “Joseph Paul Zhang dan Dinamika Popularitas Jalur Instan” secara apik mendedah kontroversi tersebut.

Faizah menganggap apa yang dilakukan Zhang murni sebagai sebuah upaya mencari popularitas instan di dunia maya. Klaim kenabian dan segala sumpah serapah Zhang terhadap ajaran dan simbol agama dianggap Faizah sebagai sebuah cara instan mendapatkan popularitas di dunia Maya. Bagi Faizah, aksi Zhang ini tidak lebih dari aksi konyol sejumlah pembuat konten di YouTube yang berusaha mendulang penonton dengan video-video semacam prank sumbangan sampah.

Analisis Faizah tersebut tentu tidak salah. Kesimpulan bahwa aksi kontroversial Zhang dilakukan untuk mendaki tangga popularitas virtual secara instan memang cenderung masuk akal. Namun demikian, ada hal yang belum sepenuhnya terjelaskan dari analisis Faizah tersebut. Benarkah Zhang melakukan hal kontroversial bahkan berpotensi membahayakan nyawanya itu hanya karena ingin memperoleh popularitas di dunia maya?

Saya pribadi memiliki tilikan lain yang sedikit berbeda dengan kesimpulan yang disajikan Faizah. Menurut saya, apa yang dilakukan Zhang lebih dari sekadar mencari popularitas di dunia maya. Namun, ia memiliki misi yang lebih besar dari itu. Asumsi saya itu berdasar dari setidaknya tiga hal. Pertama, klaim Zhang sebagai nabi palsu sebenarnya bukan pertama kali ini dia lakukan. Di pertengahan 2019 lalu ia juga pernah menyatakan diri sebagai nabi. Namun, entah mengapa pernyataan itu tidak sekontroversial sekarang dan meguap begitu saja ditelan isu-isu lainnya.

Kedua, jika dilihat secara seksama, kontroversi klaim kenabian Zhang dan pernyataannya yang mengejek atau merendahkan agama merupakan imbas dari amplifikasi yang dilakukan oleh sejumlah media online di Indonesia. Mengutip analisis Ismail Fahmi, melalui aplikasi drone emprit-nya, isu Zhang ini ramai setelah diberitakan oleh berbagai media online di Indonesia. Padahal sebelumnya, penggalan videonya telah bertebaran di Twitter, namun belum direspons masif oleh publik.

Ketiga, satu hal yang harus kita pahami ialah bahwa Zhang tidak hanya menyerang Islam saja, namun dia juga menghina agama Kristen dan pendeta. Padahal, Zhang yang bernama asli Shindy Paul Soerjomoelyono ini memiliki latar belakang sebagai mahasiswa di Universitas Katolik Satya Wacana Salatiga. Dia bahkan dikenal sebagai mahasiwa yang pintar dan kritis sewaktu kuliah. Fakta bahwa ia tidak hanya menyerang Islam ini menjadi penting untuk melihat aksi Zhang dalam konteks yang lebih luas alias tidak hanya menganggapnya sebagai sosok yang “pansos” melalui isu keagamaan.

Saya pribadi lebih melihat Zhang sebagai sosok yang dipasang oleh kekuatan tertentu sebagai bagian dari perang proksi antar kekuatan global. Barangkali analisis ini terkesan konspiratif. Namun, jika melihat keberanian Zhang dan sulitnya menemukan keberadaan dia saat ini, hipotesis ini tentu patut dipertimbangkan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa persaingan global saat ini kerap diwarnai oleh perang proksi.

Secara sederhana, perang proksi dapat dipahami sebagai sebuah konfrontasi antar-dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung. Frasa “pemain pengganti” dalam konteks perang proksi ini umumnya ialah sosok-sosok yang memang diplot untuk mengusung isu-isu kontroversial dan meresahkan publik. Tujuannya tiada lain ialah memecah belah kekuatan lawan dengan isu-isu kontroversial dan provokatif. Maka, dalam perang proksi kadangkala tidak jelas mana kawan dan mana lawan.

Mewaspadi Provokasi

Disinilah pentingnya kita memahami Zhang dalam bingkai analisis yang lebih luas. Tidak hanya sekadar melihatnya sebagai fenomena media sosial dan algoritma popularitas yang mengiringinya. Zhang jelas lebih dari sekadar pencari popularitas. Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia yakin dengan statemen-statemen kontroversialnya. Dan ia paham benar bahwa ia tengah menghadapi risiko yang tidak ringan. Bahkan, bisa jadi nyawa ialah taruhannya. Meski demikian, ia tetap melakukan aksinya itu tanpa ada rasa bersalah.

Pertanyaanya kemudian ialah jika benar Zhang merupakan bagian dari perang proksi, maka kekuatan mana yang menjadi afiliasinya? Pertanyaan ini tentu patut dielaborasi lebih lanjut.

Di titik ini bisa kita simpulkan bahwa tujuan Zhang tidak lain ialah memprovokasi umat beragama, khususnya umat Islam yang memang dikenal gampang tersulut emosinya jika agamanya dihina. Dalam sebuah ceramahnya, KH. Bahaudiin Nursalim alias Gus Baha pernah berseloroh bahwa biasanya umat Islam yang gampang terprovokasi itu umumnya justru tidak soleh dalam pengamalan agamanya.

Gus Baha mencontohkan, orang yang sama sekali tidak pernah menginjak masjid tiba-tiba paling marah ketika ada masjid yang dicoret-coret atau dirusak. Demikian pula, ada orang yang tidak pernah sholat tapi marah ketika agama Islam dihina. Pendapat Gus Baha itu kiranya bisa kita jadikan inspirasi dalam menyikapi setiap isu kontroversial yang menerpa Islam. Termasuk dalam menghadapi kasus Zhang tersebut.

Apalagi saat ini kita tengah menjalani puasa Ramadan. Kita hendaknya tidak mengumbar amarah hanya karena ulah seseorang yang sengaja menyebar provokasi untuk memecah belah umat Islam. Amarah umat Islam hanya akan menjadi bahan bakar bagi orang-orang seperti Zhang, karena itulah yang mereka inginkan. Mereka menebar isu kontroversial agar kita marah, lalu meluapkan kemarahannya dan pada akhirnya kita lupa pada pada hal-hal dan persoalan subtansial.

Orang seperti Zhang ini besar karena amplifikasi media massa yang sedemikian dahsyat. Media massa terutama daring kadang tidak memperhatikan efek jangka panjang dari pemberitaan yang mereka lakukan. Padahal, secara tidak langsung mereka memberikan panggung lebih luas bagi Zhang dan agenda provokatifnya. Maka dari itu, cara paling tepat untuk menghadapi Zhang ialah dengan mengabaikannya. Kita yakin bahwa Islam, Nabi Muhammad dan puasa Ramadan tidak akan berkurang nilai kesucian dan kemuliannya hanya karena ocehan seoarng Zhang.

Link: https://jalandamai.org/kontroversi-joseph-paul-zhang-antara-proksi-dan-provokasi.html

Begini Cara Aman Jaga Akun Facebook dari Notifikasi Video Porno Phising

Grahanusantara.co.id, Jakarta – Pendiri Media Kernels Indonesia dan Drone Emprit, Ismail Fahmi menyampaikan sejumlah pengguna Facebook menjadi korban porno phising.

“Sering terima notifikasi saat akun tak kita kenal nge-tag akun kita di kolom komentar FB porno phising ‘Klik Untuk Melihat Video Lengkap’?,” ujar Ismail lewat Facebook, Minggu (18/4/2021).

Ismail menyampaikan pengguna berisiko menjadi korban phising jika mengetuk link mencurigakan itu. Bahkan, akun pengguna berpotensi diretas dan peretas melakukan sejumlah aksi, misalnya mengirim sejumlah tak ke kontak penggunanya yang diretas.

Terkait hal itu, Ismail menyarankan pengguna mengetuk icon more tanda titik tiga di notifikasi (…), lalu pilih ‘Only get notifications about tags from friends’.

Sementara itu, pengguna bernama Windarto Andi menyampaikan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar tidak menjadi korban peretasan itu, misalnya mereview fitur tag akun profil di kolom setting.

Caranya, masuk ke profil akun, lalu klik gambar tiga garis di bagian bawah (iphone) atau atas (android). Kemudian, klik profile setting (bergambar foto profil biasanya) dan dilanjutkan dengan klik ‘profile and tagging’ di bagian privacy. Terakhir klik ‘who can see what other post on your profile’.

Link: https://www.grahanusantara.co.id/14636/2021/04/22/begini-cara-aman-jaga-akun-facebook-dari-notifikasi-video-porno-phising/

Cara Amankan Facebook dari Notifikasi Video Porno Phising

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pendiri Media Kernels Indonesia dan Drone Emprit, Ismail Fahmi menyampaikan sejumlah pengguna Facebook menjadi korban porno phising. Dia mengatakan peretas mengarahkan pengguna mengetuk sebuah link porno dalam melancarkan aksinya.

“Sering terima notifikasi saat akun tak kita kenal nge-tag akun kita di kolom komentar FB porno phising ‘Klik Untuk Melihat Video Lengkap’?,” ujar Ismail lewat Facebook, Minggu (18/5).

Ismail menyampaikan pengguna berisiko menjadi korban phising jika mengetuk link mencurigakan itu. Bahkan, akun pengguna berpotensi diretas dan peretas melakukan sejumlah aksi, misalnya mengirim sejumlah tak ke kontak penggunanya yang diretas.

Terkait hal itu, Ismail menyarankan pengguna mengetuk icon more tanda titik tiga di notifikasi (…), lalu pilih ‘Only get notifications about tags from friends’.

Sementara itu, pengguna bernama Windarto Andi menyampaikan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar tidak menjadi korban peretasan itu, misalnya mereview fitur tag akun profil di kolom setting.

Caranya, masuk ke profil akun, lalu klik gambar tiga garis di bagian bawah (iphone) atau atas (android). Kemudian, klik profile setting (bergambar foto profil biasanya) dan dilanjutkan dengan klik ‘profile and tagging’ di bagian privacy. Terakhir klik ‘who can see what other post on your profile’.

Dijelaskan bahwa opsi ‘only me’ jika hanya pengguna yang melihat postingan orang lain di wall, atau opsi ‘everyone’ untuk tetap membiarkan wall ramai dengan postingan orang.

Opsi lain adalah mengaktifkan fitur reviewing. Dengan fitur itu, pengguna akan menerima notifikasi untuk direview.

Di sisi lain pakar keamanan siber Josua M Sinambela menyampaikan pengguna Cara melakukan reporting dan untagging, disesuaikan dengan isi konten yang dikomentari, misalnya nudity atau lainnya. Dengan cara itu, dia menyebut Facebook akan mengambil tindakan (take down) postingan dan suspend pemilik content akun.

Bagi para pengguna Facebook yang akunnya sudah terlanjur mengirimi postingan sejenis, pengguna disarankan membuka Setting & Privacy lalu Activity Logs.

“Semua aktivitas akun facebook kita ada disana, sehingga jika ada aktivitas atau postingan yang bukan dari kita, tinggal di hapus saja dan informasikan ke rekan/orang yang anda posting kalau itu bukan aktivitas yang anda sengaja,” ujar Josua.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210419095145-185-631537/cara-amankan-facebook-dari-notifikasi-video-porno-phising

Instagram Paling Rawan Cyber Bullying, Twitter Paling Aman, Mengapa?

KOMPAS.com – Media sosial kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia ramai menggunakan Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, untuk bermedsos ria di dunia maya.

Namun, di balik ragam kesenangan yang ditawarkan, media sosial juga membawa sisi gelap.

Sisi gelap itu adalah perundungan atau penyerangan secara verbal terhadap pengguna, atau stilah yang lebih dikenal adalah cyber bullying.

Pelaku perundungan melayangkan serangan berupa kata-kata kepada pihak lain atas tindakan yang dilakukan atau isu yang menerpa pihak tersebut.

Parahnya cyber bullying di Instagram

Berdasarkan data yang ditampilkan Drone Emprit, perundungan siber ini paling banyak terjadi di Instagram, yakni sebanyak 42 persen.

Lalu disusul dengan Facebook sebanyak 37 persen, Snapchat (31persen), WhatsApp (12 persen), YouTube (10 persen), dan Twitter (9 persen).

Pemerhati media sosial sekaligus pencetus Drone Emprit Ismail Fahmi menjelaskan, mengapa hal ini bisa terjadi.

“Alasan utama orang kena cyber bullying adalah penampilan. Wajar saja, di Twitter penampilan enggak penting. Banyak yang anonim. Kalau di Instagram, penampilan adalah ‘segalanya’. Dan itu sumber bully nomor wahid,” ujar Fahmi dalam penjelasannya di artikel Drone Emprit (21/3/2021).

Faktor penyebab cyber bullying

Seperti disebutkan sebelumnya, penampilan merupakan faktor terbesar yang melatarbelakangi terjadinya perundungan di ranah digital ini, yakni sebesar 61 persen.

Berikut ini faktor-faktor yang melatarbelakangi perundungan di di dunia maya:

-Penampilan (61 persen).
-Capaian akademis/kecerdasan (25 persen)
-Ras (17 persen)
-Seksualitas (15 persen)
-Status finansial (15 persen)
-Agama (11 persen)
-Lain-lain (20 persen)

Dampak cyber bullying

Atas serangan verbal yang diterima, seseorang bisa mengalami berbagai dampak. Ya, dampak ini bisa tetap terjadi meski korban tidak berinteraksi secara tatap muka dengan para pelaku.

Berdasarkan paparan Ismail Fahmi, berikut ini adalah dampak yang bisa ditimbulkan dari perilaku cyber bullying:
-Penyalahgunaan minuman beralkohol dan narkoba
-Terjadinya eating disorder
-Bolos kelas (bagi pelajar yang menjalani sekolah daring)
-Berhenti menggunakan media sosial
-Menyakiti diri sendiri
-Menghapus profil media sosial
-Berpikir untuk mengakhiri hidup
-Depresi
-Mengalami kecemasan sosial

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Ketika dihubungi langsung, Sabtu (17/4/2021), Fahmii yang menamatkan pendidikan doktoralnya di bidang ilmu informasi ini menjelaskan sejumlah hal yang penting untuk kita lakukan terkait cyber bullying.

Tidak bisa dihindari, kita sebagai pengguna media sosial juga berisiko terlibat dalam pusaran itu, baik menjadi korban maupun pelaku.

Bagi korban

Fahmi menyebut korban sebaiknya tidak perlu merespons serangan yang diterima melalui media sosial, justru lebih baik tinggalkan sejenak lingkungan kehidupan media sosial itu.

“Buat yang di-bully, kalau orang dewasa enggak kuat, stop saja dulu, tutup saja dulu akun media sosialnya. Diam saja dulu, karena enggak perlu dilawan bullying bullying itu. Semakin dilawan semakin nge-bully dia,” ujar Fahmi.

Ia mengatakan, perundingan di media sosial semacam ini akan mereda dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu.

Jika situasi sudah membaik atau kondusif, baru lah korban bisa kembali lagi beraktivitas di akun media sosialnya.

Bagi pelaku

Sementara itu, bagi pelaku perundungan, mereka semestinya menyadari bahwa di balik akun yang mereka serang ada manusia yang juga sama seperti dirinya, berperasaan dan bisa mengalami stres juga ketakutan.

“Harus biasa melihat bahwa HP itu benda mati, tapi di balik HP itu ada manusia. Bisa jadi saudara, orangtua, atau anak. Orang-orang (pelaku) itu kadang seringnya merasa mereka itu tidak berhadapan dengan orang betulan makanya bisa dengan sangat kejam mem-bully,” jelas Fahmi.

Bagi saksi

Adapun bagi pengguna media sosial lain yang tidak terlibat sebagai pelaku maupun korban, ternyata bisa berperan untuk membuat situasi menjadi lebih baik.

Fahmi mengatakan, caranya adalah dengan menyampaikan dukungan bagi korban, sampaikan kebaikan dari korban misalnya.

“Buat yang melihat, kalau bisa membantu, mendukung yang di-bully dan enggak perlu terlalu menyerang yang mem-bully juga, karena begitu (pelaku) diserang, biasanya terus mempertahankan diri, menyerang balik, enggak selesai-selesai,” kata dia.

Jadi, dari pada menghabiskan tenaga untuk melawan pelaku, lebih baik curahkan dukungan bagi korban. Itu akan lebih efektif.

Agar tidak turut menjadi pelaku

Terakhir, agar tidak turut dalam arus menjadi pelaku pembulian Fahmi menyebut ada dua hal yang perlu kita tanamkan sebagai pengguna media sosial.

Pertama adalah kesadaran bahwa kita sedang berinteraksi dengan manusia riil, meski melalui perantara media dan ponsel.

“Kalau kita merasa bahwa itu juga manusia riil, bisa jadi teman kita, saudara kita, atau bos kita, kita enggak akan terlalu kejam dan jahat. Orang Indonesia itu kalau ketemu langsung, face to face, baik-baik, senyum,” ujar Fahmi.

“Tapi begitu di media sosial, enggak kelihatan orangnya, keluar semua itu usilnya,” lanjutnya.

Kedua, kita harus menanamkan rasa empati pada diri kita sendiri. Kita harus tahu apa yang harus dilakukan jika sesuatu terjadi pada orang lain.

Misalnya orang lain tengah berduka, bahagia, mengalami musibah, dan sebagainya, kita tahu respons apa yang harus kita sampaikan agar tepat dengan situasi yang terjadi dan tidak justru menghancurkannya.

“Harus ada empati. Rasa empati itu yang hampir hilang. Kita itu harus diajarkan empati. Misalnya ada orang jatuh, sakit, dibantu. Bukan ditendang, di-bully,” pungkas Fahmi.

Link: https://www.kompas.com/tren/read/2021/04/18/140000265/instagram-paling-rawan-cyber-bullying-twitter-paling-aman-mengapa-?page=all

Waktu Sahur Muhammadiyah Mundur 8 Menit, Ismail Fahmi: Masjid Sudah Azan, Ini Masih Minum Air Putih

PR BEKASI – Pendiri dari Drone Emprit, Ismail Fahmi, menanggapi perihal jadwal azan Muhammadiyah yang dimundurkan delapan menit ketika sahur di bulan Ramadhan.

Ismail Fahmi menyebut bahwa karena Video Assistant Referee (VAR) Muhammadiyah, maka ketika masjid-masjid sudah azan, masyarakat Muhammadiyah masih menikmati air putihnya.

Gara-gara VAR @muhammadiyah, masjid-masjid udah pada azan, ini masih minum air putih,” kata Ismail Fahmi, sebagaimana dikutip PikiranRakyat-Bekasi.com dari akun Twitter @ismailfahmi pada Kamis, 15 April 2021.

Cuitan tersebut merupakan candaan yang juga menyinggung VAR dalam dunia sepak bola.

Teknologi VAR sendiri merupakan salah satu teknik baru dalam menentukan benar atau salahnya sebuah pelanggaran terjadi, dengan melihat video yang dimundurkan waktunya selama pertandingan.

Sementara itu, terkait dengan mundurnya jam azan dari Muhammadiyah, hal itu berhubungan dengan keputusan yang sudah ditetapkan Muhammadiyah pada Maret lalu.

Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menetapkan ketinggian matahari awal waktu Subuh yang baru, yakni 16 derajat di ufuk bagian timur.

Lebih lanjut, disampaikan oleh Sekretaris PP Muhammadiyah Agung Danarto, keputusan tersebut setelah dikaji oleh Majelis Tarjih melalui tiga aspek.

Aspek yang pertama adalah pendapat ulama falak atau astronomi sejak abad 4 hingga saat ini.

“Itu kan mayoritas menetapkan derajatnya ada di 19, sebagian ada di 18. Dari 21 ulama falak menetapkan di situ itu,” katanya, sebagaimana dikutip PikiranRakyat-Bekasi.com dari situs resmi Muhammadiyah.

Sementara kajian kedua yaitu, terkait dengan penetapan waktu Subuh dari berbagai negara.

Dalam kajian itu, Agung mengatakan ada banyak perbedaan yang terjadi antara satu dan yang lainnya.

Dikatakan, Muhammadiyah juga secara mandiri melalui lembaga astronomi di berbagai kampusnya telah melakukan kajian.

Kajian ketiga ini Majelis tarjih mengamanatkan kepada 3 lembaga untuk melakukan kajian dan Observatorium Ilmu Falak (OIF) yang berada di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan, Pusat Studi Astronomi (Pastron) yang berada di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, dan Islamic Science Research Network (ISRN) yang berada di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), Jakarta.

“Mereka melakukan pengamatan tidak hanya di 3 kota ini, tetapi lebih dari 20 kota di Indonesia melakukan pengamatan selama 4 tahun,” ujar Agung.

Atas dasar kajian yang telah dilalui oleh Majelis Tarjih dalam ijtihad jama’i memutuskan untuk mengubah ketinggian matahari awal waktu Subuh minus 20 derajat, yang selama ini berlaku dan tercantum dalam Himpunan Putusan Tarjih 3.

Link: https://bekasi.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-121773365/waktu-sahur-muhammadiyah-mundur-8-menit-ismail-fahmi-masjid-sudah-azan-ini-masih-minum-air-putih?page=3

In Indonesia, scammers use Twitter to prey on big banks’ clients

JAKARTA (The Jakarta Post/Asia News Network): On the night of March 12, a Bogor resident who asked to be referred to as Regina lost Rp 4.5 million (US$308) after giving her banking credentials to someone claiming to be a customer service (CS) representative from Bank Negara Indonesia (BNI).

The so-called CS representative contacted Regina after she tagged BNI’s official Twitter account, @BNI, on the social media platform to complain about a problem with her mobile banking account.

The person then directed Regina to a WhatsApp chat. “Because I needed to resolve the issue fast and I was also not careful, I clicked the link they gave me and we chatted via WhatsApp, ” she recalled, adding that she gave her 16-digit card number, as well as the three-digit card verification code (CVC) and a one-time password (OTP) sent to her phone.

“I was reluctant to give them my OTP, but they convinced me that they were legitimate. The person even gave me their name and employee identification number, ” Regina told The Jakarta Post on April 5.

After realising that she had been scammed, she went to check with a teller the next day and found that the bank could not trace or return her missing funds.

“They told me that even if I reported the incident, there was no guarantee I could get my money back, ” she said.

“I hope banks have a way to respond to or block these scammers so that people know which accounts are real.”

Regina is one of 2 million bank clients that cybercriminals have tried to lure into similar scams. The fraudsters impersonated at least seven large Indonesian financial institutions, according to a report by Group-IB, a global threat hunting and cyber intelligence company.

The company found that as of early March, 1,600 Twitter accounts were impersonating the seven banks, 2.5 times more than the 600 fake Twitter accounts recorded in January.

“This scam campaign is consistent with a trend toward the use of multistage scams, which help fraudsters lure in their victims. They are successful because of the lack of comprehensive digital asset monitoring by financial institutions, ” said Group-IB digital risk protection head for Asia Pacific Ilia Rozhnov in a statement on March 31.

He added that because of such attacks, banks risked losing their customers’ trust and that banks should carry out round-the-clock monitoring of the internet to promptly detect any fraud attempts.

Rozhnov also said the company had only seen the scheme at “such a scale” in Indonesia.

However, previous Group-IB research showed that cybercriminals often chose one location as a testing ground for their activities before “exporting” it abroad.

“Given that the ongoing scam campaign has seen exponential growth and that cybercriminals continue expanding the infrastructure for the scam, it seems that […] we are likely to see it rise further, possibly in neighbouring countries, ” he said.

There has also been a global surge of social engineering attacks, in which attackers try to breach companies’ security through their customers, who are easier targets than company staff members, who remain under corporate surveillance, Rozhnov added.

Twitter Indonesia did not respond to The Jakarta Post’s request for comment. A 2018 PricewaterhouseCoopers survey found that Indonesian banks considered cybersecurity threats the biggest risk to the industry and that such threats would be the major risk for digital banking for the following two to three years.

Meanwhile, big data consulting company Drone Emprit founder Ismail Fahmi noted that from Feb 11 to March 12, Twitter activities with the keyword “LiveChat” were commonly found on accounts mimicking Indonesia’s largest banks by assets, namely Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, BNI and Bank Central Asia (BCA).

However, BNI corporate secretary Mucharom Hadi Prayitno said the company had not seen an uptick in online fraud cases.

“If you find someone asking for your personal data through social media, please ignore them and report them to us because BNI never asks for clients’ personal data through social media direct messages, ” he said in a text message on Thursday, adding that clients could contact the BNI call centre instead.

Bank Mandiri and BCA did not immediately respond to the Post’s inquiry.

“Fake CS scams are not new, but they have become more rampant as scammers can easily identify people who are having banking problems via social media, ” Ismail of Drone Emprit said on Wednesday.

Ismail added that while such scams also occurred on other social media platforms, Twitter had become a breeding ground for fraudulent accounts because criminals could easily create a programme or a “bot” that automatically replied to customers’ tweets.

Scammers tended get their victims’ attention, he added, at night or during holidays, when official CS personnel were unable to immediately reply to messages.

“We should hold banks more accountable, and banks should also take a fast and more active stance. It is impossible to assign all responsibility to consumers, ” Ismail said, adding that banks should also set up an automatic detection and reply system that could notify users immediately after they were targeted by fraudulent accounts. – The Jakarta Post/Asia News Network

Link: https://www.thestar.com.my/aseanplus/aseanplus-news/2021/04/14/in-indonesia-scammers-use-twitter-to-prey-on-big-banks-clients

NETIZEN +62 & TOXIC NATIONALISM – Feat. Ismail Fahmi (Founder Media Kernels a.k.a Drone Emprit)

Selamat datang di The Spin Doktors dengan format baru. Jangan lupa subscribe, like, share, dan nyalakan notifikasi agar tidak ketinggalan video terbaru dari kami.

Ikuti kami di media sosial:

Instagram: @thespindoktors

Twitter: @thespindoktors

Perempuan dan Milenial dalam Aksi Teror di Indonesia

Ada kecenderungan pergeseran pelaku terorisme di Indonesia. Perempuan yang selama ini cenderung berada di belakang layar, mulai menunjukkan diri sebagai pemain lapangan menjadi pelaku aksi teror. Begitupula dengan anak-anak muda yang makin banyak turut dalam gerakan terorisme.

Dua peristiwa teror terjadi dalam waktu berdekatan akhir Maret 2021 lalu. Peristiwa pertama, bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Hati Yesus yang Mahakudus, Makassar pada Minggu, 28 Maret pagi. Selang tiga hari kemudian, polisi menembak mati seorang penyusup yang membawa senjata api di dalam area Mabes Polri, Jakarta.

Ada kesamaan pelaku di kedua peristiwa tersebut, yakni sama-sama perempuan. Di peristiwa pertama, YSF yang merupakan istri dari pelaku lainnya, sedangkan dalam peristiwa kedua berinisial ZA. Usia keduanya sepantaran yakni lahir pada pertengahan 1990-an, dan termasuk dalam generasi milenial.

Peneliti LP3ES Milda Istiqomah mengatakan, munculnya perempuan menandakan terjadinya pergeseran pelaku terorisme di tanah air. Pada dekade 2000-2015 peran perempuan berada di belakang layar, yakni sebagai fasilitator operasional dan pendukung ideologi.

Mereka kini memiliki peran yang lebih menonjol, bahkan aktif sebagai kombatan. Misalnya sebagai penyedia senjata, perakit bom, bahkan menjadi pelaku lapangan bom bunuh diri.

“Sebelumnya kita melihat mereka sebagai ideological supporter. Tapi sejak 2018, faktanya bahwa perempuan ini juga ikut andil dan turut aktif dalam peperangan,” kata Milda dalam webinar “Terorisme, HAM dan Arah Kebijakan Negara” yang diselenggarakan LP3ES, 2 April 2021.

Dari segi jumlah, lelaki memang masih mendominasi. Namun jumlah perempuan yang ditangkap dalam kasus terorisme melonjak, dari empat orang pada 2011-2015 menjadi 32 pada 2016-2020.

Terus bertambahnya jumlah perempuan yang aktif dalam terorisme menggeser pandangan umum. Survei Wahid Foundation dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 2016 menyebutkan, potensi perempuan melakukan radikalisme religius cenderung rendah. Baik dalam mendukung organisasi radikal, melakukan tindakan intoleransi, serta mengajak permusuhan atau curiga terhadap kelompok lain.

Sebaliknya karakteristik kelompok radikal di Indonesia mayoritas berkelamin laki-laki dan cenderung berusia muda. Survei menemukan bahwa mereka memahami agama secara dangkal, menerima informasi agama yang sarat kebencian, gampang curiga, serta menyangkal hak kelompok lain yang tidak disukai.

“Pada akhirnya mereka membenarkan atau memberi dukungan terhadap gerakan radikal,“ sebut laporan yang berjudul “A Measure of The Extent of Socio-Religious Intolerance and Radicalism Within Muslim Society in Indonesia” tersebut.

Usia muda memang rentan terpengaruh radikalisme, lalu masuk ke dalam gerakan terorisme. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2019 menunjukkan lebih dari setengah atau 59,1% pelaku terorisme berusia kurang dari 30 tahun. Ini dapat dikatakan para pelaku teror kebanyakan berasal dari generasi Z dan milenial.

Dari segi pendidikan, sekitar 63,3% pelaku terorisme berlatar belakang SMA, kemudian lulusan perguruan tinggi sebanyak 16,4%. Sedangkan yang sempat mengenyam tapi tak lulus dari universitas sebanyak 5,5%. Meski demikian, menurut kajian Wahid Foundation dan LSI menyebutkan, pelaku terorisme tidak terkait pada faktor tertentu, seperti pendidikan, pendapatan, serta berasal dari pedesaan atau kota.     

Indonesia adalah salah satu pengguna media sosial (medsos) terbesar di dunia. We are Social dan Hootsuite mencatat pengguna medsos di tanah air mencapai 170 juta atau 61,8% dari total penduduk per Januari 2021. Sebanyak 94,5% di antaranya merupakan pengguna medsos aktif, rata-rata 3 jam 14 menit dihabiskan untuk bermain medsos per hari.

Setiap pengguna medsos di Indonesia rata-rata memiliki 10,5 akun. Adapun lima platform terpopuler adalah Youtube, Whatsapp, Instagram, Facebook, dan Twitter. 

Menurut Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, medsos dapat menjadi ladang subur untuk menyemai calon anggota kelompok radikal. Apalagi algoritma di medsos cenderung memberikan informasi yang sejenis. Alhasil, pengguna hanya mendapatkan informasi yang seragam atau sepaham dengan apa yang diyakininya.

Pola penyebaran informasi radikalisme tersebut, menurut dia, biasanya dilakukan di grup-grup tertutup. Narasinya diawali dari sikap anti pemerintah, yang dihubungkan dengan ketidakadilan penegakan hukum, dan dibumbui narasi agama. Kalangan dewasa dan paruh baya berinteraksi melalui Facebook, sementara milenial bermain Nstagram dan TikTok yang kontennya memanfaatkan visual dan video pendek.

Konten dalam video panjang diakses melalui Youtube, terutama tentang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Isi adegan video ini gado-gado, tapi mempersuasi seseorang untuk mempercayai ajaran.

Dia menambahkan, isi video dimodifikasi dari cuplikan film Hollywood, musik penuh semangat, teori konspirasi, hingga visualisasi orang terbunuh untuk menonjolkan penderitaan. “Konten yang mengandung teori konspirasi dan bersifat kontroversial biasanya menimbulkan interaksi yang tinggi,” kata Fahmi saat dihubungi Katadata.co.id, Senin 5 April 2021.

“Hal ini sekaligus mendorong pengguna media sosial untuk membagikan dan terus mendiskusikannya.

” Ironisnya, kata Fahmi, platform media sosial tidak berupaya menyetop atau menghapus konten-konten kontroversial. Mereka baru menghapus konten atau unggahan setelah ada protes dari berbagai pihak.

“Karena ada keterikatan (engagement) yang tinggi dan tentunya menguntungkan secara ekonomi bagi perusahaan media sosial,“ ujar dia.

Menurut dia, butuh strategi perlawanan dalam “perang” di media sosial. Narasi yang kontra terhadap terorisme perlu terus disebar, terutama dari tokoh agama yang moderat dan bisa diterima kalangan anak muda. Misalnya, Gus Baha atau Ustadz Adi Hidayat.

“Tagarnya bisa disamakan dengan tagar narasi negatif, sehingga pengguna media sosial dapat melihat keberagaman narasi atas suatu isu,“ kata Fahmi yang juga Wakil Ketua Komisi dan Informasi Majelis Ulama Indonesia (MUI).  
Editor: Aria W. Yudhistira

Link: https://katadata.co.id/ariayudhistira/analisisdata/607049e153f0d/perempuan-dan-milenial-dalam-aksi-teror-di-indonesia

SEMPAT DI JAMBRET SAMPAI ALASAN MENGGUNAKAN SEPEDA VIRTUAL | Part 2 Indy Rahmawati vlog

di part kedua ini bang ismail fahmi menceritakan alasanya mengapa dia menggunakan sepeda virtual langsung aja ditonton dan jangan lupa share and subscribe GUYS!!!

Instagram : https://instagram.com/indyrahmawati?i…

Tiktok: https://www.tiktok.com/@indy.stories?…