Wawancara Ismail Fahmi: Akun-Akun Bot Pendukung Anies, Erick, Ganjar Sudah Bermunculan

April lalu, saat hendak mengakuisisi Twitter Elon Musk berjanji akan memusnahkan akun-akun bot politik penyebar pesan massal (spam). Selang sebulan setelah ia resmi menguasai Twitter janji itu benar-benar dilakukannya.

Per Desember 2022 tim Twitter sedang gencar men-suspend akun-akun bot politik. Seberapa besar pengaruhnya meredam polarisasi di media sosial?

Twitter telah menjadi medan “pertempuran baru” bagi para politikus, partai, dan para pendukungnya. Lewat media sosial mereka yang sedang mengikuti kotestasi entah itu pilpres, pileg, hingga pilkada bisa mendulang dukungan sekaligus menjatuhkan pihak lawan.

Ada beragam rupa taktik yang bisa dilakukan dalam upaya memenangkan pertempuran di Twitter, salah satunya menggunakan akun bot. 

Lewat akun bot sebuah isu sensitif serupa black campaign dan serangan-serangan bersifat SARA bisa menjadi pembicaraan popoluar (trending topic). Namun isu semacam ini dinilai kontributif memperkuat polarisasi di masyarakat.

Agung Pratama S. dari Narasi mewawancarai Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi untuk mengetahui bagaimana cara akun bot bekerja dan sejauh apa dampak pemusnahan akun bot politik yang dilakukan Elon Musk bagi polarisasi.

1. Bagaimana sebenarnya cara kerja akun bot di Twitter?

Bot itu adalah program komputer yang isinya melakukan scheduling berupa mem-posting pesan-pesan tertentu atau me-retweet dari akun akun tertentu sesuai dengan target isu dan waktu tertentu juga.

Jadi mereka pakai program saling me-retweet, saling posting, dengan materi-materi yang sudah disiapkan.

Biasanya akun bot ini  tidak berinteraksi dengan akun-akun umum namun hanya dengan akun-akun tertentu saja, dan arahnya memang untuk keperluan khusus misalnya untuk mengangkat satu tagar khusus, atau mungkin menyebarkan pesan tertentu yang ada dalam release lewat meme, infografis. Dan itu biasanya dibuat oleh satu kelompok khusus.

2. Apa yang membedakan akun bot dengan akun anonim

Kalau akun anonim itu akun yang dipegang oleh user real. Cuma nama akunnya, profile picture-nya, kemudian nama yang muncul itu tidak menggabarkan orang yang memegang. Makanya disebut dengan anonim.

Dia bisa menggunakan nama apa pun dengan akun apapun. Gambarnya juga bisa apa pun tapi tidak menggambarkan aslinya, itu disebut dengan anonim. Tapi di baliknya tuh orang real ya kadang-kadang dia ingin menyembunyikan diri aslinya.

Nah berbeda dengan bot. Bot itu kan program komputer ya, dan itu gambar (profile picture-nya) bisa gambar orang, bisa nama orang, tapi enggak benar semua, jadi di baliknya program komputer.

Kalau akun anonim itu masih bisa berinteraksi melakukan engagement dengan akun-akun biasa. Sama dengan akun natural biasa, itu akun anonim ya.

Bagaimana membedakan biasanya itu dari yang paling gampang itu dari follower ya dan interaksinya, dan apa yang di posting gitu.

Akun bot itu biasanya follower-nya enggak banyak atau follower-nya di antar mereka saja. Kalau kita lihat di timeline, kalau di klik gitu, isinya sama, temanya biasanya sama semua, biasanya memang ngangkat salah satu tokoh saja gitu ya atau memposting tentang satu produk saja, enggak ada yang lain.

Nah kalau anonim itu masih bisa dia ngomong tentang sehari-hari, kadang ngejoke. Kemudian juga kadang nyerang, kadang politik ya, dan lebih natural gitu ya, cuma tidak nama asli gitu sih.

BACA JUGAAmbisi Elon Musk Musnahkan Akun Bot Politik di Twitter, Emang Ngaruh ke Polarisasi?

3. Sebenarnya seberapa besar pengaruh akun bot ini dalam merepresentasikan citra suatu tokoh atau suatu peristiwa?

Akun bot itu biasanya dipakai ketika sebuah isu kurang diangkat atau tidak mau ada orang asli atau akun anonim yang angkat.

Jadi misalnya orang males lah  mempromosikan peresmian apa gitu ya, orang males ya, ya sudah pakai bot-bot aja untuk nyebarin, kemudian ada trending topicnya, me-retweet saja gitu.

Nah akun-akun bot itu bisa dipakai mempengaruhi, jadi publik akhirnya yang tadinya enggak tau tentang suatu isu karena di Twitter ada trending topic yang dibuat oleh bot jadi tau isu itu.

Ketika di klik trending topicnya ke-load pesan-pesan yang dibawa oleh si akun bot. Jadi bisa dia mempengaruhi bisa mempengaruhi opini publiknya.

4. Jadi penggiringan opini bisa berawal dari akun bot tersebut?

Tergantung isunya ya. Kadang-kadang untuk isu-isu yang tidak popular, publik enggak mau angkat, atau mungkin isunya sensitif ya, baik akun anonim maupun akun natural mereka enggak mau ketahuan kan ikut memulai misalnya, itu kadang diserahin sama botnya.

Saya lihat itu beberapa kali misalnya pas pilpres. Ada isinya serangan-serangan black campaign. Enggak ada itu akun betulan yang mau ngeposting karena takut. Nah yang nge-posting adalah akun-akun bot.

Setelah lama-lama jadi ramai, baru akun akun anonim atau akun natural ikut terlibat. Jadi akun bot ini bisa sangat berguna dalam memulai sebuah isu, narasi, atau mengamplifikasi isu narasi yang sudah ada dibuat lebih ramai lagi bisa.

5. Siapa biasanya target akun-akun bot?

Akun bot itu biasanya mereka tuh mengejar trending topic, ya jadi siapa pun. Yang lain-lain juga ada ngasih komen-komen gitu ya. Tapi kalau yang di Twitter itu biasanya mereka ngejar trending topic.

Kalau sudah trending topic itu kan isi trending topic akan dilihat oleh user seluruh Indonesia kan, akhirnya media melihat, user melihat, TV melihat.

Mereka berharap itu bisa di pick up, bisa diambil kayak promosi dia. Jadi targetnya itu siapa pun tergantung topiknya. Apakah tentang politik atau tentang entertainment. Apa pun gak ada masalah api strateginya adalah membuat supaya jadi trending topic,menjadi ramai percakapannya.

6. Seberapa berpengaruh akun bot politik terhadap polarisasi?

Polarisasi itu kan tergantung isi ya, tergantung narasinya, isinya, dan pesannya.

Kalau bot itu isinya tidak mengajak terpolarisasi misalnya tidak menjatuhkan, memecah belah, membuat sebutan-sebutan misalnya kadrun, cebong, ya enggak menimbulkan polarisasi.

Tapi kalau isinya mengajak memecah belah orang, memberi label-label, itu bisa membantu polarisasi. Menyerang sana, menyerang sini, mendukung sana, mendukung sini, misalnya seperti memberikan feeding informasi pada satu kelompok pengguna untuk menyerang kelompok pengguna yang lain, ya itu bisa sangat membantu terjadinya polarisasi.

7. Memasuki tahun politik Pemilu 2024 ini apakah polarisasi yang dimainkan akun-akun bot sudah terjadi?

Di Twitter enggak pernah berhenti ya tentunya polarisasi sejak dulu sampai sekarang jalan terus. Apalagi nanti ini saya lihat juga sudah mulai kelihatan calon-calonnya, terutama saya lihat antara pendukung Anies sama pendukung Ganjar, dan Erick ya. Itu saya lihat mulai banyak akun-akun dari salah satu kubu ya.

Ya saya enggak perlu sebut, membentuk klaster-klaster kecil. Bentuknya saya lihat ke polanya seperti pola robot gitu ya untuk menyerang calon yang lain. Ya sebetulnya ini bukan hal yang baru juga yang sejak sebelum-sebelumnya juga selalu berjalan dengan cara seperti itu.

8. Apa tujuan pembentukan klaster-klaster akun bot kubu Anies, Ganjar, dan Erick?

Tujuannya memang, biasanya sih tujuannya sih untuk medelegitimasi calon lawan dan supaya sentimennya positif untuk calon yang didukung.

9. Berarti polarisasi itu sebetulnya tidak pernah surut ya, cuma dengan aktor yang baru gitu ya mas.

Ya menjelang Pilpres

10. Seberapa berpengaruh langkah Elon Musk memusnahkan akun bot politik terhadap polarisasi?

Ya. Saya kira harusnya bisa mengurangi. Ya memang belum sempurna ya, kemarin kan sudah banyak tuh akun-akun diblokir, melalui algoritma.

Cuma kelemahannya ternyata banyak akun-akun yang harusnya bukan buzzer, akun biasa saja, kena blokir, karena perilakunya dianggap seperti akun robot ya, nah itu ada kelemahannya.

Tapi sebetulnya kalau ini ditingkatkan terus kemampuan algoritma pendeteksi robot tadi, itu bisa sangat membantu mengurangi, saya yakin itu bisa menekan gitu, terutama akun-akun bot.

Jadinya kan membuat akun bot begitu bikin, ter-suspend, bikin baru lagi, jadi terhambat gitu. Tidak akan menghilangkan sama sekali, tidak, karena mereka tetap bisa bikin baru lagi, Cuma karena terdeteksi, kemudian di suspend lagi, ya akhirnya jalannya akan lebih pelan dibanding sebelumnya.

Penulis: Agung Pratama S. – Editor: Akbar Wijaya

Link: https://narasi.tv/read/narasi-daily/wawancara-ismail-fahmi-akun-akun-bot-pendukung-anies-erick-ganjar-sudah-bermunculan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s