Ya Islam, Ya Pancasila

Narasi pembenturan Islam dengan Pancasila masih sering digaungkan. Isu ini kerap diperbincangkan netizen dengan munculnya isu-isu tertentu. Dikotomi antara Islam dan Pancasila bahkan sudah pada level pernyataan: “Kalau Anda Islamis, maka Anda tidak Pancasilais,” dan sebaliknya.

Founder Drone Emprit Ismail Fahmi menjelaskan, narasi tersebut kembali muncul setelah soal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terungkap ke publik. Salah satu soal tersebut menanyakan kepada peserta apa yang dipilih antara Alquran atau Pancasila.

“Ini titik tolaknya, nah tokoh politik, agama, dan netizen ikut berkomentar. Ada juga akun-akun yang memang mendukung tentang Pancasila. Seperti misalnya jika ada pilihan pertanyaan itu, pilih mana antara Pancasila dengan Islam, maka mereka pilih Pancasila? Argumentasinya karena kalau sudah berpancasila sudah pasti beragama,” kata dia.

Padahal, kata dia, para tokoh nasional terdahulu tidak pernah memperdebatkan kedua hal tersebut. Keduanya, baik Pancasila maupun Islam dapat berjalan beriringan dan tidak dapat dibenturkan satu sama lain. Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahkan menyatakan, Pancasila itu bukanlah agama dan Pancasila juga bukan berperan untuk menggantikan agama.

Pengamat media sosial itu melihat, terdapat pola pengulangan terkait isu Pancasila dan Islam yang muncul di jagat maya. Isu-isu tersebut bermunculan biasanya pada 30 September, awal Oktober, di bulan Juni sebagai Hari Kebangkitan Pancasila, hingga pada saat Pemilu Presiden. 

“Saat ini, sudah banyak juga tokoh nasional, seperti Buya Syafii Maarif yang berkomentar bahwa jangan sampai Pancasila dijadikan alat politik. Karena di-framing politik, yang berkata ‘Saya Pancasilais’ itu seakan-akan yang di luar dia itu menjadi ndak (Pancasilais). Padahal Pancasila itu kan bukan hanya diucapkan, tapi juga dipraktikkan,” kata Fahmi.photoPekerja menyiapkan dekorasi untuk persiapan peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (30/5/2017). Gedung yang dibangun pada zaman Hindia-Belanda ini menjadi saksi sejarah saat Presiden Sukarno sebagai anggota BPUPKI berpidato di sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945 dengan memperkenalkan lima sila (Pancasila) untuk diusulkan menjadi Dasar Negara Indonesia Merdeka. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/17. – (ANTARA FOTO)SHARE 

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas mengkritik pertanyaan yang diajukan dalam TWK. Menurut dia, pertanyaan terkait pilihan seperti itu tidak sehat. “Mulai dari pernyataannya saja sudah tidak benar keliru. Dalam pasal 29 ayat 1 menegaskan bahwa negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, artinya negara tidak boleh mengabaikan ajaran agama Islam,” kata Buya Anwar.

Tokoh Muhammadiyah itu menjelaskan, Pancasila dan Islam tidak bisa dibenturkan. Keduanya saling berjalan beriringan menemani perjalanan bangsa. Dia mengimbau kepada setiap pihak untuk saling memahami dan meresapi kembali Pancasila secara nyata, bahwasannya agama apapun itu—bukan hanya Islam—dapat berjalan berdampingan dengan Pancasila.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Antonius Benny Susetyo menilai, Pancasila adalah hadiah terbesar umat Islam kepada bangsa Indnesia. Menurut dia, nilai agama idak bertentangan dengan Pancasila. Nilai-nilai agama tercantum dalam sila pertama, kedua, ketiga, keempat, hingga kelima.

“Bagi saya, Pancasila justru adalah hadiah terbesar dari umat Islam kepada bangsa ini,” kata Romo Benny.

Romo Benny menjabarkan, ruang publik dan dunia maya harus diisi dengan konten yang menjelaskan tokoh besar Muslim Indonesia yang memberi kontribusi dan perumusan Pancasila. Dia mencontohkan, pemikiran KH Hasyim Asyari, Ki Bagus, dan KH Hasan, KH Agus Salim, hingga Gus Dur.

Dia menambahkan, para ulama terdahulu secara terbuka membela Indonesia dan menuangkan pemikiran mengenai Pancasila. KH Hasyim Asyari bahkan pernah berkata,

“Ketika Pancasila datang kepadaku, aku meminta petunjuk Allah dengan puasa tiga hari, mengkhatamkan Alquran, membaca Al-Fatihah sampai ayat iyyaka na’bu wa iyyaka nasta’in yang aku baca 350 ribu kali. Setelah puasa tiga hari, aku lanjut shalat istikharah dua rakaat. Pada rakaat pertama aku baca Surah at-Taubah sebanyak 41 kali dan rakaat kedua Surah Al-Kahfi sebanyak 41 kali, dan sebelum tidur aku baca ayat terakhir Surah Al-Kahfi 11 kali. Maka aku ridhai Pancasila sebagai dasar perekat bangsa dan menjadi ideologi negara Indonesia.”

Link: https://www.republika.id/posts/17258/ya-islam-ya-pancasila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s