Pendiri Drone Emprit Ungkap Tagar Kabur Aja Dulu Sudah Ada Sejak 2023, Mengapa Baru Ramai Saat Ini?

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi mengungkapkan fenomena #KaburAjaDulu yang saat ini viral ternyata telah muncul sejak September 2023.

Ia mengatakan pada saat awal munculnya pada September 2023, tagar tersebut digunakan oleh para anak muda pegiat teknologi informasi (IT) yang berada di luar negeri melalui akun-akun media sosial mereka.

Saat itu, lanjutnya, tagar tersebut banyak digunakan untuk berbagi informasi untuk mencari penghidupan di luar negeri, pengalaman kerja di luar negeri, soal anak, hingga pendapatan.

Hal itu diungkapkannya dalam Forum Diskusi Denpasar 12 Edisi ke-222 Bertajuk Fenomena “Kabur Aja Dulu” dan Realitas Generasi Muda Indonesia yang digelar secara daring pada Rabu (19/2/2025).

“Tapi kalau kita lihat sebelumnya, ini sudah lama ya tagarnya. Jadi sejak September 2023. Ini kan 2025 baru rame ya. 2023 sudah muncul. Dan pada saat itu, tagar kabur aja dulu enggak seperti sekarang menjadi alasan,” ungkap Fahmi.

“Sekarang terlalu banyak alasan ketidakpuasan dan lain-lain saya kira lebih banyak didorong oleh kondisi ekonomi dan pengetatan anggaran dan lain-lain,” lanjutnya.

Kemudian, tagar terssebut semakin ramai digunakan hingga 2024.

Tagar tersebut, kata Fahmi, semakin ramai karena juga digunakan oleh akun-akun media sosial yang memiliki visi sama yakni untuk berbagi informasi mengenai peluang kerja di luar negeri dan tips-tips ke luar negeri.

“Kebetulan kabur aja dulu ini kayak cocok ya. Cocok dengan visi dan konten dia, kemudian dipakai. Nah itu membuat kabur aja dulu itu sejak tahun 2023 akhir, 2024, sepanjang 2024 itu tinggi terus,” kata Fahmi.

“Lumayan tinggi gitu. Karena banyak exchange (pertukaran) informasinya. Baru belakangan aja ini naik pesat,” ujar dia.

Tagar itu, ungkap dia, justru semakin viral dengan respons negatif dari sejumlah pejabat pemerintah terhadap tagar tersebut.

Tidak hanya semakin ramai digunakan, namun juga sentimen negatif terhadap para pejabat pemerintah itu juga semakin meningkat.

Respons negatif yang dimaksud tersebut, kata dia, di antaranya mengaitkan tagar tersebut dengan kadar nasionalisme pengguna tagar.

Para pengguna tagar tersebut di media sosial, menurut Fahmi, mengkritik pernyataan-pernyataan pejabat pemerintahan yang dinilai tidak tepat itu justru dengan video-video berdurasi pendek melalui media sosial TikTok atau Instagram khas generasi milenial dan generasi Z.

“Enggak pakai (kritik) frontal tapi dengan gaya yang lucu-lucu. Dan itu akhirnya apa? Jadi lebih viral lagi. Lebih viral lagi, akibatnya jadi kritik sosialnya itu semakin nama makin tinggi. Kritik terhadap politik semakin lama semakin tinggi,” ungkapnya.

Menurutnya hal tersebut bisa dijadikan pelajaran bagi para pejabat pemerintahan untuk memberikan respons yang tepat dengan terlebih dulu mempelajari kenapa tagar tersebut muncul serta bagaimana situasi dan kondisi emosional publik ketika tagar itu muncul.

Sehingga, ungkapnya, para pejabat tersebut bisa memberikan respon yang tepat.

“Harapannya supaya, ini kan karena sifatnya kritik kepada pemerintah. Jadi pemerintah paham dulu lah. Dipahami situasinya seperti apa. Kemudian tidak menuding,” ucapnya.

Fahmi pun mengungkapkan meningkatnya tren penggunaan tagar tersebut di media sosial juga cenderung alami dan bukan dibuat oleh Bot (robot).

Berdasarkan analisis Drone Emprit, kata dia, tagar #KaburAjaDulu rata-rata dibuat oleh akun-akun media sosial yang telah ada sejak tahun 2009.

Selain itu, kata dia, tagar tersrbut juha tersebar tidak hanya di Indonesia melainkan juga di beberapa negara lain.

“Tapi yang ini cukup natural. Dan ini bukan hanya di Indonesia, tapi juga sebarannya cukup luas di berbagai negara. Dari UK, South Korea, Singapura, dan lain-lain. Kita bisa lihat di sini. Nah ini sebagai analisis bahwa ini betul-betul natural,” ungkapnya.

“Usia (pengguna)-nya, kalau yang saya lihat itu dari data, paling besar itu antara 19 sampai 29 tahun. Jadi ini kan usia-usia mereka lulus SMA, kuliah, dan lulus kuliah. Ini memang usia-usia kerja. Kemudian juga anak-anak yang usianya di bawah 18 tahun. Berarti kan masih muda. Mereka udah banyak bahas tentang kabur aja dulu,” lanjutnya.

Fahmi pun menyarankan kepada para wakil rakyat untuk dapat mendorong perbaikan kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap kualitas pendidikan dan pelatihan, ekonomi, serta perlindungan WNI di luar negeri.

“Jadi MPR dan DPR bisa mendorong pemerintah supaya ada perbaikan kebijakan ekonominya. Ini kan menjadi salah satu alasan kondisi ekonomi,” ungkap dia. 

Harus Berhati-hati

Dalam acara yang sama, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat memandang tren #KaburAjaDulu sebagai fenomena yang sangat unik. 

Tren itu menurutnya tidak hanya bisa dilihat sebagai sebuah kritik sosial, namun juga bisa dilihat sebagai “wake up call” bagaimana anak muda melihat atau menempatkan dirinya dalam konteks tatanan bernegara dan kebangsaan. 

Ia pun tidak setuju pada pandangan yang menyatakan bahwa ketika ada yang meninggalkan Indonesia untuk mencari penghidupan, berarti mereka kehilangan rasa patriotisme mereka. 

“Pernyataan itu memang sama sekali tidak bisa dikaitkan. Kita juga menemui banyak sekali diaspora Indonesia yang mencari penghidupan di luar negeri namun tetap melakukan dan memiliki rasa kebangsaan luar biasa. Sehingga rasanya jargon itu tidak bisa dikaitkan begitu saja kalau ada yang mengaitkan,” ungkapnya dalam acara yang sama.

Lestari mencatat saat ini situasi telah berubah di mana anak-anak muda melihat dunia yang tanpa batas, tidak ada lagi sekat-sekat. 

Hal itu, lanjut dia, memungkinkan mereka kemudian “berkelana”.  

Bagi dia, hal tersebut sah-sah saja selama memang dilakukan dalam konteks mencari kehidupan yang lebih baik tanpa kehilangan jati dirinya sebagai manusia Indonesia. 

Namun, menurut dia, belakangan ini semangat dari tren #KaburAjaDulu lebih kepada ajakan untuk melarikan diri dan pergi dari hal yang mereka tidak ingin hadapi. 

Sindiran-sindiran yang ada di media sosial, terkesan mengarah kepada kekecewaan mereka terhadap situasi. 

Menurutnya, hal itu patut dijadikan bagian dari otokritik bagi semua dan harus menimbulkan pertanyaan perihal sudah atau belumkah negara menjamin pemenuhan hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak serta apakah semua pihak betul-betul bisa melihat dan memperhatikan dimensi kemanusiaan dalam setiap kebijakan publik yang ada. 

“Bisa jadi ini sekadar ‘fenomena’. Dan kita tahu kekuatan sosial media kadang-kadang mengalahkan realitas, tetapi kita juga tidak boleh menutup mata dan harus berhati-hati,” ungkap Lestari.

“Jangan sampai kemudian tiba-tiba sesuatu yang sebetulnya tidak ada, dan tiba-tiba saja ternyata generasi muda kita memang memilih lebih baik meninggalkan Indonesia karena melihat mereka tidak memiliki masa depan lagi di sini,” pungkasnya.

Link: https://www.tribunnews.com/nasional/2025/02/19/pendiri-drone-emprit-ungkap-tagar-kabur-aja-dulu-sudah-ada-sejak-2023-mengapa-baru-ramai-saat-ini?page=all



Pendiri Drone Emprit: PSI Lolos PT 4 persen itu Statistically Impossible

TEMPO.COJakarta – Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi mengatakan pasti diduga terjadi kecurangan luar biasa yang terstruktur, sistematis, dan masif bila akhirnya Partai Solidaritas Indonesia atau PSI lolos parlemen. Sebab, menurut dia, partai berlogo mawar itu secara statistik tak mungkin mencapai parliamentary treshold atau ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

“PSI lolos PT 4 persen itu statistically impossible,” kata Ismail dalam postingan akun X (dulu Twitter) pribadinya, Ahad, 25 Februari 2024. Pengutipan atas seizin Ismail Fahmi.

Bila PSI akhirnya lolos parlemen, Ismail menduga kemungkinan seratus persen telah terjadi kecurangan luar biasa yang terstruktur, sistematis, dan masif pada hasil Pemilu 2024. “Untuk meloloskan PSI,” ujar Ismail.

Komentar Ismail itu menanggapi cuitan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi. Dia mengimbau partai pimpinan Kaesang Pangarep menerima hasil pemilu legislatif atau pileg dengan lapang dada.

“Mending PSI menerima kenyataan dengan lapang dada. Ketimbang lolos PT tapi malah menimbulkan deligitimasi terhadap hasil pemilu 2024,” kata Burhanuddin dalam akun X (dulu Twitter) pribadinya, Ahad, 25 Februari 2024. Pengutipan ini atas seizin Burhanuddin.

PSI terancam tidak lolos ke Senayan karena belum mampu melampaui ambang batas parlemen atau parliamentary threshold sebesar 4 persen. Berdasarkan real count Komisi Pemilihan Umum atau KPU hingga 22 Februari 2024 pukul 23.00, PSI hanya memperoleh 1.790.572 suara atau 2,54 persen. 

Sebelumnya, Juru bicara Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia atau DPP PSI, Sigit Widodo, menanggapi adanya narasi yang berkembang mendeskreditkan PSI perihal perolehan suara di Pemilu 2024.

“Seolah-olah kalau masuk DPR RI, berarti ada kecurangan. Saya kira itu hanya narasi dangkal dari pihak-pihak yang takut PSI akan membuat perubahan di parlemen,” katanya kepada Tempo, Senin, 26 Februari 2024.

Menurut dia, masih banyak wilayah yang bahkan belum menyelesaikan pleno PPK. Ia mengatakan agar menunggu hasil perhitungan real count di masing-masing daerah selesai, setidaknya di tingkat kabupaten/kota untuk bisa menyimpulkan.

“Tunggu dulu hasil penghitungan suara resmi KPU. Yang kami lakukan sekarang mengawal proses penghitungan real count di PPK dan nanti naik terus berjenjang sampai ke tingkat nasional,” katanya.

HAN REVANDA PUTRA | BAGUS PRIBADI

Link: https://nasional.tempo.co/read/1838057/pendiri-drone-emprit-psi-lolos-pt-4-persen-itu-statistically-impossible

Sirekap KPU: Perbedaan data munculkan dugaan kecurangan, perlukah penghitungan secara elektronik dihentikan?

Komisi Pemilihan Umum diminta menghentikan proses penghitungan suara elektronik Sirekap karena memicu spekulasi dugaan penggelembungan suara ke salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Kaka Suminta, mengatakan “jika KPU serius mau menggunakan Sirekap, maka semestinya sistem penghitungan dari Sirekap selesai pada waktu yang sama saat tempat pemungutan suara ditutup”.

Tapi yang terjadi, kata Kaka, hingga Jumat (16/02) pukul 17:30, progres penghitungan suara Sirekap untuk Pilpres masih 60, 49%.

Ketua KPU, Hasyim Asy’ari, meminta maaf kepada publik atas kekurangan aplikasi Sirekap. Dia membuat klaim, kalaupun ada kekeliruan konversi, “itu terjadi tanpa unsur kesengajaan”.

Adapun, pakar digital menilai KPU memaksakan penggunaan sistem Sirekap yang belum sempurna.

Warganet curiga pada Sirekap

Lembaga analis media sosial Drone Emprit menyebut percakapan tentang Sirekap menjadi topik yang paling tinggi dibicarakan oleh warganet di media sosial X pada Jumat (16/02).

Percakapan yang mencuat terkait kelemahan Sirekap. Salah satunya adalah kekeliruan input data jumlah suara di sebuah TPS di Lampung yang menimbulkan kehebohan dan menurunkan kepercayaan pada Sirekap milik KPU.

“Sentimen percakapan terkait Sirekap di X terpantau sangat negatif, sebanyak 85% dan positif hanya 7%,” kata pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi.

Narasi negatif itu, sambungnya, berkembang menjadi dugaan kecurangan.

“Warganet menduga adanya unsur kesengajaan dalam perubahan data di Sirekap untuk memenangkan paslon tertentu. Hal ini menimbulkan keraguan terhadap legitimasi penyelenggara pemilu.”

Penggunaan aplikasi Sirekap di Pemilu 2024 merupakan upaya KPU untuk menjaga kemurnian hasil perolehan suara di TPS dengan cara merekam data otentik dokumen C-Hasil di TPS.
Keterangan gambar,Penggunaan aplikasi Sirekap di Pemilu 2024 merupakan upaya KPU untuk menjaga kemurnian hasil perolehan suara di TPS dengan cara merekam data otentik dokumen C-Hasil di TPS.

Ada juga narasi yang menyindir Sirekap tak sebaik aplikasi lain seperti pinjaman online atau pinjol. Warganet merasa Sirekap kalah bagus dalam hal fungsional dan keandalan.

“Netizen juga merasa KPU tidak kompeten dalam mengelola data pemilu, tidak transparan dalam menampilkan data pemilu dan merasa bahwa data yang ditampilkan tidak dapat dipercaya,” kata Ismail.

Kekhawatiran soal keamanan aplikasi Sirekap juga disinggung warganet karena adanya potensi backdoor atau celah keamanan oleh peretas.

Apakah Sirekap menguntungkan salah satu paslon?

Pakar keamanan siber dan forensik digital dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menilai dugaan bahwa Sirekap menguntungkan salah satu paslon sebenarnya tidak berdasar.

Alfons bersama sebuah tim independen telah memeriksa 500 lebih kasus ketidaksesuaian suara antara yang tercatat di formulir C plano dengan yang terunggah di Sirekap.

Hasil penelusuran mereka, ketidaksesuaian atau penggelembungan suara terjadi pada tiga paslon.

“Jadi tidak hanya pada satu paslon saja. Kesimpulannya ini kesalahan sistem atau human error,” ujar Alfons kepada BBC News Indonesia.

Menurutnya ada beberapa penyebab yang membuat sistem Sirekap salah merekam angka yang ada pada dokumen C plano berita acara pemungutan dan penghitungan suara di TPS.

Petugas KPPS mengambil gambar hasil penghitungan suara saat simulasi di Indramayu, Jawa Barat, Rabu (7/2/2024).
Keterangan gambar,Petugas KPPS mengambil gambar hasil penghitungan suara saat simulasi di Indramayu, Jawa Barat, Rabu (07/02).

Pertama, tidak adanya cross-checking data atau proses membandingkan atau memverifikasi data dengan sumber utama.

“Katanya [Sirekap] pakai AI tapi cross-checking data aja enggak dilakukan, itu patut dipertanyakan tim IT-nya.”

“Mana ada total jumlah pemilih lebih kecil daripada perolehan suara paslon? Kan konyol.”

“Kalau pakai AI lebih cerdas dari ini, bahkan bisa terkoneksi ke database KPU dan bisa tahu per-TPS berapa jumlah pemilihnya dan tidak boleh salah, kalau salah mental.”

Di media sosial sejumlah akun mengadukan dugaan “penggelembungan suara” salah satu paslon.

Sebuah video yang viral terjadi di TPS 54, Kelurahan Pulogebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

Di formulir C hasil penghitungan suara yang asli perolehan suara Prabowo-Gibran tertulis 74. Tapi pada Kamis (15/02) data yang tercantum di Sirekap adalah 748.

Saat BBC Indonesia mengecek langsung ke data Sirekap pada Jumat (16/02) perolehan suara ketiga paslon sudah diperbaiki sesuai formulir C hasil.

Hentikan Twitter pesan

Izinkan konten Twitter?

Artikel ini memuat konten yang disediakan Twitter. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Twitter kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah ‘terima dan lanjutkan’.Terima dan lanjutkan

Peringatan: BBC tidak bertanggung jawab atas konten situs eksternal

Lompati Twitter pesan

Penyebab kedua, menurut Alfons, kemungkinan disebabkan media foto yang diambil oleh petugas KPPS tidak jelas atau kualitasnya rendah sehingga ada ada kesalahan membaca angka pada sistem Sirekap.

Ketiga, kesalahan bisa terjadi karena para petugas KPPS mengunggah data ke sistem secara berbarengan dengan petugas lain. Akibatnya, kata Alfons, terjadi selip.

Jumlah TPS di seluruh Indonesia berjumlah lebih dari 800.000. Alfons berkata, setiap TPS harus mengunggah minimal lima dokumen surat suara yang jika dikalikan dengan jumlah tempat pemungutan suara maka setidaknya ada 4 juta dokumen yang diunggah dalam waktu bersamaan.

“Apa kuat servernya? Terlihat kan situs KPU tersendat dan sering down. Itu menunjukkan pengelolaan infrastruktur teknologi yang kurang.”

Seperti apa pengalaman anggota KPPS yang mengunggah data ke Sirekap?

Ma’rifatus Solehah, salah satu petugas KPPS di TPS 09 Kelurahan Kolpajung, Kecamatan Kota Pamekasan, Madura, Jawa Timur menemukan banyak kendala ketika mengunggah hasil rekapitulasi suara Pemilu 2024 melalui aplikasi Sirekap.

Kendala yang dialami oleh Ifa, di antaranya tulisan dan gambar kerap tidak terdeteksi ketika diunggah. Bahkan, ada ketidaksesuaian antara data perolehan suara yang ada di model C1 plano dan aplikasi Sirekap.

“Misalnya di plano itu tulisannya 105, setelah difoto, diunggah muncul tulisan 905,” kata Ifa ketika ditemui wartawan Mustopa di rumahnya pada Jumat (16/02).

Ma'rifatus Solehah, salah satu petugas KPPS di TPS 09 Kelurahan Kolpajung, Kecamatan Kota Pamekasan, Madura, Jawa Timur
Keterangan gambar,Ma’rifatus Solehah, salah satu petugas KPPS di TPS 09 Kelurahan Kolpajung, Kecamatan Kota Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Mau tidak mau, katanya, ketidaksesuaian data tersebut harus diganti secara manual dan disesuaikan dengan hasil rekapitulasi suara yang ada di model C1 plano.

Kendala lain yang paling sering ditemui adalah banyaknya gambar yang gagal terunggah. Padahal gambar tersebut harus diambil langsung dari model C1 plano, tidak bisa memakai yang ada di galeri ponsel.

Di sisi lain, model C1 plano harus segera dikirim ke kelurahan setelah proses pemungutan dan penghitungan suara rampung.

“Kalau sudah gagal ya sudah dibiarin, dapat dari mana planonya, enggak ada kan,” kata perempuan yang sehari-hari menjadi guru di salah satu pesantren tersebut.

Untuk proses pengunggahan juga butuh waktu lama. Ifa mengaku mengunggah data ke Sirekap pada Rabu (14/02) sekitar pukul 23.00 WIB, namun baru selesai pada Kamis (15/02) dini hari WIB.

“Entah servernya kurang canggih, saya enggak ngerti server pusatnya,” katanya menambahkan.

Ifa mengakui banyak hasil rekapitulasi yang gagal diunggah ke aplikasi Sirekap. Terutama untuk hasil pemilihan anggota DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR RI karena jumlahnya mencapai 20 lembar.

“Kalau cuma DPD dan [pemilihan] presiden kan sedikit lembaran yang di-upload,” jelasnya.

Apa tanggapan KPU?

Ketua KPU, Hasyim Asy’ari, mengakui terjadi sejumlah kekeliruan konversi hasil penghitungan suara di TPS ke dalam Sirekap.

Meskipun, kata dia, sejauh ini tingkat kesalahan konversi cuma 0,64%.

Hasyim mengatakan pihaknya belum memeriksa detail selisih suara yang diperoleh masing-masing capres-cawapres, antara yang terkonversi di Sirekap dengan suara aslinya di formulir C-Hasil plano di TPS.

Ketua KPU Hasyim Asy'ari (kiri) bersama Ketua Bawaslu Rahmat Bagja (kanan) menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait perkembangan rekapitulasi suara Pemilu 2024 di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (15/2/2024).
Keterangan gambar,Ketua KPU Hasyim Asy’ari (kiri) bersama Ketua Bawaslu Rahmat Bagja (kanan) menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait perkembangan rekapitulasi suara Pemilu 2024 di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (15/02).

Dari 2.325 TPS yang terjadi kesalahan, kekeliruan konversi suara tidak cuma terjadi untuk pilpres, melainkan juga pemilu legislatif .

Kesalahan-kesalahan itu diklaim akan dikoreksi oleh KPU.

Tapi terlepas dari kekeliruan konversi yang terjadi pada sejumlah TPS, publikasi data perolehan suara di Sirekap akan tetap dilanjutkan sebagai bentuk transparansi.

Apakah Sirekap perlu dilanjutkan?

Kendati terjadi kekeliruan input data pada Sirekap, Alfons menilai hal itu bukan sebuah kesengajaan. Pasalnya jika KPU ingin berbuat curang, maka hasil pindai formulir C hasil penghitungan suara asli tidak akan ditampilkan sebagai pembanding.

Menurut dia, Sirekap harus dilanjutkan sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat dan kecepatan. Meskipun, katanya, KPU harus memperbaiki sistemnya agar tidak memicu sangkaan negatif.

Sebagai penyelenggara pemilu yang mendapat dana besar dari negara dan didukung oleh banyak lembaga pemerintah mestinya sistem Sirekap bisa meminimalisir kesalahan.

“Dibikin smart sistemnya. Jangan total dari pemilih lebih kecil dari suara paslon, kok bisa sistemnya kurang pintar,” kata Alfons.

Sejumlah petugas melakukan supervisi (pemeriksaan dan pengawasan) rekapitulasi suara Pemilu 2024 secara daring di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (15/2/2024).
Keterangan gambar,Sejumlah petugas melakukan supervisi (pemeriksaan dan pengawasan) rekapitulasi suara Pemilu 2024 secara daring di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (15/02).

“Selevel KPU, dana besar, banyak stakeholder membantu… jangan bikin malu Indonesia karena semua mata tertuju pada pemilu.”

Adapun Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Kaka Suminta, mengatakan jika KPU serius mau menggunakan Sirekap maka semestinya begitu tempat pemungutan suara ditutup sistem penghitungan dari Sirekap juga tuntas pada waktu yang sama.

Tapi yang terjadi, katanya, hingga Jumat (16/02) pukul 17:30, progres penghitungan suara Sirekap untuk Pilpres masih 60, 49%.

Hal seperti ini, menurutnya, membuat masyarakat curiga.

“Lebih baik KPU fokus pada penghitungan manual saja, hentikan Sirekap daripada menimbulkan spekulasi,” ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Wartawan di Kota Pamekasan, Madura, Mustofa El Abdy, berkontribusi untuk liputan ini.

Drone Emprit: Netizen Marah Atas Dugaan Kecurangan Pemilu 2024

Jakarta, IDN Times – Lembaga analis media sosial Drone Emprit menangkap percakapan masyarakat di media sosial terkait dugaan kecurangan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi menyampaikan, dari 47 ribu percakapan tentang kecurangan pemilu, terbagi ke dalam klaster pendukung dari kubu 01 dan 03.  

Sementara untuk netizen yang cenderung mendukung kubu Prabowo-Gibran tidak terlihat membahas tentang adanya kecurangan pada Pemilu 2024.

“Percakapan tentang kecurangan dalam pemilu kali ini dibahas satu klaster besar. Di dalamnya ada netizen yang pro 01 dan pro 03, media, dan yang netral. Dari pro 02 tidak tampak secara signifikan,” tulis Ismail Fahmi seperti dikutip IDN Times, Kamis (15/2/2024).

Baca Juga: Situs Kawal Pemilu Masih Cek Lebih Dari 100 Ribu Foto Laporan Suara  

1. Mayoritas netizen marah terhadap kecurangan pemilu

Drone Emprit: Netizen Marah Atas Dugaan Kecurangan Pemilu 2024Suasana pemilu di Hong Kong. (dok. PPLN Hong Kong)

Ismail Fahmi menjelaskan, mayoritas netizen menunjukkan reaksi marah atas dugaan kecurangan pemilu yang terjadi. Netizen marah karena kecurangan yang terjadi bersifat terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) untuk calon tertentu.

Di lain sisi, ada juga ajakan untuk melawan dinasti politik muncul dalam percakapan di media sosial, yang dianalisis oleh Drone Emprit. 

Kemudian, netizen juga mengajak untuk mengumpulkan bukti kecurangan. Mereka juga menuding bahwa kecurangan pemilu sudah didesain agar digelar dalam satu kali putaran saja. 

Dari hasil analisis, sebanyak 5,3 ribu cuitan memperlihatkan reaksi marah terhadap kecurangan pemilu. Kemudian sebanyak 3,4 ribu cuitan mengajak untuk mengumpulkan bukti atas semua kecurangan pemilu. 

2. PDIP bakal bentuk tim khusus untuk investigasi kecurangan pemilu

Drone Emprit: Netizen Marah Atas Dugaan Kecurangan Pemilu 2024Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/2/2024). (IDN Times/Sonya Michaella).

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-Perjuangan), Hasto Kristiyanto mengatakan, pihaknya akan terus mengawal hasil perhitungan Pilpres 2024. PDIP sendiri menduga ada kecurangan massif pada pelaksanaan pilpres.

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

Oleh sebab itu, PDIP akan mengusulkan kepada Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud MD untuk dibentuk tim khusus guna melakukan investigasi.

“Kami akan mengusulkan kepada TPN Ganjar-Mahfud agar dibentuk suatu tim khusus. Tidak hanya terdiri dari tim hukum, kelompok-kelompok ahli hukum, para pakar berkaitan dengan demografi,” ucapnya. 

Hasto mengatakan, PDIP akan melibatkan banyak pihak untuk melakukan investigasi forensik atas temuan-temuan dugaan kecurangan Pilpres 2024 di lapangan.

“Kemudian juga investigasi forensik untuk melihat dari seluruh proses-proses yang ada, dan tim khusus ini tentu saja juga akan menampung dari pihak-pihak yang punya interest begitu besar di dalam menjaga demokrasi Indonesia,” ucap Hasto.

Adapun temuan-temuan itu dikumpulkan oleh PDIP, dan juga partai-partai koalisinya, yakni Hanura, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan juga Perindo. Tak lupa juga dengan relawan Ganjar-Mahfud, serta kelompok-kelompok pro-demokrasi.

“Seluruh struktur PDI Perjuangan bersama dengan relawan saksi, dan kerja sama dengan PPP, Perindo, dan Hanura terus mengumpulkan fakta-fakta di lapangan yang begitu banyak juga disuarakan oleh kelompok-kelompok pro demokrasi,” ujar Hasto.

3. Jokowi minta kecurangan pemilu dilaporkan ke Bawaslu

Drone Emprit: Netizen Marah Atas Dugaan Kecurangan Pemilu 2024Presiden Joko Widodo (dok. Sekretariat Presiden)

Sementara itu, Presiden Joko “Jokowi” Widodo buka suara soal dugaan kecurangan pemilu di hari pencoblosan, 14 Februari 2024. Jokowi mengatakan, semua proses sudah terbuka.

Jokowi mengatakan, pengawasan terhadap pemilu sebetulnya sudah dilakukan secara berlapis untuk mencegah adanya kecurangan.

“Yang pertama mengenai kecurangan, caleg itu ada saksi di TPS, partai ada saksi di TPS, capres-cawapres, kandidat ada saksi di TPS, di TPS ada Bawaslu. Aparat juga ada di sana. Terbuka untuk diambil gambarnya. Saya kira pengawasan yang berlapis-lapis seperti ini, akan menghilangkan adanya kecurangan,” ujar Jokowi. 

Jokowi menjelaskan, apabila memang terjadi kecurangan bisa melaporkan ke Bawaslu. Karena itu, Jokowi mengimbau supaya kecurangan-kecurangan itu dilaporkan ke Bawaslu kalau memang memiliki bukti. 

“Kalau memang ada betul, ada mekanisme untuk ke Bawaslu. Mekanisme nanti persidangan di MK. Saya kira sudah diatur semuanya kok,” kata dia.

“Jadi janganlah teriak-teriak curang. Ada bukti langsung bawa ke Bawaslu. Ada bukti bawa ke MK,” imbuhnya. 

Artikel ini telah tayang di Idntimes.com dengan judul “Drone Emprit: Netizen Marah Atas Dugaan Kecurangan Pemilu 2024”.

Link: https://www.idntimes.com/news/indonesia/amir-faisol/drone-emprit-netizen-marah-atas-dugaan-kecurangan-pemilu-2024.