Meluruskan Stigma “Buzzer”

Jakarta – 

Saat ini, mendengar istilah buzzer saja sudah bisa bikin banyak orang mencibir jijik. Itu istilah yang seolah-olah sama dan sebangun dengan ketololan, kerusakan moral, kejahatan terbesar kepada kemanusiaan. Bahkan tuduhan buzzer yang dialamatkan kepada seseorang sudah mirip-mirip tuduhan PKI di zaman Orde Baru: sekali si tertuduh kena label buzzer, segenap stigma lain akan sangat sulit lepas darinya.

Bersama itu, orang-orang lupa bahwa fenomena buzzer adalah keniscayaan dalam zaman yang sudah berubah, teknologi yang juga berubah, dan metode persebaran informasi yang juga turut berubah.

Mari kita melompat ke ratusan tahun silam. Dulu kala, kalau otoritas ingin menyebarkan informasi, yang dapat dilakukan adalah mengumumkan secara lisan. Punggawa kerajaan memukul kentongan, para kawula berkumpul, dan woro-woro disampaikan.

Ketika kemudian orang sudah menemukan kertas, tulisan, dan lebih-lebih lagi mesin cetak, kabar itu disebarkan dengan lebih cepat dan efektif. Tanpa menunggu orang-orang berkumpul, ribuan lembar selebaran bisa dicetak massal, lalu disebarkan di titik-titik potensi keramaian.

Model selebaran itu kemudian dibuat lebih kompleks, sehingga muncullah surat kabar. Ibaratnya, koran-koran adalah bundel yang menggabungkan puluhan selebaran. Dan, karena lambat laun publik semakin membutuhkan jaminan akurasi atas kabar-kabar, lahirlah jurnalisme.

Lalu radio datang. Lalu televisi muncul. Dan kemudian internet hadir, sampai kemudian ia melahirkan media-media online. Semua media itu, selain menyajikan hiburan-hiburan, juga menyajikan berita-berita resmi yang berada dalam koridor jurnalisme, di bawah kontrol kualitas akurasi informasi, dengan standar-standar dan tanggung jawab tertentu.

Meski demikian, bukan lantas jalur-jalur non-jurnalisme seketika lenyap. Jalur itu tetap ada, selalu ada, sejak dulu dan mungkin sampai selamanya. Ketika ada punggawa membawa canang dan lembar kabar negara, jalur desas-desus lisan tetap berjalan. Bahkan jalur itulah yang sebenarnya menjadi sarana persebaran paling efektifnya. Ketika ada koran, bukan berarti selebaran mati. Ketika ada televisi dan radio, tetap ada orang brikbrikan lewat radio amatir.

Sama saja dengan zaman internet. Internet memang melahirkan media massa online. Namun seiring dengannya, tetap ada email, mailing list, dan gong terbesarnya adalah media sosial.

Melalui jalur-jalur non-jurnalisme itu, mulai mekanisme dari mulut ke mulut, lalu selebaran, lalu brik-brikan, lalu mailist dan medsos, informasi disebarkan tanpa standar ketat. Sangat cair, sangat mudah merembes ke mana-mana, bahkan sering kali dengan gampang dapat dikreasi semau-maunya.

Tetapi, memang ada perbedaan antara desas-desus lisan dan medsos. Perbedaannya bukan pada kualitas akurasi, melainkan pada kualitas kemasan alias penyajian wujud informasi, juga kecepatan produksi dan diseminasi. Tentu saja demikian, sebab medsos digerakkan dengan telepon pintar, telepon pintar digenggam oleh semua orang (yang tidak semuanya pintar itu), di dalam telepon pintar ada fitur-fitur berteknologi tinggi untuk olah visual dan lain-lain, dan dengan jaringan internet sebuah informasi bisa disebarkan ke jutaan orang dalam hitungan detik.

Dengan kecepatan produksi dan persebaran tersebut, informasi kemudian bukan hanya disebarkan, melainkan juga dikreasi, bahkan difabrikasi. Karena saking cepatnya fabrikasi dan diseminasi, para penerima informasi tidak cukup punya waktu untuk mencernanya, tidak punya cukup sumber daya untuk menelaahnya. Apalagi situasi zaman yang sudah dikuasai ponsel-ponsel selalu menuntut para penggenggam ponsel untuk menjunjung tinggi obsesi akan kecepatan.

Akibatnya kita tahu. Bangsa manusia semakin lama tumbuh jadi semakin reaktif, grusa-grusu. Karakter komunal yang grusa-grusu itu ibarat padang rumput kering yang sangat gampang disulut api, terbakar seluruhnya dengan kecepatan tak terduga.

Namun, jangan salah. Yang saya ibaratkan dengan “api” di padang rumput kering itu tidak selalu berbentuk hal-hal busuk sebagaimana yang telanjur Anda bayangkan. Intinya, ia adalah informasi. Dan, sama saja dengan desas-desus dari mulut ke mulut dan selebaran, yang namanya informasi bisa berupa apa saja. Memang bisa dalam bentuk kabar dusta, adu domba, propaganda. Tapi ia bisa juga dalam bentuk dakwah, ajakan kebaikan dan kepedulian, dan yang pasti: pemasaran komoditas macam-macam.

Yang namanya komoditas alias barang dagangan, ia pun bisa berwujud apa saja. Bisa sepatu, bisa skincare, bisa buku-buku, bisa sambal dan bumbu-bumbu, dan bisa juga isu-isu.

Pendek cerita, sejak era analog sampai era digital, sesungguhnya jalur-jalur cair itu selalu hidup, dan dagangan yang disebarkan lewat jalur-jalur itu selalu ada. Ketika sekarang jalur itu miliaran kali lebih menawarkan efektivitas sebagai hasil konkret dari revolusi teknologi, semua pedagang pun menggunakannya. Hanya pedagang bodoh yang menolak menggunakannya. Mulai pedagang sepatu, hingga pedagang isu.

Maka, ketika ada orang berjualan sepatu maupun isu, dan dia ingin proses marketing yang dia jalankan meraih efektivitas maksimal, mau tak mau dia harus memperbanyak staf marketingnya itu. Siapakah staf-staf marketing itu? Jawabannya sudah bisa Anda tebak: para buzzer!

Jadi, yang namanya buzzer itu pendengung, tugasnya mendengung-dengungkan sesuatu, dan apa yang ia dengungkan itu tidak melulu hal-hal yang busuk dan berbau. Para buzzer sebagai pelaku marketing bisa mendengungkan dagangan daster, bisa juga paket-paket layanan kesehatan, bisa juga mendengungkan kabar-kabar. Dan, sebagaimana ada daster bagus dan daster jelek, kabar-kabar pun demikian. Ada kabar baik, ada kabar-kabar buruk, ada kabar-kabar palsu.

Para buzzer itu pun bisa bekerja kepada siapa saja. Apalagi, di zaman revolusi diseminasi informasi seperti sekarang ini, hanya pedagang kecil atau pedagang bodoh saja yang tidak sudi menggunakan buzzer. Dan ketika pedagang daster disebut juragan daster, pedagang isu disebut sebagai…politisi.

Maka, semua politisi yang punya sumber daya ya memakai para buzzer. Kalau nggak percaya, coba tanya saja Mas Ismail Fahmi, lelaki termasyhur pakar dunia digital dan media sosial yang bosnya Drone Emprit itu. Semua pakai, kok. Dari semua kubu, dari semua faksi dalam kubu-kubu. Bahkan tak jarang para buzzer dikerahkan untuk bertempur antara sosok yang berlawanan di dalam satu kubu politik yang sama.

Ujungnya, saya cuma mau menyampaikan, memberikan stigma busuk kepada buzzer itu sebenarnya salah alamat. Kalaulah ada yang busuk, itu adalah kontennya, sedangkan tidak semua buzzer menyebarkan konten busuk. Apalagi mengatakan bahwa yang menggerakkan buzzer hanya satu kelompok tertentu, dan hanya memasarkan satu nada informasi tertentu.

Itu pandangan yang sangat lugu. Saya bisa dengan yakin mengatakan itu, sebab saya sendiri pernah diajak jadi buzzer, oleh dua tokoh dari dua kubu politik yang berlawanan. Untunglah saya menolak keduanya, karena jadi pedagang buku dan mem-buzzer-i buku-buku saya sendiri sudah cukup untuk bikin saya kaya raya. Hahaha!

Iqbal Aji Daryono buzzer buku, tinggal di Bantul

Link: https://news.detik.com/kolom/d-5376138/meluruskan-stigma-buzzer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s