KOMPAS.com – Platform media sosial seiring perkembangan waktu terus mengalami perkembangan.
Seperti Facebook yang awalnya hanya untuk berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain, kini mulai menjadi media menyebar ide dan informasi.
Instagram yang dulu digunakan untuk mengunggah foto-foto pribadi atau galeri, kini banyak digunakan untuk berjualan produk secara online.
Atau, TikTok, yang pada awal kemunculannya digunakan untuk membuat video berbagai macam tarian, kini banyak digunakan untuk berbagi cerita dalam format video.
Baik cerita nyata maupun yang dibuat-buat hanya untuk mendapat perhatian.
Hal yang sama juga terjadi pada Twitter yang kini banyak dimanfaatkan untuk menuliskan cerita kronologi juga menunjukkan besarnya kekuatan suatu kelompok melalui penggunaan tagar.
Namun di sisi lain, banyak juga konten yang cenderung bernilai negatif, misalnya menampilkan hal-hal sensitif seperti tindak kekerasan, pornografi, konten kontroversial seperti menceritakan aib diri sendiri maupun orang lain.
Juga konten yang berisi kisah-kisah fiktif atau yang sengaja direka-reka. Kita mengenalnya sebagai konten “settingan”. Pertanyaannya, mengapa konten-konten seperti ini marak dibuat oleh pengguna media sosial?
Mendapat perhatian
Pakar media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, Fahmi Ismail menyebut semua itu karena satu hal, yaitu adanya keinginan orang untuk mendapatkan perhatian.
“Sebetulnya ada Economy of Attention. Teorinya Attention Economy, Ekonomi Perhatian,” kata Fahmi saat dihubungi melalui telepon, Minggu (27/12/2020).
Ia menjelaskan “perhatian” adalah sesuatu yang dicari dan dijual di media sosial. Hal itu disenangi baik oleh pengguna maupun penyedia platform.
Konten-konten yang sensasional berpotensi mendapat atensi yang lebih besar dibandingkan konten yang biasa-biasa saja. Oleh karena itu, para pengguna tidak segan untuk berkreasi melahirkan konten-konten sensasional.
“Perhatian itu didapat oleh user dalam bentuk like, comment, share. Mereka (pengguna) suka di situ, Selama user mendapat perhatian, selama itu pula platform akan untung.Kenapa? User akan lama di platform itu,” jelas Fahmi.
Keuntungan yang didapat
Pengguna bisa mendapatkan keuntungan dari atensi yang didapatkan dengan cara memonetisasinya. Sementara platform bisa memanfaatkan tingginya atensi pengguna untuk mendapat pemasukan dari iklan.
Angka atau data terkait seberapa banyak interaksi yang terjalin, lama waktu penggunaan, dan sebagainya akan digunakan oleh platform untuk disodorkan pada pengiklan.
Ini adalah cara bagaimana platform hidup dan mendapat pemasukan.
“Jadi platform itu dapat keuntungan dari iklan. Kalau misalnya penggunanya, grafiknya makin turun, habis itu, platform akan dituntut oleh pemegang saham, bagaimana caranya supaya naik lagi,” ujar Fahmi.
Algoritma dan atensi
Pola ini semakin didukung oleh adanya sistem algoritma platform media sosial yang akan mengunggulkan konten-konten dengan interaksi tinggi. Jadi, suatu konten yang berisi sensasi atau mendatangkan perdebatan dan perhatian dari publik yang luas, akan ditampilkan di urutan teratas dalam sebuah lini masa.
Sebaliknya, konten yang tidak mengundang atensi pengguna akan diletakkan di bagian bawah atau tidak disorot dan diletakkan di awal. Meskipun konten itu berisi sebuah fakta, ilmu, kebaikan, dan sisi-sisi yang positif lainnya.
“Makanya semua berlomba-lomba untuk mencari atensi,” ungkap dia.
Eksistensi warganet
Sementara itu, hal yang sama juga ternyata terjadi pada pengguna atau warganet yang dalam hal ini berposisi sebagai konsumen, bukan pembuat konten.
Mereka kerap menunjukkan eksistensinya dengan meninggalkan komentar dalam unggahan, yang tidak kalah sensasional.
Fahmi mengklasifikasikan netizen atau pengguna media sosial yang seperti ini dalam dua kelompok.
Pertama troll politik yang memang sengaja memberikan komentar baik positif maupun negatif, demi menaikkan atau menjatuhkan suatu pihak politik. Namun mereka melakukannya karena dibayar.
“Mereka eksis lewat komen. Dengan komentar, bikin ribut, dia senang ketika komentarnya diributin sama orang,” ungkap Fahmi.
Selanjutnya yang kedua, adalah troll yang dilakukan atas dasar keinginan diri sendiri demi mendapatkan kepuasan, karena mendapat perhatian.
“Ada juga yang orang itu suka nge-troll, suka ngasih comment, tapi itu (untuk) kepuasan diri, memang ujungnya attention,” ujar dia.
Cara tetap eksis
Terakhir, Fahmi mengatakan konten sensasi semacam itu menjadi wajar ditemukan di media sosial.
Meski menimbulkan dilema tersendiri, namun dengan cara seperti itu lah mereka bisa tetap eksis dan mendapat apa yang mereka cari, perhatian.
“Saya kira itu wajar, karena sebetulnya itu kan soal kreatif, di YouTube, Instagram, TikTok, itu kreasinya terutama dalam bentuk video. Tapi kan kreativitas kadang-kadang ada limitnya,” kata Fahmi.
Oleh karena itu, mereka harus menemukan metode baru dalam berkarya agar atensi yang diharapkan dapat tercapai. Lihat Foto Infografik: Cara Membuat Avatar Facebook (KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo)

Link: https://www.kompas.com/tren/read/2020/12/28/124500665/mengapa-konten-sensasi-laku-di-media-sosial-dan-siapa-saja-yang-diuntungkan?page=all&fbclid=IwAR2mO0T5lki5Wyo7DK3a_FmtGuA-az_49d5q3b3Rw2kJm5UNBcqtVq5f5K0.
Penulis : Luthfia Ayu Azanella
Editor : Rizal Setyo Nugroho