Drone Emprit: Kata ‘Palestina’ di Twitter Naik Pesat Sejak 11 Mei

Yogyakarta, IDN Times – Perbincangan tentang konflik panjang antara Palestina-Israel belakangan ini kembali memanas. Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit menganalisis peta percakapan publik dengan kata kunci “Palestina” di Twitter Indonesia, Selasa (18/5/2021).

Hasilnya beragam, salah satunya sejak 11-18 Mei 2021 terdapat lebih dari 248 ribu mentions Twitter yang menggunakan kata kunci “Palestina”.

“Tren naik pesat sejak 11 Mei 2021 hingga sekarang. Dalam periode ini minimal ada 248k mention,” kata Ismail Fahmi dikutip dari akun Twitternya @ismailfahmi.

1. Mayoritas narasi warganet mendukung Palestina melawan Israel

Drone Emprit: Kata 'Palestina' di Twitter Naik Pesat Sejak 11 MeiSocial Network Analysis kata ‘Palestina’ di Twitter Indonesia oleh Drone Emprit (twitter.com/ismailfahmi)

Drone Emprit menganalisis dari beberapa sisi. Pertama, jika dilihat menggunakan social network analysis (SNA), sejak 7-16 Mei 2021, warganet yang menyebut kata “Palestina” membentuk peta SNA yang memperlihatkan klaster besar gabungan dari warganet pro oposisi dan umum (netral). Sedangkan klaster pro pemerintah sangat kecil.

Kedua, terdapat lima akun yang mendapat engagements paling banyak, yakni dua akun dari pro oposisi (@MCAOps, @maspiyuaja) dan tiga dari umum (@catchmeupid, @hidcom, @solehsolihun).

Kemudian, di dalam twit yang paling banyak di-retweet menunjukkan satu narasi besar, yakni mayoritas mendukung Palestina melawan Israel. Selain itu, banyak yang melihat krisis ini bukan soal agama, melainkan pendudukan dan perampasan oleh Israel.

2. Topik yang diangkat akun pro pemerintah cukup beragam, tidak sekadar tentang dukung Palestina

LANJUTKAN MEMBACA ARTIKEL DI BAWAH

Drone Emprit: Kata 'Palestina' di Twitter Naik Pesat Sejak 11 MeiIlustrasi Palestina di Google Map (IDN Times/Santi Dewi)

Sementara itu, narasi yang disampaikan akun pro pemerintah beragam. Misalnya sebagai berikut: @AltoLuger mengangkat topik tentang Hamas; @TeddyGusnaidi@budimandjatmiko dan @sahaL_AS membahas bahwa konflik ini bukan perang agama.

Kemudian @eko_kuntadhi mendukung #FreePalestine; dan @datuakrajoangek dan @FerdinandHaean3 cenderung menyinggung kelompok lain.

3. Twit dari akun resmi pemerintah justru banyak direspons akun non-pemerintah

Drone Emprit: Kata 'Palestina' di Twitter Naik Pesat Sejak 11 MeiMenlu Retno Marsudi ketika menerima kunjungan Menlu Mike Pompeo di kantor Kemlu (Dokumentasi Kemlu)

Drone Emprit mendapatkan temuan menarik, yaitu akun resmi pemerintah lebih banyak diamplifikasi atau diperbesar oleh klaster akun-akun non-pemerintah, bukan sebaliknya. 

Misalnya, narasi oleh beberapa akun resmi pemerintah bermunculan, seperti @setkabgoid yang menyebut Presiden Jokowi meminta agresi Israel dihentikan. Kemudian @Kemlu_RI dan @Menlu_RI yang mengecam meluasnya ketegangan di Gaza.

Sementara itu, akun resmi pemerintah yang paling banyak diamplifikasi oleh akun pro pemerintah adalah akun @Kemenag_RI. Meskipun masih diamplifikasi oleh klaster lainnya.

Link: https://www.idntimes.com/news/indonesia/yogama-wisnu/drone-emprit-kata-palestina-di-twitter-naik-pesat-sejak-11-mei/3

Heboh Pengguna Facebook Auto-Like Fanpage Mendukung Yahudi di Yerusalem

Media sosial Twitter sedang ramai membahas sejumlah pengguna Facebook yang secara otomatis mengikuti atau like sebuah fanpage bernama “Jerusalem Prayer Team” yang memberi dukungan untuk orang Yahudi di Yerusalem.

Padahal, para pengguna Facebook ini tidak pernah memberi like maupun membuka grup tersebut.Dalam deskripsi halaman Jerusalem Prayer Team, mereka punya misi membangun Friends of Zion untuk menjaga, membela, melindungi orang-orang Yahudi dan berdoa untuk perdamaian Yerusalem. Halaman ini telah mendapatkan 76,2 juta like.

Fanpage yang dibuat pada 14 Januari 2010 itu juga digunakan untuk mempromosikan video propaganda untuk membenarkan konflik saat ini dan pengusiran terhadap orang-orang Palestina.

Heboh Pengguna Facebook Auto-Like Fanpage Mendukung Yahudi di Yerusalem (1)
Halaman Jerusalem Prayer Team saat ini telah mendapatkan 76,2 juta like. Foto: Dok. Ismail Fahmi

Permasalahan muncul ketika banyak pengguna Facebook yang tidak sadar telah memberikan like pada halaman Jerusalem Prayer Team, padahal mereka tak pernah diminta izin, membuka, dan bahkan mengetahui grup tersebut.

Hal ini menimbulkan tuduhan bahwa Facebook telah mengizinkan pengguna secara otomatis bergabung, tanpa persetujuan.

Pakar media sosial dari Drone Emprit dan Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menjadi salah satu pengguna Facebook yang tiba-tiba memberikan like pada halaman Jerusalem Prayer Team, tanpa sepengetahuannya. Ia tahu bahwa akun Facebook-nya memberikan like, saat membuka halaman tersebut.”Iya tidak pernah like, dan tampak di teman saya bahwa saya nge-like,” jelasnya saat dihubungi kumparanTECH, Sabtu (15/5).

Ismail meminta pengguna Facebook lainnya memeriksa apakah akun mereka secara tak sengaja like halaman Jerusalem Prayer Team atau tidak. Jika orang mengunjungi halaman tersebut, mereka dapat melihat sebagian besar teman dan keluarganya sudah masuk dalam daftar orang yang menyukai halaman ini. Kemungkinan besar mereka semua tidak pernah memberikan persetujuan untuk menyukai halaman tersebut.

Tidak hanya Ismail, seorang aktivis muslim dari Fraternity Movement National Secretariat di India, Sharjeel Usmani, juga mengalami hal yang sama. Usmani mengumumkan bahwa akun Facebook miliknya secara tiba-tiba memberikan like pada Jerusalem Prayer Team

.kumparanTECH sudah menghubungi juru bicara Facebook untuk minta keterangan soal kehebohan tersebut, namun, sampai saat ini belum ada keterangan yang diberikan.

Facebook sempat sensor Masjid Al Aqsa di Instagram

Sebelumnya, Facebook pernah ambil kebijakan di Instagram untuk mencabut dan membatasi seluruh unggahan berisi gambar dan video Masjid Al Aqsa di Yerusalem, karena dicap sebagai konten yang mengandung aksi teroris.

Dalam laporan The Verge, pembatasan unggahan tentang Masjid Al Aqsa tersebut sebagai ‘enforcement errors‘ atau imbas kebijakan yang ada. Dari klarifikasi Facebook, kata Al Aqsa (dalam bahasa Arab) merujuk kepada sebuah lokasi, namun kata yang sama juga menunjuk nama-nama beberapa organisasi yang dibatasi di platform itu.

“Bagaimanapun juga, kebijakan ini (mencabut dan membatasi unggahan tentang Majid Al Aqsa) tidak seharusnya dan bukanlah pelanggaran di platform kami,” tertulis pernyataan Facebook.

Facebook akhirnya memperbarui panduan kebijakannya. Mereka mencabut kata atau istilah Al-Aqsa dari daftar moderasi Instagram. Kata itu digantikan dengan deskripsi lebih detail dari organisasi yang mendapat sanksi.

Link: https://kumparan.com/kumparantech/heboh-pengguna-facebook-auto-like-fanpage-mendukung-yahudi-di-yerusalem-1vkRtc232ZF/full

Soal 75 Pegawai KPK, Drone Emprit: Jokowi Paling Diasosiasikan Lemahkan KPK

TEMPO.CO, Jakarta – Analisis Drone Emprit menunjukkan Presiden Joko Widodo dianggap yang paling bertanggung jawab terhadap dinonaktifkannya 75 pegawai KPK. Kesimpulan itu didapat dari analisis di Twitter pada 11-12 Mei 2021.

“Isu KPK dalam dua hari ini memiliki asosiasi terbesar dengan Presiden Jokowi dibandingkan dengan Firli Bahuri sebagai Ketua KPK,” kata Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, lewat akun Twitternya, Rabu, 12 Mei 2021. Fahmi mengizinkan cuitannya dikutip.

Fahmi mengatakan narasi yang terbangun dalam konteks percakapan mengenai Jokowi dan pegawai KPK cenderung negatif. Jokowi, kata dia, dianggap paling bertanggung jawab atas pelemahan komisi antirasuah. Ismail mengatakan isu pelemahan KPK paling besar diasosiasikan dengan Presiden Jokowi sebanyak 64 persen.

Dia melanjutkan narasi yang sering muncul adalah Presiden Jokowi terlibat dalam kebijakan perihal KPK, mengajukan calon tunggal Ketua KPK, menetapkan status kepegawaian ASN yang kemudian dimanfaatkan dalam Tes Wawasan Kebangsaan untuk memilih pegawai KPK.

Setelah Jokowi, tokoh kedua yang paling sering dikaitkan dengan penonaktifan 75 pegawai KPK adalah Gubernur DKI Anies Baswedan, yaitu sebanyak 17 persen. Cuitan yang mengaitkan Anies, kata dia, kebanyakan digaungkan oleh akun yang mendukung pelaksanaan TWK. Narasi yang muncul di antaranya Novel Baswedan dkk sebagai penghambat pemeriksaan Anies. Sementara, narasi yang muncul untuk membantah pernyataan itu adalah Firli sebagai Ketua KPK berupaya untuk melindungi Jokowi dan kroninya.

Tokoh ketiga yang terasosiasi dengan isu penonaktifan 75 pegawai KPK adalah Firli Bahuri. Jumlahnya relatif sama dengan Anies yaitu 17 persen. Narasi yang muncul di antaranya, Firli memiliki catatan merah, TWK inisiatif Firli dan dugaan dendam pribadi Firli dengan Novel Baswedan dkk.

Link: https://nasional.tempo.co/read/1461921/soal-75-pegawai-kpk-drone-emprit-jokowi-paling-diasosiasikan-lemahkan-kpk/full&view=ok

Kemendagri Soroti Fenomena Fotokopi KTP Jadi Bungkus Gorengan

Jakarta, CNN Indonesia — 

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengingatkan kepada berbagai instansi untuk menggunakan mesin pembaca e-KTP atau card reader alih-alih mensyaratkan fotokopi dokumen kependudukan.

Pernyataan itu menyusul unggahan viral fotokopi KTP dijadikan bungkus gorengan.

Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh berkata e-KTP sebenarnya tak perlu lagi difotokopi. Ia menyebut kartu itu dilengkapi chip yang menyimpan data kependudukan.

“Gunakan card reader atau bagi instansi yang belum bekerja sama segera mengajukan permohonan pemanfaatan data kependudukan kepada Dinas Dukcapil terdekat,” kata Zudan dalam keterangan tertulis, Selasa (11/5).

Zudan menyarankan agar warga berhati-hati jika terpaksa memfotokopi e-KTP dan memastikan tidak ada yang tercecer.

Dia juga meminta setiap instansi yang mensyaratkan fotokopi e-KTP agar bertanggung jawab dengan dokumen tersebut dan melakukan pemusnahan fotokopinya secara berkala.

Menurutnya, salinan e-KTP mengandung data pribadi warga yang harus dilindungi.

“Kepada lembaga atau instansi yang menggunakan fotokopi dokumen kependudukan seperti KTP-el ataupun Kartu Keluarga sebagai persyaratan pelayanan, agar segera dimusnahkan dengan mesin penghancur dokumen bila tidak terpakai lagi,” ujarnya.

Zudan menyebut sebaiknya arsip fotokopi e-KTP diubah ke bentuk digital.

“Untuk berkas manual, saya minta agar dikonversikan ke dalam bentuk digital sebelum dimusnahkan. Untuk memusnahkannya, bentuk tim dan buat berita acaranya,” ucap Zudan.

Masalah fotokopi e-KTP jadi sorotan warganet dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, e-KTP pernah jadi trending topic di Twitter usai warganet ramai-ramai mengeluhkan birokrasi yang masih menuntut fotokopi e-KTP.

Cuitan terbaru yang ramai diperbincangkan berasal dari akun Twitter milik Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi. Fahmi mengunggah foto bungkus gorengan yang terbuat dari fotokopi e-KTP.

“Buat yang fotokopi KK dan/atau EKTP, pastikan tidak ada extra copy seperti ini,” cuit Fahmi sembari menambahkan emoji tertawa di akun @ismailfahmi.

Buat yang fotokopi KK dan/atau EKTP, pastikan tidak ada extra copy seperti ini. 🤣 pic.twitter.com/8Z3FOadeyt— Ismail Fahmi (@ismailfahmi) May 8, 2021

Link:https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210511125028-20-641365/kemendagri-soroti-fenomena-fotokopi-ktp-jadi-bungkus-gorengan

Drone Emprit: Heboh Bipang Ambawang Kalahkan Isu TWK Pegawai KPK

TEMPO.CO, Jakarta – Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi mengatakan viralnya video Presiden Joko Widodo menyinggung bipang Ambawang mengalahkan isu lainnya di jagat Twitter. Salah satu isu itu adalah tes wawasan kebangsaan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi.

“Saya kira cerdas dan brilian yang bikin naskahnya,” kata dia seperti dikutip dari cuitannya di Twitter, Sabtu, 8 Mei 2021. Ismail telah mengizinkan cuitannya itu dikutip.

Ismail melanjutkan babi panggang atau bipang menjadi terkenal meski di bulan Ramadan. Dia mengatakan hal itu sebagai cara mudah untuk membuat suatu isu menjadi viral, yaitu lewat topik kontroversial.

Dia menduga pekan depan publik sudah lupa dengan polemik ini. “Cara mudah bikin viral ya lewat topik kontroversial. Dan paling minggu depan publik juga sudah lupa. Ada isu lain lagi,” kata dia.

Menurut data yang dijabarkan Ismail dalam cuitan yang diunggahnya 8 jam lalu, terlihat bahwa pada hari ini topik mengenai isu wawasan kebangsaan dimention di atas 5.757 kali. Sementara topik bipang sudah dimention sebanyak 9.606 kali.

Saat dihubungi, Ismail mengatakan tidak mengambil kesimpulan bahwa bipang merupakan pengalihan isu dari TWK pegawai KPK. Dia mengatakan bipang merupakan ide pemerintah yang lupa dengan konteks Ramadan. “Kebetulan ada isu KPK, jadi publik terbelokkan,” ujarnya.

Bipang merupakan makanan berbahan daging babi muda. Makanan itu adalah oleh-oleh khas dari Pontianak. Dalam pidatonya, presiden mengimbau masyarakat yang tak bisa pulang kampung tapi ingin jajanan khas daerah, untuk belanja online. Dalam imbauan itu presiden menyebut nama bipang ambawang Kalimantan.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi  mengklarifikasi pernyataan Presiden Jokowi soal bipang ambawang. “Berkaitan dengan pernyataan mengenai Bipang Ambawang, kita harus melihat dalam konteks secara keseluruhan. Pernyataan Bapak Presiden ada dalam video yang mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai dan membeli produk lokal,” ujar Lutfi lewat keterangan video, Sabtu, 8 Mei 2021.

Ia menjelaskan, pernyataan Jokowi yang menyinggung bipang Ambawang ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku agama dan budaya kuliner Nusantara dari berbagai daerah. Pidato itu disampaikan dalam video rangka peringatan Hari Bangga Buatan Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan.

Link: https://nasional.tempo.co/read/1460717/drone-emprit-heboh-bipang-ambawang-kalahkan-isu-twk-pegawai-kpk/full&view=ok

Media Sosial Universitas di Indonesia Jarang Membahas Soal Keilmuan

law-justice.co – Riset terbaru yang di release dan dipresentasikannya pada acara soft-launching Website baru @univ_indonesia bersama civitas academica UI pada 3 Mei 2021. Riset tersebut salah satunya membahas bagaimana keaktifan tiga perguruan tinggi terbesar di Indonesia dalam menggunakan media sosial untuk membangun jejaring dan narasi tentang ilmu pengetahuan.

Pengembang aplikasi Drone Emprit, Ismasil Fahmi mengungkap akun media sosial universitas atau perguruan tinggi di Indonesia masih jarang digunakan untuk membangun narasi keilmuan. Kondisi ini berbeda dengan akun-akun media sosial universitas di luar negeri seperti Amerika yang aktif bicara soal keilmuan.

seperti diketahui aplikasi Drone Emprit yang merupakan sebuah sistem berfungsi memonitor dan menganalisa media sosial berbasis big data. Sosok Fahmi telah Menjelajah dunia sains hingga kuliah S-2 dan S-3 di Belanda.

Sasaran peneliatian adalah Perguruan tinggi terbesar di Indonesia tersebut yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI).

Dalam unggahan Twitternya, Fahmi menganalisis keyword pada akun resmi masing masing perguruan tinggi tersebut. Ia ingin melihat bagaimana perguruan tinggi berinteraksi dengan civitas, alumni, industri, dan publik di media sosial.


Analisis tersebut dilakukan dalam periode 3 tahun. Pada aplikasi Drone Emprit telah menyimpan data sejak pertengahan 2017, di mana analisis tersebut dimulai pada 1 Januari 2018 hingga 2 Mei 2021.

Pada thread Twitter yang diunggah Fahmi tersebut, ia menjelaskan hal terpenting yang dilihat dari akun resmi perguruan tinggi yaitu bagaimana mereka membahas narasi pada sosial medianya terutama pada narasi keilmuan.

Pada perguruan tinggi terbesar di Indonesia, tidak banyak ditemukan tagar yang berkaitan dengan fokus keilmuannya. Justru sebaliknya, banyak ditemukan tagar dari luar khususnya terkait politik, yang memanfaatkan atau menarik ketiga perguruan tinggi ini.

Misalnya terkait @itbofficial terdapat tagar #TanyaFADJROEL, #HTIOrmasTerlarang, #01IndonesiaMaju, #TurunkanSuharto, dll.

Pada akun resmi Universitas Gajah Mada @UGMYogyakarta ditemukan banyak tagar protes dari mahasiswa, seperti #ShameUGM, #UGMBohongLagi, #bukanPANUTanku, #UGMDaruratKekerasanSeksual, dll.

Sedangkan untuk akun resmi Universitas Indonesia @univ_indonesia ada tagar #01IndonesiaMaju, #ILCHoaxBasmiUUTerorisme, #IndonesiaCallsObservers, #TangkapAdeArmando, #BasmiBuzzerRadikal, dll. Sedikit sekali ditemukan tagar terkait keilmuan dari ketiga perguruan tinggi terbesar di Indonesia ini.

Social Network Analysis (SNA) atau analisis jaringan sosial pada tiga perguruan tinggi di Indonesia yakni ITB, UGM, UI. Terlihat ketiga akun universitas tersebut saling berdekatan dan dihubungkan oleh follower yang merupakan irisan ketiganya. Akan tetapi selain cluster atau kelompoK dari universitas tersebut, terdapat dua cluster besar di luar itu, yaitu kelompok pro dan kontra pemerintah.

Pada dua cluster tersebut, memperlihatkan cukup besarnya pengaruh mereka dalam percakapan terkait ketiga perguruan tinggi ini. Artinya, narasi topik di luar keilmuan yang menjadi foKus pada perguruan tinggi juga akan besar.

Fahmi memaparkan civitas dari ketiga perguruan tinggi terbesar di Indonesia dalam membahas narasi keilmuan dan besarnya cluster pro-kontra termasuk minim. Akibatnya, tagar terkait keilmuan bukan menjadi yang dominan yang seharusnya menjadi keunggulan bidang perguruan tinggi.

“Isu terkini terkait riset dan inovasi di Indonesia, dimana perguruan tinggi dan civitasnya sudah seharusnya punya pemikiran dan concern besar, yaitu tentang BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) yang menuai banyak kritikan,” tutur Fahmi dalam unggahannya.

Dari data seminggu terakhir, peta SNA BRIN memperlihatkan sebuah cluster besar dari kalangan kontra Pemerintah dan cluster sedang pro pemerintah. Selain itu ada dari akademisi yang diwakili oleh satu cluster kecil yakni @yanuarnugroho. Meskipun ia banyak dikritik, akan tetapi sulit menemukan akademisi yang bersuara terkait narasi keilmuan.

Lanjut penjelasan Fahmi dalam cuwitan Twitternya, di Indonesia, perguruan tinggi dan civitas di Indonesia belum aktif dalam memanfaatkan media sosial untuk tujuan terkait Science, Technology, Engineering, and Mathematics atau STEM. Sangat sedikit civitas yang aktif, berani, dan bisa menyampaikan pemikirannya di ruang publik media sosial.

Minimnya percakapan yang melibatkan universitas dari kalangan civitas, membuat pengaruh polarisasi politik selama dan setelah pilpres menyeret universitas menjadi tampak kuat.

Kehebatan Aplikasi Drone Emprit
Aplikasi tersebut ia kembangkan sejak 2009 ketika masih studi S-3 di Universitas Groningen, Belanda. Drone Emprit menggunakan keahlian artificial intelligence (AI) dan natural learning process (NLP).

Sehingga menyajikan peta analisis media sosial tentang bagaimana sumber hoaks berasal, menyebar, siapa pendengung pertama, dan siapa groupnya. Sehingga, keberadaan Drone Emprit bermanfaat di tengah semakin kencang arus informasi di dunia digital.

Tidak mudah termakan propaganda atau hoaks

Karena itu, Ismail bersama Drone Emprit berusaha agar masyarakat tidak mudah termakan propaganda atau hoaks berasal dari buzzer atau influencer di media sosial. Dia senantiasa ingin mengingatkan publik tentang adanya cyber troop dan computational propaganda yang mungkin bertujuan memanipulasi opini mereka.

Mengingat semakin pentingnya peran media sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia pada generasi Y dan Z. Maka perlu semakin aktif keterlibatan universitas dan civitas academicanya dalam berjejaring dan menyebarkan pemikiran, riset, dan karya mereka di platform media sosial.(Patia\Editor)

Link: https://www.law-justice.co/artikel/108184/media-sosial-universitas-di-indonesia-jarang-membahas-soal-keilmuan/

Netizen RI Disebut Lebih Tertarik Bahas Babi Ngepet dari BRIN

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menyampaikan warganet Indonesia lebih tertarik membahas isu ‘babi ngepet‘ yang sempat menghebohkan warga Depok ketimbang isu terkait Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hal ini ia peroleh dari hasil riset percakapan netizen di media sosial Twitter.

“Bagi publik, topik terkait riset dan inovasi tidak menarik bagi mereka. Meski ini sangat penting bagi kemajuan bangsa, tapi tampaknya minat dan pemikiran mereka belum sampai ke sana. Mereka lebih berminat dengan itu babi ngepet yang memperlihatkan kemunduran berpikir,” ujar Ismail lewat Twitter, Senin (3/5).

Ismail menyampaikan data SNA memperlihatkan ada tiga klaster besar dalam peta perbincangan BRIN dan babi ngepet, yakni dari kalangan pro-kontra pemerintah. Tapi, dalam topik BRIN, klaster pro pemerintah lebih kecil.

Ismail menyebut klaster ketiga sangat besar ukurannya, tapi bukan bagian dari pro-kontra, melainkan klaaster netizen umum. Dari warna node biru, tampak kebanyakan dari mereka membahas isu ‘babi ngepet’. Hanya sedikit yang berwarna orange tentang BRIN.

BRIN VS BABI NGEPET

Bagaimana dengan publik yang tidak masuk dalam cluster Pro-Kontra pemerintah di atas?

Kita overlay data SNA antara BRIN dengan isu super retjeh “babi ngepet” yang pada saat bersamaan juga sedang ramai di media sosial. Hasilnya menarik, seperti ini. pic.twitter.com/9KOZfiQSwU— Ismail Fahmi (@ismailfahmi) May 3, 2021

Terkait hal itu, Ismail menilai publik lebih suka membahas ‘small talk’ selama itu bersifat kontroversial. Menurutnya, hal itu berbahaya karena ke depan publik akan mudah dialihkan perhatiannya dari hal-hal besar dan esensial bagi masa depan bangsa.

Ismail juga menyinggung para akademisi yang tidak berminat atau berani menyampaikan pemikirannya secara terbuka, membangun diskursus di kalangan cendikiawan dan publik tentang isu penting di media sosial. Dia menduga peneliti lebih aktif di lingkungan tertutup seperti WA group dan webinar.

Dari SNA, dia berkata tampak bahwa hanya klaster kontra pemerintah yang banyak dan konsisten mengangkat isu BRIN. Dia melihat mereka tak banyak yang membahas ‘babi ngepet’. Jika klaster ini tidak bersuara, dia memprediksi medsos Indonesia sudah ditutup oleh isu ‘babi ngepet’.

“Semoga ini bukan tanda ‘matinya kepakaran’ di Indonesia. Kalau iya, yang rugi adalah seluruh bangsa ini,” ujar Ismail.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210505084617-192-638696/netizen-ri-disebut-lebih-tertarik-bahas-babi-ngepet-dari-brin

Kontroversi Joseph Paul Zhang: Antara Proksi dan Provokasi

Kontroversi sang nabi palsu Joseph Paul Zhang agaknya belum akan berakhir. Klaimnya sebagai “Nabi Jones” alias nabi ke-26 menyulut amarah publik Islam. Belum lagi pernyataan-pernyataan frontalnya yang secara sengaja mengejek Nabi Muhammad, sosok yang diagungkan dalam dunia Islam dan merendahkan bulan Ramadan, bulan suci bagi umat Islam. Tulisan Sitti Faizah di kanal Suara Kita Jalandamai.org berjudul “Joseph Paul Zhang dan Dinamika Popularitas Jalur Instan” secara apik mendedah kontroversi tersebut.

Faizah menganggap apa yang dilakukan Zhang murni sebagai sebuah upaya mencari popularitas instan di dunia maya. Klaim kenabian dan segala sumpah serapah Zhang terhadap ajaran dan simbol agama dianggap Faizah sebagai sebuah cara instan mendapatkan popularitas di dunia Maya. Bagi Faizah, aksi Zhang ini tidak lebih dari aksi konyol sejumlah pembuat konten di YouTube yang berusaha mendulang penonton dengan video-video semacam prank sumbangan sampah.

Analisis Faizah tersebut tentu tidak salah. Kesimpulan bahwa aksi kontroversial Zhang dilakukan untuk mendaki tangga popularitas virtual secara instan memang cenderung masuk akal. Namun demikian, ada hal yang belum sepenuhnya terjelaskan dari analisis Faizah tersebut. Benarkah Zhang melakukan hal kontroversial bahkan berpotensi membahayakan nyawanya itu hanya karena ingin memperoleh popularitas di dunia maya?

Saya pribadi memiliki tilikan lain yang sedikit berbeda dengan kesimpulan yang disajikan Faizah. Menurut saya, apa yang dilakukan Zhang lebih dari sekadar mencari popularitas di dunia maya. Namun, ia memiliki misi yang lebih besar dari itu. Asumsi saya itu berdasar dari setidaknya tiga hal. Pertama, klaim Zhang sebagai nabi palsu sebenarnya bukan pertama kali ini dia lakukan. Di pertengahan 2019 lalu ia juga pernah menyatakan diri sebagai nabi. Namun, entah mengapa pernyataan itu tidak sekontroversial sekarang dan meguap begitu saja ditelan isu-isu lainnya.

Kedua, jika dilihat secara seksama, kontroversi klaim kenabian Zhang dan pernyataannya yang mengejek atau merendahkan agama merupakan imbas dari amplifikasi yang dilakukan oleh sejumlah media online di Indonesia. Mengutip analisis Ismail Fahmi, melalui aplikasi drone emprit-nya, isu Zhang ini ramai setelah diberitakan oleh berbagai media online di Indonesia. Padahal sebelumnya, penggalan videonya telah bertebaran di Twitter, namun belum direspons masif oleh publik.

Ketiga, satu hal yang harus kita pahami ialah bahwa Zhang tidak hanya menyerang Islam saja, namun dia juga menghina agama Kristen dan pendeta. Padahal, Zhang yang bernama asli Shindy Paul Soerjomoelyono ini memiliki latar belakang sebagai mahasiswa di Universitas Katolik Satya Wacana Salatiga. Dia bahkan dikenal sebagai mahasiwa yang pintar dan kritis sewaktu kuliah. Fakta bahwa ia tidak hanya menyerang Islam ini menjadi penting untuk melihat aksi Zhang dalam konteks yang lebih luas alias tidak hanya menganggapnya sebagai sosok yang “pansos” melalui isu keagamaan.

Saya pribadi lebih melihat Zhang sebagai sosok yang dipasang oleh kekuatan tertentu sebagai bagian dari perang proksi antar kekuatan global. Barangkali analisis ini terkesan konspiratif. Namun, jika melihat keberanian Zhang dan sulitnya menemukan keberadaan dia saat ini, hipotesis ini tentu patut dipertimbangkan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa persaingan global saat ini kerap diwarnai oleh perang proksi.

Secara sederhana, perang proksi dapat dipahami sebagai sebuah konfrontasi antar-dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung. Frasa “pemain pengganti” dalam konteks perang proksi ini umumnya ialah sosok-sosok yang memang diplot untuk mengusung isu-isu kontroversial dan meresahkan publik. Tujuannya tiada lain ialah memecah belah kekuatan lawan dengan isu-isu kontroversial dan provokatif. Maka, dalam perang proksi kadangkala tidak jelas mana kawan dan mana lawan.

Mewaspadi Provokasi

Disinilah pentingnya kita memahami Zhang dalam bingkai analisis yang lebih luas. Tidak hanya sekadar melihatnya sebagai fenomena media sosial dan algoritma popularitas yang mengiringinya. Zhang jelas lebih dari sekadar pencari popularitas. Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia yakin dengan statemen-statemen kontroversialnya. Dan ia paham benar bahwa ia tengah menghadapi risiko yang tidak ringan. Bahkan, bisa jadi nyawa ialah taruhannya. Meski demikian, ia tetap melakukan aksinya itu tanpa ada rasa bersalah.

Pertanyaanya kemudian ialah jika benar Zhang merupakan bagian dari perang proksi, maka kekuatan mana yang menjadi afiliasinya? Pertanyaan ini tentu patut dielaborasi lebih lanjut.

Di titik ini bisa kita simpulkan bahwa tujuan Zhang tidak lain ialah memprovokasi umat beragama, khususnya umat Islam yang memang dikenal gampang tersulut emosinya jika agamanya dihina. Dalam sebuah ceramahnya, KH. Bahaudiin Nursalim alias Gus Baha pernah berseloroh bahwa biasanya umat Islam yang gampang terprovokasi itu umumnya justru tidak soleh dalam pengamalan agamanya.

Gus Baha mencontohkan, orang yang sama sekali tidak pernah menginjak masjid tiba-tiba paling marah ketika ada masjid yang dicoret-coret atau dirusak. Demikian pula, ada orang yang tidak pernah sholat tapi marah ketika agama Islam dihina. Pendapat Gus Baha itu kiranya bisa kita jadikan inspirasi dalam menyikapi setiap isu kontroversial yang menerpa Islam. Termasuk dalam menghadapi kasus Zhang tersebut.

Apalagi saat ini kita tengah menjalani puasa Ramadan. Kita hendaknya tidak mengumbar amarah hanya karena ulah seseorang yang sengaja menyebar provokasi untuk memecah belah umat Islam. Amarah umat Islam hanya akan menjadi bahan bakar bagi orang-orang seperti Zhang, karena itulah yang mereka inginkan. Mereka menebar isu kontroversial agar kita marah, lalu meluapkan kemarahannya dan pada akhirnya kita lupa pada pada hal-hal dan persoalan subtansial.

Orang seperti Zhang ini besar karena amplifikasi media massa yang sedemikian dahsyat. Media massa terutama daring kadang tidak memperhatikan efek jangka panjang dari pemberitaan yang mereka lakukan. Padahal, secara tidak langsung mereka memberikan panggung lebih luas bagi Zhang dan agenda provokatifnya. Maka dari itu, cara paling tepat untuk menghadapi Zhang ialah dengan mengabaikannya. Kita yakin bahwa Islam, Nabi Muhammad dan puasa Ramadan tidak akan berkurang nilai kesucian dan kemuliannya hanya karena ocehan seoarng Zhang.

Link: https://jalandamai.org/kontroversi-joseph-paul-zhang-antara-proksi-dan-provokasi.html

Begini Cara Aman Jaga Akun Facebook dari Notifikasi Video Porno Phising

Grahanusantara.co.id, Jakarta – Pendiri Media Kernels Indonesia dan Drone Emprit, Ismail Fahmi menyampaikan sejumlah pengguna Facebook menjadi korban porno phising.

“Sering terima notifikasi saat akun tak kita kenal nge-tag akun kita di kolom komentar FB porno phising ‘Klik Untuk Melihat Video Lengkap’?,” ujar Ismail lewat Facebook, Minggu (18/4/2021).

Ismail menyampaikan pengguna berisiko menjadi korban phising jika mengetuk link mencurigakan itu. Bahkan, akun pengguna berpotensi diretas dan peretas melakukan sejumlah aksi, misalnya mengirim sejumlah tak ke kontak penggunanya yang diretas.

Terkait hal itu, Ismail menyarankan pengguna mengetuk icon more tanda titik tiga di notifikasi (…), lalu pilih ‘Only get notifications about tags from friends’.

Sementara itu, pengguna bernama Windarto Andi menyampaikan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar tidak menjadi korban peretasan itu, misalnya mereview fitur tag akun profil di kolom setting.

Caranya, masuk ke profil akun, lalu klik gambar tiga garis di bagian bawah (iphone) atau atas (android). Kemudian, klik profile setting (bergambar foto profil biasanya) dan dilanjutkan dengan klik ‘profile and tagging’ di bagian privacy. Terakhir klik ‘who can see what other post on your profile’.

Link: https://www.grahanusantara.co.id/14636/2021/04/22/begini-cara-aman-jaga-akun-facebook-dari-notifikasi-video-porno-phising/

Cara Amankan Facebook dari Notifikasi Video Porno Phising

Jakarta, CNN Indonesia — 

Pendiri Media Kernels Indonesia dan Drone Emprit, Ismail Fahmi menyampaikan sejumlah pengguna Facebook menjadi korban porno phising. Dia mengatakan peretas mengarahkan pengguna mengetuk sebuah link porno dalam melancarkan aksinya.

“Sering terima notifikasi saat akun tak kita kenal nge-tag akun kita di kolom komentar FB porno phising ‘Klik Untuk Melihat Video Lengkap’?,” ujar Ismail lewat Facebook, Minggu (18/5).

Ismail menyampaikan pengguna berisiko menjadi korban phising jika mengetuk link mencurigakan itu. Bahkan, akun pengguna berpotensi diretas dan peretas melakukan sejumlah aksi, misalnya mengirim sejumlah tak ke kontak penggunanya yang diretas.

Terkait hal itu, Ismail menyarankan pengguna mengetuk icon more tanda titik tiga di notifikasi (…), lalu pilih ‘Only get notifications about tags from friends’.

Sementara itu, pengguna bernama Windarto Andi menyampaikan ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar tidak menjadi korban peretasan itu, misalnya mereview fitur tag akun profil di kolom setting.

Caranya, masuk ke profil akun, lalu klik gambar tiga garis di bagian bawah (iphone) atau atas (android). Kemudian, klik profile setting (bergambar foto profil biasanya) dan dilanjutkan dengan klik ‘profile and tagging’ di bagian privacy. Terakhir klik ‘who can see what other post on your profile’.

Dijelaskan bahwa opsi ‘only me’ jika hanya pengguna yang melihat postingan orang lain di wall, atau opsi ‘everyone’ untuk tetap membiarkan wall ramai dengan postingan orang.

Opsi lain adalah mengaktifkan fitur reviewing. Dengan fitur itu, pengguna akan menerima notifikasi untuk direview.

Di sisi lain pakar keamanan siber Josua M Sinambela menyampaikan pengguna Cara melakukan reporting dan untagging, disesuaikan dengan isi konten yang dikomentari, misalnya nudity atau lainnya. Dengan cara itu, dia menyebut Facebook akan mengambil tindakan (take down) postingan dan suspend pemilik content akun.

Bagi para pengguna Facebook yang akunnya sudah terlanjur mengirimi postingan sejenis, pengguna disarankan membuka Setting & Privacy lalu Activity Logs.

“Semua aktivitas akun facebook kita ada disana, sehingga jika ada aktivitas atau postingan yang bukan dari kita, tinggal di hapus saja dan informasikan ke rekan/orang yang anda posting kalau itu bukan aktivitas yang anda sengaja,” ujar Josua.

Link: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210419095145-185-631537/cara-amankan-facebook-dari-notifikasi-video-porno-phising